Berkiprah dengan Modal Dua Ayat


FOTO: hamaday.wordpress
Tidak lulus Sekolah Dasar tapi mampu mendirikan pesantren di pusat Kota Kudus.
Hari menjelang malam, ketika Iman Syahid menginjakkan kaki di Kota Wali, Kudus, Jawa Tengah setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam dari Surabaya. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan.
Ketika peluh belum lagi kering, tangan ayah enam anak ini ditarik begitu saja oleh kernet angkutan kota (angkot) dan disesatkan hingga ke wilayah Demak. “Saya sempat bingung. Karena uang tinggal sedikit, saya memilih mushala untuk beristirahat dan melepas lelah,” ujar Iman.

Untung Iman tidak sendiri, ia ditemani oleh Abdurrahman dan Fatihul Haq, sehingga ada teman untuk berbagi suka dan duka.

Hanya saja, yang membuat mereka berdebar adalah lantaran dipundaknya bergelayut sebuah tanggungjawab untuk mendirikan sebuah pesantren di kota yang sebelumnya bernama Tajug itu. Bahkan dilihat dari nama dan julukannya sebagai Kota Wali, sudah membuat orang tidak boleh gegabah membuat kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan tanpa dilandasi oleh ilmu yang mumpuni.

Tentu bagi Iman, dan dua rekannya, tugas dakwah dan mendirikan pesantren di kabupaten berpenduduk 730.290 dengan jumlah santri, pelajar dan mahasiswa yang menekuni ilmu keagamaan mencapai 69.357 bukanlah hal mudah.

Tapi Iman tak mau mundur. Layar sudah telanjur terkembang. “Sekiranya tidak disokong oleh kemauan yang tinggi, rasanya pekerjaan ini mustahil dapat terwujud,” kata suami Umi Kalsum menjelaskan.
Oleh karena itu, segala hambatan tidak dijadikan masalah. Bahkan dalam lubuk jiwa Iman, ada keyakinan bahwa di Kudus ini masih banyak orang yang sehati dengannya dalam mengangkat misi kemanusiaan. Likulli da’watin tujib, setiap ajakan yang baik pasti ada yang menyambut, demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengingatkan.

Allah Maha Besar! Benarlah sesampainya di Kudus, setelah melakukan silaturahim ke masyarakat, berbagai tokoh, dan ormas Islam, Allah SWT mempertemukan Iman dengan seorang notaris, yakni Sultan Abdul Malik SH. Selama beberapa hari, Iman dan kawannya diperkenankan menginap secara cuma-cuma di rumahnya.
Namun, seenak-enaknya numpang di rumah orang tentu ada perasaan tidak nyaman. “Kami menyadari. Tentu kehadiran kami, menambah anggota keluarga baru beliau, sekaligus membebani. Tapi alhamdulillah, berkat kedermawanan Ibu Sultan, kami diterima dengan baik,” kata Iman.

Ujian Pertama
Tak ingin berlama-lama menumpang, Iman akhirnya memutuskan berpamitan, sekalipun belum tahu mau pindah ke mana. Syukurlah, tak berapa lama mereka diterima oleh seorang pemuka agama yang mempelopori cikal bakal kelahiran pesantren di daerah Ploso, Ustadz Shonhaji. Tokoh lulusan Pesantren Gontor tersebut selalu memberikan input kepada Iman tentang ketahanan mental dalam menghadapi tantangan.

Di sinilah terjadi pergolakan batin yang serius, khususnya pada diri Iman. Apakah ia akan tetap pada misi yang diamanahkannya untuk merintis berdirinya sebuah Pondok Pesantren Hidayatullah, atau mondok di Ploso, sebagai santri.

Iman sadar, panggilan untuk mondok sangat besar. Akan tetapi, percikan nilai-nilai yang ia peroleh dari Pesantren Hidayatullah tidak kalah kuatnya untuk dipertahankan. Bahkan ada semacam tekad jika tidak berhasil, tidak akan kembali ke Surabaya dan tidak akan pulang ke rumah, begitulah tekat Iman kala itu.
Menjemput Pertolongan-Nya

Suatu hari, Iman bersilaturahim ke Pak Haji, seorang pedagang sendal di Pasar Kliwon, Kudus. Anehnya, sekalipun tak pernah kenal, pertemuan awal itu sangat menyejukkan hati. “Kami berdua, bagaikan pertemuan antara generasi muda Ismail ‘alaihissalam (AS) dengan generasi tua Ibrahim AS,“ kata Iman.

Saat itu, komunikasi Iman dengan Pak Haji Lili –disebut demikian karena beliau terkenal dengan produk sandal ‘Lili’nya– berjalan efektif. “Seakan-akan kami berdua telah saling mengenal sekian lama,” tutur pria sederhana ini. Menurut Iman, suasana akrab melebihi dari keharmonisan dengan saudara sendiri, sulit terungkap dengan kata-kata.

Air mata kebahagiaan Iman mengalir tiada putus. Hatinya larut dalam suasana bahagia. Keyakinan akan dukungan Allah SWT terasa menyertai perjalanannya. Akhirnya, Iman bermarkas di rumah pinjaman Pak Haji. Dari markas ini pula, ia mulai mengajar ngaji anak-anak.

