Jama’ah Ideal


Oleh Musyafa Ahmad Rahim
Jama’ah ideal yang pernah ada secara nyata di suatu fase sejarah ini:

  • Tidak tumbuh dengan tiba-tiba;
  • Tidak ada secara kebetulan;
  • Tidak diciptakan dalam sehari semalam. Begitu pula, ia
  • Tidak muncul dari hasil sebuah anugerah yang mengubah watak segala sesuatu dalam sekejap atau sekilas.

Namun, ia…

  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.

Di dalam semua usaha di atas termanifestasi ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi) terhadap jama’ah pilihan – atas dasar pengetahuan – untuk memikul amanah terbesar ini dan merealisasikan kehendak Allah di muka bumi.

Padahal, pada jama’ah ini terdapat:

  • Al-Fadha-il al-kaminah (berbagai keutamaan), dan
  • Alisti’dadat al-maknunah (potensi-potensi yang tersimpan) di dalam generasi tersebut.

Di samping terdapat al-ahwal al-muhayya-ah (berbagai situasi dan kondisi yang disiapkan untuknya).

Dengan ini semua, cahaya yang mengagumkan itu memancar dalam sejarah manusia; dan terealisir-lah hakikat yang tampak dari jauh seolah-olah mimpi yang mengepak-ngepak di dalam hati, atau mimpi-mimpi yang melayang-layang di dalam imajinasi!

(Sayyid Qutb, Fi Zhilal Al-Qur’an, jilid VI hal. 3337)

…….

Dalam kalimat di atas, Sayyid Qutb –rahimahullah- menjelaskan bagaimana jama’ah Sahabat Nabi Muhammad SAW terjadi pada waktu itu.

Ada empat bagian yang disorot oleh Sayyid Qutb –rahimahullah.

  1. Pertama: Jerih payah dan usaha nabi Muhammad SAW sebagai murabbi yang dikerahkan dalam mentarbiyah mereka.
  2. Kedua: Aspek ri’ayah ilahiyah.
  3. Ketiga: Potensi para sahabat nabi itu sendiri.
  4. Keempat: Situasi dan Kondisi.

Artinya, terjadinya jama’ah sahabat nabi Muhammad SAW (jama’ah yang menakjubkan dalam sejarah umat manusia) terjadi karena:

  1. Pertama: Ada faktor ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi).
  2. Kedua: Potensi dan fadhail sahabat yang luar biasa.
  3. Ketiga: Situasi dan kondisi yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT.
  4. Keempat: Sosok sang murabbi, yaitu Rasulullah SAW.

Meskipun demikian lengkap dan dahsyat faktor yang melingkupi terbentuk dan terlahirkannya jama’ah sahabat, namun, tetap saja, mereka memerlukan tarbiyah yang:

  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.

Lalu bagaimana dengan keinginan kita untuk memunculkan generasi baru yang akan memikul amanah da’wah ini?

Tentu, berbagai hal yang diperlukan lebih besar dan lebih hebat lagi, dan yang terpenting:

  1. Perjalanan da’wah dan tarbiyah kita masih panjang, karenanya:
  2. Jangan terburu-buru, serta, jangan lupa, sekali lagi, pada:
  • Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  • Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  • Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).

Semoga perenungan ini ada manfaatnya fid-din wad-dun-ya wal akhirah.

Siap Siaga


Oleh: Prof.Dr. K.H. Achmad Satori Ismail

Manusia yang beruntung memiliki empat kriteria; sabar, melipatgandakan kesabaran, murabathah (tetap siap siaga), dan bertakwa kepada Allah SWT. (QS Ali Imran [3]: 200). Menurut mufassirin, makna murabathahdalam ayat tersebut adalah menjaga benteng dari serangan musuh untuk melindungi umat.

Ketika umat Islam di suatu negeri tidak menghadapi serangan bersenjata, tetapi serangan pemikiran maka konotasi murabathah adalah menjaga benteng untuk melindungi umat Islam dalam semua aspek kehidupan, seperti akidah, ekonomi, dan politik.

Para dai yang berusaha membentengi akidah umat adalah murabith(penjaga benteng). Demikian juga para guru, pendidik yang membina kader Muslim, politisi, dan ekonom yang membela ekonomi umat, termasuk dalam penjaga benteng.

Kita sekarang sangat membutuhkan penjaga benteng yang melindungi akidah, ekonomi, budaya, dan seluruh bidang kehidupan Muslim.

Rasulullah memberikan berbagai keutamaan murabathah ini. Pertama, siap siaga sehari lebih baik dari dunia dan isinya. (HR Bukhari). Kedua, siap siaga sehari semalam lebih baik dari puasa dan qiyam sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

Abu Darda’ meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Siap siaga satu bulan lebih baik dari puasa satu tahun. Barang siapa meninggal dalam keadaan siaga di jalan Allah, akan aman dari fitnah kiamat dan dia mendapatkan rezekinya dari surga dan terus ditulis amal seorang penjaga benteng sampai dibangkitkan hari kiamat.” (HR Thabrani).

Ketiga, semua amalan seseorang terputus saat mati kecuali murabith. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap mayit dipungkasi amalnya kecuali murabith di jalan Allah. Amalnya ditumbuhkan sampai hari kiamat dan akan aman dari fitnah kubur.” (HR Abu Daud, Turmudzi, dan ar l-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda, “Empat kelompok yang amalnya tetap mengalir setelah meninggalnya: penjaga benteng fi sabilillah, perbuatan seseorang yang diamalkan orang lain, seseorang yang sedekahnya masih tetap bermanfaat, dan seorang yang meninggalkan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Ahmad dari Abu Umamah).

Keempat, penjaga benteng di jalan Allah bila meninggal akan dibangkitkan dalam keadaan aman dari fitnah hari kiamat.

Menjaga benteng satu hari di jalan Allah lebih baik dari puasa dan qiyam selama Ramadhan, barang siapa yang meninggal saat menjaga benteng maka pahala amalnya terus ditulis (sampai kiamat), dan diberi balasan rezekinya di surga dan aman dari fitnah kubur (pertanyaan Munkar dan Nakir).” (HR Muslim).

Kelima, penjaga benteng bila meninggal akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai syahid. (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah). Keenam, penjaga benteng fi sabilillah akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang hidup setelahnya.

Ketujuh, menjaga benteng satu hari di jalan Allah lebih baik dari seribu hari dari derajat amalan lainnya. (HR Turmudzi, Nasai dan Ibnu Abi Syaibah)

Sumber:Republika

Jika Engkau


Jika engkau lelah. rebahkan dirimu dalam pangkuan-Nya. Niscaya kan kau temukan berjuta ketenangan.

Jika engkau gundah, dinginkan dengan bacaan ayat-ayat-Nya.

Jika engkau gelisah temuilah orang-orang shalih yang engkau percaya.

Jika engkau tak tau harus apa. Bacalah buku. Sinarilah hidupmu dengan membaca dan menuntut ilmu.

Dimanapun.

