selamat jalan Pak Guru


Tidak tahu kenapa hari itu serasa banyak ‘cobaan’. Kepala masih terasa
pusing, memang sejak sabtu malam kepala pusing berat sehingga harus izin
tidak ikut acara rutin. Dengan kondisi begitu, ada lagi ‘cobaan’ : kader
yang sudah ikut acara di auliya tidak wajib ikut ke ‘pandeglang’. Lengkaplah
sudah alasan, jika ingin meminta izin. Meski ada sms terakhir yang
menegasikan hal itu. Tapi alhamdulillah, setelah membersihkan diri dengan
mandi dan wudhu, rasanya mantap untuk berangkat, apalagi Mas Bowo sejak hari
sabtu sudah menawarkan berangkat bareng dengan mobil. Kan tinggal ikut.
Kesempatan untuk bermuwajahah dengan qiyadah dan kader se-Banten.

Perjalanan serasa tidak panjang (apa karena saya tidur ), kurang lebih jam
10.45 mobil sudah tiba di wilayah pandeglang dan terlihat di pusat kota
masih terpasang bendera partai dan spanduk selamat datang untuk pak Hidayat.
Ketika masih mencari lokasi, ada ikhwah yang menelepon perpindahan acara ke
Hotel Permata Cilegon. Bagaimana nih? sudah mau nyampe kok baru tahu acara
pindah – pikir saya setengah senyum. Akhirnya kamipun berputar kembali.
Kamipun mampir untuk makansiang dulu di RM Karang Kitri. Di tengah menunggu
makan, datang pula rombongan ‘tetangga’ akh Untung Harianto, akh Wahid
dkk….Hemm rombongan ta’limat pertama, kata seorang al-akh.

Pesanan makanan terasa lama, biasa kalau sudah lapar. Singkat cerita kami
makan dan sholat di rumah makan itu sampai kurang lebih jam12.45. Kami yang
sudah kenyang bersiap menuju cilegon, saya sempat bercanda ke driver kami
Pak Maryono : langsung Pondok Aren aja pak. Beress..disambut senyum yang
lain.

Canda gurau kami seketika berubah ketika Pak Maryono mendapat telepon dari
Pak Parman yang mengabarkan ada kecelakaan yang menimpa rombongan di
Cilegon. Belum jelas benar infonya, Pak Parman menyebut info dari Pak
Paryan. Saya langsung menghubungi Pak Paryan. Beliaupun menjelaskan ada
rombongan Pondok Aren yang mengalami kecelakaan. Beliau menginfokan, ada
seorang ikhwah yang meninggal, Akh Muslih. Kami terhenyak. Pak Muslih
komplek pajak? kata saya. Pak Muslih guru Baitul Maal? tanya Pak Bowo. Pak
Muslih yang Korsad? tanya Pak War’an. Saya menyebutkan posisi kami baru mau
keluar tol Serang Timur. Pak Paryan menyebut kecelakaan terjadi di KM 82.
Beliau meminta kami memastikan.

Seketika itu, kami berlima (Saya, Pak Bowo, Pak War’an, Pak Bayu, Pak
Maryono) segera beristighfar, saya melihat ikhwah di mobil kami mulai dibawa
perasaan sedih yang mendalam, meski kami belum sampai di tempat kejadian.
Memasuki tol di arah Km 80 belum terlihat tanda-tanda, dugaan kami jalan tol
akan mengalami kemacetan. Sampai di Km 82 juga lancar-lancar, mudah-mudahan
infonya salah, inginnya saya. Tapi tak lama kami melihat pecahan kaca di
bahu kiri tol, namun mobil sudah tidak ada. Kami terus melaju, 300 m di
depan terlihat mobil PJR, mobil derek, dan sebuah mobil sedan milik petugas.
Dan sebuah mobil kijang yang rusak.

Kami berhenti, dan menemui petugas kepolisian yang ada di lokasi. “Dari
pihak keluarga?” petugas mendahului bertanya. ”Ya pak, kami kawannya?” jawab
kami sekenanya. Petugas menjelaskan bahwa telah terjadi kecelakaan tunggal
akibat pecah ban, dengan pengemudi bernama Cris Kuntadi. Ya Allah, Pak Cris.
Petugas mengatakan ada 1 korban meninggal bernama Muslih, sambil menunjukkan
kantung mayat yang ada diatas mobil PJR. Deg, lemas hati saya. Tak kuasa
menahan air mata. Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’un. Saya lihat Mas Bowo juga tidak dapat menahan haru. Ikhwah lain
tampak menenangkan diri..

Ketika kami menanyakan keadaan penumpang lainnya, petugas menjawab sudah di
bawa ke RS Krakatau Medika. Sementara jenazah almarhum, akan dibawa ke RSU
Serang. Ketika kemudian kami coba berbagi tugas ke 2 RS tersebut, petugas
menyuruh kami semua ke RS Krakatau, lebih baik mengurusi yang luka terlebih
dahulu, katanya. Kami pun mengiringi petugas menuju RS Krakatau. O iya, kami
ingat di rumah makan tadi bertemu dengan akh Untung dkk, setelah menginfokan
kejadiannya, kamipun minta tolong rombongan beliau untuk menuju RS Serang.

Setibanya di RS Krakatau sudah tampak beberapa ikhwah. Tampak pak Ruhamaben,
pak Nacep, Pak Kusnadi, dll. Dari pondok aren tampak akh Hendri dkk. Lima
orang ikhwah kita dirawat di ruang IGD (Akh yanu, akh triana, akh tri
mahendra, akh sadimin, akh nur solihin), sementarayang dua orang tidak
mengalami luka serius (pak Cris Kuntadi dan Pak Jaka). Namun semuanya masih
tampak shock. Saya melihat pak yanu yang tampak sangat serius lukanya,
sampai dipasang EKG dan oksigen. Meski begitu, sambil menahan sakit, ikhwah
kita coba tampak tegar. Bahkan yang luar biasa, mereka menanyakan keadaan
ikhwah lain yang satu mobil, meski mereka sendiri sedang sakit. Subhanallah.
Tentang kondisi Pak Guru Muslih, kami tak menceritakan, khawatir menambah
shock.