Makin lama anak yang mengaji makin banyak. Menyadari akan keterbatasan kemampuannya, ia pun merekrut beberapa mahasiswa IAIN Kudus untuk membantu menangani program pendidikan anak-anak yang mengaji.

Ujian Kembali Datang
Namun entah bagaimana ceritanya, muncullah ujian terhadap perjuangan Iman dan kawan-kawan. Perkembangan iman yang baru setapak itu dihadang api cemburu dari salah seorang yang ditokohkan. Iman sempat diusir oleh sang tokoh .

Syukurnya, di tengah kerisauan Iman, ternyata Pak Haji sebagai pendukung utama Iman tak terpengaruh. Dia malah makin percaya kepada Iman. Akhirnya, Iman melangkah semakin bulat. Alhamdulillah. Pada beberapa bulan berikutnya Pimpinan Hidayatullah Surabaya, Ustadz Drs Abdurrahman Ec, mengirimkan Ustadz Ir Hanifullah yang memberikan tenaga baru pada gerakan dakwah yang baru dirintis itu.

Hampir bersamaan dengan itu, Iman mendapat hibah rumah seluas 900 m2, di bilangan Grogol Loji, Bakalan Krapyak. “Kondisinya cukup menyeramkan. Kanan-kirinya penuh ilalang yang tinggi,” kata Iman mengenang.
Seiring perjalanan waktu, Iman merasakan tidak ada pekerjaan besar yang mustahil diwujudkan. Di atas pondasi keikhlasan, pertolongan Allah SWT semakin dekat dan terbukti. Kini, kampus Hidayatullah Kudus tidak lagi berupa semak belukar. Sejumlah fasilitas dakwah telah dibangun di dalamnya. Ada gedung serba guna, lima perumahan pengasuh, gedung TPQ, Play Group, TK Ya Bunayya, SDIT dan gedung SLTP Integral sejak tahun 2004. Dan baru-baru ini memperoleh tanah wakaf satu hektar berdekatan dengan jantung kota.
Dalam menekuni dakwah, selain sikap sami’na wa atha’na kepada pimpinan, ada dua ayat yang menjadi sumber semangat Iman. Ayat itu adalah “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad [47]: 7).

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq [65]: 2-3).

Pada awalnya tugas, Iman mengaku merasa berat menjalankan amanah yang di embannya. Akan tetapi, dikemudian hari ia menyadari betapa Allah SWT senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, dan melimpahkan rezeki dari sumber yang tak terduga.

Menurut Iman, amanah yang semula terasa berat dan menakutkan, kini menjadi indah dan mengasyikkan untuk dijalani. Subhanallah. *Sholih Hasyim, Ali Athwa/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2009

Berdakwah Menyingsingkan Ujung Celana


FOTO: meiwentyr.co.cc

Pengalaman seorang dai yang suka menelusuri gang-gang sempit dan membina anak-anak Nias. Kini, kegiatan dakwahnya merupakan jalan hidupnya.

Dari rumah petak sederhana yang terletak di belakang SDN 26 Anduriang kota Padang itu, setiap hari Dahlan menapaki sebuah gang sempit sejauh 800 meter hingga sampai di pinggir jalan raya. Lalu, ia menyetop angkot menuju medan dakwahnya.

Begitulah keseharian Muhammad Dahlan Gulo (34), seorang dai yang secara rutin mengisi pengajian di majelis taklim, masjid, mushalla dan surau-surau di kawasan pinggiran kota Padang.

Dakwah satu arah sebagai khatib Hari Raya, khatib Jumat atau berceramah di majelis taklim seperti dilakukan kebanyakan dai perkotaan, hanyalah salah satu saja dari demikian banyak cara berdakwah. Bertahun-tahun Dahlan juga ikut dalam rutinitas dai perkotaan seperti itu. Diundang mengisi pegajian, diantar-jemput dengan kendaraan, dan pulangnya sering disisipi ‘amplop’ pula.

Dakwah juga dapat dilakukan dengan menulis di media massa seperti yang sering dilakukan Dahlan di koran-koran lokal. Tetapi cara lain sering dilaksanakan Dahlan dan tak kalah hasilnya adalah berdakwah secara face to face.

“Alhamdulillah, dengan sering bertatap muka, mendatangi remaja yang suka nongkrong di halte atau petani yang lagi berleha-leha di pondok sawah, banyak yang kemudian menjadi jamaah yang intensif mendalami Islam,” tutur Dahlan.

Dakwahnya yang sejuk dan kerelaannya menyingsingkan ujung celana untuk menapaki gang-gang yang becek, membuat Dahlan mudah diterima di komunitas warga asal pulau Nias yang mayoritas memang non-Muslim.

Di saat banyak dai perkotaan berkhutbah di masjid-masjid megah, Dahlan berdakwah dengan berjalan kaki menyusuri gang sempit mendatangi satu rumah ke rumah lainnya di kawasan permukiman dan bantaran sungai yang mengalir di tengah gemerlapnya kota Padang.

