JADILAH IKAN SEGAR!!!


Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.

Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.

Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.

Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.

Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)

Nah, Ki Dalang mau berada di tengah-tengah dari mereka berdua. Mampu untuk melahirkan karya dan laki-laki. Dan pada hari ini adalah hari di mana Ki Dalang menjadi sosok produktif ulama hadits tersebut. Dengan demikian beberapa paragraf di atas adalah baru pengantar, bukan isi dari lakon yang Ki Dalang mau mainkan. Sekarang dengarkanlah, atau bacalah, terserah Anda, cerita dari lakon ini.

Lagi, Ki dalang mendapatkan cerita hebat ini dari teman Ki Dalang yang mengirimkan surat elektroniknya kemarin. Cerita ini sebenarnya sudah banyak tersebar di dunia maya. Tetapi Ki Dalang mau membaginya kepada Anda yang sudah mengetahui ataupun yang belum mengetahuinya sama sekali. Oh ya, cerita yang dikirimkan oleh teman Ki Dalang itu cuma mengaitkannya dengan motivasi kita untuk mendahsyatkan potensi diri. Tapi Ki Dalang ingin semuanya dikatikan dengan nilai-nilai dakwah yang menjadi senyawa apik dari kehidupan kita di setiap hari dan malamnya.

Begini ceritanya…

KISAH NELAYAN JEPANG 2)
Ada sebuah cerita tentang nelayan Jepang yang insaya Allah bisa kita ambil hikmahnya. Orang Jepang sejak lama menyukai Ikan yang segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan sekitar Jepan dalam beberapa dekade ini.

Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh nelayan pergi, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama untuk membawa hasil tangkapannya ke daratan. Jadi, ikan yang dibawanya tersebut sudah tidak lagi segar. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan memasang freezer dalam kapal mereka.
Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi senakin jauh dan lama, namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan beku dan ikan segar, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Kemudian sebuah gagasan baru kembali dipakai oleh perusahaan penangkap ikan, yaitu dengan cara memasang tangki-tangki penyimpan ikan dalam kapal mereka. Setelah menangkap ikan para nelayan langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas kendatipun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa segar ikannya. Orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.
Selanjutnya cara apa lagi yang dilakukan oleh para nelayan untuk menjaga agar ikannya tetap segar, sehingga diminati oleh masyarakat Jepang? Solusi terbaiknya ternyata sederhana, sangat sederhana!

Perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan tersebut di dalam tangki, tetapi kini mereka memasukkan ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi hidup dan sangat segar. Ikan-ikan tersebut ternyata tertantang untuk bertahan hidup dari ancaman.
***
Ya Ayyuhal Ikhwah, dari cerita ini Ki Dalang tidak membahas pada kreatifitas nelayan-nelayan Jepang tapi menitikberatkan pada kalimat ini: orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Artinya apa wahai saudara-saudaraku? Orang segar membutuhkan ikan yang segar, ikan yang masih aktif bergerak. Sehingga ketika tiba waktunya untuk disayat dengan pisau masih terasa kesegarannya, masih terasa kaya nutrisinya, dan sudah barang tentu rendah kalorinya.

Orang segar tidak butuh dengan ikan yang tidak segar, lemas, atau mati bahkan busuk.

Begitupula dengan masyarakat kita. Masyarakat yang segar butuh kader-kader dakwah yang segar. Bukan untuk disembelih ataupun disayat dengan pisau. Tapi untuk memberikan tambahan kesegaran yang lebih kepada mereka. Mereka butuh kader-kader dakwah yang senantiasa enerjik, yang tetap semangat dalam kondisi apapun, dan tentunya mampu memberikan kesegaran kepada mereka di tengah himpitan hidup yang membelenggu. Kesegaran yang bagaimana?

Kesegaran yang berupa semangat membina yang tak pernah padam, keluasan ilmu, tawadhu’, jujur, dermawan, bersih, peduli, itqon (profesional), dan terus menerus beramal nyata yang benar-benar dirasakan oleh mereka. Kedatangan kita ditunggu sampai-sampai mereka bernyanyi seperti lirik lagu ini: datanglah, kedatanganmu kutunggu, telah lama, telah lama ‘ku menunggu…3)

Setiap pekannya kesegaran kita ditunggu oleh mereka. Koreksi kita pada tilawah mereka, ilmu tajwid yang menuntun mereka, hadits-hadits Arba’in yang kita bacakan kepada mereka, taujih yang kita sampaikan kepada mereka, bahkan telinga tebal dan kesediaan kita untuk mendengarkan keluhan mereka.

Ayyuhal ikhwah, itu semua butuh kreatifitas kita sebagai refleksi kesegaran itu. Jangan sampai kreatifitas itu baru muncul pada saat kita memang terdesak atau ketika malaikat maut sudah muncul di depan hidung kita. Selagi masih ada suasana kondusif di negeri kita tercinta ini yang memungkinkan kita dengan nyaman dan aman untuk melakukan syiar-syiar kebaikan maka manfaatkanlah itu. Mumpung kesempatan itu masih ada. Suasana aman kiranya lebih baik daripada suasana chaos.

Dus, ketika suasana politik sudah akan menurun desibel hiruk pikuknya, maka sudah saatnya Anda semua sebagai kader dakwah mengasah kembali pedangnya yang tumpul, tapal kudanya yang sudah aus, rentangan busur panahnya yang sudah kendor untuk kembali dibina dan membina, untuk ke
mbali memikirkan sejatinya asholah dakwah itu. “Kembali ke barak!!!”, kata teman Ki Dalang.