Jika engkau merasa sendiri. Hitunglah orang-orang yan mencintaimu, menghargaimu dan berjasa dalam hidupmu.

Jika engkau merasa tak tau apa yang kau rasakan…. Renungilah ayat-ayat kauniyah. Fenomena alam.

Hewan-hewan dan tumbuhan semua bertasbih dengan riang.

Maka bagaimanapun kondisimu usahakan bermanfaatlah bagi orang disekelilingmu.

 

 

Oleh:Dr. Saiful Bahri, MA

 

Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih


 

Launcing Buku Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih
DR. Mohamad Taufik Q. Hulaimi, MA, M. Ed
Direktur Mahad Aly An-Nuaimy
 
Download Files:

1. Slide Presentasi (PPT) Link 1 Link 2
2. Buku Asli (PDF-ARABIC) Link 1 Link 2

Masalah bidah adalah masalah krusial

 
  • Konsep Bidah harus dipelajari dengan sempurna dan secara amanah.
  • Samar dalam memahami konsep bidah menimbulkan keresahan bahkan perpecahan yang dimulai dengan saling mencaci.
Contoh :
 
  1. Orang-orang yang merayakan maulid Nabi lebih berdosa dari peminum khamr, pencuri, pezina dan pembunuh.
  2. Memakai ayat-ayat mengenai orang kafir untuk diterapkan kepada orang Mukmin.
Tiga Hal Penting
 
Pertama:
Ahlu sunnah wal Jamaah harus menyatukan kata, hati dan barisannya.
Kedua:
Dialog dan diskusi adalah suatu hal yang wajar. Namun jangan sampai merusak rasa saling menghormati. Hal tersebut terwujud dengan dua syarat; satu: Diskusi dilakukan dengan cara ilmiah, dalil dilawan dengan dalil, argument dibalas dengan argument. Kedua: setiap pihak yang terlibat diskusi hendaknya berpegang dengan adab dialog.
Ketiga:
Buku ini diharapkan menjadi sebab mendekatnya pandangan yang berbeda dalam masalah bidah.
 
Makna “Ku sempurnakan Agamaku”
 
  • Allah Berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…”. (QS. 5:3)
  • Peringatan Keras untuk Menjauhi al-Muhdats, hal baru dalam agama (bid’ah)
  • Masalah Baru/Nawazil Terus Bermunculan
  • Kesepakatan Ulama bahwa setiap masalah baru/Nawazil pasti ada hukumnya.
Bagaimana Memahami Masalah Ini?

Contoh Nawazil
Nawazil : Masalah baru yang tidak terdapat tex hukum yang berbicara mengenainya. Juga tidak terdapat Ijma Ulama dalam masalah baru tersebut. Contoh: 
 
  • Do’a khatam Quran dalam sholat taraweh atau sholat qiyam di bulan Ramadhan.
  • ‘Asyaul-walidain. (jamuan makan mlam yang diadakan setelah satu atau dua bualan dari meninggalnya orang tua. Dalam acara ini diundang kerabat, rekan dan tetangga. Dengan harapan pahalanya sampai kepada orangtua yang sudah meninggal.)
  • Merubah bentuk masjid, seperti membuat mihrab, memendekkan shaf sholat dari kiri dan kanan , membuat garis diatas karpet masjid untuk meluruskan shaf shalat. memasang senderan dibelakang shaf pertama
Bagaimana Memahami al-Muhdatsaat?
 
  • Apakah al-muhdats termasuk dalam masalah baru sehingga memungkinkan hukum yang lima?
  • atau al-muhdatsaat otomatis menjadi bid’ah?
Ada perbedan pendapat:
 
  1. Kelompok pertama berpendapat bahwa seluruh hal yang baru dalam agama mempunyai hukumnya masing-masing.
  2. Kelompok kedua berpendapat bahwa seluruh hal baru dalam agama bidah yang sesat.
 
  • disebabkan tidak adanya penentuan makna bidah dalam agama secara jelas dan terang
  • Kalau Ulama belum sepakat dalam maknajelas dari bidah jelek dalam syariat , maka jalan satu-satunya adalah saling memaklumi satu sama lainnya
Definisi Bid’ah
 
  • Definisi al-Iz bin Abdussalam rahimahullah: “Mengerjakan sesuatu yang tidak ada dan tidak dikenal di zaman Rasulullah SAW , Ia terbagi menjadi wajib, haram , mandub (sunah) , makruh dan mubah, Cara menentukannya dengan jalan menakar bidah tersebut dengan kaidah syariah”.
  • Definisi Ibnu Hajar: “Hal baru yang diciptakan , tidak memiliki dalil dalam syariat”
  • Definisi Ibnu Rajab rahimahullah :”Hal baru yang diciptakan , dalam syariat tidak ada dalil yang menunjukkan hal baru tersebut”.
  • Definisi Syatibi rahimahullah.
 
  1. Pertama: “sebuah cara dalam agama yang ditemukan, cara tersebut menyamai syariat , maksud dari mengerjakannya adalah berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT.”
  2. Kedua: “ sebuah cara dalam agama yang ditemukan , cara tersebut menyamai syariat , maksud dari mengerjakannya sama dengan maksud mengerjakan sesuatu yang dilakukan dengan cara syariat”
Ibnu Taimiyah Tentang Bidah
 
  1. Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:” hal yang bertentangan dengan tex-tex Islam adalah bidah , hal ini merupakan kesepakatan ulama. Dan hal yang belum diketahui bertentangan terkadang tidak disebut bidah” (Kitab Daru-tta’arudh karangan Ibnu Taimiyah. Jilid;1 hal:140 , semakna dengannya di buku al-fatawa jilid 20 hal: 159 )
  2. Ungkapan Ibnu Taimiya menunjukkan bahwa hal baru kalau tidak bertentangan dengan nushush terkadang tidak dinamai bidah.
Sebab Perselisihan Definisi
 
  • Perselisihan ini disebabkan perselisihan mereka tentang penerapan bidah sesat pada setiap hal baru yang memiliki warna agama dan tidak ditemukan dalam kurun waktu pertama, namun tidak bertentangan dengan nushush syariat Islam dan kaidah-kaidahnya.
  • Apakah hal baru seperti ini termasuk bidah sesat atau tidak?
Tiga konsep bidah
 
  1. Setiap hal baru yang berhubungan dengan agama mempunyai hukum yang sesuai dengannya. Ia tercakup dalam lima. Disebut hasanah kalau boleh dan disebut sayyiah kalau dilarang. (Al-muwassi’uun)
  2. Hal baru dalam agama mempunyai satu hukum saja yaitu haram. Setiap hal baru bidah, setiap bidah sesat , dan setiap kesesatan di neraka. (al-Mudhoyyiquun)
  3. Al-Muhdast kalau termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau ada Nushush yang menunjukkan akan hal baru ini hal tersebut tidak disebut bidah. Akan tetapi diberi nama dengan hukum syar’i yang sesuai. Kalau tidak termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau tidak ada Nushush menunjukkannya maka disebut bidah. Maka menurutnya semua bidah sesat.
Perbedaan pendapat pertama dan ketiga hanya perbedaan lafadh saja. Perbedaan pertama dan kedua perbedaan secara substansi


Memahami tiga hadits tentang bidah

Hadis Pertama:
Rasulullah SAW berkata dalam khutbahnya:
أما بعد ، فإن أصدق الحديث كتاب الله وإن أفضل الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل محدثة بدعة ، وكل بدع ضلالة ، وكل ضلالة في النار
Amma ba’du, sebaik-baiknya pembicaraan adalah kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuknya Muhammad SAW , seburuk-buruknya perkara agama adalah hal-hal baru dalam agama, setiap yang baru adalah bidah, setiap bidah sesat, dan setiap sesat di neraka.
 