“Alhamdulillah, dengan dakwah face to face ini mereka kemudian menjadi jamaah yang giat mendalami Islam,” ujarnya.

M Ilyas, Ahmad Yani, Hasbullah (Hastugale) adalah di antara pemuda asal Nias binaan Dahlan yang kini tengah giat belajar shalat dan mengaji setelah bersyahadat meninggalkan Kristen dengan kesadaran sendiri.

Selain menggarap mereka yang sudah lama menentap di kota Padang, Dahlan juga sering pulang ke kampungnya di Nias. Ketika kembali ke kota Padang, bersamanya telah turut beberapa anak dan remaja Nias. Mereka kemudian mengucapkan dua kalimah syahadat dan lalu dititipkan Dahlan pada beberapa panti asuhan.

Puncaknya terjadi pasca bencana gempa yang meluluhlantakan Pulau Nias pada 28 Maret 2005 silam. Saat itu, Dahlan seperti berpacu dengan para misionaris dan LSM asing yang sengaja berburu anak-anak Nias.

Saat itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) memberikan hidayah pada demikian banyak anak-anak Nias yang dirangkul Dahlan. “Bahkan seorang ibu dengan lima anaknya saya boyong ke Padang. Saya tidak tega melihat mereka kelaparan, bahkan ada yang meninggal di tempat pengungsian karena tak pernah tersentuh bantuan BRR Nias,” katanya.

Setiba di kota Padang, ibu Adriat yang berganti nama dengan Siti Fatimah dan kelima anak ini bersyahadat dengan bimbingan buya Masoed Abidin dan mendapat hadiah mukena dari Walikota Fauzi Bahar.

Banyak jamaah yang meneteskan airmata mendengar lafaz syahadatin yang keluar dari mulut mungil kelima bocah kecil itu. Untuk kelanjutan pendidikan dan nafkah para mualaf asal Nias ini, dibukalah rekening di Bank Mandiri Padang, No.Rek. 120 000 5170183 an. Dalizanolo Gulo, S.Ag. Para pemimpin dan masyarakat malam itu berjanji akan mengirimkan bantuan melalui rekening itu.

Tapi setelah acara pensyahadatan yang dihadiri Walikota Padang itu usai, Dahlan dihadapkan pada kenyataan pahit. Rekening itu nyaris tak terisi, hanya sedikit sekali umat yang sudi menyalurkan sedekah, infak dan zakatnya bagi para mualaf dari Nias itu.

Mualaf yang Tabah
Ketika masuk Islam pada 21 Juli 1987, Dali yang kemudian berganti nama menjadi Muhammad Dahlan sudah berikrar akan tawaqal illahah dalam menjalani sepahit apapun kehidupan setelah memeluk Islam. “Awal keterpikatan saya pada Islam setelah mendengar suara adzan dari masjid di kampung tetangga Faekhona’a,” tutur Dahlan.

Benar saja, Allah SWT langsung menguji sang mualaf muda ini. Ayahnya, Bowo Aro Gulo, yang memiliki Jemaat Gereja di desa Faekhona’a Kecamatan Alasa (kini kec. Afu’ulu), Kabupaten Nias, segera saja menghentikan segala bantuannya. Tetapi Dahlan tidak pernah berkecil hati dengan perlakuan ayah dan saudaranya. “Saya dilahirkan di tengah keluarga Kristen pada 13 Mei 1974. Saya anak bungsu dari delapan bersaudara. Sehari setelah melahirkan saya, ibu meninggal. Saya sudah piatu sejak bayi,” ujarnya.

Awalnya, Dahlan mendalami Islam di Pesantren Darul Ulum, Nabundong, Kecamatan Sososopan, Padangsidempuan. Kemudian melanjutkan ke tingkat aliyah di Pesantren Aek Hayuara, Kecamatan Barumuis Tapanuli Selatan hingga tamat tahun 1992.

Pemutusan bantuan oleh orangtua sejak memeluk Islam, melecut Dahlan untuk terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Dahlan terus berjuang membanting tulang demi mencari nafkah yang halal. Perasaan sebagai anak yang terbuang dari keluarga setelah memeluk Islam, terus ia tepis. “Ketika berangkat dari kampung, saya hanya punya uang tujuh ratus rupiah saja. Itulah yang saya manfaatkan untuk membeli satu lusin limun yang saya jual keliling pesantren, Rp 100 per botol,” kenangnya.

Dahlan pun pernah menjadi tukang putar mesin disel dan membuat tangannya lecet. Juga pernah bekerja di rumah makan sabagai tukang cuci piring. Pokoknya, tak ada gengsi-gengsian. Apa pun pekerjaannya ia lakukan asal halal.

Setamat aliyah tahun 1992, Dahlan bercita-cita melanjutkan pendidikan ke IAIN Imam Bonjol Padang. Sayang, saat tiba di Padang, jadwal pendaftraan mahasiswa baru telah ditutup. Dalam kegalauan hati antara ingin bertahan di kota Padang atau kembali ke Nias, Dahlan berkenalan dengan Nazar Bakri, pengurus Masjid Taqwa. Nazar memintanya untuk terus bertahan di kota Padang hingga awal tahun ajaran baru dan menyediakan sebuah kamar di rumahnya untuk ditempati Dahlan.

