Gembirakan Jangan Menakuti


Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam yang artinya tunduk atau patuh, selain itu juga dari kata yaslamu salaam yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Sudah sepatutnya Islam sebagai agama yang tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya, tentunya berpengaruh kepada para pemeluknya sebagai pribadi-pribadi yang penuh kedamaian, kesejukan, tanpa mengurangi ketegasan. Sayangnya sebagian orang masih memandang Islam dengan pandangan tidak baik. Stigma Islam sebagai agama yang keras, fundamentalis, atau pandangan yang buruk tentulah bukan tanpa alasan. Tingkah laku kita sesama muslim, akhlaq kita dengan non muslim mungkin yang menjadi dasar kenapa Islam identik dengan hal-hal tersebut. Kadang kita merasa cukup sebagai orang yang faqih, tekun beramal akan tetapi melupakan nilai-nilai sosial kemasyarakatan dan akhlaq yang baik.

Merubah pandangan seperti itu tidaklah mudah, diperlukan kesatuan gerak semua jama’ah muslimin. Tidak bisa kita hanya berjalan sendiri-sendiri, sedangkan masing-masing saling melemahkan. Kita mulai langkah-langkah yang Insyaallah bisa kita lakukan bersama, hilangkan rasa keakuan (bangga diri), atau hanya menyerahkan pada pada da’i, padahal semua muslim adalah da’i bagi agamanya.

1. Berakhlaq baik, rendah hati, dan lemah lembut.

Biasakanlah kita berlemah lembut dan berakhlaq baik dengan keluarga kita, tetangga kita, saudara kita atau obyek dakwah lain. Akhlaq yang baik merupakan kekayaan yang paling mahal harganya bagi seorang muslim. Karena itu, Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Itu pula sebabnya, manakala orang tua telah mendidik akhlak anaknya dengan baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian materi yang paling mahal sekalipun. Rasulullah SAW bersabda:

Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik (HR. Tirmidzi).

Kadang sebagai aktivis dakwah, kita dianggap mewakili dari agama kita. Kita keras, berakhlaq buruk, secara tidak langsung akan mempengaruhi citra Islam. Padahal Rasulullah banyak memberi petunjuk tentang berakhlaq baik kepada sesama, baik muslim maupun non muslim. Sesungguhnya banyak kaum kafir masuk Islam karena akhlaq Rasulullah SAW.

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS.:3:159)

Bahkan kepada Fir’aun yang mengaku Tuhan, Nabi Musa as tetap diminta berlaku lemah lembut:

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha 43-44)

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Terus-menerus Malaikat JIbril berpesan kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan membawakan wahyu yang memerintahkan aku agar menjadikan tetangga sebagai ahli waris.” (HR. Bukhari).

2. Bila membantah, bantahlah dengan baik.

Rintangan, godaan, cacian, fitnah dari musuh Islam pastilah selalu ada. Karena dalam dakwah selalu ada pertentangan antara haq dan bathil. Bahkan seorang ulama salaf pernah mengatakan bahwa apabila dalam berdakwah kita tidak ada rintangan, godaan maka perlu dilihat lagi apakah yang sedang dia dakwahkan. Akan tetapi tentu dalam membantah tentulah dengan cara yang ahsan/baik.


“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula.” (QS 16:125).

Bantahan-bantahan dengan cara keras, mengejek, mencemooh dan mencari-cari kesalahan bukan tidak mungkin dianggap sebagai cerminan agama kita.

3. Sesama aktivis dakwah jangan melemahkan.

Perbedaan ijtihad adalah hal biasa, sudah selayaknyalah kita sesama muslim saling bertoleransi. Kita bisa melihat di berbagai blog ataupun tulisan media cetak, umat muslim saling melemahkan, menjatuhkan seolah-olah hanya dirinya dan jama’ahnya yang paling benar. Hal ini secara tidak langsung mengurangi respek kepada Islam. Kita ini laksana bangunan, tentunya harus saling menguatkan, bekerja sama meninggikan bangunan tersebut. Bagaimana orang diluar Islam akan tertarik apabila mereka mendapati kita saling caci maki, padahal kita masih dalam koridor sunnah bukan beda aqidah.