Teruslah bergerak, teruslah beramal, karena itu membuat Anda semua para kader dakwah senantiasa segar.
Bergeraklah, sungguh air yang diam itu akan menjadi bibit penyakit. Jadilah air yang mengalir yang senantiasa memberikan manfaat pada jalan yang dilewatinya.
Bergeraklah, karena diam berarti kematian. 4)
Bergeraklah, karena diam itu adalah busuk.
Bergeraklah, maka Allah akan menggerakkan hati manusia. Taharaku wallahu sayuhariku qulubannas.
Bergeraklah engkau.
Jadilah ikan segar!

Wallahua’lam bishshowab.

Catatan Kaki:
1. http://arifinbits.wordpress.com/2008…-revolusioner/
2. Email motivator Febriya Fajri
3. Ridho Rhoma feat Sonet 2 Band
4. http://nisrinamumtaz.wordpress.com/2…ar-akhir-2008/

Lakon wayang iku maneka warna asale, gumantung karo panggonan, wektu, lan sapa sing crita. Umume crita-crita iku dijupuk seka kitab-kitab kuna, nanging ora sithik sing dikarang para dhalang.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
9:12 03 Mei 2009
Ki Bendoro Agung Tirtonegoro
Diambil dari catatan taujih harian Forum Sholahuddin

7 thoughts on “JADILAH IKAN SEGAR!!!

  1. Albani siapa maksudnya ? Jika yg dimaksud adalah Nashiruddin Albani maka ki dalang pastilah seorang yg berbicara kedustaan dan tanpa ditunjang data yg mapan, ketika mengatakan Al Bani tdk melahirkan kader. Al Bani adalah pakar hadits meskipun memiliki sejumlah kelemahan. Madrasahnya telah banyak melahirkan pakar-pakar hadits yg mumpuni. Dan jalur keilmuannya tetap berlanjut meski Albani sudah tiada. Salah satu syaikh tempat mulazamah saya memiliki hubungan keilmuan dgn Albani pd generasi ketiga. Perlu diketahui ulama hadits tmasuk yg bisa dinilai dgn jarh wa ta’dil. Maka cara sprti apa yg digunakan ki dalang dalam jarh wa ta’dil thd Al Bani ? Kalau Al Bana sejauh mana dia layak dinilai dgn jarh wa ta’dil ? Jelas blm ada ulama yg mau melakukannya

  2. susiyantohere said: Albani siapa maksudnya ? Jika yg dimaksud adalah Nashiruddin Albani maka ki dalang pastilah seorang yg berbicara kedustaan dan tanpa ditunjang data yg mapan, ketika mengatakan Al Bani tdk melahirkan kader. Al Bani adalah pakar hadits meskipun memiliki sejumlah kelemahan. Madrasahnya telah banyak melahirkan pakar-pakar hadits yg mumpuni. Dan jalur keilmuannya tetap berlanjut meski Albani sudah tiada. Salah satu syaikh tempat mulazamah saya memiliki hubungan keilmuan dgn Albani pd generasi ketiga. Perlu diketahui ulama hadits tmasuk yg bisa dinilai dgn jarh wa ta’dil. Maka cara sprti apa yg digunakan ki dalang dalam jarh wa ta’dil thd Al Bani ? Kalau Al Bana sejauh mana dia layak dinilai dgn jarh wa ta’dil ? Jelas blm ada ulama yg mau melakukannya

    jangan keburu marah dulu kisanak dibaca benar sampai selesai….siapa bilang albani tidak melahirkan kader…coba cermati perkataan iniKi Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak.

  3. Berarti tulisan ini kontradiktif dan mestinya harus diubah. Simak kalimat: “Inilah yang membedakan Al bana dan Al Albani. Al albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader”. Bukankah kalimat ini sangat lugas dan tegas? Kemudian lihat pula kalimat:” Ki dalang yakin Al Albani … tdk serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kadernya”. Kalimat kedua ini juga jelas meskipun tdk gunakan kalimat efektif. Kedua kalimat itu jelas secara substantif berbeda arah dan muatannya. Lantas, mana yg benar? Terkait pertanyaan saya ttg jarh wa ta’dil maka saya kira itu wajar dlm keilmuan Islam sebab yg anda bahas terkait tokoh, ilmu, otoritas, dan reputasi masing2. Tentang marah? Oh tidak, ngapain harus marah. Dari Al bani saya mengambil keilmuannya saja bukan fanatisme thd ketokohannya. albani adl pakar hadits tetapi ada kelemahan dlm diri beliau terkait perbedaan penilaian beliau thd hadits dlm buku yg berbeda. Namun demikian pertanyaan saya tkait jarh wa ta’dil sudah selayaknya dijawab. Kecuali memang bukan otoritas yang bersangkutan dlm menjawabnya. Saya kira saya tdk marah, tapi anggap saja tegas, demi anda dan kebaikan kita semua.

  4. ooh itu maksudnya…ic ic, sedang yang saya tangkap dari artikel diatas1. itu adalah syak praduga orang bagaimana memandang Al Alamah Syaikhul Hadits Nashiruddin Al Bani dan Ust Hasan Al Bana2. Itu adalah pendapat ki dalang..yang tidak serta merta mempercayai syak prasangka kebanyakan orang..secara umum, tidak ada yang meragukan syaikh Albani, beliau muhaddits sekarang, terlepas dari banyaknya kritikan atas karya beliau. Selain juga masih juga syaikh yang kami cintai dan tak kalah wara’ dan keilmuannya dng syaikh albani seperti syaikh utsaimin dan syaik bin baaz…semoga Allah merahmati merekauntuk marah….saya cuma bercanda aja…hehehehehe….guyon kisanak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s