Dahlan mulai menapaki kehidupan di kota Padang dengan mengajar mengaji di TPA Masjid Al-Mukaramah Jati. Ia kemudian bertemu dengan buya Mansur Malik (saat itu Rektor IAIN Imam Bonjol) dan Kepala Perpustakaan Chalid, MS.
yang membutuhkan tenaga pembantu.

“Saya menerima tawaran itu walau honornya cuma Rp 25 ribu per bulan. Saya pikir ini peluang emas karena dengan bekerja di perpustakaan IAIN Imam Bonjol, saya akan berada dalam ‘gudang ilmu’ dan bebas membaca segala buku dengan gratis,” tutur Dahlan.

Berbekal ilmu -karena rajin membaca di perusatakaan- itulah, Dahlan yang biasanya hanya menjadi guru TPA, berani tampil menggantikan seorang khatib Jumat yang tidak datang.

“Kali pertama tampil, mikrofon yang saya pegang bergetar–getar seperti gempa lokal karena tubuh saya bergetar menghadapi jamaah,” kenang Dahlan.

Namun dengan kesungguhan dan niat yang ikhlas, Dahlan terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya kini berdakwah sudah menjadi jalan hidupnya. *Dodi Nurja/Suara Hidayatullah, JANUARI 2009

Di Lereng Dieng Sugio Mengikis Syirik


Tak mudah mengubah tradisi syirik yang telah mengakar kuat di masyarakat. Menerima cemoohan bahkan ancaman pengusiran.

Sugio kaget. Suatu saat, ada seorang wisatawan asal Bogor, Jawa Barat bertanya kepadanya, “Dieng bukannya daerah Hindu. Tapi kok banyak masjid di sini?” Orang tersebut pun tak percaya jika ternyata hampir 99,9 persen penduduk di dataran tinggi Dieng adalah Muslim. “Tidak mungkin jika tak ada seorang pun orang Hindu di Dieng sini,” ujar lelaki yang bernama lengkap Sugio Abdul Ghony menirukan saudaranya kepada Suara Hidayatullah awal bulan Desember lalu di kediamannya.

Namun, anggapan itu bukan saja dari satu atau dua orang. Tak sedikit pengunjung dari luar Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo yang beranggapan Dieng identik dengan Hindu. Menurut Sugio, anggapan itu muncul karena yang kerap terekspos oleh media tentang Dieng adalah ritual yang berbau syirik. Seperti ruwatan rambut gimbal dan sedekah bumi. “Seremonial budaya berbau syirik itu sengaja dilestarikan untuk komoditas pariwisata,” kata pria kelahiran Dieng Kulon, tak jauh dari kompleks candi Arjuna.

Seperti sedekah bumi, misalnya, adalah tradisi sesaji kambing pilihan. Kepala kambing itu dipotong lalu ditanam di tengah-tengah desa. Begitu juga dengan keempat kakinya. Setali tiga uang dengan pemotongan rambut gimbal. Hal itu harus dilakukan secara seremonial dan dengan syarat tertentu. Salah satunya, pencukuran itu harus dengan kehendak sang bocah dan memenuhi permintaan bocah tersebut. Jika tidak, konon gimbal tersebut bakal tumbuh kembali dan bisa mendatangkan bala. Belum lagi dengan tradisi berbau syirik lainnya yang masih kental di masyarakat yang membuat Sugio gerah.

“Tradisi berbau syirik, khurafat, dan bid’ah hampir ada di berbagai acara masyarakat. Mulai dari pernikahan, kelahiran, khitanan, hingga ke masalah kematian,” ujar lelaki yang pernah nyantri di Pesantren Ngruki, Solo ini.

Mendapat Tantangan

Melihat itu, Sugio pun tergerak untuk menyelamatkan aqidah umat Islam. Suami dari Siti Rohyatin ini berniat mengikis tradisi syirik yang telah turun temurun dan mengakar kuat di masyarakat. Maka selepas keluar dari Ngruki tahun 1998, ia langsung tancap gas. Ketika itu, ia melihat jamaah shalat di desanya hanya waktu shalat Maghrib dan Isya’. Selain itu, kebiasaan mereka sering mengakhirkan waktu shalat. Tak pelak, masjidnya pun sepi jamaah. Padahal, Masjid Nurul Huda di desanya cukup besar dan megah. Masjid ini berlantai dua dan bisa menampung ratusan jamaah. Ia lalu berinisiatif memakmurkan masjid.

Ia juga menggarap anak-anak dengan mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA) Nurul Huda. Kini, di samping masjid yang megah itu, telah berdiri gedung TPA dengan beberapa ruang kelas yang cukup representatif. Sambutan masyarakat pun cukup menggembirakan dengan adanya anak-anak yang belajar membaca al-Qur`an. Sekarang, ada sekitar 136 santri. “Awalnya lebih dari 200 santri. Namun, gara-gara ada pihak yang tidak suka, santrinya pelan-pelan merosot,” ujarnya.

