Pandanglah wahai saudaraku !


Saudaraku, Perjalanan ini memang panjang dan melelahkan. Terkadang, mungkin kita terengah-engah kehabisan nafas untuk terus menapakkan kaki hingga sampai ke tujuan. Terkadang, mungkin kita terseok-seok merasa tak kuat dan hampir tertinggal oleh derap serta gerak para kafilah da\’wah itu. Terkadang, mungkin kita tersandung dan terjatuh oleh aral dan kesulitan perjalanan.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Tak satupun di antara kita yang tak pernah mengalami suasana perasaan seperti itu. Hampir semua kita, sekokoh apapun kepribadiannya, pasti akan mengalami situasi lemah dan merasa kekurangan tenaga. Memang demikianlah jiwa manusia, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits shahih, bahwa keimanan itu ada kalanya bertambah dan berkurang. Ia bertambah karena amal shalih, dan berkurang karena kemaksiatan.

Tapi ingat saudaraku,
Selama kita berusaha berada dalam kafilah ini, insya Allah kelemahan dan kekurangan kita tidak akan mampu menjatuhkan kita. Selama kita tetap komitmen bergerak dalam orbit komunitas jama’ah da’wah, insya Allah kita menerima banyak keistimewaan dan barakah. Selama kita tetap memelihara hubungan baik dengan kafilah da’wah, insya Allah semua kelalaian dan penyimpangan kita kemungkinan besar akan dapat diluruskan dan kembali kepada jalan yang benar. Kesimpulannya, kita baru akan jatuh terpuruk, tenggelam, dan terseret oleh arus yang lain, tatkala kita berada di luar arus atau orbit jama’ah da’wah.

Salah satu barakah hidup bersama orang-orang sholih adalah, mereka selalu mampu memberi nasihat dan pencerahan hati bagi orang yang duduk bersamanya. “Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadi kamu mengingat Allah“, Begitulah sabda Rasulullah SAW. Renungkanlah perkataan Rasulullah tersebut. Sekedar melihat seorang teman yang shalih akan memberi cahaya keshalihan yang berbeda dalam diri orang yang melihatnya.

Saudaraku para kafilah da’wah,
Melihat orang lain yang lebih tinggi kadar ibadah, zhuhud, jihad, dan ilmunya, pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam diri kita. Merekalah yang akan mempengaruhi zhuhud kita, ibadah dan jihad kita. Karenanya, para sahabat generasi pertama disebut sebagai generasi istimewa, antara lain lantaran mereka senantiasa hidup bersama Rasululluh SAW. Ada orang salaf mengatakan, “Jika aku merasakan kekesatan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi’” (Nuzhatul Fudhola, 1/526). Ibnul Mubarak juga  mengatakan, “Jika aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, aku biasanya menangis“.

Itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh orang-orang shalih terdahulu. Bagi mereka, bertemu dengan saudaranya adalah bekal spirit yang dapat membekali kebangkitan ruhani mereka. Dan memang demikianlah yang terjadi.

Simaklah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qosim, salah satu ulama fiqih di Mesir yang wafat tahun 191 H. “Aku pernah mendatangi Imam Malik sebelum waktu fajar. Aku tanyakan dia tentang dua masalah, tiga masalah, empat masalah, dan saya benar-benar melihatnya dalam suasana lapang. Kemudian aku mendatanginya hampir setiap waktu sahur. Terkadang karena lelah, mataku terkatuk dan aku tertidur. Ketika Imam Malik keluar Mesjid aku tidak mengetahuinya. Kemudian aku dibangunkan oleh pembantunya sambil mengatakan, “Gurumu tidak tertidur seperti kamu. Padahal saat ini usianya telah mencapai 49 tahun. Setahuku ia nyaris tidak shalat subuh dengan wudhu yang dipakai untuk shalat Isya’.”. (Tartibul Madarik, 3/250).”

