Tolonglah Aku….


Rasanya tertohok ketika khotib sholat tarawih tadi malam membawakan hadits tersebut. Memang, sudah sering kita membaca tetapi entah kenapa seakan doa-doa kita hanya ritual, atau doa basa-basi. Kita selalu saja terleka, terlena oleh nafsu dunia, hingga terlupa untuk mengingat padaNya. Padahal dalam Al-Qur’an ada begitu banyak ayat yang memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat Allah/ zikir. Dan penjelasan tentang keutamaannya juga ada di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.
Bahkan di dalam QS. 33:35 yang berisikan ciri-ciri orang-orang yang akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dimulai dari laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, jujur, sabar, khusyu, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatannya hingga akhirnya puncak kriterianya adalah orang yang banyak mengingat Allah.
Dan di surat yang sama (Al-Ahzab) tetapi di ayat 41 dan 42, tertera jelas firman Allah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama Allah) dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.
Keutamaan zikir juga nampak dalam hadits-hadits ini, “Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia mengingat-Ku (berzikir) dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam sebuah jama’ah, Aku akan menyebutnya di dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka”.(Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah).
Begitu juga dalam hal mensyukuri nikmat iman, islam, sehat dan sempat. Yang sering kita ingat adalah cobaan yang menimpa buka kenikmatan yang kita dapatkan. Bahkan nikmat Allah tidak terbatas dan tidak terhitung, tetapi kenapa sedikit sekali kita menghitung dan mengingat nikmat Allah. Puasa ini, saya menderita sariawan sehingga tidak bisa membuka mulut dengan lebar, makan susah, berbicara sakit, masyaAllah baru teringat rasa nikmat sehat, nikmat berbuka.
Tetapi entah kenapa kita hanya ingat ketika ditimpa ditimpa kesusahan, musibah. Barulah kita menyebut, menghiba “Ya Allah”.
Lalu kita minta pertolongan pada Allah agar kita mempersembahkan ibadah yang baik bagiNya. Kita tidak pernah tahu kualitas ibadah kita di sisi Allah. Apakah diterima atau tidak. Itulah khauf dan roja’ yang harus dimiliki seorang muslim. Kita hanya berharap semoga dengan bimbingan Allah, kita dapat mempersembahkan ibadah-ibadah yang terbaik.

9 thoughts on “Tolonglah Aku….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s