Pentingnya berjama’ah


Pentingnya berjama’ah tak perlu diragukan lagi dalam Islam. Banyak ayat Al Qur’an dan hadits yang memerintahkan kita untuk selalu berada dalam kondisi berjama’ah. Sebagian ayat atau hadist tersebut adalah : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” (QS. 512-53). “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. 3 : 103). “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. 3 : 105). “Barang siapa yang memisahkan diri dari jama’ah (walaupun) sejengkal, maka ia telah melepaskan kalung Islam dari lehernya sehingga ia kembali (berjama’ah)” (HR. Turmudzi). “Barangsiapa yang keluar dari jama’ah dan memisahkan dirinya dari jama’ah lalu ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah” (HR. Muslim dan Nasa’i).
Dari ayat dan hadits tersebut terlihat bahwa Islam sangat mementingkan kebersamaan. Islam adalah agama (dien) kebersamaan (jama’ah). Bahkan Umar bin Khatab ra pernah berkata: “Tak ada Islam tanpa jama’ah. Tak ada jama’ah tanpa pemimpin. Tak ada pemimpin tanpa bai’at. Tak ada bai’at tanpa keikhlasan.” Umar ra menganggap bahwa jama’ah penting bagi Islam itu sendiri, sehingga baginya mustahil Islam itu langgeng keberadaannya jika tidak ditopang oleh keberadaan jama’ah.

Namun pengertian jama’ah disini bisa dua macam, jama’ah dalam pengertian sekedar berinteraksi (bergaul) sesama muslim tanpa terikat dalam struktur organisasi (tanzim) Islam tertentu dan jama’ah dalam pengertian terikat dengan struktur organisasi (tanzim) Islam tertentu. Jama’ah dalam pengertian pertama bersifat umum dan jumhur (sebagian besar) ulama sepakat tentang kewajibannya. Jama’ah dalam pengertian kedua (yakni terikat dalam tanzim tertentu) diperselisihkan kewajibannya oleh ulama. Hal ini terkait dengan konteksnya yang berbeda. Jika jama’ah itu adalah jama’ah muslimin (jama’ah yang melingkupi umat Islam sedunia), ulama sepakat tentang kewajiban untuk bergabung dengannya. Namun karena saat ini tak ada lagi jama’ah muslimin (semenjak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani), yang ada hanya jama’ah minal muslimin (jama’ah yang dibentuk dan melingkupi sebagian kaum muslimin saja), maka kewajiban bergabung dengan jama’ah menjadi diperselisihkan ulama. Ada yang tetap menganggap wajib untuk bergabung dengan salah satu jama’ah, ada yang menganggapnya sunnah (dianjurkan), bahkan ada yang mengharamkannya.

Namun lepas dari perselisihan tersebut, berjama’ah (dalam pengertian bergabung dengan tanzim tertentu) memiliki banyak manfaat, antara lain:
1. Dapat membangun persepsi yang sama dengan sesama muslim dalam rangka memajukan Islam dan peradaban manusia.
2. Dapat menjalin kerjasama berdasarkan program yang sama dalam suatu koordinasi yang solid.
3. Dapat mempelajari Islam secara lebih mendalam, karena biasanya jama’ah memiliki sarana pembelajaran Islam yang lebih intensif.
4. Dapat merasakan manisnya ukhuwah. Sebab dalam jama’ah, interaksi para anggotanya berjalan lebih erat dan akrab.
5. Dapat membendung pengaruh dari nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam secara lebih efektif, karena dilakukan secara bersama-sama.
6. Dapat mempercepat penyebarluasan dakwah Islam daripada jika dakwah itu dilakukan sendirian.
Tentu saja berbagai manfaat tersebut akan didapat jika kita bergabung dengan jama’ah yang benar, yakni jama’ah yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah. Bukan jama’ah yang sesat dan menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah.
Berbagai manfaat tersebut tentu perlu dipertimbangkan agar kita dapat menjadi muslim yang baik. Muslim yang baik bukanlah muslim yang hanya mengamalkan ibadah dan akhlak dengan baik. Bukan muslim yang hanya asyik memperbaiki diri dan lupa memperjuangkan nasib umat. Muslim yang baik adalah muslim yang juga mau memperjuangkan nasib umat dengan berdakwah secara sungguh-sungguh di muka bumi. “Siapakah yag lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)?” (QS. 41 : 33). Hal itu relatif akan lebih efektif jika kita bergabung dalam jama’ah (tanzim) tertentu daripada kita berada di luar jama’ah (tanzim). Sebab dengan bergabung pada jama’ah tertentu, kita dapat berdakwah secara berjama’ah pula. Sasaran dakwah yang besar tak mungkin tercapai jika kita sendirian (infirodiyah) dalam merealisasikannya.

[Eksistensi seorang muslim terkait dengan keikutsertaannya dalam jama’ah] KANG SAHAL

Advertisements

2 thoughts on “Pentingnya berjama’ah

  1. mujitrisno said: Muslim yang baik bukanlah muslim yang hanya mengamalkan ibadah dan akhlak dengan baik. Bukan muslim yang hanya asyik memperbaiki diri dan lupa memperjuangkan nasib umat. Muslim yang baik adalah muslim yang juga mau memperjuangkan nasib umat

    …..setuju…..btw :…kita masing2 masih punya hutang satu kartu belum dibuka….yt kasus pak Budiono (ex Gub BI)…..wait and see…..do you remember me ?

  2. akuzugabiza3 said: …..setuju…..btw :…kita masing2 masih punya hutang satu kartu belum dibuka….yt kasus pak Budiono (ex Gub BI)…..wait and see…..do you remember me ?

    siapa ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s