Saudaraku,
Apa yang terlintas dan terbetik dalam jiwa kita tatkala mendengar kisah di atas? Subhanallah. Riwayat-riwayat seperti itu banyak disampaikan dalam atsar, sehingga sulit bagi kita untuk tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran. Disebutkan di sana, wudhu’ Imam Malik tidak batal sepanjang malam, dalam rentang waktu hampir separuh abad. Kondisi seperti ini biasa dilakukan pada malam-malam musim panas. Artinya, Imam Malik rela untuk menyedikitkan makan dan minum sepanjang hari sehingga ia mampu memelihara wudhunya.

Salah satu salafus shalih bercerita,”Aku pernah bangun pada waktu sahur untuk mempelajari Al Qur’an kepada Ibnu Akhram, seorang ulama Damaskus. Tapi ternyata kehadiranku telah didahului oleh sekitar 30 orang. Dan aku belum memperoleh giliran sampai datang waktu ashar” (Nuzhatul Fudhola, 2/1145). Kebiasaan waktu itu, satu orang diberi giliran untuk mempelajari Al Qur’an sekitar 2 halaman. Lihatlah terhadap kesabarannya yang luar biasa untuk menanti giliran membaca 2 halaman Al Qur’an dari sebelum fajar hingga waktu ashar. Yang lebih mengherankan lagi, kedatangannya sebelum fajar telah didahului oleh kurang lebih 30 orang.

Saudaraku,
Membaca dan menelaah peri hidup orang-orang shalih juga mempu membangkitkan semangat baru dalam diri kita. Bisa dikatakan, membaca dan menelaah peri hidup mereka, hampir sama dengan kita menziarahi dan berhadapan dengan mereka sehingga kitapun menerima barokah dari Allah karenanya.

Karenanya Imam Abdul Jauzi Ra mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah dari peri hidup orang yang tidak punya cita-cita tinggi hingga bisa diteladani oleh orang lain yang tidak punya sikap wara’ yang bisa ditiru oleh orang yang ingin berzuhud. Demi Allah, hendaklah kalian mencermati peri laku suatu kaum, mendalami sifat dan berita tentang mereka. Karena dengan memperbanyak meneliti kitab-kitab mereka adalah sama dengan melihat mereka. Bila engkau mengatakan telah mendalami 20.000 jilid buku, berarti engkau telah melihat mereka melalui kajian engkau terhadap tingkat semangat mereka, kepandaian mereka, ibadah mereka, keistimewaan ilmu yang tidak pernah diketahui oleh orang yang membacanya……..” (Qimatuz zaman ?indal ?ulama: 31).

Saudaraku,
Seringlah mengunjungi saudaramu dalam jalan ini. Jangan jauhkan mereka dari hati. Sering-seringlah berkunjung, bertatap muka, dan memandang wajah mereka. Di sanalah engkau akan menemui berkah hidup berjama’ah yang dapat memberi bekal bagi jiwa agar kita dapat melanjutkan perjalanan ini sampai tujuan terakhir ………… Ridho Allah dan Syurga-Nya.

( Dikutip dari : Muhammad Nursani – Tarbawi Edisi 10 Th. II )

Apakah Kita Merasakan Apa yang Mereka Rasakan?


Saudaraku,

Ada sebuah karakter yang biasa dimiliki orang-orang shalih, para penyeru dakwah. Karakter khusus yang tidak disebutkan secara tegas, tapi menjadi bagian yang selalu ada dalam kepribadian para pejuang dakwah. Mereka, ternyata orang-orang yang banyak berpikir tentang kondisi sekelilingnya, tentang kondisi umatnya. Mereka orang-orang yang sangat menderita memikirkan keterpurukan bangsanya, masyarakatnya dan sangat berpikir bagaimana cara untuk bisa membangkitkan mereka. Mereka sering tenggelam memikirkan masalah-masalah orang lain, dan hanyut memikirkan obsesi-obsesi umatnya, bukan obsesi dirinya. Sakit hatinya bila umatnya dizalimi, dan gembira jiwanya bila umatnya kembali kepada Allah swt.

