Ditengah Sahara


“Di dunia ini ada kelezatan surga. Barang siapa tidak merasakan di dunia ini, maka ia pun tidak dapat merasakannya di akhirat nanti” (ibnu taimiyah)

Pernahkan antum bayangkan hari ini ada di tengah sahara yg luas,kehausan…
Antum hanya melihat butiran pasir gurun panas yg berterbangan, merasakan angin kering yang sangat menyengat kulit, melihat jelas lingkar matahari yg cahayanya menyilaukan dan membakar, bahkan membakar harapan karena gurun itu belum tampak tepiannya, coba bayangkan!! dan rasakan!!, dan rasa haus itu semakin menyekat sampai memburamkan pandangan antum.

Pada saat itu seteguk air lebih berharga dari semua yang antum punya, lebih mahal dari semua harta benda.
Rasakan tegukan itu, tegukannya memenuhi kerongkongan,melenyapkan dahaga kematian, bahkan kita tidak akan membiarkannya hilang walaupun hanya setetes, begitulah kelezatan seteguk air ditengah sahara.

Ikhwan fillah, pernah kita merasakan lezatnya ibadah selayak seteguk air ditengah sahara, atau malah ibadah yg kita lalui hanya menjadi rutinitas dengan sedikit hati dan sedikit khusyuk, hanya melepaskan kewajiban saja!. Bukankah kekuatan ruhiyah yang dibagun dari ibadah itulah yang membuahkan kekuatan, ketegaran dan keikhlasan. 

Hal ini berbeda dengan perlakuan Allah kepada para aulia-nya (kekasih-kekasih Allah). Mereka dianugerahi kelezatan iman dan beribadah sehubungan dengan kedekatannya kepada Allah. Kelezatan yang dirasakan seorang hamba dalam menjalani ibadahnya, akan membuat dia semakin rajin dan tekun dalam ibadahnya, bagaikan orang yang menambah porsi makanannya manakala ia berhadapan dengan makanan yang lezat. Dengan demikian, tak heran para sahabat mampu melaksanakan shalat panjang dalam setiap malamnya, seolah bercengkrama bersama kekasihnya.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Ku ingin merasakan manisnya ibadah..
namun Dhuhaku masih dua rakaah..
ku ingin merasakan manisnya ibadah..
Ku ingin rasai manisnya ibadah..
Namun tahajjudku ditewasi mimpi indah..

Ibnul Qoyyim menuliskan “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah robekan yang tidak mungkin dapat dijahit kecuali dengan mengadap penuh kepada Allah s.w.t. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali dengan kebahagiaan yang tumbuh kerana mengenal Allah dan ketelusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun kerana Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati, juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keredhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengenengahkan sebuah trilogi sikap dengan begitu indah. Apabila antum membaca dan menyimpannya dengan baik di dalam hati, reaksi yang muncul akan begitu cepat tidak seperti yang antum sangkakan.

Beliau mengatakan, “Jangan pernah putus asa untuk teguh menunggu gerbang, meskipun engkau terusir. Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meskipun engkau tertolak. Begitu gerbang telah terbuka, segeralah masuk selayaknya seorang tamu yang tak diundang. Kemudian, tadahlah tanganmu di gerbang dan segeralah berkata, ‘Tolonglah, saya adalah orang miskin. bersedekahlah untuk saya….!”

Saudaraku, bacalah kata – kata di atas sekali lagi, dan selamilah betul – betul maknanya. Ketahuilah, lautan ini amat dalam, dan mutiaranya terletak didasar yang paling dalam! Jangan pernah putus asa untuk teguh menunggu gerbang, meskipun antum terusir! Antum ingin menangis ketika solat tetapi antum tidak boleh. Antum ingin meraih kekhusyukan, tetapi antum tidak tahu bagaimana caranya. Jangan pernah berhenti dan berpatah harapan. Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meskipun antum tertolak!
. Apakah antum pernah merasakan manisnya nilai – nilai ini sebelumnya?

Sungguh, kata – kata ini di dalam hati berubah menjadi nyawa, sehingga hati pun menjadi hidup. Demi Allah, katakan dengan jujur, bilakah kali terakhir antum merasa khusyu’ mengadap Allah? Bilakah terakhir kali antum bersujud memohon kepada Allah agar kemanisan rasa khusyu’ ini tidak pernah akan berakhir? Kelezatan ibadah selayak Kelezatai tegukan air ditengah sahara

Ya Allah, anugerahilah kepada kami kelezatan yang menembus dan merasuk jiwa dalam setiap ibadah kami, sehingga dengan ibadah yang penuh kelezatan itu kami kembali dan kembali lagi menghadapkan wajah kami kepada “wajah-Mu”. 
__________________

Taujih Ust. putra.alqassam di Forum Sholahuddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s