Coretan Perlawanan


Dulu, aku tak mau menulis tentang laki laki. Laki laki tak suka ditulis. Laki laki lebih tak suka ditulis oleh laki laki. Lelaki tak suka membaca tulisan. Ia lebih suka belajar dari alam. Tapi sekarang aku berkhianat. Sekarang aku ingin melawan. Aku ingin menulis khusus untuk laki laki. Aku ingin melawan. Aku ingin memaksa. Membaca alam terlalu mewah di zaman seperti ini. Semakin tak banyak laki laki yang mampu melakukannya. Maka, perlu ada tulisan. Dan perlu ada tulisan tentang laki laki dari seorang laki laki. Laki laki itu agak sombong. Ia agak enggan berubah. Ia suka mengajari, tapi tak suka diajari. Apalagi diajari perempuannya. Laki laki perlu sepi untuk belajar. Belajar yang transparan adalah memalukan. Ia ingin tiba tiba sudah menjadi sosok yang hebat dan memukau lingkungannya. Rasanya sekarang aku harus mulai melawan. Aku akan mengajari. Tentu mengajari dengan caraku dan mengajari yang aku bisa. Tidak benar benar mengajari, memang. Tetapi tetap saja berbagi sesuatu. Dan itu mungkin akan dilawan. Tak mengapa. Akan kita selesaikan secara laki laki! Perempuan sering capek. Sering lelah. Sekian buku untuknya. Banyak arah dan peran perubahan diarahkan kepadanya. Mereka dicekoki arti penting seorang perempuan dalam keluarga, dalam masyarakat, bahkan dalam kehidupan keluarga. Memang mereka suka. Memang mereka menjadi merasa penting dan kita berharap mereka melakukan sesuatu untuk kebaikan kita. Mereka memang sudah sangat riang ’hanya’ dengan adanya Seksi Kewanitaan, Departeman Perempuan, Kuota Perempuan dan soal eksistensi formal sejenisnya. Tetapi laki laki perlu tulisan. Atau tepatnya, laki laki juga perlu tulisan. Bahkan perlu tulisan yang khusus untuknya. Dalam banyak pertimbangan , menulis khusus untuk laki laki adalah ’bunuh diri’. Tak banyak peminatnya. Tak mengapa. Jikapun tulisan ini dibaca dengan sembunyi sembunyi, tak mengapa. Jikapun ini sepi respon, tak mengapa. Laki laki kerap malu dalam belajar. Lelaki cenderung tak mau diketahui sampai sejauh mana proses belajarnya. Tak mengapa, kawan. Sekali lagi, tak mengapa. Ini rencana perlawanan. Ini rencana yang sedikit mengabaikan beberapa pertimbangan. Ini juga rencana pengkhianatan. Akhirnya aku ingin menulis khusus untuk laki laki. Sesuatu yang aku hindari sejak awal.

One thought on “Coretan Perlawanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s