[Bincang Buku] Lelaki Penggenggam Kairo


Sekapur Sirih:

Buku yang akan kita perbincangkan sekarang adalah sebuah buku berjudul Lelaki Penggenggam Kairo yang ditulis oleh Ahmad Jamaluddin Al Banna.

Berikut bidaota singkat buku ini.

Judul : Lelaki Penggenggam Kairo: Sosok Di Balik Perjuangan Hasan Al-Banna
Penulis : Ahmad Jamaluddin Al Banna
Tebal : 265 halaman ++
Cetakan : 2009
Penerbit : Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
Harga : Rp. 30.000 

Buku-buku yang membahas tentang Hasan Al Banna, pemikiran dan pergerakan yang diusungnya sudah begitu berserak dalam literatur kita. Setidak-tidaknya, ada 3 buku (terjemahan) utama yang patut kita jadikan referensi untuk mengenal sosok lelaki luar biasa ini: Risalah Pergerakan Al Ikhwan Al Muslimun, Memoar Hasan Al Banna, dan Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna. Kenapa buku itu saya sebut sebagai referensi utama? Karena buku-buku itu merupakan tulisan yang berasal dari sumber pertama, yakni Hasan Al Banna itu sendiri. Sedangkan buku-buku yang merupakan analisa dan penjelas (syarah) dari buku-buku di atas tidak terhitung jumlahnya.

Sebut saja, sebagiannya, buku-buku karangan Syaikh Ali Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Al Khathib, Syaikh Jum’ah Amin Abdul Aziz, Syaikh Yusuf Qardhawi, Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan masih banyak lagi. 

Buku ini disusun oleh adik kandung Imam Hasan Al Banna, yakni Ustadz Ahmad Jamaluddin Al Banna, yang sudah pasti akan mengandung cita rasa tersendiri, baik dari segi penuturan maupun isi yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan penilaian subjektif saya, belum pernah ada sebuah buku yang mengupas tentang dua orang luar biasa yang disusun oleh anak dan juga adik 
dari orang-orang luar biasa itu. Pertemuan saya dengan buku inilah yang akhirnya memupus penilaian tersebut hingga ke akar-akarnya. 

Oleh karenanya, untuk mengawali coretan sederhana ini, saya akan menuliskan kembali motivasi Ustadz Ahmad Jamaluddin Al Banna dalam menuliskan buku ini.

“Ada beberapa sebab mengapa saya menulis buku ini. Salah satunya adalah bahwa surat-surat yang terdapat dalam buku ini akan mengungkapkan sisi lain yang selama ini belum diketahui oleh banyak orang tentang kehidupan Imam Syahid Hasan Al Banna rahimahullah. Sisi-sisi yang belum terungkap ketika beliau masih belia, ketika jiwa dipenuhi gelora, ketika diri bersemaikan gejolak angan masa depan.”

Buku kecil ini terbagi menjadi dua bagian utama yang dirinci menjadi tujuh sub-bab. Bagian pertama membahas tentang profil ayahanda Imam Hasan Al Banna rahimahullah, yakni Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, tentang asal-usul penamaan Al Banna menjadi nama keluarga, kisah masa kecil sang ayah, sampai kisah di balik layar penyusunan kitab Al Fath Ar Rabbani, yang merupakan kitab syarah (penjelas) dari Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Sebuah kitab yang menghabiskan waktu empat puluh tahun untuk menyusunnya, yang bahkan ulama-ulama klasik sekelas Ibnu Katsir rahimahullah pun tidak pernah melakukannya.

Bagian ke dua, ini yang menurut saya paling menarik, berisi tentang surat-surat Hasan Al Banna kepada Syaikh Ahmad rahimakumullah, dan sebaliknya, surat-surat Syaikh Ahmad kepada putranya, Imam Asy Syahid Hasan Al Banna rahimakumullah. Surat-surat tersebut dibuat dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni dari tahun 1927, ketika Imam Syahid tinggal di Ismailia, hingga satu tahun menjelang kesyahidan beliau, yakni di tahun 1948. 

Di bagian yang ke dua ini, kita akan diantar untuk mengunjungi taman kemesraan antara seorang ayah dengan anaknya. Di sini, kita akan mengetahui dengan jelas karakter yang paling menonjol dari kepribadian Hasan Al Banna, yang belum pernah kita dapatkan dari literatur manapun sebelumnya,akan kemuliaan akhlak seorang anak kepada ayah yang sangat dihormatinya, dan kecintaan yang begitu meluap-luap yang terasa dari setiap hurufnya. Selain itu, kita juga akan disuguhkan dengan potret sebuah keluarga yang begitu teliti dan rapi dalam mendokumentasikan setiap episode kehidupannya. Semua itu tercermin dari surat yang dikirimkan Imam Syahid yang berisi tentang catatan pengeluaran Imam Syahid selama tiga bulan merantau. Catatan itu begitu terperinci dan sangat menggelitik rasa keingintahuan kita tentang kepribadian Imam Syahid yang brilian itu. 

Pada bagian ini, kita juga akan mendapati curhat sang Imam Syahid tentang kondisi keuangan keluarganya yang sedang kurang menggembirakan, curhat tentang pengalaman-pengalaman berkesan yang dialami Imam Syahid di tanah rantau, hingga dialog-dialog pergerakan antara sang ayah dengan sang anak yang tertuang dalam bagian sub-bab ke enam buku ini. 

Beginilah kesan sang adik ketika memerhatikan surat-surat tersebut.