Bukan saja santrinya saja yang menurun, dakwah Sugio lambat laun juga mendapat tentangan dari masyarakat. Itu bermula saat ia mulai menyinggung masalah tradisi yang dianggapnya berbau syirik. Sugio dalam ceramahnya di berbagai forum memang menyinggung ruwatan cukur rambut gimbal dan sedekah bumi yang termasuk syirik dan tidak ada ajaranya dalam Islam. Aqidah Islam, katanya, tidak boleh dikotori dengan hal-hal yang bisa mempersekutukan Allah.

Karena dakwahnya yang keras itu, tak sedikit yang menuding Sugio dai yang suka melarang. “Saya sampai dijuluki dai yang suka melarang ini dan itu,” tuturnya. Meski begitu, ada juga yang mulai sadar dan menerima dakwah Sugio. Mereka pelan-pelan meninggalkan tradisi syirik dan khurafat. “Alhamdulillah, kini sudah banyak yang sadar dan tidak lagi melakukan hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Namun, masalah datang justru dari salah seorang tokoh masyarakat yang tidak suka padanya. Ia menuding ajaran Sugio sesat. Ia selalu mencari kesalahan dakwahnya. Tidak hanya itu, kata Sugio, ia juga memprovokasi masyarakat untuk tidak mengaji kepadanya. Lebih parah lagi, ada yang punya niat untuk mengusir Sugio dari desa yang telah membesarkannya itu.

“Ada selentingan kalau saya mau diusir. Tapi, alhamdulillah hingga kini belum terjadi,” tuturnya.

Meski aral melintang dakwahnya begitu besar, langkahnya tidak surut ke belakang. Ia tetap berjuang sekuat tenaga. Menurutnya, dakwah membutuhkan pengorbanan. Ia selalu berdoa pada Allah agar selalu dalam perlindungan-Nya.

Sugio pernah merasakan buah manisnya dakwah di Dieng yang eksotis itu. Dulu ia sempat berhasil mendidik beberapa anak muda hingga menjadi kader Islam yang militan. Remaja yang masih duduk di bangku SMA itu dibina akhlaknya, cara berpakaian, dan bergaul. Mereka juga diajak memakmurkan masjid. Bahkan Sugio sempat menikahkannya. “Ada sekitar tiga anak yang berhasil saya nikahkan,” tuturnya.

Namun, lagi-lagi karena pengaruh dari orang lain, pelan-pelan dakwahnya terjegal. Banyak orangtua yang melarang anak mereka mengaji kepada Sugio. Termasuk para kadernya, lambat laun berkurang. Katanya, ajaran yang dibawa lelaki berjenggot tebal ini dianggap aneh. Entah kenapa, Sugio pun bingung.

Memberi Manfaat

Dieng adalah daerah pariwisata. Udaranya sejuk, bisa mencapai 15 derajat celcius di siang hari. Dieng juga menyuguhkan banyak objek wisata. Yang paling terkenal di antaranya Kompleks Candi Arjuna dan Telaga Warna. Setiap hari, khususnya Sabtu dan Ahad ratusan pengunjung baik domestik maupun luar negeri datang ke tempat ini. Hal itu dimanfaatkan pemerintah setempat untuk menjadikan acara sedekah bumi dan ritual cukur rambut gimbal untuk mengundang wisatawan.

Sebagai tempat wisata, tentu banyak pengunjung dengan berbagai macam kalangan. Sugio khawatir jika Dieng dibanjiri tempat maksiat. Oleh karena itu, sejak jauh-jauh hari ia berpesan kepada kepala desa untuk tidak mengijinkan pendirian tempat hiburan seperti karaoke dan sebagainya. Di Dieng, katanya, belum ada satu pun tempat karaoke.

“Saya sudah pesan kepada kepala desa untuk menjaga Dieng dari tempat yang bisa merusak iman,” terangnya.

Di sela-sela dakwah dan mengajar ngaji di TPA setiap sore, Sugio sibuk di ladangnya dengan menanam kentang. Dari menanam kentang itulah, ia memenuhi kebutuhan keluarganya. Kini, tekadnya cuma satu: keberadaannya harus memberikan manfaat dan perubahan bagi masyarakat.* Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah, JANUARI 2013

Terima Kasih, Sayang


Sudahkah engkau berterima kasih kepada isterimu hari ini? Kalau belum, tengoklah sejenak perjalananmu dari semenjak bangun tidur hingga saat engkau baca tulisan ini. Ingatlah kembali kebaikan-kebaikan isterimu, baik yang engkau anggap sebagai kebaikan maupun yang engkau anggap sewajarnya ada. Ingatlah sejenak, betapa hampir-hampir tidak ada satu hari pun yang kita lewati kecuali di sana ada kebaikan-kebaikan isteri yang tak cukup kita balas hanya dengan ucapan terima kasih. Kalau masih saja engkau tak menemukan apa yang dapat membuatmu berterima kasih kepada isteri, tangisilah! Boleh jadi kerasnya hati (atau jangan-jangan hatimu sudah mati?) yang menyebabkan engkau tak sanggup menangkap kebaikan-kebaikannya. Padahal, sejudes apa pun isterimu –barangkali—pasti ada padanya kebaikan. Jika tidak, lalu apa yang menyebabkanmu memilihnya?

