Karena kita membutuhkan dakwah


Fenomena lesu da’wah, telah Rasul antisipasi dalam sebuah haditsnya ” Setiap amal ada masa semangat dan masa lemahnya. Barangsiapa saat masa lemah datang tetap dalam sunnah (petunjukku) maka ia beruntung. Namun barangsiapa beralih pada selain itu berarti ia telah celaka.” (HR Ahmad).
Dan salah satu penyebab lesu da’wah yang disinyalir Qur’an adalah tarikan pesona dunia (dan segala kenikmatan isinya).”Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan pada kalian “, Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah! Kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? apakah kalian puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup didunia ini (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat hanyalah sedikit.” (QS At-Taubah:38)
Ibnu `Athiyah menafsirkan ayat di atas,”Apakah kalian rela dengan sedikitnya dunia dibanding kepentingan akhirat dan kebahagiaannya lebih besar’?”
Dan dalam kenyataan, salah satu penyebab terbesar datangnya penyakit lemah da’wah karena masalah dunia (ekonomi). Karena itu, terapi atau langkah pertama yang mesti dilakukan agar kita terhindar dari penyakit ini adalah membersihkan dan memperkokoh aqidah Islamiyah.
Aqidah yang lurus dan benar akan memperbaiki dan memperkokoh hubungan seorang hamba dengan Allah. Allah Swt menjadikan baginya nur dan berjalan dengan nur itu. Dan Allah Ta’ala pun sesuai janjinya akan menuntunnya terhindar dari bujuk rayu setan dan sarana-sarana pendukungnya.
“Sesungguhnya setan itu tak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakal pada Rabb-nya.” (QS An-Nahl:99)
Dan aqidah bukanlah sekumpulan dogma dan ajaran yang bersifat normatif. Bahkan sebaliknya, aqidah adalah sumber gerak yang tak pernah habis. Imam Hasan Al-Banna menggambarkan salimul aqidah (aqidah yang selamat) dengan energi yang menggerakkan seseorang untuk selalu memelihara hubungan dengan Allah, memelihara kesucian batin (termasuk didalamnya godaan dunia) dengan selalu wudhu, melaksanakan shalat tepat waktu dan penuh kekhusyu’an dan memerangi gejolak hawa nafsunya dengan sungguh-sungguh serta berusaha menyemai ruh agar selalu siap menerima perintah Allah. Inilah aqidah yang hidup dalam setiap detak jantung, pada setiap kelip mata dan di seluruh helaan nafas. Mulai kepala hingga kaki. dari hati hingga lisan dan amalnya. Dan aqidah yang benar akan meluruskan niat. Lurusnya niat merupakan modal awal. Jika baik awalnya (fondasi/dasarnya) akan kokoh bangunan yang tegak di atasnya.
Langkah kedua adalah memperjelas visi dan strategi dalam menempuh jalan da’wah.
Berbeda dengan jalan hidup lainnya, seorang da’i tatklala menempuh rute ini mestilah menyadari dengan segala kegamblangannya bahwa konsekuensi dan kewajiban yang akan selalu menyertainya akan datang setiap saat. Dengan visi (pandangan ke depan) yang jelas, antisipasi atas segala hal yang akan datang dapat presisi (tepat) dilakukan. Itulah yang menyebabkan Rasul seperti dicuplik dari AlQur’an, . “Katakanlah,” Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak (kamu) pada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. ” (QS Yusuf: 108).
Visi yang jelas akan mempermudah penerapan strategi. Dan strategi yang benar akan menghantarkan seorang da’i mencapai tujuannya; mardhatillah. Dalam nasehat terakhirnya ( 10 Wasiat ) Imam Hasan Al-Bana menegaskan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan bahwa pekerjaan yang ada jauh lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.
Karena menyusun strategi yang pas mutlak dilakukan. Contoh dalam masalah kelahiran anak. Keyakinan bahwa tiap anak (manusia) memiliki rizki tak berarti kita tak perlu menyusun strategi jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya. Karena bukan hanya rizki yang perlu dipikirkan orang tua, namun masalah pendidikan dan kesempatan anak untuk berkembang menuntut perhatian yang serius dan kadang bagi sebagian orang cukup sulit dilakukan. Apatah lagi umat yang dibanggakan Rasul di yaumil mahsyar nanti adalah yang terunggul kualitasnya.