“Bakti yang lebih nyata tergambar dari ungkapan goresan pena beliau dalam menulis suratnya. Beliau memanggil dan menyapa ayah dengan sebutan “Tuanku Ayahanda”, atau “Tuanku Ayahanda yang Mulia”. Pena beliau menyapa sang ibu dengan ungkapan “Puanku Ibunda”. Semua itu adalah gambaran bakti pada masa remaja – ketika beliau mengisi hari-harinya di Ismailiyah – hingga beliau menutup mata. Surat terakhir yang kami lampirkan dalam kumpulan surat-surat beliau akan menjelaskan hal itu pada pembaca.

Orang yang membaca surat-surat itu pasti akan menyimpulkan bahwa sang penulisnya adalah seorang yang tak pernah ragu-ragu, tak butuh type-ex atau pengubahan. Dapat dilihat dengan jelas, betapa setiap kalimat di lembaran halaman mengalir laksana riak-riak, setiap huruf tersusun dengan kalimat-kalimat yang tertata rapi, atau seperti riak-riak di permukaan air yang tenang. Semua itu akan memberikan pembaca sebuah rasa bahwa setiap goresan kalimat itu muncul dari ruh kehidupan, kalimat yang mencerminkan penulisnya, yang dapat menjelaskan sidik tulis tangannya.”

Buku Lelaki Penggenggam Kairo ini melengkapi literatur kita akan sosok yang telah mengguncang dunia lewat pergerakan Al Ikhwan Al Muslimun-nya ini. Sebuah buku yang merekam sisi lain yang sunyi dari pemberitaan, yang terkadang luput dari gegap-gempita dakwah kita yang gemerlap, sehingga dengan kegegap-gempitaan itu, kita membuat pembenaran demi pembenaran untuk memisahkan dakwah di masyarakat dengan dakwah di keluarga. Pembenaran yang akhirnya justru membuat jurang yang menganga antara generasi awal dakwah dengan generasi belianya. Sebuah buku yang menggambarkan hubungan yang sangat langka, antara seorang ayah dengan anaknya yang berjalan begitu mesra dan indah.

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa gambar dari Syaikh Ahmad, istrinya, beberapa dokumentasi kegiatan Imam Syahid dan surat-surat yang pernah dikirimkan kepada ayahandanya. Sesuatu yang sederhana, namun cukup menambah nikmatnya membaca buku ini. 

Saya sendiri, sudah melahap beberapa literatur yang mengupas tentang sisi pribadi Imam Syahid Hasan Al Banna. Perburuan saya tentang literatur yang membahas “sisi lain” ini sendiri bermula dari keingintahuan saya yang meluap-luap paska melahap buku Memoar Hasan Al Banna beberapa tahun yang lalu. Dalam buku itu, Imam Syahid begitu kerap menyebutkan peran-peran “kecil” dari sang ayah yang memberi warna yang sangat kuat dalam pertumbuhan biologis dan perkembangan ideologis Sang Imam.

Ala kulli haal, buku kecil ini benar-benar telah membawa kepuasan batin bagi saya ketika membacanya. Kepuasan yang tidak bisa dilukiskan dengan berjuta aksara dan kata. Kepuasan yang memberikan energi dorong yang begitu kuat, sekaligus mengokohkan bangunan fikroh saya akan gambaran islam yang syaamil dan mutakaamil. 

Dari buku ini, kelak kita akan tahu, kenapa Hasan Al Banna mengambil jalan pertengahan dalam setiap argumentasinya. Kalau antum ingat di buku Memoar ketika beliau mendamaikan dua peserta kajiannya yang berselisih tentang perkara sholat, kita akan menemukan peristiwa serupa tapi tak sama itu ketika Syaikh Ahmad As-Sa’ati Al Banna men
damaikan Grand Syaikh Al Azhar Muhammad Abduh rahimahullah dengan salah satu Muhaddits terbesar abad 19 yang juga merupakan ‘senior’ dari Imam Al Albani, Syaikh Ahmad Syakir.

Kita juga akan melihat, bagaimana kepribadian sang ayah tercetak begitu jelas dalam diri Imam Syahid. Kesederhanaannya, ketulusannya, kegigihannya, kerapihannya, ketelitiannya, dan kecintaannya yang begitu tinggi terhadap keluarga, saudara, dan ilmu pengetahuan.

Di dalam buku ini kita juga akan mengikuti suka-duka perjalanan Syaikh Ahmad As-Sa’ati Al Banna ketika beliau menyusun sebuah Kitab Tartib sekaligus syarah Musnad Imam Ahmad yang jumlahnya melebihi dua puluh jilid. Usaha itu dimulai Syaikh ketika beliau nyaris berumur 40 tahun yang ditanggung dengan dana pribadi Syaikh. Proyek ini selesai selama hampir empat puluh tahun, dimana sembilan tahun pertama Syaikh habiskan untuk menyusun sketsa dari kitab besar itu.

Kita juga akan melihat hubungan Syaikh Ahmad dengan Syaikh Zahran, yang selalu disebut Imam Syahid di awal-awal memoarnya. Tentang bagaimana beliau sangat terpengaruh dengan kefaqihan Syaikh Zahran, kemuliaan akhlaknya, dan kehangatan persaudaraan dengannya.

Selain itu, kita juga akan disuguhkan dengan parade keluarga dakwah yang semua anggotanya turun aktif ke gelanggangnya. Syaikh Ahmad merupakan penyambut pertama dakwah Imam Syahid, begitu pula adik-adiknya yang juga merupakan pilar-pilar pertama dakwah Ikhwan.

Ah, saya sepertinya terlalu banyak bicara. Silakan antum nikmati sajian yang khas ini langsung tanpa perantara dari saya.

Wallahu a’lam.

Dikupas Gus Nuk aka Durra…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s