 

Boleh jadi engkau mengenal dia sebelumnya karena kebahagiaan perkawinan memang tidak berhubungan dengan seberapa kenal kita dengan orang yang akan kita nikahi. Tetapi bukan­kah ada yang membuatmu memilihnya? Mungkin karena rupa (ah…, kalau ini memang cepat sirna), mungkin juga karena sesuatu yang lebih tinggi nilainya; karena akhlaknya yang baik atau karena agamanya yang lurus.

 

Jika memang ada yang membuatmu untuk tergerak memilih, atau mengiyakan tawaran yang datang kepadamu, lalu apakah yang membuatmu sulit untuk sekedar mengucapkan terima kasih? Ataukah karena ada sesuatu yang menyakitkan hatimu darinya saat ini? Ataukah ada tindakannya yang tidak engkau sukai? Atau lebih dari itu, ada perkara yang membuatmu bu­kan saja tidak menyukai tindakannya, tetapi bahkan engkau berubah tidak menyukai dirinya?

 

Kalau itu yang membuat nyala api cinta mengecil di rumahmu, ingatlah sejenak ketika Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’anul Kariim, kitab yang tak ada keraguan di dalamnya. Kata Allah, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa  dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata . Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,  karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’, 4: 19).

 

Tidakkah engkau lihat di sana? Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Betapa luas ilmu Allah dan betapa sempit pandangan kita. Apa yang kita pikirkan dan rasakan dari isteri kita kerapkali bukan karena pengenalan yang baik terhadapnya, meski kita merasa telah mengenalnya luar dalam. Kadang kita mengenal dia dengan sebaik-baik pengenalan. Padahal yang lebih banyak bermain dalam pikiran dan perasaan kita adalah keinginan yang kadang bersambut kadang tidak, suasana hati yang kadang stabil kadang tidak, hasrat yang kadang meletup-letup kadang tenang, pengalaman yang kadang sangat kita yakini kebenarannya meski sangat besar kesalahannya. Betapa banyak orang yang menjadikan pengalaman sebagai “hukum” dalam bertindak tanpa mencoba menelusuri prinsip-prinsip yang ada di balik pengalamannya. Padahal sekian banyak orang mempunyai pengalaman yang berbeda.

 

Benar, ada peribahasa historia vitae magistra. Pengalaman adalah guru kehidupan yang paling baik. Tetapi menyimpulkan begitu saja apa yang kita alami sebagai kepastian adalah kekeliruan yang membuat kita tak bisa mengambil pelajaran. Itu sebabnya saya sering berkata, tidak penting apa pengalaman kita. Tidak penting pula fakta yang ada pada kita. Jauh lebih penting adalah menangkap prinsip-prinsip di balik fakta dan pengalaman itu. Jika tidak mampu, berpikir positif dengan berusaha mencari kebaikan yang bisa kita raih dan lakukan akan jauh lebih bermanfaat.

 

Saya teringat dengan sebuah seminar. Ketika itu saya bertutur tentang keutamaan menikah dini dan apa yang harus kita lakukan agar pernikahan dini itu mendatangkan kebaikan serta kebahagiaan. Saya ingin menghadirkan perbincangan tentang manfaat menikah dini sekaligus bagaimana meraihnya. Di dalamnya sebenarnya telah memuat prinsip-prinsip untuk meraih keindahan nikah dini, antara lain harus merupakan pilihan sadar dan berbekal ilmu. Tetapi seorang pembicara tiba-tiba dengan sengit membantah. Bukan dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan prinsip yang ajukan apabila ia menemukan kekeliruan di dalamnya, melainkan menunjukkan pengalaman temannya yang tidak sukses menikah dini.

 

Sesungguhnya, ini merupakan kesimpulan yang sangat gegabah. Jika tetangga kita mati setelah makan sebiji apel, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa apel merupakan buah yang mematikan meski ada fakta bahwa tetangga kita mati. Kesimpulan ini tidak memadai sebab tidak didukung penggalian yang mendalam tentang what’s behind the fact. Apa yang ada di balik fakta.

 

Uff…! Saya tidak akan berpanjang-panjang berbincang tentang pengambilan kesimpulan yang tepat dalam berseminar. Saya hanya ingin mengajak engkau untuk lebih banyak membuka ruang di jiwamu. Kalau sekali waktu engkau lihat isterimu tidak menampakkan wajah cerah di hadapanmu di saat engkau sedang penat-penatnya, maka ambillah waktu sejenak. Kenangkanlah betapa banyak kebaikan yang telah ia lakukan untukmu agar dapat engkau rasakan betapa baik ia bagimu.

