Ayo Goyang…Duyu


Wah, sebentar lagi sholat jum’at mau dimulai. Imam sudah memberi aba-aba, ayo jama’ah lurus dan rapatkan sholat. Para jama’ah sudah menata diri sesuai instruksi imam. Kaki ketemu kaki, lengan ketemu lengan. Kata pak ustadz klo ada yang longgar mengurangi pahala sholat dan bisa disisipi sentan….wah klo disamping kita ada pengganggu bagaimana bisa khusuk.

“Allohu Akbar”, imam bertakbirotul ikrom, tanda sholat dimulai. Dengan usaha sekhusuk khusuknya, tangan diangkat ada setinggi pundak, ada yang setinggi telinga. Lalu imam membaca al fatihah dengan suara mirip Imam masjidil harom, itu tuh,,,,syaikh sudais. Mendayu-dayu, bikin hati bergetar. Lalu dilanjutkan surat al a’la.

Di rekaat kedua rupanya imam mengikuti sunah nabi dalam tata cara sholat jum’at sewaktu membaca surat pendek dengan membaca surat all ghosiyah. Baru sampai ayat pertama…eh dari belakang… terdengar lagu….”Ayo Goyang..Duyu. Ayo goyang..duyu”.

Eih..sebel kenapa nggak dimatiin tuh ponsel tadi waktu mau sholat. Sedang enak enak berkhalwat dengat tuhan (baca khusuk), disuruh goyang.

Sampai sujudpun suara penyanyi ngocol project pop masih terdengar. Selesai sholat pada menatap tajam tuh jama’ah kepada empunya hp. Untung tadi bukan suara madura…bisa bisa ngakak tuh jama’ah pada waktu sholat.

Sebenarnya bagaimana hukum mematikan hp waktu Sholat….
Hukum me-nonaktifkan ponsel di saat shalat berjamaah adalah boleh dan tidak membatalkan shalat, dengan argumentasi sebagai berikut :

Pertama, Dalam kitab fikih yang berjudul Kitâb al-Fiqh ‘Alâ al-Mazâhib Al-Arba’ah, jilid I, karangan Abdurrahman bin Muhammad ‘Awadh Al-Jaziri, halaman 297 disebutkan bahwa pendapat ulama mazhab Syafi’iah tentang perbuatan yang banyak (al-‘amal al-katisr) itu dapat membatalkan shalat apabila dilakukan tanpa uzur (alasan yang dapat diterima). Dalam buku itu dicontohkan: orang sakit yang anggota tubuhnya tidak tahan diam dalam waktu lama, boleh menggerak-gerakkan badannya sekedar yang ia butuhkan. Berdasarkan ini, jika karena darurat, maka melakukan gerakan yang banyak dalam shalat tidak batal.

Kita memandang bahwa menghilangkan kebisingan yang muncul dari seseorang dengan suara ponsel atau apa saja yang ia bawa di saat shalat adalah sesuatu yang darurat (sangat penting). Oleh karenanya, maka seseorang boleh me-nonaktifkan ponselnya yang berdering di saat shalat, baik itu dengan mengambil terlebih dahulu dari sakunya atau dari dalam tas yang terletak di hadapannya, lalu kemudian me-nonaktifkannya, meskipun pekerjaan tersebut membutuhkan gerakan yang banyak atau tiga gerakan besar yang dilakukan secara berturut-turut.

Kedua, Dalam kitab Fiqh As-Sunnah, Jilid I, hal. 323, syekh Sayyid Sabiq, pengarang kitab tersebut, menukil pendapat imam Nawawi (salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’iah) yang menyatakan bahwa, seperti “memberi isyarat untuk menjawab salam, melepaskan sandal, mengangkat serban lalu meletakkannya, memakai pakaian yang ringan dan membukanya, mengangkat benda kecil dan meletakkannya, menghalau orang yang melintas di hadapannya, menampung ludahnya dengan pakaiannya, dan yang semisal dengan yang hal-hal tersebut”, tidak membatalkan shalat, karena dianggap perbuatan ringan. Gerakan menonaktifkan ponsel, barangkali tidaklah terlalu jauh berbeda dengan gerakan-gerakan perbuatan yang dicontohkan oleh imam Nawawi. Berdasarkan ini, maka gerakan me-nonaktifkan ponsel tidak membatalkan salat.

Ketiga, Logika yang dibangun dalam kaedah hukum Islam (Fikih) ialah mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau menghindarkan mudharat yang akan menimpa orang banyak lebih diutamakan daripada mudharat yang akan menimpa perseorangan, atau dalam bahasa kaedah hukum: Yutahammalu Adh-Dhararu Al-Khâsshu Li Daf’i Dhararin ‘âmmin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menjaga konsentrasi (kekhusu’an) orang banyak dalam salat lebih diutamakan ketimbang menjaga kemungkinan batal shalat si pemilik ponsel jika bergerak untuk me-nonaktifkan ponselnya.

Jika dalam kondisi terpaksa, jangankan bergerak untuk menonaktifkan ponsel, berlari pun dibolehkan, seperti dalam situasi perang. Oleh karena itu, prinsip utama harus dipegang bahwa menjaga konsentrasi orang banyak dalam salat dapat dianggap sesuatu yang darurat (sangat penting). Inilah alasan yang dapat diajukan sehubungan dengan solusi bagi orang yang terlanjur tidak me-nonaktifkan ponselnya sebelum salat berjamaah.

Makanya klo mau sholat tinggal aja hp dimeja kerja, atau disilent biar nggak di pelototi jama’ah…klo terlupa..ya pas sholat dimatikan aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s