Imam Sumber Kencono


Dulu, kami punya sahabat yang panggilannya Imam Sumber Kencono. Bukan tanpa maksud, karena dia merupakan salah satu imam musholla kantor, sehingga disebut imam walaupun nama sebenarnya bukan Imam. Sedangkan nama Sumber Kencono, diambil dari nama perusahaan bis Sumber Kencono. Bagi yang sering berpergian ke Surabaya dari Solo atau Jogya, mungkin familiar dengan bus ini.

Bus ini mempunyai ciri khas dengan sopirnya yang suka ngebut dalam mencari penumpang. Bahkan sesama rekan bus satu perusahaan kadang nggak mau kalah, apalagi kalo bus yang trayek malam. Surabaya-Solo yang biasanya ditempuh 6 jam, maka kalo malam bisa kurang dari 4 jam. Dulu saya termasuk yang sering menggunakan jasa bus ini, bekalnya adalah dzikir, semoga selamat…maklum anak istri sudah menunggu dirumah.

Nah, teman saya kalo mendapat giliran imam sholat, cepat sekali gerakannya. Apalagi sholat tarawih, bisa bisa seperti orang scot jump. Makanya tidak salah bila jama’ahnya menyebutnya Imam Sumber Kencono, dan anehnya para jama’ah malah suka kalo imamnya dia.

Sebenarnya kalo kita merenungi makna sholat, adalah kita sedang berdialog dengan Allah. Tidak boleh ada ketergesa-gesaan disana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”

Ibnul Qayyim berkata,
“Sesungguhnya ketergesa-gesaan itu datangnya dari syetan, karena tergesa-gesa adalah sifat gegabah, asal dan sembrono yang menghalang-halangi seseorang untuk berprilaku hati-hati, tenang dan santun serta meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tergesa-gesa muncul karena dua perilaku buruk, yaitu sembrono dan buru-buru sebelum waktunya”. Tentu saja bila shalat dalam kondisi tergesa-gesa, maka cara pelaksanaannya asal. Asal mengerjakan, asal selesai dan asal jadi. Tidak ada ketenangan atau thu-ma’ninah. Pada zaman Rasulullah SAW ada orang shalat dengan tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengulanginya lagi karena shalat yang telah ia kerjakan belum sah. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apabila kamu shalat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar ruku’ (thuma’ninah) , lalu bangkitlah dari ruku’ sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud (thuma’ninah) dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat shalatmu” (HR Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasululloh sendiri pernah menegur kepada seorang yg tergesa-gesa dan tidak membaguskan sholatnya serta tidak tuma’ninah (tenang dan tertib). Teguran beliau:”Kembalilah ke tempatmu, dan sholatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum sholat.”

Mungkin kita belum seperti Rasulullah SAW yang malah berehat dengan sholat, bahkan kita mengucap koq sudah adzan lagi sih, seperti tidak senang menyambut panggilan Allah. Bagaimana perasaan kita menyambut panggilan pejabat yang berjanji akan memberikan permintaan kita. Tentu kita akan berdandan rapi, lalu datang lebih awal dibandingkan pejabat tersebut. Sedangkan bila yang memanggil yang mempunyai segalanya, bahkan nyawa pejabat tersebut, dan Dia pengabul segala do’a kita, tentunya kita lebih mengutamakanNya dibandingkan yang lain.

Lalu kita diajak dialog, tentunya kita akan berkata perlahan dengan tenang. Apa dialognya, Al-Fatihah adalah dialog hamba dengan Allah Ta’ala. Dalam hadit qudsi Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dengan hambaKu menjadi dua bagian dan bagi hambaKu apa yang dia minta.
Apabila dia (hamba) mengucapkan: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan sekalian alam.
Allah Taaala menjawab: Hambaku memujiKu.
Dan apabila dia (hamba) mengucapkan: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Allah Taaala menjawab: HambaKu menyanjung-nyanjungKu.
Dan apabila dia (hamba) mengucapkan: Yang menguasai hari pembalasan.
Allah Taaala menjawab: HambaKu mengagung-agungkanKu.
Dan apabila dia (hamba) mengucapkan: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Allah Taaala menjawab: Ini adalah antara Aku dengan hambaKu dan bagi hambaKu apa yang dia minta.
Dan apabila dia (hamba) mengucapkan: Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Allah Taaala menjawab: Ini adalah untuk hambaKu dan bagi hambaKu apa yang dia minta.
(HR. Muslim dan An-Nasai).

Begitulah dialog yang indah.HambaNya melakukan tawasul dalam berdo’a dengan menggunakan pujian, sanjungan, dan mengagungkan, dan itulah sunah dalam berdo’a. Lalu Allah akan mengabulkan segala permintaan kita. Sudah selayaknyalah kita meminta dengan merendahkan diri, perlahan, dan tenang. Bukan secepat Bus Sumber Kencono. (Bang Navre)

2 thoughts on “Imam Sumber Kencono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s