Memahami Hadis Pertama
 
  1. Ada perbedaan pendapat tentang makna kata “seluruh” (كل ) dalam hadis.
  2. Kelompok mudhoyyiquun : sabda Rasulullah saw “setiap hal baru bidaha” adalah makna umum yang tidak ada pengecualiannya. Oleh karenanya pembagian bidah menjadi lima adalah bertentangan dengan hadis ini.
  3. Kelompok muwassi’iin memahaminya dengan makna seluruh tapi ada pengecualiannya, maka maknanya sebagian besar.
Syarah Imam Nawawi
شرح النووي على صحيح مسلم ج6/ص154 ) قوله صلى الله عليه وسلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع)

“ , Imam Nawawi berkata:”Sabda Rasulullah SAW “dan setiap bidah sesat” , ini adalah makna umum yang ada pengecualiannya, yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah.”
 
شرح النووي على صحيح مسلم ج7/ص104( ”من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ” إلى ….وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه وسلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة….)
Hadis ini mengecualikan keumuman sabda Rasulullah saw “setiap muhdast bida’h”….dan yang dimaksud adalah bid’ah yang bathil dan tercela.”
 
Hadis Kedua:
Rasulullah bersabda:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“barang siapa membuat hal baru dalam agama ini dan bukan bagian dari agama ini, makka hal tersebut ditolak”
Apakah “bukan bagian dari agama” adalah syarat lazim atau qoidun ?
 
  • Al-Mudhoyyiquun: syarat lazim yaitu sifat yang pasti ada dalam setiap hal baru (al-muhdats). Artinya setiap hal baru pasti bukan bagian dari agama. Hadis tersebut tidak bisa difahami dengan sebaliknya (mafhum mukholafah). Maka tidak bermakna bahwa sebagian hal baru ada yang termasuk dalam agama.
  • Al-Muwassi’un: qoidun, maka boleh mafhum mukholafah. Kalau bukan bagian dari agama ditolak, kalau ternyata bagian dari agama diterima
Hadis Ketiga:
من سَنَّ في الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ من عَمِلَ بها بَعْدَهُ من غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ من أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ في الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كان عليه وِزْرُهَا وَوِزْرُ من عَمِلَ بها من بَعْدِهِ من غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ من أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barang siapa membuat sunnah dalam Islam sunah-yang baik maka ia mendapat pahalanya dan mendapat pahala orang yang mengerjakannya setelah dia, tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakanya sedikitpun. Barang siapa membuat sunnah dalam Islam sunah-yang buruk maka ia mendapat dosanya dan mendapat dosa orang yang mengerjakannya setelah dia, tanpa mengurangi orang orang yang mengerjakanya sedikitpun
 
Memahami Hadits Ketiga
 
Apa makna kata سن dalam hadis?
 
  • سنَّ mempunyai dua makna : membuat dan menghidupkan.
  • Mudhoyyiqun : bermakna menghidupkan
  • Muwassi’un: menghidupkan dan membuat.
  • Kata سنَّ kalau hanya bermakna menghidupkan tidak selaras dengan akhir dari hadis diatas. Yaitu menghidupkan sunnah yang jelek. Dalam Islam tidak ada sunnah Jelek
Memahami Hal Yang Tidak Dilakukan Rasulullah
 
  • Hal yang ditinggalkan Rasulullah SAW dan tidak dikerjakan , dengan sengaja, tidak mempunyai makna wajib, kadang bermakna haram, makruh, mubah atau dianjurkan (musthab).
  • Rasulullah SAW tidak melakukannya karena ada sebab seperti menjelaskan bahwa yang ditingalkannya itu boleh tidak dikerjakan, atau khawatir menimbulkan kesulitan bagi umatnya, atau karena alasan maslahat lain.
  • Dalam hal ini kita harus meliha al-qoroin (indikator yang bisa dipakai untuk memahami maksud tertentu) yang menyertai ketika Rasulullah SAW tidak mengerjakan hal tersebut.
  • Kalau tidak ada qorinah yang mennjukkan sebabnya maka perbuatan yang tidak dikerjakan adalah mubah, boleh dikerjakan.Sedangkan tidak melakukan dengan tidak sengaja maka tidak ada hukum syariat apapun yang berhubungan dengannya.
 
  • Kaidah yang mengatakan bahwa suatu hal yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa hal yang ditinggalkan tersebut adalah haram, kaidah ini dibatalkan dengan sabda Rasulullah SAW:
دعوني ما تركتكم ، إنما أهلك من كان قبلكم سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم ، فإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه ، وإذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم
  • Biarkan saya dengan apa yang sudah saya tinggalkan buat kalian, Umat sebelumkalian hancur karena pertanyaan mereka, penentangan mereka terhadap nabinya. , kalau saya melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah. Kalau saya memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sekuat tenaga kalia
Manhaj Rasulullah saw. Dalam Menerima Atau Menolak Hal Baru dalam Agama.

Seorang Sahabat Dari Anshor, mengimamai Sholat di Masjid Quba dengan Membaca Al-Ikhlas setelah Fatihah Sebelum Surat
وقال عُبَيْدُ اللَّهِ عن ثَابِتٍ عن أَنَسِ رضي الله عنه كان رَجُلٌ من الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ في مَسْجِدِ قُبَاءٍ وكان كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بها لهم في الصَّلَاةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ قُلْ هو الله أَحَدٌ حتى يَفْرُغَ منها ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا وكان يَصْنَعُ ذلك في كل رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أنها تُجْزِئُكَ حتى تَقْرَأَ بِأُخْرَى فَإِمَّا تَقْرَأُ بها وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى فقال ما أنا بِتَارِكِهَا إن أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ من أَفْضَلِهِمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فلما أَتَاهُمْ النبي e أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فقال يا فُلَانُ ما يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ ما يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وما يَحْمِلُكَ على لُزُومِ هذه السُّورَةِ في كل رَكْعَةٍ فقال إني أُحِبُّهَا فقال حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ ( صحيح البخاري ج1/ص268)
 
Bahwa seorang dari ansor menjadi imam di masji Quba.
 
