Niat Ibadah Demi Dunia


Pagi tadi, di sebuah forum diskusi kami mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana seseorang melakukan ibadah tetapi untuk mendapatkan keuntungan dunia. Misal berpuasa karena ingin diet, atau pingin kurus.

Alhmadulillah beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah pembahasan tentang hal ini. Apabila seseorang melakukan ibadah tetapi juga menginginkan keuntungan duniawi, maka ulama membagi menjadi beberapa kondisi:

Dia memaksudkan dengan ibadahnya pendekatan diri kepada Allah swt sekaligus tujuan-tujuan duniawi yang dihasilkannya, seperti di samping bermaksud ibadah, ketika bersuci dia bermaksud menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran-kotorannya, ketika shalat dia bermaksud mengolah dan menggerakkan tubuh, ketika puasa dia bermaksud melangsingkan badan dan mengurangi kegemukan; ketika haji dia bermaksud dapat melihat syiar-syiar Islam dan para jamah haji, Yang seperti ini mengurangi pahala ikhlas. Jika keinginannya ini lebih mendominasi daripada niat beribadah, maka dia kehilangan kesempurnaan pahala, tetapi tidak menjadikannya berdosa atau maksiat, sebagaimana firman Allah swt,

“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (Q.S. al-Baqarah: 198)

Jika niat selain ibadah yang lebih mendominasi, maka dia tidak mendapatkan pahala di akhirat, tetapi pahalanya adalah apa yang dia dapatkan di dunia. Saya khawatir dia berdosa karenanya, karena telah menjadikan ibadah, yang merupakan tujuan tertinggi, sebagai wasilah untuk mendapatkan dunia yang hina. Keadaannya seperti orang yang yang Allah swt katakan dalam firman-Nya,
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenany hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (Q.S. at-Taubah: 58)

Diriwayatkan di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra bahwa seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki ingin berjihad dan juga ingin mendapatkan bagian dari perkara dunia.” Nabi saw menjawab, “Dia tidak mendapat pahala.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali dan Nabi saw (tetap) menjawab, “Dia tidak mendapat pahala.” Abu Dawud. Dinyatakan hasan derajatnya oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud. (red.)

Diriwayatkan pula di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Umar bin al-Khaththab ra bahwa Nabi saw bersabda, (artinya “Barangsiapa berhijrah untuk mendapatkan kepentingan dunia atau wanita yang ingin dia nikahi, maka (pahala) hijrahnya (sekadar) apa yang dia hijrahi.”

Jika kedua niat tersebut sama, tidak ada yang lebih mendominasi, baik niat beribadah maupun niat selain beribadah, maka hal ini menjadi masalah yang diperselisihkan (memerlukan penelitian). Namun, yang lebih dekat pada kebenaran adalah bahwa dia tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal untuk Allah dan juga untuk selain-Nya. Perbedaan antara jenis ini dan yang sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada jenis sebelumnya timbul karena kebutuhan, sehingga keinginannya adalah terhadap yang dihasilkan dari kebutuhannya. Sepertinya dia ingin apa yang dihasilkan dari perbuatannya adalah perkara-perkara dunia.

Jika ada yang bertanya, “Apa timbangan untuk dapat menentukan bahwa keinginannya pada jenis ini lebih mendominasi kepada beribadah atau kepada selainnya?” Kita jawab, “Timbangannya adalah jika dia tidak peduli dengan tujuan selain ibadah, baik itu diraihnya atau tidak, maka hal itu menunjukan bahwa niat beribadah lebih mendominasi. Begitu pula sebaliknya.” Yang jelas bahwa niat yang merupakan ucapan hati, perkaranya amatlah penting dan merupakan hal yang amat urgen, bisa mengantarkan seorang hamba ke derajat shiddiqin, bisa pula menjerumuskannya ke tempat yang paling rendah.

Berkata sebagian salaf, “Tidaklah aku bersungguh-sungguh terhadap diriku atas sesuatu daripada kesungguhan berikhlas.”

Sedangkan perkara ibadah yang didorong oleh Allah untuk dilakukan dengan menyebutkan ganjarannya di dunia, seperti sedekah, menyambung kekerabatan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia menyambung kekerabatan.” (HR. Bukhari)

Atau seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang membunuh musuh dalam peperangan, maka harta orang tersebut menjadi miliknya.” (HR. Malik; Tirmidzi; Ath Thabrani; Ad Darimi; Ibnu Hibban)

Maka di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berjihad disertai penyebutan ganjaran di dunia. Maka dalam amalan model ini, boleh bagi seseorang mengharapkan ganjaran di dunia (di samping mengharapkan niat mencari wajah Allah -pent), karena Allah tidak mungkin menyebutkannya kecuali Allah telah mengizinkan hal tersebut.

Oleh karenanya, boleh bagi seseorang menyambung kekerabatan dengan niat ikhlas kepada Allah namun dia juga mengharapkan agar mendapatkan ganjaran di dunia seperti kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Atau seseorang berjihad untuk mendapatkan ghanimah dan niatnya ikhlas kepada Allah, maka hal ini diperbolehkan dan niatnya tersebut tidak termasuk sebagai syirik dalam niat karena Allah telah mengizinkan hal tersebut dengan menyebutkan ganjarannya di dunia apabila dilakukan.

4 thoughts on “Niat Ibadah Demi Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s