Pada Saatku Nanti


PendahuluanAku memang masih hidup. Aku masih memiliki kesempatan hidup. Kali ini, aku ingin menulis tentang kematian secara sederhana.

Memikirkan kematian tak selalu benar. Ada cara yang salah dalam memikirkan kematian. Bagaimana memikirkan kematian dengan cara yang benar? Jawaban detilnya pasti sudah dituliskan oleh banyak ulama. Tetapi jika urusan kematian menjadikan kita tak memikirkan ibadah tentu ini indikasi kesalahan. Kematian mengingatkan ibadah baik secara kualitas maupun juga secara kuantitas. Jika kematian membuat kita tak memikirkan amal dan justru melemahkan amal, pasti ada yang salah dalam hal ini. Kematian seharusnya meningkatkan amal. Bagiku, jika kematian tak meningkatkan semangat mencetak anak sholeh, tentu ini sekadar sikap sentimental yang diumbar. Cuma menarik untuk dibaca tapi tak menggerakkan. Kematian sudah selayaknya menyemangati kita untuk banyak mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

Ulfah tak mau bapaknya mati sebelum dia mati. Aku akan sendiri, katanya. Kematian bukan soal rencana, nduk… 

Ahad kemarin, ada kawan kantor yang meninggal dunia karena sakit. Aku dating melayat. Aku menyaksikan banyak orang di sana. Ada kawan kawan kantor almarhum. Ada pensiunan pajak yang berkelompok di sudut yang lain. Ada ibu ibu guru, kawan dari istri almarhum. Ada sekelompok anak muda yang mungkin kawan kawan dari anak anak almarhum. Ada beberapa seniman, kawan main gamelan almarhum. Ada tetangga yang dating silih berganti. Ada beberapa kerabat yang tampak sibuk. Ada petugas penerima tamu yang mengatur tempat duduk dengan cara mengarahkan dan menunjuk nunjuk ke berbagai arah.

 ‘Ini pohon apa ya?’, tanya seseorang di arah jam empatku. ‘Pohon anu.’, jawab kawannya. ‘Itu pak fulan. Mana pak fulan ya?. Biasanya mereka berbarengan. Rumahnya masih di sana to?’, tanya yang lain. Jawabannya tak terekam. Ada anak anak muda usia SMA yang antri wudhu dengan keceriaan dan wajah solidaritasnya pada anak almarhum. Ada kawan kawan pensiunan pajak yang mengobrolkan beberapa hal. Ada pertanyaan pertanyaan tentang karangan bunga. Ada pertanyaan tentang kawan kawan yang belum tampak. Ada pertanyaan itu siapa dan ini siapa. Ada pertanyaan itu apa dan ini apa. Ada antrian wudhu yang tak berhenti. Ada suara dari pusat sound system. Ramai.
Aku berpikir. Kira kira situasi seperti ini yanga akan aku alami. Aku terbaring dan menunggu hasil seiring selesainya tugas kehidupanku. Mungkin kawan kawanku akan berdatangan. Mereka akan ikut berbelasungkawa sekaligus berkangen kangenan. Mungkin kawan kawanku akan memperbincangkan hitam putih hidupku. Pasti meriah. Ada kawan akawan anakku dari pondok yang akan memeriahkan suasana. Mereka mungkin antri wudhu untuk menyolatkanku sekaligus menunjukkan solidaritasnya pada anak anakku. Mungkin kawan kawan istriku akan berebut menghibur istriku. Mungkin pohon jambu di halaman depan yang sedang meranggas itu akan dipertanyakan. Mungkin kutu kutu Pepaya di halaman itu akan menarik perhatian pengunjung kematianku. Kalau istriku sempat mendengar perbincangan mereka mungkin istriku akan mendapatkan saran untuk membunuh kutu kutu hama papaya itu. Mungkin tetanggaku akan repot mengatur parkir di lahan yang tak luas itu. Mungkin tetanggaku akan mengikhlaskan halamannya untuk parkir. Mungkin pengumuman silih berganti dating memberikan informasi kematianku. Mungkin para ustad ustadku akan mendoakanku. Mungkin sahabat sahabatku akan menatap peti matiku dengan perasaan sedih. Mungkin musuh musuhku sedikit puas dengan kematianku. Mungkin mereka yang masih mendendam tak cukup terpuasi dengan kematianku. Mungkin para kreditur sedang berpikir. Kira kira seperti itulah situasi yang menemaniku berbaring. Situasi yang meriah di tengah kesendirianku.

Mungkin. Mungkin seperti itu. Dan mungkin akan sangat berbeda. Yang pasti adalah aku pasti sendiri dan menghadapi pengadilanNya sendiri.

Dan mungkin Ulfah akan menyesal karena cita citanya tak tercapai. Ulfah bercita cita untuk mati terlebih dahulu di banding kematian kami. Aku tak mau hidup nggak dengan abi dan ummi, katanya.

Kematian memang harus selalu diingat. Dzikrul maut. Cuma ini bukan soal keindahan semata. Ini soal penciptaan keseimbangan dan soal determinasi.

Allah, aku mohon Engkau memudahkan urusan ini. Amin. 
(Cerita Ustadz Ekonov)

Advertisements

One thought on “Pada Saatku Nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s