Kenapa Abi Pulang?


‘Bi, kenapa abi pulang?’, tiba tiba Ulfah bertanya itu kepadaku ketika kami berkumpul di ruang tengah. Buru buru dia menempelkan tangannya ke mulut kecilnya. Sedikit menyesal. Rasanya dia malu karena bertanya dengan pertanyaan yang aneh. ‘Pripun, dik?’, tanyaku memohon dia untuk memperjelas dan sekaligus aku tambahkan pujian atas pertanyaan cerdasnya.

Memang dalam pandangan su’udzan, pertanyaan itu seperti mengejek dan menantang. Tapi tidak!. Aku kenal siapa Ulfah. Dia tidak sedang marah dengan kepulangan bapaknya. Dan aku memang tak sedang baru datang dari perjalanan jauh yang lama.

Aku menolak perspektif su’udzan itu dan memilih berhusnudzan kepadanya. Aku mendengar pertanyaannya sebagai sebuah ungkapan cerdas. Ya! Mengapa seorang laki laki harus pulang ke rumahnya dan menemui istri istri dan anak anaknya?

Laki laki memang butuh dan wajib pulang. Ada soal kebutuhan dan ada soal kewajiban.

Ada kebutuhan untuk beristirahat dan menikmati keindahan istri dan anak anaknya. Menikmati candaan ringan yang segar dengan istri dan anaknya. Laki laki harus merefresh dirinya di rumahnya. Laki laki harus punya tempat yang melindunginya dari tekanan dan rongrongan yang banyak ada di luar rumahnya. Jadi laki laki memang perlu pulang.

Mungkin ada kenikmatan di tempat lain jika itu sekadar untuk tertawa tawa dan bersenda gurau. Mungkin tempat itu lebih wangi, lebih rapi dan lebih menggugah selera laki laki. Mungkin saja ada. Bisnis melihat peluang kebutuhan laki laki itu dan menyediakannya dengan imbalan beberapa lembar rupiah. Tapi itu palsu. Itu remeh. Di kalangan yang remeh remeh, memang pasti ada yang lebih berbobot, lebih mahal, lebih prestisius, lebih bergengsi dan lebih lebih lainnya. Tapi penilaian itu hanya bisa dilakukan pada sesama tempat palsu.

Sesungguhnya, rumah laki laki itulah yang sejati. Dia perlu pulang untuk hal hal yang sudah saya tulis di atas.

Persoalannya adalah jika rumahnya tak menyelesaiakan kebutuhannya. Rumahnya tak melepas kepenatan bahkan menambahnya. Rumahnya menambah tekanan. Rumahnya ruwet. Laki laki jadi tak bisa merefresh dirinya di rumah. Tentu ini masalah yang harus diselesaikan.

Tapi kita tunda dulu membahas penyelesaiaannya.

Kedua, laki laki –selain perlu atau butuh pulang- juga wajib pulang. Ada anak dan istrinya yang menunggu jatah rizki dari Allah lewat tangan suami dan ayah mereka. ‘Ulfah, aku pulang karena aku wajib pulang. Aku akan membawa oleh oleh dan rizki dari Allah untuk kalian. Kalau kalian nggak punya rizki tapi sabar trus masuk surga, gimana? Mosok aku gak dapat pahala? Kalau aku gak pulang aku gak dapat pahala, aku sedih dong…’, jawabku dengan ekspresi yang membuatnya terkesan. Matanya bersinar. Dia tak menyangka jawaban dari pertanyaannya seserius itu.

Ini memang soal serius. Bagaimana aku akan pulang dan memberi sesuatu untuk istri dan anak anakku jika aku tak yakin ini berpahala?
Jika tak berpahala mengapa aku harus pulang?

Penutup.

Jadi soal membuat rumah nyaman adalah domain mereka dan aku bersaham tapi bukan saham mayoritas. Dan aku pulang untuk menyongsong surga adalah domainku dan mereka sekadar bersaham tapi tak mayoritas.

Semoga Allah mudahkan urusan ini. Amin.

Taujihat Ustadz Eko Novianto Nugroho di sebuah forum
(Pas buat saya dan teman-teman yang melakukan LDL)

7 thoughts on “Kenapa Abi Pulang?

  1. jfs. Semoga dibaca oleh mereka yg malez pulang. Karenanya perlu disepakati antara penghuni rumah : definisi nyaman itu yg seperti apa dan bagaimana cara mewujudkannya

  2. drprita said: jfs. Semoga dibaca oleh mereka yg malez pulang. Karenanya perlu disepakati antara penghuni rumah : definisi nyaman itu yg seperti apa dan bagaimana cara mewujudkannya

    wah…ukhti kayaknya perlu share nih…monggo…

  3. mujitrisno said: siapa cepat maka dia dapat hehehe…ternyata antum aafikri…

    iya paktapi ana lupa id antum apayg pasti ada alamat MPnya di signaturehe8

  4. enha1987 said: kalau mertua ane malah bingung, kenapa sebulan sekali pulangnya…kenapa g dua bulan sekali?!

    klo saya klo bisa seminggu sekali…istri diajak ajak akh..khan baru nikah, belum punya anak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s