  • Ia selalu memulai surat yang akan ia baca dalam shalat dengan surat al-Ikhlas sampai selesai.
  • Setelah itu ia membaca surat lain setelah al-ikhlas. Ia melakukannya disetiap rakaat.
  • Sahabat yang lainnya menegurnya. Mereka berkata: “engkau memulainya dengan surat ini. dan engkau merasa tidak cukup dengan surat al-ikhlas sampai engkau membaca surat lain. Pilih saja salah satunya, cukup membaca al-Ikhlas atau tidak membaca al-Ikhlas namun membaca surat lain.
  • Ia menjawab: “saya tidak akan meninggalkannya!” kalau kalian setuju aku mengimami kalian dengan cara saperti itu saya akan jadi imam. Kalau kalian tidak setuju saya tidak akan jadi imam.
  • Jamaah sholat melihat bahwa Ia adalah orang terbaik diantara mereka. Mereka tidak ingin orang lain mengimami. Ketika Nabi saw menginjungi mereka mereka menceritakan kejadian itu..
  • Kemudian Rasulullah bertanyakepada imam tadi:”Apa yang membuat engkan menolak untuk mengerjakan apa yang diminta sahabatmu?
  • Apa yang membuatmu selalu membaca surat ini disetiap rakaat?
  • Imam masjid menjawab: “saya mencintainya”
  • Rasulullah saw berkata:”Kecintaanmu terhadap surat al-Ikhlas membuatmu masuk surge
  • Seorang Sahabta Selalu membaca al-Ikhlas Sebelum Ruku’
  • Rasulullah SAW mengutus sebuah pasukan perang (sariyah). Pasukan tersebut dipimpin seseorang.
  • Pimpinan pasukan selalu membaca surat al-Ikhlas untuk mengakhiri bacaanya.
  • Ketika pasukan kembali mereka bertanya kepada Rasulullah saw tentang perbuatan pimpinan mereka. 
  • Rasulullh saw menyuruh mereka untuk menanyakan hal itu pada pimpinan mereka. Beliau berkata: “tanyakan kepada dia, kenapa melakukan hal itu?”
  • Kemudian mereka menanyakannya . Ia menjawab:”karena surat tersebut sifat Ar-Rahman ( Allah ) , dan saya suka membacanya .
  • Rasulullah saw berkata: “kabarkan kepada dia bahwa Allah mencinyainya. (Hadis Riwayat Bukhori, Muslim dan Nasai )
Rasulullah Menolak Sujud Muaz kepadanya.
 
  • Rasulullah saw tidak setuju dengan sujudnya Muadz bin Jabal RA kepadanya.
  • Muadz ra ketika berkunjung ke Syam atau yaman melihat Nashrani sujud kepada pendeta. Juga melihat yahudi sujud kepada pendeta.
  • Rasulullah saw bertanya kepada Muadz:”untuk apa mereka melakukan hal ini? Mereka menjawab:”Ini adalah penghormatan kepada para Nabi. “ Aku mnjelaskan:”Kami lebih berhak untuk melakukannya kepada nabi kami.”
  • Kemudian Rasulullah saw berkata:”mereka berbohong kepada Nabi-nabi mereka, sebagaimana mereka merubah kitab suci mereka, kalau saya disuruh untuk memerintahkan sujud seorang manusia kepada seorang manusia maka saya akan menyuruh perempuan untuk sujud kepada suaminya.” (Hasi riwayat Ahmad, ibnu Majah, Hakim, Thabrani, Haitsami dalam al-mujmma’ ilid:4 hal:568 )
Manhaj Rasulullah Dalam Menilai Menerima atau menolak hal baru dalam Agama.
 
  • Kalau melihat atau mendengar yang baru, Rasulullah saw tidak langsung memvonis bidah.
  • Rasulullah saw. bertanya sebab dilakukannya amalan baru tersebut
  • Kemudian Rasulullah saw menilai apakah diterima atau ditolak. Menerima yang sesuai dengan Syariat
  • Menolak yang tidak sesuai
Seorang Sahabat Membuat Bacaan Dalam Shalat Dan Nabi SAW Tidak Mengajarkannya
عن أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا جاء فَدَخَلَ الصَّفَّ وقد حَفَزَهُ النَّفَسُ فقال الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فيه فلما قَضَى رسول اللَّهِ ص م صَلَاتَهُ قال أَيُّكُمْ الْمُتَكَلِّمُ بِالْكَلِمَاتِ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فقال أَيُّكُمْ الْمُتَكَلِّمُ بها فإنه لم يَقُلْ بَأْسًا فقال رَجُلٌ: جِئْتُ وقد حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا. فقال: لقد رأيت اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا (صحيح مسلم ج1/ص419 )

Disebutkan bahwa seseorang datang tergesa-gesa menuju shalat. Nafas dia mendorongnya , kemudian dia bisa mendapatkan ruku,
 
  • Kemudian takbir dan mengucapkan hamdalah.
  • الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فيه
  • Rasulullah bertanya siapa yang mengucapkan kalimat tadi.
  • Tidak seorangpun menjawab.
  • Rasulullah mengulang pertanyaanya dan berkata sesungguhnya ia tidak mengucapkan hal yang buruk.
  • Kemudian ia mengaku dan memberikan alasan bahwa ia terdorong oleh nafanya dan mengucapkan hamdalah dengan lafadh tadi
  • Setelah itu Rasulullah saw bersabda:”saya melihat duabelas malaikat berlomba sipa diantara mereka yang duluan menuliskannya.”
Apa Yang Difahami Dari Hadis-Hadis Tersebut?

Pendapat Pertama:
 
  • Dibolehkan Karena Taqriir (Persetujuan) dari Rasulullah SAW.
  • Setelah Rasulullah SAW Meninggal tidak ada taqriir.
  • Maka Segala Inovasi dalam Ibadah Bidah.
Pendapat Kedua:
 
  • Dibolehkan Karena Sebab taqrir, yaitu Hal Tersebut Termasuk perbuatan Baik.
  • Allah Menyuruh kita Untuk melakukan amal al-khoir
  • Bidah dibolehkan selama dalam kategori amal al-khoir, Disebut Bidah hasanah.
  • Ayat Yang Memerintahkan Amal al-Khoir
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (المائدة:48)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (الزلزلة:7)
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (البقرة:110)
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ( البقرة: 197)
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (آل عمران:104)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( الحج : 77)
Bagaimana Memahami “amal khoir”
 
  • Apabila sesuai dengan
  • Dalil syariat
  • Kaidah Umum Syariat
  • Maqodhid syariat
 
Manhaj Para Sahabat Tentang Hal-hal Baru Setelah Rasulullah Saw. Wafat.
 