 

Sejauh ia tidak berkhianat atas amanah yang Allah berikan kepadanya, rasa-rasanya hampir tak pernah ada alasan bagi kita untuk melupakan terima kasih kepadanya. Apakah engkau mengira bahwa hidangan sederhana ia suguhkan kepadamu adalah perkara biasa-biasa saja? Tidak. Sungguh, tidaklah segelas minuman hadir kepadamu begitu saja kecuali karena di dalamnya ada cinta, perhatian, ketulusan dan kasih-sayang. Pada sesendok gula yang ia tuangkan saat menyeduh kopi untukmu, di sana ada cinta dan perhatian. Pada kepekaannya menyiapkan minuman untukmu di pagi hari, di sana ada ketulusan. Setidak-tidaknya, andaikan pun itu semua tidak ada pada dirinya, tetap ada satu hal yang membuat engkau tetap perlu mengucapkan terima kasih yang tulus kepadanya. Satu hal itu adalah: ia masih menghormatimu. Tidak merendahkan.

 

Maka, alasan apa lagikah yang membuatmu sulit sekedar untuk mengucapkan terima kasih kepadanya?

 

Sungguh, aku lihat tak ada halangan bagi seorang suami mengucapkan terima kasih yang tulus, atau bila perlu mencium tangan, kening atau sekedar pelukan ringan baginya kecuali karena kerasnya hati atau gersangnya jiwa dari kasih-sayang. Tak ada halangan bagi kita untuk meminta maaf kepada isteri, kecuali karena tingginya hati dan angkuhnya jiwa. Ada nikmat yang berlimpah pada kita, tetapi kita lupa bersyukur kepada Allah.

 

Bukankah berterima kasih kepada manusia adalah salah satu jalan untuk bersyukur kepada-Nya? Dan manusia yang paling dekat dengan kita sesudah orangtua dan anak adalah isteri kita sendiri.

 

Tentang syukur ini, mari kita ingat sejenak ketika Rasulullah saw. bersabda, “Yang paling bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai berterima kasih kepada manusia.” (HR. ath-Thabrani).

 

Apakah buahnya syukur? Nikmat yang bertambah-tambah. Bukan isteri yang bertambah, tetapi makna kehadirannya di sisi kita yang bertambah. Itu sebabnya, kadang ketika ada yang datang mengeluhkan perkawinannya yang hambar, saya menyarankan kepadanya untuk membuat daftar yang harus terisi setiap hari. Daftar itu terdiri dari dua kolom. Tidak boleh lebih. Satu kolom berbunyi “kebaikan isteri (suami) saya hari ini” dan satu kolom lagi “kesalahan dan keburukan saya hari ini”.

 

Setiap hari, kedua kolom tersebut harus ada isinya. Bukan keberhasilan kalau pada kolom “kesalahan dan keburukan saya hari ini” tidak ada isinya sama sekali. Begitu juga, bukan buruk isteri kita kalau kita tidak mampu mengisi kolom “kebaikan isteri saya hari ini”. Sama sekali bukan. Kosongnya isian justru menandakan harus ada yang kita perbaiki pada diri kita. Barangkali kita sudah terlalu angkuh pada diri kita sendiri sehingga tak sanggup menemukan kekurangan diri sendiri dan pada saat yang sama kebaikan isteri kita.

 

Tentu saja saya tidak berharap kita sampai harus membuat daftar seperti itu, sekalipun tidak ada salahnya kita melakukan. Saya berharap masing-masing kita senantiasa menemukan makna atas hadirnya isteri di samping kita. Tidak hampa. Salah satu jalannya adalah mensyukuri kehadirannya dengan berterima kasih.

 

Nah, sudahkah engkau berterima kasih kepadanya hari ini?

Setetes Darah Istri Tercinta


oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.

Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?

Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta


Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia?


Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.

Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,”ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?”


Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.

Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat baik.”


Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.

 

Ust. M Fauzil Adhim

Cara Nabi Mendidik Anak 2


Bab 2

Bayi, dari lahir hingga berusia 2 tahun

Dari Ummul Mukminin, Aisyah ra. Bahwa Rasulullah saw besabda : ”Barang siapa yang mentarbiyah (mendidik) anak kecil sehingga mengucapkan ’Laa ilaaha illal-Laah’, maka Allah tidak akan menghisabnya” (HR. Thabrani dari Aisyah ra)

  • Amalan dan do’a ketika Mengalami kesulitan saat melahirkan

Ketika Fatimah putri Rasulullah saw sedang dalam proses melahirkan, Rasulullah saw menyuruh Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy untuk membacakan beberapa ayat, yaitu : Ayat Kursi, Al-A’raf :54, Yunus : 3, Q.S Al-Falaq dan An-Naas

  • Beberapa Amalan Pada Hari Pertama Kelahiran

1) Mengeluarkan zakat fitrah

2) Berhak mendapat warisan

3) Ucapan selamat dan bahagia Atas Kelahiran Bayi

4) Adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri

5) Do’a dan bersyukur kepada Allah atas nikmat kelahiran

6) Mentahnik bayi

  • Beberapa amalan pada hari ke tujuh

1) Pemberian nama

2) Mencukur rambut

Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah ra. menimbang rambut Hasan dan Husain, lalu bershadaqah dengan perak seberat rambut mereka.

