Tahu dan Blender


Seringkali kita mempertentangkan antara ta’shil (upaya kembali kepada ashalah atau keorisinilan) dengan tathwir (upaya pengembangan). Seakan dua hal itu adalah dua kutub yang selalu berseberangan dan berlawanan. Hal ini terjadi dalam segala hal; dalam masalah makanan, tempat tinggal, pakaian, pendidikan, kebudayaan, dan lain sebagainya.

Dalam tataran dakwah dan tarbiyah, pertentangan dua hal itu seringkali juga terbawa. Bahkan terkadang membentuk dua arus yang saling berhadapan, istilah arabnya wajhani mu-tadhaddzani (dua wajah saling berhadapan). Repotnya lagi terkadang hal ini berdampak kepada munculnya dua kubu yang tidak bisa bertemu. Kubu pengusung panji ashalah dan kubu pendukung tathawwur. Lebih berbahaya lagi kalau masing-masing kubu itu berusaha membangun jaringan pengikut fanatik, dan masing-masing pihak mengklaim bahwa dirinyalah yang berada dalam pihak kebenaran, sementara pihak satunya telah berada pada kesalahan.

Pendukung panji ashalah mengatakan bahwa para pendukung tathawwur adalah orang-orang yang telah inhiraf (menyimpang) dari al khath al mustaqim (garis lurus dan istiqamah). Sehingga tidak layak mereka membangun jaringan pengikut, pendukung dan klaim tarbiyah dan dakwah. Sementara kubu tathawwur mengatakan bahwa para pengusung panji ashalah adalah orang-orang yang jumud (kaku) dan tidak bisa muwakabatuz-zaman (mengikuti perkembangan zaman), apalagi men-saitharah-inya (menguasainya).

Kasus seperti ini telah benar-benar terjadi di salah satu negeri muslim, dan bisa saja terjadi di negeri-negeri lainnya, jika tidak segera diambil langkah-langkah antisipasi, baik dalam tataran tashawwurat (persepsi), mafhum (konsepsi), dan khuthuwat ‘amaliyah (langkah-langkah operasional).

Hubungan antara ashalah dan tathawwur ibarat hubungan antara tahu dan cara menyuguhkan tahu itu kepada konsumen. Suati kali saya bertemu dengan salah seorang ikhwah. Dia bercerita bahwa baru saja ia mengkritik istrinya. “Mi, kenapa sih lauk kita dari hari ke hari tahu, tempe dan ini-ini saja?” kata seorang ikhwah tadi kepada istrinya. Mendapat kritikan tajam begini, sang istri pun tidak mau mengalah. “Habis, uang belanja yang abi berikan cumin segini-gini aja, coba abi kasih yang agak besaran dikit, kita bisa gonta ganti menu”. Jawaban sang istri tidak kalah serunya. “Kalau begitu, gini aja deh mi, boleh ummi tetap konsisten dengan menu yang hanya tempe tahu saja, karena memang hanya inilah –sampai saat ini- kesanggupan abi, tapi kan bisa saja bentuknya, modelnya, cara mengolahnya, dan menampilkannya dan semacamnya bisa ummi rubah!”. Mendengar tanggapan balik suaminya, sang istri mikir-mikir juga. “Betul juga kata suami”, katanya dalam hati. Sang suamipun segera pergi dari rumah untuk melakukan tugas ibadah mu’amalahnya. Sang istri yang di rumah, pusing juga memikirkan bagaimana cara menampilkan dan mengolah tempe tahu dalam formatnya yang baru. Setelah lama memeras otak, ketemu juga satu ide yang layak dicoba. “ini tahu bentuk aslinya segi empat, gimana aklau saya rubah agar bentuknya menjadi bulat kayak telur.” Katanya dalam hati. “Terus gimana caranya ya?”. “Oh ya, bisa saja tahu ini saya blender, lalu saya campur dengan sedikit telur, lalu bentuknya saya rubah menjadi bulat”. “OK, kenapa tidak dicoba, biar suami tambah kesengsem sama yang di rumah (maksudnya sama makanan dalam format baru ini, tentunya sama yang membuat juga, he he..)”. Kata sang istri dalam hati.

Fikrah pun segera berubah menjadi harakah, ambil tahu, ambil blender, masukkan tahu ke blender, colokkan ke listrik, dan..Weeeeerrrr, harakah pun beranjak ke tanfidz. Siangnya, saat sang suami pulang untuk menyantap makan siang, iapun senyum-senyum simpul mengacungkan jempol di hadapan istrinya atas fikrah-nya yang brilian, dan yang tentunya telah beranjak kepada harakah dan tanfidz, dengan husnul ada’ (kualitas pelaksanaan yang prima). “Ini nih baru OK punya”, kata sang suami kepada sang istri.

Gambaran cerita di atas menunjukkan bahwa ashalah sebenarnya membutuhkan tathawwur agar mampu mengikuti perkembangan zaman, dan tathawwur tidak boleh ngawur, akan tetapi harus berangkat dari ashalah agar tetap berada pada ash shirath al mustaqim. Dalam contoh kasus tahu tadi, tahu dengan segala komponennya, bisa kita anggap sebagai cermin ashalah, sedangkan cara mengolah, cara menyuguhkan, bentuk, dan sebagainya, bisa kita istilahkan sebagai refleksi dari tathawwur.

Oleh: Musyaffa Ahmad Rahim, Lc 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s