Hal Baru YangDiterima
 
  • Abu Dzar ra.banyak melakukan shalat sunnah tanpa memperhatikan jumlah rakaatnya.
  • Mutharrif bin Abdillah berkata, “Saya duduk bersama beberapa orang Quraisy. Tiba-tiba datang seorang laki-laki, kemudian ia shalat, ruku dan sujud, namun tidak duduk setelah dua rakaat.
  • Aku pun berkata, ‘Menurutku, orang itu tidak tahu apakah dia menyudahi rakaat shalatnya dalam jumlah genap atau ganjil.’
  • Mereka berkata, ‘Kenapa tidak kamu temui dia dan beritahu dia?’
  • Aku pun berdiri menemuinya seraya berkata, ‘Wahai hamba Allah, saya tidak tahu, apakah kamu shalat dengan jumlah rakaat genap atau ganjil.’
  • Ia menjawab, ‘Tetapi, Allah Maha Mengetahui. Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
  • مَنْ سَجَدَ لِلَّهِ سَجْدَةً، كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَحَطَّ بِهَا عَنْهُ خَطِيئَةً، وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً.
  • “Barangsiapa sujud (shalat) kepada Allah sebanyak satu kali, Allah akan mencatat baginya satu kebaikan karenanya; akan menghapus satu kesalahan karenanya; dan mengangkat satu derajat untuknya.”
  • Aku bertanya, ‘Kamu siapa?’
  • Ia menjawab, ‘Abu Dzar.’
  • Aku pun kembali kepada teman-temanku dan berkata, ‘Semoga Allah membalas kalian dengan keburukan, hai teman-teman yang buruk! Kalian menyuruhku untuk mengajari salah seorang Sahabat Rasulullah!’” (h.r. Ahmad))
  • Abu Dzar ra. memperbanyak rukuk dan sujud. Beliau tidak duduk setelah dua rakaat untuk membaca tasyahud. Beliau tidak juga mengucapkan salam di antara dua rakaat. Bahkan, Beliau tidak berniat melakukan shalat dalam jumlah rakaat tertentu. Semua ini beliau lakukan karena senang memperbanyak jumlah sujudnya.
  • Imam Haitsami berkata, “Imam Ahmad dan Al-Bazzar meriwayatkan hadits ini dengan beberapa sanad. Sebagian diriwayatkan oleh para perawi hadits shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Mu’jamu al-Ausath.” (Al-Majma’, 2/514).
 
 
  • Ibnu Abbas ra. mengingkari perbuatan Muawiyah bin Abu Sofyan ra. yang mencium rukun Iraqi dan rukun Syami ketika tawaf.
  • Ibnu Abbas ra. berkata kepada Muawiyah ra., “Rasulullah Saw. hanya mencium Hajar Aswad dan Rukun Yamani ketika tawaf.”
  • Muawiyah ra. menjawab, “Tidak ada satu pun bagian Ka’bah yang tidak dihormati.”
  • Ibnu Abbas ra. membaca ayat:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu, suri teladan yang baik bagimu.” (q.s. Al-Ahzab: 21)
  • Muawiyah ra. berkata, “Ya. Kamu benar.” (h.r. Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi)
  • Imam Syafi’i berkata, “Kita tidak mencium keduanya –Rukun Iraqi dan Rukun Syami—bukan karena mengabaikannya. Bagaimana mungkin Ibnu Abbas mengabaikannya, padahal ia sedang bertawaf mengelilinginya? Akan tetapi, kami mengikuti Sunnah Rasulullah Saw., baik dalam hal melakukan atau meninggalkan sesuatu. Jikalau meninggalkan Rukun Iraqi dan Rukun Syami termasuk mengabaikan keduanya, pastilah meninggalkan bagian-bagian Ka’bah di antara keduanya juga dianggap mengabaikannya; padahal tidak ada seorangpun yang mengatakan seperti itu.”
Kesimpulan Manhaj Sahabat
 
  • Sahabat membedakan, dengan ilmu dan pemahaman yang Allah karuniakan kepada mereka, antara perkara-perkara baru yang baik yang diperbolehkan untuk dilakukan dengan perkara-perkara baru yang buruk dan diharamkan untuk dilakukan.
  • setiap perbuatan baik yang dianjurkan dan sesuai dengan dalil-dalil serta kaidah-kaidah umum syariat, termasuk bagian dari perkara-perkara baru yang baik dan terpuji, dengan syarat tidak bertentangan dengan dalil syar’i, tidak menimbulkan kerusakan, tidak menafikan atau bertentangan dengan petunjuk Rasulullah Saw.
  • Sebaliknya, perkara-perkara baru yang bertentang dengan dalil-dalil dan kaidah umum syariat, atau bukan bagian perkara yang diperintahkan secara umum, atau menimbulkan masalah kerusakan ajaran agama atau perkara duniawi, atau bertentangan dengan contoh dan petunjuk Rasulullah Saw., merupakan perkara-perkara baru yang tercela dan bid’ah sesat yang diperingatkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
“Setiap perkaara baru adalah bid’ah; semua bid’ah adalah kesesatan; dan semua kesesatan berada dalam neraka.”
 
Kendati seluruh ulama menjauhi bid’ah dan meyakinibahwa membuat perkara baru dalam urusan agama adalah haram, namun para ulama –salaf ataupun khalaf—berbeda pendapat dalam memberikan hukum untuk sebuah perkara bid’ah.
 
 
Perbedaan Pendapat Ulama Terdahulu
Manhaj Mudhoyyiqiin dalam menilai bidah:
  • Tidak pernah dilakukan salaf sholeh.
  • kalau seandainya baik maka salaf sholeh akan terlebih dahulu melakukannya.
  • Ketika terdapat muqtadho ( sesuatu yang mengharuskan terjadinya suatu hal) dan tidak terdapat hal yang menghalanginya (al-mani’) dan sahabat tidak melakukannya maka hal ini menunjukkan bahwa hal baru tesebut haram
  • Syariat Sudah sempurna
  • «اليومَ أَكْملتُ لكم دينَكم وأَتممتُ عليكم نِعْمتي ورضيتُ لكم الِإسلامَ دِيناً»
  • Adanya Bidah mengisyaratkan bahwa Islam Belum Sempurna dan Ini bertentangan
Pertanyaan Yang Menggangu
  • Apakah mudhoyyiqun konsisten dalam menerapkan konsep dan manhaj bidah?
  • Apakah bidah antara haq dan bathil?
  • Apakah Pelaku bidah tidak usah didengar perkataanya?
  • Apakah setiap Bidah sesat dan setiap yang sesat di neraka?
 
Perbedaan Pendapat Ulama
Perbandingan Antara Tiga Amalan Baru Dalam Agama
  1. Pertama: perayaan Maulid Nabi
  2. Kedua: sholat qiyam lail di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
  3. Ketiga: Asyaul-walidain
Kesimpulan:
Ketiga amalan tersebut mirip dari berbagai sisi. seharusnya hukumnya pun mirip.
Seluruh argumen yang dipakai untuk menolak maulid nabi seharusnya dipakai pula untuk menolak sholat qiyam Ramadhan dan ‘asyaul-walidain.
 
