Perspektif Al-IKHLAS yang diinginkan atas setiap Ikhwah


Dalam rukun bai’at kedua, Imam syahid meletakkan Al-Ikhlas setelah rukun Baiat pertama Al-Fahmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Fahmu akan memunculkan keikhlasan, dan keikhlasan akan sempurna jika diiringi dengan pemahaman.

Imam as-syahid berkata: “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan dan jihadnya kepada Allah; mengharap keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (Al-An’am:162). Dengan begitu, seorang Al-akh telah memahami makna slogan abadinya: “Allah tujuan kami”. Sungguh Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puji.

Makna Ikhlas

Ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagai polutan duniawi. Karena itu, seseorang tidak mencemari amalnya dengan keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan dari mereka, menghindari bisikan nafsu, atau penyakit-penyakit dan polutan-polutan lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apapun bentuknya.

Ikhlas dengan pengertian seperti itu merupakan salah satu buah dari kesempurnaan tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh karena itu, riya yang merupakan lawan dari ikhlas dianggap kesyirikan.
Syaddad bin Aus berkata: “Di masa Rasulullah saw, kami menganggap riya sebagai syirik kecil”. Majmu az-zawaid, kitab Az-Zuhdi, bab “Majaahurriya, jilid 10 hal. 225

Dua rukun diterimanya amal

Setiap amal shalih tidak diterima oleh Allah set kecuali jika terpenuhi dua rukun yaitu; keikhlasan dan lurusnya niat, dan yang kedua sejalan dengan sunnah dan syariat.

Dengan rukun pertama akan tercapai keshalihan batin, sedangkan rukun kedua merupakan keshalihan lahir.

Tentang rukun yang pertama, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya amal-amal itu (dinilai) dengan niatnya”. (Fathul bari: 1/5. No. 1) hadits ini merupakan tolok ukur suasana batin manusia.
Sedang tentang rukun kedua, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan sesuatu amalan bukan atas perintahku, maka ia tertolak”. (Muslim: 3/1343, no. 1718). Artinya, amalnya dikembalikan kepada pelakunya (tidak diterima). Dan, ini merupakan tolok ukur batin.

Allah SWT menggabungkan dua rukun tersebut dalam beberapa ayat-Nya di dalam Al-Qur’an. Antara lain, Allah SWT berfirman:
“Dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (Luqman:22)

Fudhail bin Iyadh berkata tentang firman Allah: “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. (Al-Mulk:2) yang dimaksud dengan lafazh ahsanu amalan adalah yang paling ikhlas dan paling tepat. Ditanyakan kepadanya apa yang dimaksud paling ikhlas dan paling tepat wahai Abu Ali (nama panggilan Fudhail), ? ia menjawab: “Sesungguhnya, suatu amal itu bila dilakukan dengan ikhlas tetap tidak tepat, maka tidak diterima oleh Allah, dan bila dilakukan secara tepat tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima (oleh Allah). Amal tidak diterima sehingga dilakukan dengan ikhlas dan tepat. Yang dimaksud ikhlas adalah menjadikan amal untuk Allah, sedangkan tepat adalah sesuai dengan sunnah (Rasulullah saw).” Kemudian Fudhail membaca firman Allah SWT: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi:110)

Beberapa indikasi keikhlasan

Keikhlasan memiliki beberapa indikasi dan tanda-tanda yang tampak dalam kehidupan dan perilaku pemiliknya. Juga tampak dalam pandangannya terhadap dirinya dan pandangannya terhadap orang lain. Indikasi-indikasi tersebut antara lain:

1. Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman nama atas dirinya dan agamanya, terutama bila ia termasuk orang-orang yang berprestasi.

Ia meyakini bahwa Allah menerima amal berdasarkan niat yang tersimpan dalam batin, tidak dengan penampilan. Ia juga meyakini bahwa meskipun ketenarannya telah tersebar ke seluruh penjuru, dan itu yang diniatkannya, manusia tidak dapat menolongnya dari siksa Allah.
Hal inilah yang menyebabkan para ulama salaf dan orang-orang yang shalih sebelum kita takut pada fitnah ketenaran, tipuan pangkat serta keharuman nama, dan mereka juga memperingatkan murid-murid dari hal-hal tersebut.
Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.
Fudhail bin Iyadh berkata: “bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji?

Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah SWT?

Riwayat diatas jangan sampai dipahami sebagai seruan untuk mengisolasi diri, karena orang-orang yang mengatakan atau menyampaikan riwayat-riwayat tersebut adalah tokoh-tokoh dai yang bergaul dengan masyarakat, dan para pemandu perbaikan yang memiliki pengaruh baik dalam membimbing serta mengarahkan masyarakat. Akan tetapi, secara keseluruhan wajib dipahami sebagai kewaspadaan terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi dan kehati-hatian terhadap pintu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan menembus hati manusia.

Pada hakikatnya ketenaran bukan suatu hal yang tercela, karena tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan) dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keimanannya)”.

2. Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewajiban.

Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri. Bahkan, ia selalu takut dengan kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebaikan-kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.
Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya: “Mengapa engkau menangis, padahal engkau telah puasa, shalat malam, berjihad, bersedekah, haji, umrah, mengajarkan ilmu dan berdzikir”. Ia menjawab: “siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjami bahwa amalku diterima di sisi Tuhanku? Sementara Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah:27)

Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Aisyah ra, istri nabi saw berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut”. (Al-Mukminun:60). Aisyah berkata: “Apakah mereka itu orang-orang yang meminum khamar dan mencuri? Rasulullah saw menjawab: Tidak wahai putri (Abu Bakar) As-Shidiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah, tetapi mereka takut kalau amal mereka tidak diterima (oleh Allah). Mereka itulah orang-orang yang bersegera menuju kepada berbagai kebijakan”. (Tirmidzi, 5/306, no. 3715)

3. Orang yang ikhlas lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk pikuk publikasi dan gaung ketenaran.

Ia lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon
dalam jamaah. Dengan akar itu pohon tegak dan hidup, tetapi ia tersembunyi di dalam tanah, tidak terlihat oleh mata manusia.

4. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah.
Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, ingin di depan barisan, ingin memegang kendali dan ambisi menguasai pusat-pusat kepemimpinan. Bahkan, orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggungjawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

Rasulullah saw telah menjelaskan model manusia seperti itu dalam sebuah sabdanya: “Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)

Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid saat dicopot dari jabatannya sebagai panglima pasukan. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanap mengomel. Padahal ia adalah seorang panglima yang selalu mendapatkan kemenangan.

5. Tidak menggubris keridhaan manusia, bila di balik itu terdapat kemurkaan Allah SWT,

Sebab, manusia berbeda-beda tabiat, cara berfikir, kecenderungan, dan tujuan-tujuannya. Karena itu, upaya untuk mendapat keridhaan mereka adalah batas yang tidak mungkin dapat diraih. Dan, orang yang ikhlas membebaskan jiwanya dari seluruh kesusahan tersebut.
Syiarnya dalam berhubungan dengan Allah adalah:
Dengan-Mu ada kelezatan, meski terasa pahit # kuharapkan ridha-Mu, meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis # meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan # sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya,

bukan karena kepentingan pribadi atau kemaslahatan diri sendiri. Orang yang ikhlas bukan seperti orang-orang oportunis dari kalangan munafik yang dicela Allah dalam kitab-Nya “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.

Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam Keadaan kafir”. (At-Taubah:85)

Kadang kita melihat ada sebagian aktivis dakwah yang marah, menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan dan menjauh dari medan jihad, gara-gara ada yang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, melukai perasaannya atau menjelekkan salah seorang teman dekat dan kerabatnya.
Padahal keikhlasan tujuan seharusnya menjadikannya tetap melanjutkan dakwah dan komitmen pada orientasinya, betatapun banyaknya orang yang melakukan kesalahan, kelengahan atau melampaui batas. Sebab, ia beramal untuk Allah SWT bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya atau si fulan dan si fulanan dari kalangan manusia.

