Sakinah, Mawaddah, Warohmah itu Kaya Apa?


Kalo sahabat-sahabat multiply mengikuti berita nasional beberapa hari ini, tentang pembunuhan seorang petinggi PSSI terhadap istrinya tentu akan miris. Alhamdulillah, hari Ahad kemarin, tanggal 21 Pebruari 2010, seperti biasa agenda keluarga mengikuti PUEP (Pengajian Umum Embun Pagi). Kebetulan temanya seputar membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.

Penceramah hari itu adalah Ustad Drh Hamy Wahjunianto MM (Presdir Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) Surabaya) yang penasaran silahkan googling siapa dia.

Saya tidak mengikuti dari awal karena terlambat beberapa menit, tapi setidaknya resume singkat dan sedikit tambahan dari saya bermanfaat bagi para sahabat multiply.

Pernikahan artinya menjalin kecintaan dan kerjasama, mendahulukan kepentingan orang lain dan pengorbanan, ketentraman dan mawaddah, hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyari’atkan.

Al-Qur’an telah menggambarkan hubungan insting dan perasaan di antara kedua pasangan suami-istri sebagai salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah dan nikmat yang tidak terhingga dari-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum:21)

Terkait dengan surat ar-Rûm, ayat 21 di atas, ada beberapa renungan:

1. Sakinah adalah rasa kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan.

Kita merasa pernikahan adalah sebuah wadah dimana seseorang akan senang dan merasa tenteram jika berada di samping pasangannya. Kita buat beberapa permisalan

a. Misal seorang Luna Maya lewat didepan saya, saya tidak tergoda sama sekali, melirikpun tidak karena saya merasa bahwa istri saya memiliki semua apa yang dia miliki. Karena rasanya sama saja. Kalo tergoda cepatlah pulang, telpon, atau sms.

b. Rasa aman apabila ketika bersama pasangan ataupun meninggalkan pasangannya. Rasa aman, ketenteraman dan kemantapan dalam menjaga kehormatan rumah tangga, mendidik anak istri dari berbagai pengaruh buruk, harta.

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”

2. Mawaddah (cinta).

Menurut Mujahid maknanya adalah jima (persetubuhan antara suami isteri). Menurut Abu al-Hasan al-Mawardy, mawaddah adalah rasa kasih, jima’, mencintai orang besar, saling berkasih sayang di antara pasangan suami-isteri (al-Mawardy: an-Nukat Wa al-‘Uyûn). Namun, secara umum maknanya adalah kecintaan suami kepada isterinya dalam hal biologis. Ustadz Hamy Wahjunianto memberi permisalan dengan awal ketika menikah:

a. Apakah cinta kita saat ini walaupun pernikahan berusia puluhan tahun masih sama ketika baru menikah?

b. Apakah untuk intim masih sama ketika masih baru menikah?

c. Apakah kita berdandan seindah mungkin seperti waktu baru menikah?

d. Apakah kita berlaku manis terhadap pasangan, wangi dan lain sebagainya seperti awal menikah?

3. Rahmah atau Kasih Sayang

Ada yang menafsirkannya dengan kelahiran anak, sebagaimana bunyi firman Allah pada surat Maryam ayat 2 dan 7, yang menyebutkan anak sebagai rahmat. Rahmat juga berarti kelembutanhati dan perasaan empati yang mendorong seseorang melakukan kebaikan kepada pihak lain yang patut dikasihi dan disayangi.

Karena itu, kedamaian dan kesejukan berumah tangga akan terbina dengan baik, harmonis serta penuh cinta kasih dan semangat berkorban bagi yang lain. Pada saat bersamaan jiwa dan ruh rahmah tersebut akan membingkainya dengan dekap kasih dan sapaan lembut sang Khalik.
Aisyah RA, sempat bingung bagaimana menggambarkan keindahan akhlaq Rasulullah SAW, bukan tidak ada yang indah, tetapi semua indah hingga keluar dari mulutnya akhlaq Rasulullah adalah seperti Al Qur’an. Subhanallah

Rasulullah bersabda : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR. Bukhari Muslim).

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik kepada istrinya.”(HR. Tirmidzi).

Bagaimana seorang suami dan istri dalam mengelola perbedaan, kemarahan, kesulitan hidup dan berbagai problema keluarga dalam bingkai Islami.

Nah sekarang bagaimana tipe Suami yang Ideal.

1. Memahami Islam dengan baik dan mengamalkannya

Aqidah yang lurus, ibadah yang shohih dan tentu mengamalkannya sehingga memberi tauladan kepada keluarga.

2. Ahsanul Khuluq

Akhlaq yang baik terhadap Allah, Rasul, para sahabat, ulama, dan masyarakat sekitar, dan tentu kepada keluarga

Tipe Istri yang Ideal.

Ustadz Hamy, memberi tiga kriteria istri yang ideal.

1. Muthi’ah

Taat dan patuh kepada Allah, Rasul dan Suami.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Seorang perempuan tidak patuh pada suaminya dan dia tidak akan mampu tanpa suaminya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mufarihah

Menyenangkan bagi suami. Istri yang ceria itu enak dipandang, karena dia bisa merawat diri dan menjaga perbuatannya. Perempuan yang berhias di dalam rumah itu membahagiakan.

“Tidak ada yang lebih baik di dunia ini bagi seorang muslim setelah menyembah Allah, selain mendapatkan istri yang shaleh, cantik apabila dipandang,….

3. Hafizhoh

Menjaga kehormatan, anak dan harta keluarga

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tidak ada yang lebih baik di dunia ini bagi seorang muslim setelah menyembah Allah, selain mendapatkan istri yang shaleh, cantik apabila dipandang, patuh apabila diperintah, memenuhi sumpah pernikahan, menjaga dirinya dan kekayaan suami di saat suami pergi, mengasuh anak-anaknya, tidak membiarkan orang lain masuk ke rumah tanpa ijin suami, dan tidak menolak apabila suami memanggil ke tempat tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasa kasih dan sayang yang tertanam sebagai fitrah Allah subhanahu wata’ala di antara pasangan suami-isteri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya sebab secara alamiah, jiwa mencintai orang yang memperlaku kanya dengan lembut dan selalu berbuat kebaikan untuknya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan rumah tangga kaum Muslimin rumah tangga yang selalu diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan hal ini bisa terealisasi, manakala kaum Muslimin kembali kepada ajaran Rasul mereka dan mencontoh kehidupan rumah tangga beliau.

Maroji’

1. Ceramah Ustadz Hamy Wahjunianto

2. http://infopengantenbaru.blogspot.com/

3. http://tentang-pernikahan.com/

Advertisements

2 thoughts on “Sakinah, Mawaddah, Warohmah itu Kaya Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s