Bermimpilah


Suatu ketika, Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian berangan-angan, perhatikanlah apa yang kalian angankan. Karena tidak ada orang yang tahu apa yang telah ditetapkan Allah swt dari angannya itu.” Hadists Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad tersebut mengandung pelajaran agar kita menjadi orang yang pandai mengontrol diri, sampai soal lintasan hati yang berbentuk keinginan dan angan-angan. Artinya Islam menyadarkan kita untuk tidak hanya mampu mengontrol perilaku lahir, tapi juga menuntun agar kita bisa lebih baik menata urusan batin dan pikiran sekalipun.

Marilah sejenak kita menengok tentang bagaimana Rasulullah, para sahabat dan juga para shalihin dalam menyusun angan-angan atau mimpi-mimpi mereka yang luar biasa. Lihatlah bagaimana angan Rasulullah saw yang terucap dalam salah satu haditsnya, “Demi Zat yang jiwaku ada dalam Genggaman-Nya. Aku ingin mati di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian mati lagi di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian mati di jalan Allah lagi…” (HR. Bukhari)

Atau bagaimana ketika Umar bin Khattab ra, suatu ketika berkata kepada para sahabatnya. “Berangan-anganlah.” Seorang sahabat mengatakan, “Jika saya mempunyai emas sepenuh ruangan ini, akan saya infaqkan di jalan Allah.” Sahabat yang lain mengatakan, “Aku ingin bila ruangan ini dipenuhi permata, aku infaqkan dan aku shadaqahkan di jalan Allah.” Umar mengatakan lagi, “Berangan-anganlah.” Mereka mengatakan, “Kami tidak tahu lagi yang lebih baik dari itu ya Amirul Mukminin.” Lalu Umar mengatakan, “Aku berangan-angan seandainya ruangan ini berisi orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al Jarrah…” (Abu Ubaidah bin al Jarrah ra adalah sahabat yang disebut Rasulullah saw dengan label amiinu al ummah.)

Lalu lihatlah apa harapan atau keinginan Abdullah bin Abbas ra yang mengatakan, “Sungguh aku mengerti ayat dari Kitabullah. Aku ingin menghimpun manusia untuk mengajarkan kepada mereka apa yang aku ketahui.”. Kemudian lihatlah lagi bagaimana orang-orang shalih lainnya menyusun mimpi-mimpi mereka. Abdur Rahman bin Abi Zinad mengatakan bahwa ayahnya bercerita, “Para sahabat berkumpul di sebuah ruangan. Di sana ada Mush’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Umar. Salah seorang mereka mengatakan, “Berangan-anganlah.” Abdullah bin Zubair mengatakan, “Aku ingin menjadi khalifah.” Urwah mengatakan, “Saya ingin ilmu yang saya miliki diambil.” Musha’ab mengatakan, “Saya ingin menikah dengan wanita Iraq, dan menghimpun antara Aisyah binti Thalhah dan Sakinah binti Husain.” Abdullah bin Umar mengatakan, “Kalau saya ingin mendapatkan ampunan Allah.”

Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Saya mempunyai jiwa yang ambisius. Dan apa yang menjadi ambisiku selalu tercapai. Dahulu aku pernah berambisi mendapat kepemimpinan, lalu aku memperolehnya. Lalu aku ingin mendapatkan khilafah, dan aku mendapatkannya. Sekarang aku berambisi untuk masuk surga. Semoga Allah swt menjadikan aku bisa mendapatkannya.”

Angan-angan, mimpi, cita-cita atau harapan memang penting. Tetapi, kita juga harus tetap berhati-hati, karena dia juga bisa menjadi salah satu senjata syaithan. Karena syaithan pun akan berusaha memesonakan seseorang melalui angan-angan seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 119-120,

“dan pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan kusuruh mereka memotong-motong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya). Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata. (Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.”
Saudaraku, angan-angan dan keinginan itu bukanlah terminal terakhir. Tetapi, ia justru terminal pertama atau awal perjalanan yang harus dilanjutkan dengan upaya serius untuk mencapainya. Lalu, apa angan-angan kita, saudaraku? Untuk diri sendiri, untuk yang terkasih, dan juga untuk umat ini? Mari berangan-angan yang bukan sekedar angan-angan. Mari kita susun strategi agar ia tak menjadi hanya sekedar angan, tanpa pernah menjadi nyata dan memberikan manfaat lebih.

Wallahu ‘alam bisshawab.
Taujih bunda.rafi di FS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s