Dan strategi tiap orang bersifat orisinal (berbeda satu dengan lainnya secara khusus). Kisah sahabat yang menikahi seorang janda karena memiliki tanggungan adik yang banyak merupakan implementasi strategi yang bersifat situasional (tergantung situasi yang berkembang), kondisional (faktor-faktor yang melingkupi)dan personal (sesuai kapasitas dan daya dukung pribadi).
Dengan strategi yang telah dirancang lebih dulu, kita dapat mengantisipasi berbagai kendala yang akan datang. Hingga kondisi laik haroki (layak/dapat terus bergerak baik ruhiyan, fikriyan, jasadiyan atau pun maliyan) tetap kita miliki. Anak satu, anak dua bahkan hingga cucu satu atau cucu dua, aksi dan gerak kita tak pernah berhenti. Karena berbagai hambatan yang ada dapat diantisipasi lebih dahulu.
Langkah Ketiga menerapkan disiplin dalam melaksanakan ibadah mahdhah (khusus).
Rangkaian ibadah yang kita lakukan 24 jam sehari, mulai dari berdo’a sejak bangun tidur, membaca do’a makan hingga baca Al-qur’an dan berdzikir, semuanya memberi pada kita benteng kokoh yang sulit ditembus hingga konsistensi pelaksanaan amal tidak teranggur. Rasulullah saw, tatkala tak melakukan qiyamul lail di malam hari, menggantinya 11 raka’at di siang hari. Umar bin Khattab menginfakkan kebun yang melalaikannya shalat Ashar berjama’ah. Itu pula rahasia mengapa Rasul dan para sahabat diwajibkan qiyamul lail selama 12 bulan sebelum datang ayat terakhir (QS. Al-Muzzammi1:20) yang menurunkan status wajib menjadi sunnah. Dispilin akan melahirkan kebiasaan dan kebiasaan akan menjadikan si pemiliknya (sang da’i) mendapat kemudahan dalam menunaikan amanah. Kebiasaan yang berlangsung lama akan menjadi irama / gaya hidup seseorang.
Langkah keempat mencari lingkungan yang shalih.
Mu’adz bin Jabbal sering memanggil saudaranya dengan,” Duduklah bersama kami untuk mengimani hari kiamat.” Itu pula yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam majelis dzikirnya hingga tatkala mereka ingat pada kematian, suara tangisan yang keluar seperti mereka sendirilah yang datang mesti di kubur.
Lingkungan yang shalih juga menjadi sarana transfer kebaikan. Abdullah Bakar Al-Masni, seorang tabi’in, berkata,” Jika engkau lihat wajah saudaramu cerah (banyak melakukan kebajikan) boleh jadi itu karena ibadah yang engkau lakukan.” Iman memiliki kemampuan pengaruh pada sekelilingnya.
Dan langkah kelima berkaitan dengan kewajiban mengatur skala prioritas.
Perintah agar kita beribadah dengan tetap menjaga kadarnya (tidak berlebihan) merupakan perwujudan dari sabda Rasul ” Beribadahlah dengan kesederhanaan (jangan ngoyo), karena Allah tak pernah bosan menerima ibadahmu, namun kamu dapat bosan dalam beribadah (jika selalu memberat-beratkan).” Rasul pernah terkejut mendapatkan seutas tali terikat pada dua tiang di masjidnya,” Tali apa ini?” tanya Rasul pada sahabatnya. Para sahabat menjelaskan,”Wahai Rasul, ini adalah milik Zainab. Ia mengikatkan tali ini bila ia merasakan malas atau lelah dalam shalatnya…”Rasul memerintahkan sahabat melepaskan tali tersebut seraya bersabda,”Lakukanlah shalat selama kalian masih kuat melaksanakannya. Namun jika merasa letih, hendaklah ia tidur.” Dalam mutiara kata seorang ulama,” Mereka yang ingin mendapatkan semuanya, takkan mendapatkan satu.Akhirnya, kiat paling utama dalam menghindar dari penyakit da’wah adalah dengan tetap komitmen pada jama’ah dan amal da’wah. Itulah yang disebut Musthafa Masyhur,” Karena da’wah ini akan tetap hidup dengan atau tanpa kita. Sedang kita akan mati tanpa da’wah.” Dengan kata lain, Karena Kita Membutuhkan dakwah.
Taujih Ustadz Fathur
Advertisements

3 thoughts on “Karena kita membutuhkan dakwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s