Lanjutan ….
  • Barang siapa mengharamkan perayaan maulid Nabi karena berbagai sebab, maka seharusnya mengharamkan sholat qiyam di sepuluh terkhir bulan Ramadhan. Juga harus mengharamkan ‘asyaul-walidain karena sebab yang sama.
  • Usaha untuk membedakan ketiganya dalam hukum sama sekali tidak berdasarkan dalil yang diakui.
  • Usaha membedakannya hanya berdasarkan pada salah satunya terbiasa dilakukan dan yang lainnya tidak terbiasa dilakukan.
  • Ada pepatah mengatakan: “barang siapa tidak mengenal sesuatu maka ia akan memusuhinya”
Realita permasalahan Bidah
  • Kesepakatan teori dalam definisi bidah tidak secara otomatis sepakat dalam menilai bidahnya hal-hal baru dalam agama.
  • Adalah suatu hal yang sangat sulit untuk sepakat dalam menetapkan hukum bidah terhadap suatu hal yang baru dalam agama, bahkan dikalangan ulama yang memandang sempit makna bidahpun termasuk hal sulit. Padahal mereka memandang segala hal yang baru dalam agama adalah bidah.
  • Sebagian orang yang tergesa-gesa menghukumi sesuatu dengan bidah terkadang tidak melandasinya dengan dalil syar’i dan kaidah syariat yang baku. Kaidah syar’i yang ada terkadang dilanggar.
  • Menilai sesuatu bidah lebih disebabkan karena realitas lingkungan yang mereka hadapi. Sesuatu inovasi baru dalam agama yang menjadi tradisi mereka diberi fatwa boleh dan tidak ada keraguan bahwa hal tersebut tidak bidah. Sebaliknya inovasi baru dalam agama yang tidak sesuai dengan tradisi mereka diberi fatwa bid’ah dan haram yang tidak diragukan
Pesan yang disampaikan melalui buku ini
  1. Menjelaskan secara detail makna bidah dari berbagai sisi yang sangat komplek
  2. Perbedaan pendapat dalam hukum berbagai hal-hal yang baru dalam agama, secara khusus hal-hal praktis, antara disyariatkan dan bidah, terkadang masuk dalam lingkup perbedaan pendapat yang dibolehkan, berkisar antara ash-showab (tepat) dan al-khoto yang (tidak tepat). Tidak semua masalah berada dalam lingkup al-haq dal al-bathil.
  3. Pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini
  4. Dari sisi teori, sepakat dalam definisi bidah dan hukumnya mungkin mudah. Namun sangatlah sulit sepakat dalam menerapkan hukum bidah kepada beberapa hal baru dalam agama.
  5. Sejak jaman salaf sholeh para ulama berbeda pendapat dalam menentukan definisi bidah dan hukumnya. Perbedaan tersebut sangat tajam.
  6. Mengarahkan para pemuda kebangkitan Islam yang peduli terhadap agamanya dan menjaga mereka dari melakukan sesuatu yang berakibat patal yang disebabkan pemahaman mereka yang sempit tentang bidah.
  7. Pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini
  8. Bagi pihak yang menghukumi dan menilai hal-hal baru, apakah bidah atau tidak, hendaknya menahan diri dan berhati-hati dalam menuduh seorang muslim dengan tuduhan melakukan bidah dalam agama. Karena para ulama berselisih pendapat dalam banyak masalah. Perselisihan mereka sangat jelas dalam masalah-masalah tersebut, antara menilainya sunah, mustahab, boleh dan bidah. Kalaulah para ulama, benteng syariah, berbeda pendapat dalam penilaian sesuatu yang baru , bukankah lebih baik kalau seandainya kaum muslimin saling memaklumi dalam perbedaan pendapat mereka terhadap berbagai masalah yang dinilai bidah?
  9. Toleransi Dalam Masalah Ijtihadiyah
 

Buku Asli dalam bentuk PDF dan Power Point ini bisa di download di link berikut:
Download Files:

1. Slide Presentasi (PPT) Link 1 Link 2
2. Buku Asli (PDF-ARABIC) Link 1 Link 2

sumber :http://www.nuaimy.net/2013/03/konsep-bidah-dan-toleransi-fiqih.html

Kultwit : Tentang Jodoh


Kultwit : Tentang Jodoh

 
1. Ribut cari jodoh, sibuk peroleh cara mudah menemukan jodoh, tapi lupa berbenah. Padahal, ada bekal yang harus kita miliki sesudah nikah.

2. Banyak meminta dido’akan agar tidak ada rintangan apa pun dalam segala urusan. Padahal yang paling penting untuk diharap adalah barakah.

3. Sudah sedemikian rapuhkah iman kita sehingga kita lupa mengharap yang terbaik untuk Hari Akhir kita? Bukan yang paling cepat dan mudah.

4. Sudah lupakah kita bahwa Allah Ta’ala tidak akan beri beban kepada kita kecuali sebatas kesanggupan kita?

5. Jika hidup kita tidak pernah menemui kesulitan, tidak pernah ada rintangan, kita justru perlu bertanya kualitas hiduo dan iman kita.

6. Sesungguhnya ujian itu sebanding dengan kadar iman & taqwa kita. Tapi jangan gegabah menganggap hukuman sebagai ujian. Itu tak tahu diri.

7. Kita tidak meminta kesulitan kepada Allah Ta’ala. Tapi jangan juga keliru meminta agar tidak pernah ada rintangan dalam hidup.

8. Kita boleh meminta kepada Allah Ta’ala untuk dimudahkan dalam menghadapi urusan. Bukankah jika Allah Ta’ala mampukan kita hadapi & >>

10. Dalam soal jodoh, yang paling penting bukan secepat apa jodoh itu datang, semudah apa ia hadir. Paling pokok adalah barakah atau tidak.

11. Tugas kita untuk bersegera dan bersungguh-sungguh berusaha seraya serius berserius sekaligus menjaga diri agar tidak keliru langkah.

12. Jika Allah Ta’ala telah tetapkan jodoh kita di dunia, ia pasti akan ketemu. Persoalannya, jalan untuk ketemu itu barakah atau tidak.

13. Tugas kita berusaha. Tapi harus yakin Allah Ta’ala penentunya. Jahil jika kita berkata, jodoh tidak mungkin datang jika kita tidak >>

14. >> menjemputnya. | Sebagian orang berkata, tidak mungkin jodoh jatuh dari langit. He hm…, jodoh kita manusia bumi. BUkan hujan.

9. >> atasi kesulitan maupun rintangan, berarti kemudahan yang Allah Ta’ala berikan? Bukankah BERSAMA satu kesulitan ada banyak kemudahan?

15. Kita memang harus menjaga agar tertib amal. Tetapi ia tidak boleh rusak oleh keyakinan yang salah dan tauhid yang lemah.