3) Aqiqah

”Setiap anak itu tergadaikan dengan aqiqah (sebagai penebusnya) yang disembelih pada hari ketujuh sekaligus dinamai dan dicukur rambutnya pada waktu itu” (hr. Tirmidzi dan Hakim)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam sebuah hadist marfu’ dari Asma binti Yazid

”Aqiqah merupakan hak, untuk anak laki-laki dua kambing yang sebanding da untuk anak perempuan satu kambing.”

4) Khitan

  • Menyusui Hingga 2 tahun

Q.S. Al-Baqarah ; 233

  • Hukum kencingnya anak yang masih menyusu dan Cara Pensuciannya

Imam syafi’i berpendapat bahwa kencing bayi hanya cukup dengan disiram air, sedangkan menurut Imam Hanafi, kencing bayi tetap perlu dicuci. Adapun tentang kenajisannya, sebagaimana disebutkan Imam Nawawi, para ulama bersepakat mengenainya.Akan tetapi bukanlah najis yang berat, karena pensuciannya cukuplah disiram dengan air.

  • Anak masih menyusu boleh dibawa ibunya ke mesjid
  • Anak kecil yang belum bisa buang air kencing sendiri makruh dibawa ke mesjid
  • Penjagaan dan pengasuhan anak menjadi hak ibu
  • Hak perwalian pada ayah atau yang bertanggung jawab
  • Hilfaaz Collections

    Hilfaaz Collections

Bab 3 : Cara-cara Nabi Mendidik Anak

Pertama : Panduan Dasar untuk Orang Tua dan Pendidik

  • Keteladanan

Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Oleh karena itu,Rasulullah SAW memerintahkan agar oranng tua bersikap jujur dan menjadi teladan kepada anak-anak mereka. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa berkata kepada anaknya, “Kemarilah!(nanti kuberi)’ kemudian tidak diberi maka ia adalah pembohong (HR.Ahmad dari Abu Hurairah) Orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan Sunah Rasul-Nya, menyangkut perilaku dan perbuatan. Karena anak melihat mereka setiap waktu. Kemampuan untuk meniru sangat besar.

  • Memilih waktu yang tepat untuk menasehati

 

Rasulullah SAW selalu memperhatikan waktu dan tempat untuk menasehati anak-anak, agar hati anak-anak dapat menerima dan terkesan oleh nasehatnya. Sehingga mampu meluruskan perilaku mereka yang menyimpang dan membangun kepribadian yang bersih dan sehat. 3 pilihan waktu yang dianjurkan : Saat berjalan-jalan atau di atas kendaraan Waktu makan Ketika anak sedang sakit

  • Bersikap adil dan tidak pilih kasih

“Bertakwalah kepada Allah dan bersikaplah adillah terhadap anak-anak kalian “ (HR. Muslim) “Orang yang bersikap adil akan (dimuliakan) di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu orang yang adil dalam hukumnya, (adil) terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin (HR. Muslim)

  • Memenuhi hak-hak anak
  • Mendoakan anak
  • Membelikan mainan
  • Membantu anak agar berbakti dan taat

“Bantulah anak-anakmu agar berbakti! Barangsiapa yang mau melakukannya, ia dapat mengeluarkan sikap kedurhakaan dari diri anaknya (HR. Thabrani)

  • Tidak banyak mencela dan mencaci

Kedua : Cara Efektif Mengembangkan Pemikiran Anak

  • Menceritakan kisah-kisah Terutama kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an dan Al-Hadist.
  • Berbicara langsung, Rasulullah mengajarkan kepada kita agar berbicara dengan anak secara langsung, lugas dan dengan bahasa yang jelas.
  • Berbicara sesuai dengan kemampuan akal anak
  • Berdialog dengan tenang
  • Metode praktis empiris
  • Dengan cara mendidik dan mengasah ketajaman indera anak.
  • Kebutuhan anak terhadap figure riil, Yakni Rasulullah SAW

Ketiga : Cara efektif membangun jiwa anak

  • Menemani anak
  • Menggembirakan hati anak
  • Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya
  • Memotivasi anak
  • Memberi pujian
  • Bercanda dan bersenda gurau dengan anak
  • Membangun kepercayaan diri seorang anak
  • Mendukung kemauan anak Membangun kepercayaan sosial
  • Membangun kepercayaan ilmiah
  • Bermula dengan mengajarkan Al-qur’an, hadist dan sirah nabawiahnya
  • Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan
  • Dengan melatih anak melakukan praktik jual beli, mengajaknya ke pasar dan membiarkannya membeli barang yang diinginkannya.
  • Panggilan yang baik
  • Memenuhi keinginan anak
  • Bimbingan terus menerus

Dibanding semua mahluk hidup, masa kanak-kanak manusia adalah paling panjang.
Ini semua kehendak Allah, agar cukup waktu mempersiapkan diri menerima taklif (kewajiban memikul syariat)

  • Bertahap dalam pengajaran

Seperti ketika mengajarkan shalat. Dalam hadist dikatakan : “Perintahkanlah anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur 10 tahun. Imbalan dan hukuman (Reward and punishment)

dr. Ariani, http://parentingislami.wordpress.com

//


SavedURI :Show URL