Saudaraku,

Sebenarnya, inilah yang menjadi keistimewaan mereka. Karena pemikiran-pemikiran seperti itu tidak dilakukan oleh orang kebanyakan. Mungkin, justru banyak orang yang justru heran dengan pikiran-pikiran mereka.

Coba perhatikan bagaimana gejolak pikiran dan kegundahan yang melanda diri Rasulullah saw seperti digambarkan Al Quran surat Fathir ayat 8, yang artinya, “…Maka janganlah engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Secara lebih detail, Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menguraikan tafsir ayat ini dengan mengatakan, “Jangan engkau bunuh jiwamu karena kegundahan berat yang melanda dirimu karena mereka meninggalkan keimanan.”  Sayyid Quthb rahimahullah mengatakan, “Ayat ini adalah semacam hiburan dari Allah swt kepada Rasulula saw, agar terlepas beban berat yang menggelayuti hatinya secara manusiawi yang sangat ingin memberi petunjuk kepada umatnya. Rasulullah saw ingin agar umatnya bisa terbuka dan melihat kebenaran yang dibawanya di antara mereka. Rasulullah mempunyai obsesi kemanusiaan yang sangat kentara sekali. Allah swt mengiringi perasaan-perasaan yang ada dalam jiwanya. Kemudian menjadi jelas bagi Rasulullah saw, bahwa masalah itu adalah otoritas Allah swt dan bukan otoritas dirinya. Itulah juga yang dirasakan oleh para juru dakwah yang ikhlash dalam seruan mereka. Mereka tahu nilai seruannya, keindahan seruannya dan kebaikan di dalanya. Lalu mereka melihat manusia pada saat yang sama, menolak dan menjauhi seruan itu.” (Tafsir Fii Dziilal Al Qur’an, juz 5)

Renungkanlah saudaraku,

Bagaimana gelombang perasaan yang hadir dalam jiwa dan pikiran Rasulullah saw. Lalu bagaimana getar-getar serupa itu juga dirasakan oleh para penyeru dakwah yang mulia. Apakah kita juga mengalaminya?

Dalam hadits dari Aisyah ra, disebutkan ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah engkau pernah mengalami peristiwa yang lebih mengerikan daripada peristiwa Uhud?” Rasulullah saw lalu menceritakan kegalauan hatinya saat melakukan dakwah di Bani Tsaqif di Thaif tapi kemudian Rasulullah saw mendapat lemparan batu dari mereka.

Perhatikanlah bait-bait do’a yang keluar dari mulut Rasulullah saw yang kita cintai. Rangkaian kata yang tergubah benar-benar menunjukkan ketulusan hati dan sekaligus semangatnya untuk berdakwah kepada kaumnya ketika itu.

“Ya Allah kepadamu aku mengadukan kelemahan dari kekuatanku,kekurangan kemampuanku, kelemahan dalam mengahadapi orang-orang yang lemah,Engkau Rabbku. Kepada siapakah Engkau serahkan aku? Apakah kepada orang yang jauh bermasam muka kepadaku? Ataukah kepada musuh yang engkau kuasakan untuk menguasai diriku? Jika bukan karena murkamu atas diriku ,maka tidak akan aku pedulikan mereka semua. Tapi perlindungan dengan sinar wajah-Mu yang menyinari kegelapan, menjadi baik urusan dunia dan akhirat.  Dari-Mu lah segala petunjuk atas keridhaan sehingga Engkau menjadi ridha, dan tidak ada tipu daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Engkau juga”

Setelah berdoa Nabi melanjutkan perjalanannya bersama Zaid bin Haritsah ke Makkah Tapi belum jauh mereka berjalan datanglah Malaikat Jibril bersama Malaikat gunung yang mengatakan, “Ya Rasul Allah! Sesungguhnya Allah benar-benar mendengar perkataanmu kepadamu dan penolakan mereka atas kamu;dan dia mengutus kepadamu Malaikat gunung ,supaya engkau perintahkan kepadanya apa-apa yang engkau hendaki,apa yang akan dilakukan atas mereka (bani Tsaqif). Malaikat gunung lalu berkata kepada Rasulullah saw: “Ya Rasul Allah sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu,dan akulah Malaikat Gunung, ,sesungguhnya Dia telah mengutus aku supaya engkau perintahkan kepadaku berkenan,apa yang engkau kehendaki? Jika kamu mau agar aku melipatkan kedua gunung yang besar ini atas mereka tentu akan aku kerjakan”. Dua gunung yang dimaksud adalah  gunung Abu Qubais dan gunung Qo’aiqoan.

