TARBIYAH yang GAGAL


Setelah kemaren kita bahas sebuah pertanyaan : “Sudahkah kita tarbiyah..”hari ini kita akan coba bahas tentang proses tarbiyah yg selama ini kita laksanakan.
bagaimana dengan tarbiyah ANda ? menyenangkan ? atau malah merasa Gagal ?

Insya Allah kita akan bahas tentang Tarbiyah yang GAGAL dan tarbiyah yang SUKSES.

Dalam kesempatan ini kita akan bahas yg GAGAL dulu.
Lho, mengapa bukan yg sukses dulu aja ?
Pertimbangannya, kalo kita memahami bahasan ‘tarbiyah yg gagal’ ini, kita bisa segera membenahi tarbiyah kita. 

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses tarbiyah itu sedang dilakukan, atau juga dapat terjadi di awal proses. Kesalahan persepsi tentang tarbiyah memberi andil besar dalam membelokkan substansi tarbiyah sejak awal.

Ada lima kesalahan persepsi tentang tarbiyah.

Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata sebagai transfer materi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum ‘menyampaikan materi’ adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan materi tersebut kepada mad’u. Di sisi yang lain, mutarabbi merasa sudah mendapat materi ketika sudah pernah mendengar paparan. Persepsi ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah dan harakah.

Kedua, persepsi bahwa murabbi adalah segalanya bagi mad’u.

Adalah hal yang dianggap ‘aib’ bagi penganut ‘mazhab’ ini bila mad’u memiliki kompetensi yang lebih baik daripada murabbi dalam beberapa bidang. Persepsi ini menyebabkan alternatif yang terjadi adalah pilihan buruk di antara hal-hal buruk berikut,
1. Mad’u menjadi kerdil bagai katak di bawah tempurung.
2. Mad’u memberontak dan senantiasa terjebak dalam ketidakpuasan.
3. Mad’u berkembang sejalan dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas atas yang jelas, yaitu setinggi kemampuan murabbinya dan mustahil melebihinya.

Ketiga, tarbiyah dianggap sebagai proses indoktrinasi dan dominasi.
Murabbi memersepsikan keberhasilan tarbiyah adalah ketika mad’u memiliki ‘kesetiaan’ dan menjadi pendukung murabbi. 

Keempat, sistematika dan metodologi tarbiyah dipersepsikan sebagai hal yang baku. Misalnya saja berdasarkan pendekatan waktu, berurutan, dan tidak bisa dibolak-balik.
Pendekatan ini menyebabkan seseorang yang memiliki potensi yang lebih besar tidak dapat mengambil ‘SKS’ yang lebih besar. Metodologi one way traffic, white board/papan tulis, spidol/kapur, dan beberapa hal teknis lainnya dianggap sebagai perangkat keras yang harus ada. Sedangkan seminar, diskusi, pelatihan, dan teknologi penyampaian lainnya tidak digunakan karena dianggap mengurangi ‘nilai sakral’ tarbiyah. Akibat lainnya adalah materi disajikan tidak berdasarkan kebutuhan mad’u.

Kesalahan persepsi yang kelima adalah kecenderungan untuk melakukan ‘kloning’ murabbi. Kecenderungan, hobi, syu’ur, selera, kegemaran, dan beberapa hal yang sebenarnya adalah privacy murabbi menjadi muwashafat (spesifikasi) dan ukuran keberhasilan tarbiyah.

Wallahu a’lam 
Taujih Ustadz Fahur Izis

4 thoughts on “TARBIYAH yang GAGAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s