Referensi….


Pendahuluan.
Belajar adalah proses memahami sesuatu dan/atau menjadi sesuatu. Belajar adalah ketrampilan merujuk ke referensi tertentu. Proses belajar adalah proses yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan referensi. Setelah soal ketersediaan, persoalan berikutnya adalah soal optimalisasi pemanfaatan. Disini kita kerap gagal. Ada 2 (dua) jenis kegagalan. Pertama, gagal karena kekurangan referensi dan –kedua- ada jenis kegagalan karena tak optimal memanfaatkan referensi yang ada atau dari sesuatu yang kita miliki atau dari sesuatu yang bisa kita akses secara optimal. Ini soal optimalisasi.

Angka.
‘Bi, siapa yang memberi nama satu?’, tanya si kecil Ulfah di awal semester pertama kelas satu SD. ‘Siapa… yang memberii… nama… satu…???’, pelan pelan aku mengulangi kalimat tanya miliknya. ‘Iya. Siapa yang memberii nama satu?’, sambil telunjuk kanannya ditunjuk oleh jari telunjuk kirinya. Aku jadi mengerti. Rupanya dia sedang berpikir mengapa lambing bilangan itu diberi nama satu. ‘Siapa, bi?’, tanyanya mendesakku.

‘Siapa ya? Yuk kita cari tahu’, kataku sambil bangkit meninggalkan kursi ruang tengah itu. Aku berusaha mencari referensi, buku apa, letaknya dimana, buku siapa adalah pertanyaan pertanyaan yang berkecamuk. Aku mencoba mencari di ensklopedi, aku cari di RPUL, di Kamus bergambar dan di buku pelajaran matematika. Hasilnya nihil.

Aku tak memiliki prestasi akademik yang cemerlang. Aku Cuma suka dengan proses belajar. bagiku belajar adalah proses mengetahui sesuatu atau proses menjadi sesuatu. Dan proses itu butuh referensi. Bagiku, salah satu yang terpenting dalam proses belajar di tingkat dasar adalah keterampilan untuk mengurai masalah dan ketrampilan untuk merujuk pada referensi tertentu.

Suatu saat lelaki kecil kami punya tugas untuk menggambar peta suatu Negara. Pilihannya adalah Perancis. Dia gambarlah Perancis dibawah bimbingan ibunya. Tugas lanjutannya adalah menulis tentang Perancis. Dia Cuma memiliki sedikit info tentang Perancis. Dan mayoritas yang dia tahu adalah hal hal Perancis seputar sepak bola. Selebihnya dia tak tahu banyak.

Aku membantu menyelesaikannya. Bukan dengan mendiktekan hal hal Perancis, tetapi dengan mengajaknya menurunkan buku buku yang berhubungan dengan Perancis. Buku RPUL, Ensiklopedi, Atlas, Kamus Bergambar, dan Bola Dunia kami yang kecil itu. Aku tak memintanya mengerti tentang Perancis. Aku sedang mengajarinya bagaimana mencari sesuatu dari yang ada secara optimal.

Sekali lagi, aku tak memintanya mengerti detil tentang Perancis. Aku hanya sedang mengajarinya bagaimana mencari sesuatu dari yang ada atau dari sesuatu yang kita miliki atau dari sesuatu yang bisa kita akses secara optimal. Ini soal optimalisasi. Dan oleh karenanya, tak harus ada fasilitas nomor wahid untuk belajar.

‘Sudah, mas?’. Aku menerima kertas yang berisi ceritanya. Ada judul, bagian isi, dan gambar menara Eifel. Dia ceritakan letak bujur dan lintang Perancis, mata uang, bahasa, jumlah penduduk, produk Perancis dan bahkan ada cerita soal roti Perancis. Aku sarankan untuk menuliskan sumber bacaan atau daftar pustaka. Dia tambahkan Daftar Pustaka itu. Dan –Alhamdulillah- tugasnya siap dikumpulkan.

“Siapa yang memberiii nama satu, bi?’. Aku masih tercenung. ‘Cari di buku seri penemu, bi…’, saran istriku. Nihil.

‘Kenapa, dik?. Kamu ingin mengganti nama angka angka itu?’, tanyaku menyelidik. Dia mengangguk ragu. Aku sambar. ‘Bagus itu. Ayo kita ganti’, ajakku. ‘Satu?’. ‘Abi’, jawabnya. ‘Dua?’. ‘Ummi’. ‘Tiga?’. ‘Susu’. ‘Empat?’. ‘Dosgrip’, jawabnya untuk kotak pensilnya. ‘Lima?’. Aku lupa apa jawabannya ketika itu. ‘Enam?’. ‘Lampu’. ‘Tujuh?’. ‘Gunting’. ‘Empat?’. ‘Susu ya?’, tebakku. Dia juga lupa. ‘Lima?’. Tak ada jawaban. ‘Gunting ya?’, tebakku. ‘Bukan! Gunting itu tujuh’, katanya sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya mendekat menjauh.

Akhirnya dia menerima penamaan bilangan. Mungkin ini proses belajar yang ngawur dan anda tertawakan. Ini terjadi karena aku tak punya referensi untuk menjawab siapa yang awal mulanya memberi nama satu pada angka satu itu.

Penutup.
Aku tak punya prestasi akademis yang memukau. Tapi aku suka dengan proses belajar. Jika sedang tafakkur dan ingat tak banyaknya waktu tersisa untuk menghadapNya, kadang aku jadi sedikit tergesa gesa untuk belajar dan mengajari anak anak dan istriku. Salah satunya adalah pelajaran terhadap referensi dan bagaimana mengoptimalkan referensi. Aku anggap ini adalah langkah awal yang fundamental untuk struktur keilmuan anak anak. Allah, mudahkan urusan ini. Amin.

Alhamdulillah atas segala yang Engkau berikan kepada kami. Allah, ampuni kesalahan kami. Allah, mudahkan urusan ini. Kumpulkanlah aku dengan orang sholih yang bisa mengajariku. Amin.

Ustad Eko Novianto Nugroho….

2 thoughts on “Referensi….

  1. penjelajahsemesta said: Learn how to learn, sebuah proses pembelajaran yang terkadang dilupakan oleh orang tua dan guru..

    skrg saya lagi belajar ttg mengajari konsep matematika…bukan rumus yang harus ditelan mentah mentah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s