Tapi perhatikanlah apa jawab Rasulullah saw,

“Tidak! Bahkan saya berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka, orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun” Mendengar itu Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk mengikuti kehendakmu terkait apa yang tersangkut dengan kaummu, karena perbuatan mereka kepadamu.” Nabi saw lalu berdo’a, Ya Allah berilah petunjuk atas kaumku,karena mereka tidak tahu.”  (HR Muslim)

Saudaraku,

Sikap memikirkan ummat seperti dicontohkan Rasulullah saw itupun lalu diikuti jejaknya oleh para sahabat radhiallahu anhum. Abu Bakar radhiallahu anhu yang begitu bergolak pikirannya melihat ada sekelompok orang yang murtad dan menolak membayar zakat. Umar radhiallahu anhu juga yang sangat memikirkan rakyatnya, hingga sedikit saja waktunya untuk beristirahat.

Hingga, seorang juru dakwah bernama Hasan Al Banna rahimahullah pun sempat menuliskan gejolak pikirannya dalam memoarnya. “Aku sungguh mersakan sakit yang sangat karena masalah ini. Aku melihat bangsa Mesir yang mulia, yang memiliki ketinggian Islam yang mulia sebagai warisannya, harga dirinya, dan inti kebaikannya dan telah dibanggakan selama empat belas abad penuh, tapi bangsa Mesir tertawan dengan perang Barat yang keji dan dengan berbagai senjata yang siap mematikan, dengan harta benda, dengan kedudukan, dengan penampilan, dengan kenikmatan ayng tampak, dengan kekuatan dan berbagai sarana propaganda mereka. Perasaan seperti inilah yang mendorongku untuk kerap menyampaikanya kepada teman-teman yang ikhlash dan tulus. Gejolak perasaan seperti ini pula yang menyebabkanku keluar masuk maktabah salafiyah. Di sana aku bertemu dengan seorang mukmin, mujahid, seorang yang kuat, penulis Islam Sayyid Muhibbuddin Al Khathib. Di sana juga aku bertemu dengan para tokoh Islam yang mulia, yang terkenal dengan semangat Islamnya dan jiwa keagamaannya.” (Mudzakkirah Dakwah wa Da’iyah)

Apakah kita merasakan suasana perasaan dan pikiran seperti ini?

(M. Lili Nur Aulia)

17 Tahun Menggendong Suami yang Lumpuh


Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.

Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000).

Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.

Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.

Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu,” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.

Menopang Suami
Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.

Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan. Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin.

Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.

Hampir Terpeleset ke Sungai
Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih.

Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.

Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu. Hati Du Chanyun merasa iba.

Sang Suami Menggugat Cerai
Pada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya.Ia tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai.

Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira.

“Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja,” ujar pihak kelurahan. Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya.

“Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua.”

Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar
Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.

Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun. Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis.

Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.

Metantaulah Agar Mendapat…


Metantaulah Agar Mendapati Berbagai Manfaat

Anjuran Imam Syafi’i Untuk Merantau

Imam Syafi’i berkata

  • Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu Pengetahuan, Adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.
  • Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang maka ia akan membusuk.
  • Singa hutan dapat menerkam mangsanya, setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika tidak meninggalkan busurnya.
  • Jika engkau tinggalkan tempat kelahirnmu, engkau akan menemui derajat yang mulia ditempat yang baru, dan engkau bagaikan emas sudah terangkat dari tempatnya.

5 manfaat merantauKetika berusia masih kecil yaitu 14 tahun, beliau menceritakan hasratnya kepada ibundanya yang sangat dikasihinya tentang keinginannya untuk menambahkan Ilmu Pengetahuan dengan cara merantau. Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi’i berangkat tidak membawa perbekalan uang, kecuali dengan berbekalkan do’a ibunya dan cita-cita yang teguh untuk menambah Ilmu Pengetahuan sambil bertawakkal kepada Allah s.w.t.