Berkah Karena Syari’ah


Karena kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka konsekuensinya: kita tidak menyembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak berhukum kecuali dengan hukum Allah Ta’ala. Karena kita bersaksi bahwa Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya, nabi penutup seluruh nabi dan tidak ada lagi risalah sesudahnya, maka tidaklah kita mengambil panduan kecuali apa-apa yang diturunkan Allah Ta’ala kepadanya beserta seluruh titah maupun perbuatannya sebagai contoh kongkrit. Sebab, tidaklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertindak kecuali dengan bimbingan dan pengawasan-Nya. Tidaklah nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertutur dengan mengikuti hawa nafsu, bahkan untuk urusan pribadi. Maka, apa pun yang dikerjakan nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh. Kita bukan saja patut, lebih dari itu seyogyanya mencontoh apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, kecuali yang merupakan kekhususan bagi beliau.

 

Jadi, begitu kita bersyahadat, maka bersamaan dengan itu kita menyatakan kesediaan untuk menerima, menghormati, mengingini dan bersedia hidup sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dalam syari’ah. Tanpa itu, kita belum berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal, tatkala kita menyatakan diri untuk berislam, salah satu hal penting yang harus ada pada diri kita adalah kesediaan untuk berserah diri, yakni berserah kepada apa yang telah Allah Ta’ala tuntunkan dan perintahkan.

 

Sebagian dari kita –dan bahkan sebagian besar kita—belum mampu hidup dengan benar-benar sesuai syari’at Islam. Tetapi sangat berbeda orang yang hidup tidak sesuai syari’at Islam karena ketidakmampuannya menjalankan secara penuh, atau karena tidak ada jalan untuk menerapkannya dengan baik, dengan mereka yang memang secara sengaja menolak. Mereka yang tidak mau menerima syari’at secara i’tiqadiyyah, maka rusak syahadatnya. Mungkin mereka sukses meraup dunia, tetapi tak ada barakah di dalamnya.

 

Apa pentingnya barakah? Apakah hidup yang barakah akan terbebas dari kesulitan? Tidak! Tetapi dalam kehidupan yang penuh barakah, selalu ada kebaikan yang mengalir di dalamnya. Jika kita menghadapi kesulitan, maka ia mengantarkan kita pada kebaikan dan kemuliaan yang lebih tinggi. Sesungguhnya bersama satu kesulitan, ada beberapa kemudahan (inna ma’a al-‘ushri yushran). Jadi kemudahan-kemudahan itu justru melekat pada kesulitan yang kita hadapi dengan sabar dan kita selesaikan dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang hari ini menjadi kesulitan, pada waktu-waktu berikutnya tidak lagi merupakan kesulitan.

 

Apakah barakah itu? Secara sederhana, barakah sering dimaknai sebagai kebaikan yang sangat banyak. Kerapkali kali juga diartikan sebagai kebaikan yang bertambah-tambah.

Jika sebuah pernikahan penuh barakah –sebagai contoh—maka kesulitan yang mereka jumpai akan menjadi sebab lahirnya kebaikan yang besar. Bersebab kesulitan itu mereka memperoleh jalan kemuliaan. Sebaliknya setiap kemudahan dan kegembiraan, mengantarkan kita kepada pintu-pintu kebaikan. Bukan melenakan.

 

Apakah pernikahan yang tidak barakah sulit meraih bahagia? Saya tidak menemukan dalil yang menunjukkan bahwa tidak mungkin ada kebahagiaan bagi pernikahan yang tidak barakah. Tetapi dalam barakah ada keselamatan. Selebihnya, kita bisa belajar dari sejarah betapa banyak orang yang tampaknya hidup penuh kebahagiaan meski nyata-nyata menolak syari’at. Tetapi tiba-tiba saja semuanya berubah karena sebab-sebab yang tak terduga sebelumnya.Nikmati Jalan Dakwah, Sebagai Apapun atau Tidak Sebagai Apapun Kita

 

Jadi, bukan sekedar apa yang kita lakukan. Lebih dari itu kita perlu memperhatikan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak dan mengambil sebuah keputusan. Tatkala Anda mengambil keputusan untuk menikah dengan seorang perempuan yang baik akhlaknya dan tinggi ilmu diennya. Tetapi apakah yang menggerakkan Anda untuk memilihnya? Apakah karena pertimbangan keberagamaannya (dzat ad-dien) ataukah karena pertaruhan harga diri? Jika pilihan Anda karena keberagamaannya, kita bisa berharap barakah Allah Ta’ala akan turun berlimpah. Tetapi jika sebab yang menggerakkan terutama karena perkara dunia, maka apa yang tampaknya merupakan kebaikan boleh jadi menjadi pintu kekecewaan. Selebihnya, ada yang perlu diperhatikan dalam proses.

 

Bagaimana dengan rezeki? Tanpa memperhatikan halal haram, harta berlimpah bisa kita raih. Tetapi harta yang tidak barakah akan membawa kita pada jalan yang penuh dosa. Setidaknya, berat langkah kita membelanjakan harta itu pada jalan yang Allah Ta’ala sukai. Boleh jadi kita seakan-akan menginfakkan di jalan Allah, tetapi tidaklah kita melakukannya kecuali ada perkara yang tidak patut di dalamnya.

 

Sungguh, jika dunia yang menjadi tujuan, maka dien akan menjadi alat. Jika kaya yang menjadi impian, maka surga yang menjadi agunan. Jika menolong agama Allah yang menjadi kegelisahan dan tekad kuat kita, maka kita akan siap berletih-letih untuk berjuang, termasuk mengumpulkan harta yang banyak agar dapat mengongkosi perjuangan dakwah kita fiLlah, liLlah, ilaLlah.

 

Nah.

Memilih Sekolah untuk Anak


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

 

Apa pun yang Anda harapkan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah, perhatikan siapa gurunya. Mereka inilah yang paling mempengaruhi perkembangan anak di masa-masa berikutnya, terlebih jika yang Anda inginkan merupakan sekolah sehari penuh (full day school) atau sekolah berasrama (boarding school), baik yang memakai label pondok pesantren atau pun tidak. Semakin efektif seorang guru, semakin besar pengaruhnya terhadap siswa sehingga ia menjadi sosok yang dominan. Kata-katanya didengar, nasehatnya dipatuhi dan larangannya dihormati. Jika ia akrab dengan siswa, keakrabannya tidak membuatnya kehilangan kehormatan. Jika ia tidak akrab dengan siswa, ketidakrabannya bukan menjadi sebab kuatnya rasa takut dalam hati siswa. Sesungguhnya wibawa yang kuat menjadikan siswa merasa segan, sementara rasa takut menimbulkan rasa enggan untuk mendekat.

