Isti’ab


Kupasan Buku : Al Isti’ab (Fathi Yakan)
Judul asli : Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad-Da’iyah.
Penulis : Fathi Yakan.
Judul Terjemahan : Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah.
=====================================================================

Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan seorang da’i untuk menarik objek da’wah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.

Da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan da’wahnya sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mad’u beragam. Pada dasarnya kemampuan untuk melakukan isti’ab merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. Tanpa isti’ab seseorang tidak akan pernah menjadi da’i karena selain kita harus sholeh secara pribadi juga harus sholeh secara sosial.

Tidak dipungkiri seorang da’i memiliki kemampuan yang berbeda dalam pelaksanaan isti’ab. Meski demikian seharusnya seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan isti’ab, terlebih lagi dalam suatu tanzhim (organisasi/jamaah). Jika standar minimal dalam isti’ab ini tidak deipenihi, maka seorang da’i tidak hanya sekadar tidak produktif tetapi juga bisa menjadi penghalang dalam proses produksi dan menyebabkan kemudharatan bagi Islam dan pergerakan Islam.

Berapa banyak orang yang hidup dalam nuansa da’wah dan memahami prinsip-prinsipnya tetapi tidak mau mentransfer nuansa-nuansa dan prinsip-prinsip itu walaupun hanya selangkah di luar lingkungannya.

Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti’ab diisyaratkan dalam sebuah hadits:

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengatakan apa yang ia pahami. Dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan” (HR. Bukhari Muslim)

Isti’ab Eksternal

Yang dimaksud isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang ebrada di luar da’wah, di luar pergerakan, dan di luar organisasi. Menyebarkan da’wah di tengah masyarakat hingga mereka percaya dan terpengaruh, lalu bergabung dan memperjuangkan da’wah adalah sebuah usaha yang susah dan berat, membutuhkan kemampuan dan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Siapa pun yang memiliki syarat ini, atau bahkan lebih dari itu maka ia akan menjadi da’i yang sukses. Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi seorang da’i dalam proses isti’ab adalah.

  1. Kepahaman tentang agama

Untuk menjadi da’i tentunya seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara halal dan haram, kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui berbagai hal yang wajib dan sunnah, mengetahui masalah aqidah dan hukum.

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Az-Zumar :9).

6. Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Saba’ : 6)

18. Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (Al-Jatsiyah : 18)

2. Teladan yang baik

Masyarakat tentunya akan merespon da’wah ketika ada keteladanan. Tidak mungkin seorang mengajak untuk tawadhu’ namun ia sendiri congkak, mengajak itsar (mengutmakan orang lain) namun ia sendiri egois, mengajak untuk jujur namun ia sendiri pembohong, mengajak untuk amanah namun ia sendiri suka berkhianat. Karena itu keistiqamahan seorang da’i adalah rahasia keberhasilan dalam da’wah. Al-Qur’an juga telah menyampaikan ancaman keras bagi orang-orang yang ucapannya tidak sesuai dengan perbuatannya.

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

3.Sabar

Untuk merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran, bukan kejengkelan dan kepicikan. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, memiliki kekurangan yang beragam, memiliki tabiat yang berbeda-beda, dan memiliki kepentingan yang berlainan.

Ketentuan-ketentuan lainnya adalah:

  1. Lemah lembut
  2. Memberi kemudahan
  3. Tawadhu’
  4. Murah senyum dan perkataan yang baik
  5. Pemurah dan dermawan
  6. Membantu orang lain

Isti’ab Internal

Isti’ab dakhili atau isti’ab internal adalah kemampuan dan kehlian untuk menampung objek da’wah yang telah berada di tengah-tengah shaf da’wah. Baik oleh para pemimpin maupun para anggotanya.

Jika isti’ab khariji (isti’ab eksternal) bertujuan untuk menarik objek da’wah ke dalam Islam, da’wah dan pergerakan, maka isti’ab dakhili bertujuan untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas da’wah dan pergerakan. Dalam proses pembentukan ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu:

  • isti’ab ‘aqidi dan tarbawi

Dalam tahapan ini gerakan harus melakukan proses formulasi terhadap para kader yang bergabung dengannya. Membersihkan mereka dari polutan masa lalu, baik menyangkut pemikiran ataupun tindakan, dan mencuci otak mereka dari karat-karat yang menempel padanya berupa berbagai hal yang tidak islami.

Meluruskan aqidah mereka, meluruskan perilaku dan akhlak mereka, mengarahkan keinginan dan kecenderungan mereka, menentukan dan menjelaskan arah sasaran dan tujuan mereka. Tahapan ini adalah tahapan paling penting karena merupakan dasar bagi segenap amal dan bangunan. Jika tahapan ini diremehkan maka bahaya besar akan menimpa individu maupun jama’ah.

