Kritiklah Saya


Sebenarnya pengen saya mengucapkan kata-kata itu kepada sahabat-sahabat saya. Tapi entahlah, karena ego saya yang terlalu besar atau karena bebal, sehingga tuli telinga saya mendengar kritikan atau nasehat yang diberikan kepada saya.

Begitu ridhonya Umar ra, yang selalu meminta nasehat, karena ketakutannya akan menjadi golongan munafik.Para sahabat dan para mukmin, selalu melihat dosa-dosa kecilnya seperti gunung yang akan meruntuhi dirinya, sedang kita melihat dosa-dosa kita seperti lalat yang hinggap di hidung lalu dengan mudah kita mengusirnya.

Marilah kita biasakan diri ini mendengar kritikan, nasehat. Karena Rasulullah pun yang maksum dikritik, bahkan Allah pun dikritik karena dianggap ketidakadlilannya, apalagi kita.

Kritikan pedas, dengan mencari kesalahan…itu yang tidak baik, kritik yang baik adalah membangun, bukan melemahkan….itulah nasehat. Suatu kewajiban seorang muslim melakukan tanasukh, nasehat menasehati, karena itulah wujud amar ma’ruf nahi munkar.

Tentunya dalam menasehati dengan cara yang ahsan/baik. Bukan dimuka umum, itu bukan menasehati tetapi menelanjangi. Tirulah para ulama salaf mereka menasehati dengan rahasia 4 mata.

Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata, “Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya di hadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.”

Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata, “Saya berkata kepada Mis’ar, ‘Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?’ Maka ia berkata, ‘Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang’.”

Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata, “Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ‘Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?’ Ia berkata, ‘Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain’.”
Imam Ibnu Hibban berkata, “Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.”

Imam Ibnu Hazm berkata, “Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Ini (-yakni memberi nasehat dengan syarat harus diterima-) bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan melainkan hukum rimba, bagaikan seorang penguasa dengan rakyatnya dan tuan dengan hamba sahayanya.”

Bila dikritik dengan mencerca, mencari-cari kesalahan dan membabi buta katakanlah….Muutuu bi Ghoidikum……”Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” (Bang Navre)

2 thoughts on “Kritiklah Saya

  1. mujitrisno said: kritik yang baik adalah membangun, bukan melemahkan….itulah nasehat. Suatu kewajiban seorang muslim melakukan tanasukh, nasehat menasehati, karena itulah wujud amar ma’ruf nahi munkar

    Bagus ni, Muji.Tapi kalau kau tnyata nerima juga kritik yang ingin hancurkan,ya sabar sajalah kerna tulnya kritik kayak apapun tak mrubahkeadaan sebenarnya kita. (Eh, kalau bisa doakan si pengritikyang mungkin kerna persoalan ni dan tu jadi emosi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s