Membunuh Da’i


Tulisan ini sebagai rasa prihatin saya, akan kejadian akhir akhir ini yang banyaknya pembentukan opini terhadap kejadian pasca bom JW Mariot dan Ritz Carlton.

Pasca kedua bom tersebut, kita sering melihat dan membaca di media, Densus 88 mengejar berbagai orang yang diduga terkait dengan terorisme. Bahkan di media mulai ada wacana pembuatan UU ISA seperti di Malaysia.

Yang menyedihkan seperti ada pembentukan opini bahwa seolah olah orang yang berbuat terorisme adalah orang shaleh, aktif ke masjid, sering mengadakan pengajian dan lain-lain yang bersifat agamis. Bahkan SJ di duga pendoktrin teroris adalah seorang (katanya) hafidz al qur’an.

Hal ini sedikit banyak menyudutkan para da’i yang lain, yang bahkan berbeda pendapat dan mengutuk terorisme (irhab). Beruntunglah, atas ketajaman bashiroh para qiyadah, kita melakukan koalisi dengan pemerintah. Ini salah satu ibroh sehingga kita setidaknya bisa membuat opini lain bahwa irhab tidak terkait dengan islam (Ust Tiffatul dan Ust HNW). Bahkan, setidaknya harokah kita tidak disebut sebagai organisasi yang terkait teroris, seperti perkataan mantan ketua BIN yang terang2an menyebut wahaby.

Dijaman Fir’aun juga ada upaya pembunuhan da’i. Tidak tanggung-tanggung yang akan dibunuh adalah Musa as. Fir’aun kesal melihat perkembangan da’wah nabi Musa –‘alaihis-salam. Betapa tidak. Bukankah “seharusnya” nabi Musa –‘alaihis-salam- mati tidak berapa lama setelah lahir. Lalu, bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- besar dan gede di dalam istana Fir’aun dan dibawah “asuhan”-nya (QS Asy-Syu’ara [26] : 18).

Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- mempunyai “catatan” tindak pidana, yaitu membunuh satu orang Qibti; dari suku bangsa Fir’aun sang penguasa! Masih ada lagi kejahatan dia yang lain, yaitu, setelah membunuh, nabi Musa –‘alaihis-salam- melarikan diri dari Mesir dan menjadi “buronan”!

Lalu “tiba-tiba” dia datang lagi dan mengajak Fir’aun untuk melepaskan belenggu Bani Israil dan mengajak Fir’aun beriman kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala- Tuhan semesta alam, yang berarti menghancurkan ketuhanan Fir’aun! Sudah begitu, “banyak” juga generasi baru yang mengikuti dan menerima da’wah nabi Musa –‘alaihis-salam-

Karena keselnya, Fir’aun mengeluarkan dua intruksi penting, yaitu:
Pertama: Bunuhi semua anak laki-laki dari orang-orang yang beriman kepada nabi Musa –‘alaihis-salam.
Kedua: Biarkan hidup wanita-wanitanya.

Dengan adanya dua perintah ini, menjadi beratlah beban orang-orang yang beriman kepadanya, sebab kaum lelakinya berkurang atau terancam habis. Dari sisi lain, dengan adanya ledakan jumlah kaum wanita dan minimnya kaum laki-laki, maka menjadi sulit mengelola masyarakat dengan komposisi sosial seperti itu. Karena dahsyatnya “strategi” ini, Allah –Subhanahu wa ta’ala- mensifatinya dengan sebutan wama kaidul kafiriina illa fi dhalal (dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain berada pada kesesatan). Silahkan lihat QS Ghafir [40]: 25).

Masih ada lagi “proyek” Fir’aun yang lebih seru dan lebih dahsyat, yaitu, rencana pembunuhan nabi Musa –‘alaihis-salam. “Proyek” ini adalah pekerjaan besar yang tidak sederhana. Bagaimanapun juga, nabi Musa –‘alaihis-salam- telah memiliki banyak peran dan jasa bagi negara dan bangsa. Bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- adalah seseorang yang “berjasa besar” dalam menanggulangi wabah dan bencana thufan (banjir), jarad (belalang), qummal (kutu), dhafadi’ (kodok), dan dam (semua air berubah menjadi darah)! (QS Al A’raf [7]: 132 – 135).