Orang yang besar tanpa tarbiyah, orang yang meningkat tanpa komitmen, dan orang-orang yang mengemban berbagai tanggung jawab tanpa keahlian dan kelayakan akan menjadi beban berat bagi da’wah dan seringkali menjadi bencana bagi pergerakan.

Dalam tahapan ini, pemimpin bertanggung jawab paling besar untuk menyiapkan sarana dan berbagai manhaj yang diperlukan dalam isti’ab aqidah ini. Bahkan ia dituntut untuk selalu mengawasi sepenuhnya proses tersebut.

  • isti’ab haraki

Kemampuan sebuah pergerakan dalam menampung anggotanya, pendukungnya, dan para simpatisannya. Untuk bisa menampung pa
ra anggotanya gerakan harus memenuhi beberapa syarat berikut :

  1. Proses tarbiyah yang matang, karena keikutsertaan seseorang dalam sebuah pergerakan harus diawali dengan tarbiyah. Jika tidak maka kegagalan yang akan didapat.
  2. Tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakan untuk bisa menampung anggotanya antara lain manajerial yang handal, konsep yang jelas dalam pendidikan, pemikiran, politik, dsb. Bila persyaratan ini telah terpenuhi maka gerakan tersebut akan mampu melakukan proses isti’ab internal dan eksternal dengan sukses.
  3. Memahami semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dan hal-hal lainnya. Dengan mengetahuin hal tersebut akan sangat membantu untuk menentukan tugas dan tanggung jawab masing-masing individu dan menempatkannya pada posisi yang tepat sehingga akan membuahkan hasil yang memuaskan.
  4. Mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja atau hanya orang-orang berprestasi saja. Pemanfaatan semua personel, meskipun dalam masalah yang paling sederhana, bagaimanapun akan melipatgandakan hasil disamping akan akan menghindarkan pergerakan dari fitnah yang ditimbulkan oleh para “penganggur”.
  5. Penugasan anggota jama’ah secara bersama-sama dan bukan secara individual. Diantara penyakit yang paling berbahaya dalam sebuah pergerakan adalah kecenderungan individualistis dalam melaksanakan tugas yang seharusnya dikerjakan bersama tim.

Ada beberapa masalah penting yang terkait dengan pergerakan yang harus dikuasai oleh para da’i antara lain:

  1. Pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan sarana yang digunakan
  2. Memahami tanzhim dan tabiatnya dengan benar

Ketidakjelasan dalam tanzhim dapat menyebabkan ketidakjelasan terhadap hak dan kewajiban. Di samping itu juga dapat menyebabkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip dan aturan.

  1. Pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut konsekuensinya
  2. Pemahaman yang baik tentang berbagai aspek, tabi’at dan kebutuhan amal
  3. Menjauhi fenomena istiknaf

Istiknaf adalah keengganan untuk bergabung dalam masyarakat, instansi, atau berbagai organisasi yang ada.

Da’wah dan juga para da’i tidak mungkin mampu mengenal dan menguasai objek da’wah jika memiliki sikap tersebut. Karenanya fenomena yang belakanagn ini terus berkembang tersebut harus segera dihindari, bahkan semampu mungkin untuk meluruskan da’i lain yang bersikap seperti itu.

Tidak mustahil musuh-musuh islam malah memanfaatkan masyarakat, oleh karena itu fenomena istiknaf perlu diluruskan. Keengganan para da’i untuk terjun dalam kancah politik dengan beranggapan politik itu kotor dan dapat mengotori orang yang berada di dalamnya atau alasan-alasan lainnya akhirnya memberikan kesempatan luas bagi musuh-musuh Islam menguasai dan menjadi penentu kebijakan di negeri-negeri Muslim.

Ada juga da’i yang enggan menjadi pegawai negeri, pegawai bea cukai, pengacara, hakim, militer, dsb dengan alasan bahwa sistem yang ada di dalamnya tidak islami. Sikap ini jelas akan menjadikan berbagai instansi pemerintahan sebagai sarang musuh-musuh islam.

Keengganan untuk berbaur dengan masyarakat dengan alasan mereka jauh dari Islam dan berakhlak tidak terpuji justru akan menjadikan masalah semakin kompleks dan jurang pemisah antara Islam dan masyarakat semakin jauh.

Lalu apa nilai da’wah dan para da’i jika tidak mau melakukan proses perubahan di dalam masayarakat? Apakah mereka mengira bahwa perubahan bisa dilakukan dari luar masayarakat? Tanpa masuk ke dalamnya dan bergaul dengan anggota masyarakat yang ada?

Dan jika kamu berpaling niscaya dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu” (Q.S. Muhammad : 38)

Wallahu a’lam bish-shawab

Walhamdulillahi wabbil ‘alamin

Al-Bina Digital

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s