Dakwah kepada Allah SWT bukan hak prerogatif atau milik seseorang, melainkan milik masyarakat. Oleh karena itu, tidak sepatutnya seorang mukmin meninggalkan dakwah karena sikap seseorang atau karena perilaku seseorang.

7. Bahwa panjangnya perjalanan, lamanya waktu memanen buah, terlambatnya keberhasilan dan berbagai kesulitan kerja bersama manusia yang beragama cita rasa dan kecenderungan, tidak membuatnya malas, kendur atau meninggalkan dakwah.

Sebab, ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan atau mencari kemenangan. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

Pada hari akhir nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, mengapa kalian tidak mendapatkan kemenangan? Akan tetap Allah akan menanyakan, “mengapa kalian tidak berjihad? Allah tidak akan menanyakan, “mengapa kamu tidak berhasil? Tetapi, Allah akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak beramal?

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam barisan dakwah, yang dapat mengibarkan bendera dakwah serta berpartisipasi dalam perjuangan. Juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang yang berbakat untuk menggantikan posisinya, tanpa sedikit pun menghalang-halangi, atau merasa kesal. Bahkan apabila menemukan orang lain yang lebih mampu memikul tugasnya, maka ia akan meninggalkan posisinya dengan ridha dan mempersilakannya dengan suka rela untuk maju menggantikan dirinya. Sementara itu, ia akan mundur dengan rasa bahagia.

Urgensi keikhlasan bagi aktivis dakwah

Perjuangan untuk mengembalikan hegemoni Islam dan pengendalian kehidupan dengan akidahnya, syariatnya, akhlaqnya dan peradabannya, merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Oleh karena itu, keikhlasan niat dalam melaksanakan ibadah tersebut merupakan syarat utama bagi diterimanya amal, juga bagi kesuksesannya karena niat yang tercampuri (tidak ikhlas) dapat merusak amal, mengotori jiwa, melemahkan barisan dan menggagalkan pahala.

Aktivis muslim harus memeriksa relung-relung hatinya dan meneliti hakikat tujuan serta motivasinya. Apabila di dalamnya terdapat bagian untuk dunia dan setan, maka ia harus segera berjihad untuk membersihkan hatinya dari kotoran tersebut, berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah, serta menazarkan dirinya hanya untuk Allah. Sebagaimana yang tealh diucapkan oleh istri Imran, “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Ali Imran:35)
Kehidupan tidak akan dipimpin oleh kebenaran, tertaburi kebaikan, terkuasai oleh keadilan dan bendera kemuliaan berkibar padanya, karena keberadaan orang-orang yang memperdagangkan prinsip, yaitu orang-orang yang tidak beramal kecuali untuk mencari keuntungan dunia. Juga bukan karena keberadaan orang-orang yang mencari muka, yaitu orang-orang yang tidak beramal kecuali untuk dilihat, di dengar dan dijadikan pembicaraan dan ditokohkan oleh manusia. Kebenaran, kebaikan dan kemuliaan akan mendapatkan kemenangan dengan adanya orang-orang yang ikhlas, yaitu orang-orang yang memegang prinsip; mempengaruhi bukan terpengaruh; rela berkorban dan bukan mencari keuntungan; serta siap memberi bukan hanya menerima.

Penyakit hati yang mengotori keikhlasan serta merusak niat lebih perah dan lebih membahayakan daripada penyakit fisik, karena penyakit hati dapat merusak pahala dan menjauhkan pemiliknya dari jalan dakwah yang benar. Penyakit tersebut jelas ada dalam diri kita. Akan tetapi, kita dapat melawannya dengan keimanan dan ketaqwaan. Oleh karena itu, kita harus selalu sadar, waspada, mengevaluasi niat, serta berusaha membersihkannya dari berbagai penyakit hati yang dapat mengotorinya.

Sbr : Al-Ikhwan.net

One thought on “Perspektif Al-IKHLAS yang diinginkan atas setiap Ikhwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s