Jasa-jasa besar ini tentulah sangat dikenang oleh rakyat, oleh masyarakat luas, oleh khayalak. Karenanya, kalau tiba-tiba dia dibunuh begitu saja, tentulah rakyat akan membelanya, dan bisa jadi akan secara ramai-ramai melawan Fir’aun sang penguasa, dan hal ini tentulah tidak dikehendaki oleh Fir’aun. Karena inilah, “proyek” itu harus mendapat legalisasi konstitusi dan dukungan publik. Karenanya, Fir’aun berkata:

“Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agama kalian, atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (QS Ghafir [40]: 27).

Dari perkataan ini kita menangkap beberapa hal, diantaranya:

a. Fir’aun tidak berani begitu saja membunuh nabi Musa –‘alaihis-salam.
b. Untuk membunuhnya, dia harus mendapatkan dukungan publik yang bersifat massal, karenanya, dia berkata: “Dzaruuni” yang artinya: “Biarkanlah (wahai orang banyak) saya membunuh Musa”. Biarkan artinya: jangan ada yang memprotes keputusan ini.
c. Untuk mendapatkan dukungan publik, Fir’aun harus mendapatkan pula dukungan konstitusi dan kewajaran hukum.
d. Kewajaran hukumnya adalah:
• Musa akan mengganti agama kalian, atau
• Musa akan berbuat kerusakan di muka bumi

Bagaimana sikap seorang da’i dalam menghadapi konspirasi “proyek” besar ini?
1. Pertama: Dia harus menyerahkan masalah ini kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala- secara total dan meminta perlindungan kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya.
2. Kedua: semenjak awal, sang da’i sudah harus menyebar luaskan da’wahnya ke berbagai segmen masyarakat, baik pada kalangan pemuda maupun orang-orang tua, dari kalangan ilmuwan maupun masyarakat awam, dari kalangan rakyat jelata maupun kalangan birokrat dan penguasa, sehingga, luasnya dukungan da’wah ini akan sangat membantu sang da’i dalam situasi dan kondisi seperti yang dialami nabi Musa –‘alaihis-salam- ini.
3. Dalam kasus nabi Musa –‘alaihis-salam- ini, muncullal seorang lelaki beriman, dari keluarga Fir’an, yang dia masih menyembunyikan keimanannya, yang tampil memberikan advokasi dan pembelaan yang sangat luar biasa sekali, sehingga Fir’aun menjadi berfikir beribu kali untuk benar-benar melaksanakan eksekusi “proyek”-nya (QS Ghafir [40]: 28 – 44).
4. Advokasi yang dimaksudkan dalam point 3 di atas membawa hasil yang sangat positif, sebagaimana tersebut dalam QS Ghafir [40]: 45.
5. Seorang da’i hendaklah yakin seyakin-yakinnya terhadap kaidah yang Allah swt sebutkan dalam QS Ghafir [40]: 51, yaitu: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”.

Sebagai tambahan atas point 1 diatas, berikut saya kisahkan nabi Ibrahim –‘alaihis-salam.

Setelah semua orang marah terhadap nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- merekapun mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyak-nya untuk membakar nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- hidup-hidup. Saat api telah menyala besar, merekapun melontarkan nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- dengan manjaniq (ketapel raksana) agar tercemplung ke tengah api yang sedang membara. Saat nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- melayang di udara, datanglah malaikat Jibril –‘alahis-salam- menawarkan bantuannya. Atas tawaran ini nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- menjawab: “Minta bantuan kepadamu?! Tidak, saya hanya meminta bantuan kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala. Lalu nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam-pun mengucapkan: Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

Semoga bermanfaat, amin.

Sumber :
1. TVOne
2. Dialog Metro TV: Suara Anda
3. Taujihat Usbu’biyah
4. Dakwatuna.com

Advertisements

4 thoughts on “Membunuh Da’i

  1. birumalam said: salah satu ujian berat untuk umat islam ya ?semoga kita semua bersabardan menunjukkan dgn tindakan dan ucapan yg baikbahwa umat islam cinta damai

    amin semoga diberi ketabahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s