Tukang Ketoprak


Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di sekitar Jakarta, tentu sdh tidak asing dengan panganan ini. Cukup enak di lidah, ringan di kantong, dan tidak terlalu memenuhi ruang dalam perut kita.Saya punya langganan pedagang ketoprak tidak jauh dari tempat tinggal saya. Sudah sekitar 3 tahun lebih saya jadi pelanggannya. Tapi baru kemarin saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga darinya, walaupun saya jarang ngobrol dengannya. Bahkan pelajaran ini bukan dari obrolannya dg saya, tetapi jusstru dari obrolannya dengan pelanggan lain. Juga bukan nasihat atau petuah. Hanya obrolan biasa antara penjual dengan pelanggan.
Kebetulan kemarin kami belanja ke pasar. Istri belanja utk keperluan memasak, saya menunggu pesanan ketoprak utk sarapan pagi. Karena pasukan banyak, pesannya juga banyak. Sambil menunggu saya perhatikan tukang ketoprak ini melayani para pelanggannya.

Ia berjualan di depan rumah kontrakannya di sebuah kompleks perumahan. Pelanggannya bukan hanya tetangga kiri kanannya saja, termasuk saya yg berbeda kompleks dengannya. Ada satu hal yg menarik dari pedagang ini. Sambil bekerja, dia selalu mengajak ngobrol langganannya, baik itu ibu2, bapak2, anak muda (laki – perempuan) bahkan anak-anak sekalipun. Yang unik adalah, di hafal nama-nama pelanggannya itu. Mungkin karena faktor tetangga, tapi yang bukan tetangganya pun di hafal.

Kadang dia bertanya kepada seorang anak kecil yg menunggu pesanannya dilayani, “Kakakmu si “fulan” sdh pulang belum dari “sana” ? atau “Bu, si “fulanah” sdh sembuh, katanya dirawat di rumah sakit.” dst…

Ada lagi yang lebih menarik. Dan ini yang betul betul memberi pelajaran bagi saya.

Dia hapal betul dengan kebiasaan para pelanggannya. Kalau yg pesan si “A” biasanya minta pedes manis, dg cabai “sekian”. Kalau si “B” kebiasaannya pesan hanya “sekian” dg rasa “begini”. Sehingga ketika ada seorang pelanggan yg memesan ketopraknya tidak sesuai dg kebiasaannya, tukang ketoprak ini pasti bertanya, “lagi ada tamu? Biasanya nggak begini atau nggak begiut” atau pertanyaan lainnya yg mengindikasikan bahwa dia hapal dg kebiasaan pesanan para pelanggannya.

Lalu apa hubungannya dg kita ? 

Ya… kalau kita perhatikan qudwah kita Rasulullah saw. beliau sangat hapal dg keluarga para sahabat, beliau juga hapal dg kebiasaan para sahabat. Sehingga ketika ada sedikit perubahan di wajah para sahabatnya saja, sdh cukup bagi beliau untuk mendeteksi gejala-gejala apa yg terjadi. Apakah ada penyimpangan, apakah ada kesedihan atau kegembiraan.

Demikian pula dg A’isyah (dan juga para sahabat yg lain) kepada rasulullah, beliau hafal sekali dengan perilaku rasulullah, bahkan tanpa Rasulullah harus mengucapkannya. Kapan beliau marah, kapan beliau gembira, kapan beliau sedih. Hanya dg melihat perilaku, hanya dengan melihat sikap.

Dalam biografi imam Syahid Hasan al Banna pun akan kita temui bagaimana beliau bisa hafal dan mengenal dengan baik mad’u-mad’unya.

Seperti inilah seharusnya para du’at ilallah meperlakukan mad’unya dan juga murobbinya. Mengenal dengan pengenalan yang sangat dalam. Subhanallah.

terima kasih tukang ketoprak…. engkau telah memberikan pelajaran yg sangat berharga pada kami… tanpa engkau harus menasehati kami….

Taujih Ustadz Ibnu Umar di FS

Advertisements

6 thoughts on “Tukang Ketoprak

  1. @rhedina = sama sama mbak..klo udah dapat ketoprak…kirimin saya ya…@penjelajahsemesta = iya …saya malah jadi malu kurang bersosialisasi@cahayadisini = surabayanya mana….gubeng…hehehe…kayaknya ini makanan khas jateng deh@dvoxid = daerah mana hayo..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s