4. Sebarkan salam.

Menyebarkan salam, bukan berarti hanya mengucapkan salam kepada sesama muslim. Menyebarkan salam adalah berarti memberitakan keselamatan kepada semua penduduk dunia, bahkan semua makhluk hidup. Jaminan keselamatan kepada orang kafir yang dalam perlindungan, bahwa mereka aman berada di negaranya orang Islam. Tanpa tekanan, gangguan, terror atau apapun namanya.

“Sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah persaudaraan dan shalat malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka anda akan masuk surga dengan selamat.” (Sunan Tirmidzi).

5. Hindari sikap berlebihan dalam beragama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma).

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebihan tindakannya.” (Beliau sebutkan kalimat ini sampai tiga kali).

Sikap berlebihan dalam beragama akan membuat kita hancur. Fanatisme buta yang muncul dari para pengikut mazhab serta sikap ekstrim lagi melampui batas dari para pengikut di luar mazhab mereka, berlebihan berdakwah, membela pendapat tertentu, dan sebagainya sehingga aktivis dakwah mudah dalam membid’ahkan, mengkafirkan tentu malah membuat orang yang tadinya respek pada Islam menjadi takut, dan merasa sulit apabila nantinya mereka masuk dalam Islam atau mengerjakan syari’at Islam.

6. Kreatif dan sabar

Hidayah itu milik Allah, kita memaksakan kalau Allah belum berkehendak tidak mungkin kita berhasil. Seorang da’I haru kreatif dalam berdakwah dan sabar menerima hasil dakwah. Kita bisa belajar dari Nabi Nuh a.s. Nuh a.s. tetap mendakwahi dan mendebat kaumnya dengan ulet dan sabar. Nuh mencurahkan kepedulian kepada mereka dengan tutur kata yang lembut. Malam, siang, terang-terangan, ataupun diam-diam.

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (Nuh: 5-9).

Memberi hadiah, saling membantu, s
aling menasehati tidak hanya kepada sesama muslim tetapi antar pemeluk agama, akan melunakkan hati musuh-musuh Islam.

7. Do’akan mereka

Ketika benih kebaikan telah ditanam, air kedamaian telah disiramkan, pupuk cinta telah ditebar, maka berdoalah. Lalu apapun yang dihasilkan, terimalah dengan penuh ketulusan sebagai karunia Allah. Sesungguhnya kekuatan do’a adalah perubah takdir.

Mari kita isi, dakwah kita baik langsung maupun tidak langsung, melalui blog, surat kabar dan apapun caranya dengan kedamaian, kesejukan. Anas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersukar dan gembirakan dan jangan menggusarkan.” Karena islam adalah rahmat semua alam dan agama yang mudah.

Bukan berarti dengan cara itu menafikan ketegasan. Tentu terhadap musuh-musuh Islam yang telah membabi buta, membunuh, menyesatkan, seperti Israel, orang-orang liberal, dan lain-lain kita harus tegas. Karena mereka tidak berniat mencari kebenaran, tetapi menghancurkan. (Bumi Mojopahit, tadi malam.)

Maroji’

1. Al Qur’anul Adzhim
2. Taujih Usbu’iyyah
3. Mensucikan Hati, Ust Said Hawwa
4. Bagaimana Menyentuh Hati, Ust Abbas Assisi

=================================================================
Untuk mengubah image islam dari agama yang dicitrakan dengan kekerasan menjadi agama yang penuh kesejukan dan kedamaian, silahkan di salin dan disebarkan.

“tulisan ini dalam rangka berpartisipasi dalam program what do you say about…..? dari IUA-islam yang sejuk”

Semoga usaha kecil ini diridhoi Allah.

9 thoughts on “Gembirakan Jangan Menakuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s