 

Jadi, pertanda apakah jika guru banyak berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya menasehati siswa? Ini menunjukkan bahwa ia termasuk guru yang tidak efektif. Jika keluhan semacam itu merata pada hampir semua guru, langkah berikutnya yang perlu Anda lakukan hanya satu: memeriksa siapakah yang mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah tersebut? Jika anak-anak yang masuk sebagai siswa baru memang sedari awal sudah bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang tidak efektif. Mereka lemah dalam strategi pengelolaan siswa dan tidak memiliki visi pengasuhan yang jelas. Tetapi Anda masih mempunyai harapan jika sekolah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengubah siswanya. Begitu pula guru-gurunya, sangat besar perhatiannya terhadap perbaikan dan kemajuan siswanya. Jika rata-rata siswa yang masuk sekolah tersebut sebenarnya bukan anak bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang sakit. Manajemen sekolah buruk dan guru-guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan siswa maupun pengelolaan kelas. Keadaan semacam ini akan berpengaruh besar baik terhadap sikap siswa, perilaku maupun prestasi akademik mereka.

 

Tentu saja guru yang baik dan sekolah yang efektif bukan tidak pernah membicarakan masalah siswa. Justru sekolah efektif kerapkali secara sengaja meluangkan waktu khusus setiap minggunya untuk membicarakan berbagai masalah yang mereka hadapi dan boleh jadi apa yang dianggap masalah di sekolah tersebut sama sekali tidak dianggap masalah di sekolah lain. Sekolah efektif dan guru-guru hebat bersemangat membicarakan masalah siswa dalam rangka meningkatkan kualitas anak didiknya ke tingkat yang lebih tinggi. Jika pun masalah yang mereka bicarakan merupakan ketidakpatutan (perilaku bolos, melecehkan teman dan sejenisnya), guru yang hebat akan fokus pada upaya menemukan jalan keluar. Solusi. Bukan sibuk dengan masalah itu sendiri. Apalagi sampai asyik menggunjingkan anak tersebut.

 

Yang terakhir ini, yakni perilaku guru yang senang membicarakan masalah siswa untuk menemukan keasyikan menggunjing siswa atau pun berkeluh-kesah, merupakan tanda bahaya sangat serius terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Pastikan, Anda segera memindahkan anak ke sekolah yang lebih positif bagi perkembangan anak jika guru-guru semacam itu masih tetap bertahan. Mereka tidak mau berubah, tetapi tidak bersedia untuk berhenti menjadi guru.

 

Di jenjang pendidikan apa pun, anak-anak kita memerlukan guru yang hebat. Mereka bukan saja mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik sehingga anak mudah memahami. Lebih penting dari itu mereka mampu mempengaruhi pikiran, perasaan dan sikap siswa. Mereka menginspirasikan kebaikan, nilai-nilai luhur dan karakter yang mulia. Bukan hanya menjelaskan dan memberi serangkaian instruksi.

 

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Pertama, integritas pribadi para pendidiknya. Mereka yang sangat kuat integritasnya akan mendahulukan nilai yang mereka pegangi, aqidah yang mereka yakini. Mereka juga sangat peka terhadap prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam hidup. Mereka mampu memilih hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya, meski ada pilihan yang lebih menggembirakan, dikarenakan pilihan yang kurang menyenangkan tersebut lebih bersesuaian dengan keyakinan yang dipeganginya. Kedua, motivasi dan kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Ketiga, kompetensi yang berkait dengan bidang keahlian yang diajarkan maupun kecakapan mengajarkan kepada siswa.

 

Ketiga aspek tersebut harus ada pada diri guru. Tetapi jika kita harus memilih, maka yang paling penting adalah aspek integritas. Inilah yang paling sulit dibentuk dan sekaligus sangat menentukan kualitas pribadi seorang guru. Tingginya jenjang pendidikan dan ungulnya kompetensi tidak akan bernilai apa-apa jika guru tidak memiliki integritas yang kuat.

Seorang guru harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Sekali rusak, kredibilitas itu sulit dipulihkan. Tetapi kredibilitas masih lebih mudah dibangun kembali daripada integritas. Begitu pula motivasi. Meskipun membangun motivasi jauh lebih sulit daripada membangun kompetensi, tetapi masih lebih mudah dibanding membangun integritas. Menyemangati guru melalui training motivasi memang mudah, tetapi membangun pribadi yang memiliki motivasi intrinsik sangat kuat memerlukan perencanaan serta kesediaan untuk bersabar dan bersungguh-sungguh.

 

Jadi, perhatikan integritas guru dan lembaganya lebih dulu. Baru motivasi guru selaku pengajar, lalu kompetensinya baik dalam bidang yang diajarkan maupun dalam kemampuannya mengajar. Guru yang kurang kompeten, akan mudah mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan melalui serangkaian training, proses pendidikan melalui kursus singkat maupun kuliah atau kegiatan belajar otodidak jika mereka memiliki motivasi yang sangat kuat.

 

Nah, apa yang sudah Anda persiapkan untuk memastikan anak-anak memperoleh pendidikan terbaik?

Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan. Jika sekolah dasar berkewajiban meletakkan dasar-dasar pengetahuan agar anak mampu mengembangkan keterampilan belajar di masa-masa berikutnya serta menguasai konsep dasar yang sangat menentukan bagi upaya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang lebih lanjut, maka jenjang pendidikan SLTP merupakan masa dimana anak-anak perlu mengembangkan diri serta memiliki orientasi belajar yang kuat. Pada masa ini, anak memerlukan figur yang kuat. Anak-anak juga memerlukan dasar-dasar berpengetahuan sehingga mereka memiliki kecintaan yang kuat terhadap belajar dan kecenderungan yang besar terhadap ilmu. Ini merupakan tugas guru-guru SD yang perlu memperoleh penguatan di SLTP, sebelum kelak akhirnya mereka mengembangkan kompetensi akademik maupun kecakapan profesional pada jenjang pendidikan SLTA.

ayah-pulang

Yang Khas Pada Remaja Awal

Satu lagi yang harus kita ingat. Pada masa remaja awal, anak memiliki dorongan kuat dalam beberapa segi. Pertama, mereka mulai menyukai lawan jenis. Ada ketertarikan secara seksual yang sekaligus menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa transisi ini mereka memerlukan orientasi seks yang baik, misal melalui pendidikan yang membangun wawasan keluarga sembari pada saat yang sama mereka belajar tentang etika dan aturan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Jika ini tidak kita perhatikan, mereka akan menyibukkan diri dengan hasrat mereka terhadap lawan jenis.

 

Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan siapa dirinya. Mereka memerlukan kepercayaan untuk bertanggung-jawab sekaligus kesempatan untuk unjuk prestasi. Jika mereka tidak mampu secara akademik, mereka perlu prestasi yang membanggakan di bidang lain. Jika dua-duanya tidak mampu, sementara tidak ada figur yang mereka hormati, maka mereka akan mencari pengakuan melalui kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran.

 

Ketiga, mereka sedang mempertanyakan nilai-nilai dasar. Pada saat yang sama, mereka sedang berada pada situasi yang sangat bersemangat untuk menjadi manusia idealis. Inilah masa ketika mereka mulai berani menunjukkan pemberontakan. Dan ini merupakan potensi besar jika ada figur kuat yang berpengaruh pada diri mereka. Di sekolah, gurulah yang harus menjadi figur berpengaruh tersebut!

 

Nah, siapakah guru yang akan mempengaruhi anak Anda?