Sebelumnya melepaskan Syafi’i berangkat, maka ibundanya mendo’akannya, “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam, anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya, peliharakanlah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna.”

Imam Syafi’i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan, “Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat di luar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabus pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh barkah, tanpa membawa sedikitpun uang, apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah iman yang teguh dan hati yang penuh tawakkal kepada Allah swt serta do’a restu ibuku saja. Aku serahkan diriku kepada Allah.”

Sumber: http://www.shiar-islam.com/shafie.htm

Kisah Seorang Imam Masjid di London


Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.

Sang imampun bayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari itu ia tidak punya uang pas… baru kemudian duduk di bangku belakang yg kosong.

Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yg ternyata lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir.. uang ini dikembalikan atau tidak yah..? Ah cuma 20 sen ini… ah dia (sopir) orang kafir ini… atau aku masukin saja ke kotak amal di masjid…??

Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang 20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat sopir, spontan iapun mengulurkan 20 sen sambil berkata: “Uang kembaliannya berlebih 20 sen”.

Tanpa disangka tanpa dinyana.. sopir itu mengacungkan jempol seraya berkata:

“Anda berhasil..!!!”

“Apa maksud anda..?” Tanya imam masjid.

“Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?” Tanya sopir.

“Betul” jawabnya

Lantas sopir itu berkata…

“Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda untuk belajar dan memeluk Islam.. tapi timbul keinginan di hati saya untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam”. Kata sopir tersebut..

Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar meyesali apa yg dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu. Astaghfirullah…

Semoga jadi pelajaran buat kita untuk sentiasa bersikap sebagai seorang muslim sejati di mana saja, kapan saja dan di hadapan siapa saja… ***

Dari milis Yasminmuslim, kiriman Sdr Epril.

Do’a Ibu di saat Marah…


Seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah
dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”

Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram…!!Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…??
Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.

****
Ini adalah teladan bagi para ibu , calon ibu, ataupun orang tua… hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu.
Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…”(HR. Abu Dawud)

#Inspirasi : Khabar Biladi al-jazaair/ ar-risalah ed.131

 

Abdul Rahman Al-Sudais
Abdul Rahman Ibn Abdul Aziz as-Sudais is the imam of the Grand mosque in Mecca, Saudi Arabia, and the “Islamic Personality Of the Year” 2005.
Born: 1960, Riyadh

Disiplin, Kerja keras, dan Terus Berlatih Kunci Kemenangan


Ia lahir di Brockton, Masachusett AmerikaSerikat tanggal 1 September 1923 dengan nama Rocco Francis Marchegian. Lelaki ini adalah anak dari pasangan imigran asal Italia Pierino Marchegiano dan Pasqualina Picciuto. Sejak kecil masyarakat sekitar memanggilnya dengan panggilan Rocco.

Rocco terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang pekerja biasa di sebuah pabrik sepatu. Saat usianya menginjak 18 tahun Rocco dinyatakan terkena penyakit pneumonia (paru-paru) yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Ia kemudian drop-out saat duduk di bangku SMA.

Gagal di bangku sekolah, Rocco kemudian bekerja di perusahaan truk angkutan barang Brockton Ice and Coal Company sebagai kuli angkut. Bersamaan dengan itu ia juga bekerja sebagai penggali parit dan pembuat sepatu.

Tahun 1943 ia menjalani wajib militer dan ditempatkan di Swansea, Wales. Tugas militernya sebenarnya sudah selesai pada Maret 1946 seusai Perang Dunia kedua.Namun sambil menunggu akhir masa tugasnya sebagai tentara, ia ikut pertandingan tinju amatir antar tentara. Beberapa kali ia menang, namun perjalanan karirnya di jalur tinju amatir tak begitu mulus.