Saya dan ikhwah yang ada di RS kemudian terus melakukan komunikasi dengan
ikhwah lainnya, dengan Pak Paryan, Pak Sjam, Pak Ika, Pak Zaki, untuk terus
berkoordinasi. Awalnya rombongan kami akan bersama petugas tadi ke RS
Serang, setelah urusan beliau dengan pak Cris selesai. Alhamdulillah selang
satu jam datang rombongan Pak Tribudi, ada Pak Muslihan, Pak Suyanto, Pak
Muklas, Pak Ikhlas, Pak Aris. Juga dating Pak Hasan. Sehingga Pak Muslihan
dkk yang ke RS Serang untuk mengiringi jenazah almarhum sampai mengantar ke
rumah. Sementara kami tetap di RS Krakatau untuk menjaga yang ikhwah yang
masih di UGD. Ada rombongan kami, rombongan Akh Bin Nahad, rombongan Akh
Hendri yang menunggu di RS Krakatau.

Sampai kurang lebih pukul 4 sore, dokter membolehkan 6 orang untuk pulang
sementara Pak Yanu masih harus dirawat. Pak Dodi dan Pak Awal bersedia
menemani Pak Yanu sambil menunggu keluarga bersama pak Zaki. Akhirnya,
setelah menyelesaikan administrasi, kami pun membawa ikhwah pulang. Tiga
orang ikut mobil kami, akh Sadimin, akh Tri Mahendra, akh Nursolihin.
Sementara Pak Cris, akh Jaka, akh Triana ikut dengan mobil akh Bin Nahadi.
Kami mengantar ke rumah masing-masing. Beberapa ikhwah yang sakit ketika
kami antar sampai rumah masih mengalami ‘blank’, ingatan jangka pendeknya
‘terlupa’. Semoga kini sudah disembuhkan Allah.

*PAK GURU MUSLIH YANG SAYA KENAL*

Sebetulnya saya tidak terlalu kenal beliau, hanya sesekali kalau menjemput
atau mengantar anak sekolah kita saling senyum danbersalaman. Kemudian
sempat berbincang agak lama ketika sama-sama bertemu di Bank Muamalat
Bintaro, ketika beliau hendak berangkat mempersiapkan acara PAM Ceria SDIP
Baitul Maal. Dari situlah saya punya kesan bahwa beliau orang yang sangat
tenang pembawaannya, wajahnya menunjukkan rajin ibadahnya. Ketenangannya
tidak menutupi kesan bahwa beliau juga orang yang sangat ‘ksatria’, berani,
dan gagah. Saya pernah melihat beliau di televisi ketika acara aksi
menentang kekejaman Israel atas Gaza, waktu itu beliau di barisan terdepan
dengan memakai seragam Korsad.

Begitu kabar pertama wafatnya beliau terdengar, tidak tahu mengapa saya
seperti kehilangan orang yang sangat lama saya kenal, sangat lama saya
cintai. Sangat lama. Tak dapat dibohongi saya menangis. Mudah-mudahan itu
bagian dari kesejatian ukhuwah.

Oleh Pak Cris, saya dititipi dompet dan hp almarhum. Hp yang biasa saja.
Dompetnya juga biasa, malah terlihat lusuh. Saya sempat membuka dompet
almarhum (disaksikan pak war’an), untuk melihat isinya, karena polisi sempat
membawa KTP almarhum. Saya tak melihat Kartu ATM apalagi Credit Card di
dompetnya. Hanya beberapa uang tunai 200 ribuan. Seorang yang sangat
sederhana dan bersahaja.

Siang tadi, setelah pulang sekolah-Yasmin- anak saya yang kelas I SD,
bercerita bahwa ia dan kawan-kawannya melakukan sholat ghoib. “Kakak nangis
bi” sebutnya “Bu Guru sama
teman-teman kakak juga nangis”.

Sengaja dalam judul tulisan ini saya melekatkan kata Pak Guru di awal
namanya, karena profesi guru yang beliau sandang itu sangat mulia, dan
memang sudah selayaknya menjadi guru bagi kita atas segala kelebihannya.
Kebaikannya layak untuk digugu dan ditiru. Seorang guru yang senantiasa
memperbaiki, memperbaiki kondisi umat. Sesuai dengan namanya. Semoga kita
pun selalu memperbaiki diri kita karena kita tidak tahu kapan datangnya,
itulah kematian. Ya Allah wafatkan kami dalam husnul khotimah.
Semoga saat ini almarhum tengah menikmati *raudhah min riyadhil jannah*,
dan keluarga ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Acara di hotel permata tidak dapat kami hadiri. Rupanya Allah telah
memberikan beberapa hal kejadian untuk kami di hari ahad itu, agar saya
dapat bersama ikhwah lain belajar berukhuwah, belajar berkehidupan.

*Terimakasih kepada seluruh ikhwah yang telah memberikan segalanya
untuk membantu ikhwah yang terkena musibah. Mohon maaf kepada ikhwah
yang saya tulis, maupun yang tidak saya tulis namanya dalam tulisan
ini jika ada yang tidak berkenan.
Semoga Allah membalaskan untuk kita semua ridho dan surgaNya. Amiin
*
Lukman B.Hidayat
berita lengkap kejadian tersebut http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/15/04173991/mobil.rombongan.kader.pks.terbalik.di.jalan.tol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s