Utang


Sebagai istri tercinta Nabi Muhammad, Aisyah tentu banyak merekam pengalaman. Suatu hari, Aisyah bercerita kepada para sahabat bahwa Rasulullah biasa berdoa seusai sholat. Bunyinya, “Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Eangkau dari bebrbuat salah dan berutang.”

Setelah berdoa, Nabi SAW ditanya oleh seorang sahabat, “Ya Rasulullah, mengapa engkau sangat sering meminta perlindungan dari berutang”.

Rasulullah pun menjawab, “Orang yang berutang itu bila berkata cenderung berdusta, dan bila berjanji cenederung tidak menepatinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam kisah lain, seperti dikutip tokoh Islam, Abdurrahman Al-Jauzi, disebutkan bahwa seorang alim berutang kepada temannya. Suatu saat, ia menulis sepucuk surat kepada Ya’kub bin Daud, memohon agar datang kepadanya. Lalu datang utusan bernama Ibnu Nazar Al-Jarrati.

“Kalau bukan karena utangku, tentu engkau tak kan datang kemari. Moga Allah SWT mengenugerahkan rezeki kepadaku agar aku dapat membayarnya,” kata sang alim.

Mendengar ucapan itu, Ibnu Nazar menyahut, “Demi Allah, bila engkau berpulang menghadap Allah sedang menanggung utang — tapi tetap memegang teguh kepada agamamu — itu jauh lebih baik ketimbang engkau wafat setelah melunasi utangmu tetapi agamamu lepas. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.”

Kedua kisah di atas mengingatkan kita pada kebiasaan masyarakat yang selama ini berlomba-lomba mencari utang lewat kartu kredit atau kredit konsumtif lainnya, juga utang perusahaan. Kisah di atas juga mengingatkan kita tentang masalah moneter dan ekonomi Negara Indonesia, khususnya masalah utang luar negeri. Paling tidak, hadits Nabi dari kitab Shahih Bukhori dan kisah sufi itu bisa dijadikan bahan renungan bagi yang berutang dan sedang memproses penyelesaian utang luar negeri.

Kita mendukung dan bersyukur, mereka telah berupaya mencari jalan keluar dari lilitan utang. Bukankah dalam hadits lain Nabi menegaskan, “Barang siapa yang berutang dengan maksud membayarnya, Tuhan akan menolongnya (dalam membayar kembali).”

Dalam hadits yang diceritakan Aisyah di atas, selain berdoa agar terhindar dari berutang, Rasulullah juga mengingatkan bahwa orang yang berutang cenderung bedusta dan ingkar janji. Peringatan ini menghentak kesadaran dan menggelitik ingatan kita tentang ciri-ciri orang munafik, seperti dijelaskan Rasulullah. “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : kalau berbicara dia berdusta, bila berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya dia khianat.” Artinya berutang seringkali bisa menyeret kita kepada kemunafikan. Na’udzubillah min dzalik ! untuk itu, yang perlu kita ingat bahwa utang sekescil apapun hukumnya wajib dibayar. Utang yang belum dilunasi menjadi beban tanggung jawab kita. “Jiwa seorang mukmin itu (yang meninggal dunia) tergantung pada utangnya, sehingga utang itu dilunasi,” kata Nabi. Jadi kita harus berusaha mengembalikan utang dan tetepa beriman kepada Allah. Wallahu ‘alam. (Idris Thaha)

sumber : Republika

7 thoughts on “Utang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s