Rocco sadar bahwa segala seseatu tidak boleh dilakukan separuh hati. Ia kemudian bertekad bahwa tinju adalah jalan hidupnya dan harus ditekuni secara serius. Ia pun mulai berlatih secara total, bahkan kadang hampir seperti gila. Ia beralih ke jalur tinju kelas berat profesional. Ia juga mengubah namanya menjadi “Rocky Marciano”. Lebih populer, ia dipanggil Rocky.

Sambil terus meningkatkan intensitas berlatih. ia lalu memulai karier sebagai petinju profesional pada tahun 1947, saat berusia 24 tahun.. Perjuangan dan kerja keras Rocky ternyata tak sia-sia. Ia memenangkan 16 pertandingan pertamanya dengan menang knock out. Gebrakan terbesarnya di arena tinju terjadi pada tanggal 12 Juli 1951 saat bertemu juara dunia kelas berat dunia legendaris Joe Louis, sekaligus petinju Namun sambil menunggu akhir masa tugasnya sebagai tentara, ia ikut pertandingan tinju amatir antar tentara. Beberapa kali ia menang, namun perjalanan karirnya di jalur tinju amatir tak begitu mulus.

Rocco sadar bahwa segala seseatu tidak boleh dilakukan separuh hati. Ia kemudian bertekad bahwa tinju adalah jalan hidupnya dan harus ditekuni secara serius. Ia pun mulai berlatih secara total, bahkan kadang hampir seperti gila. Ia beralih ke jalur tinju kelas berat profesional. Ia juga mengubah namanya menjadi “Rocky Marciano”. Lebih populer, ia dipanggil Rocky.

Sambil terus meningkatkan intensitas berlatih. ia lalu memulai karier sebagai petinju profesional pada tahun 1947, saat berusia 24 tahun.. Perjuangan dan kerja keras Rocky ternyata tak sia-sia. Ia memenangkan 16 pertandingan pertamanya dengan menang knock out. Gebrakan terbesarnya di arena tinju terjadi pada tanggal 12 Juli 1951 saat bertemu juara dunia kelas berat dunia legendaris Joe Louis, idolanya sejak kecil. Marciano berhasil menundukkan Joe Louis dengan menang KO di ronde ke-8.

Setahun berikutnya ia merebut gelar juara dunia dengan mengalahkan Jersey Joe Walcott juga dengan dalam sebuah pertarungan sengit dan mendebarkan. Namun akhirnya Rocky berhasil menghentikan perlawanan Walcott dengan menang KO di ronde ke 13, meski Walcott sempat menjatuhkan Marciano pada ronde pertama.

Disiplin, kerja keras, berlatih dan terus berlatih bagi Rocky merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Motto itulah yang membuat prestasi demi prestasi berikutnya berhasil direnggutnya. Marciano memperoleh penghargaan Fighter of the Year dari Ring Magazine 3 kali berturut-turut. Hanya Muhammad Ali yang memenangkan penghargaan itu berkali-kali. Ia mencatat statistik 49 menang sepanjang karirnya di sepanjang masa. Kisah perjalanan hidupnya diangkat menjadi film yang sangat inspiratif dan box office dengan judul “Rocky” (seri I sampai V), serta “Rocky Balboa”. Film yang dibintangi Sylvester “Rambo” Stallone ini juga meraih 3 penghargaan Oscar.tinju profesional, 43 kali dimenangkan dengan KO, tanpa terkalahkan, maupun seri.

Semoga manfaat
The real champion Is not just Winning The competition but everyone WHO can stand up for every failure #inspirasireza

Rocky Marciano
Statistics
Real name Rocco Francis Marchegiano
Nickname(s) The Brockton Blockbuster
The Rock from Brockton
Rated at Heavyweight
Height 5 ft 11 in (1.80 m)
Reach 67 in (170 cm)
Nationality American
Born September 1, 1923
Brockton, Massachusetts
Died August 31, 1969 (aged 45)
Near Newton, Iowa
Stance Orthodox
Boxing record
Total fights 49
Wins 49
Wins by KO 43
Losses 0
Draws 0
No contests 0