Adab Bermusyawarah (Berkaca dari DPR)


Hampir sebulan lebih kita disuguhi parodi politik di berbagai media TV dan koran. Aneh bin ajaib, ketika ada sidang terhormat sedang bermusyawarah tetapi kelakuannya tidak lebih dengan anak TK (kata Gus Dur). Padahal tingkat pendidikannya lumayan tinggi….bahkan ada yang mengaku-ngaku pakar telematika….

Ada yang berebut interupsi, menyela, bernyanyi, berceloteh tidak karuan, tidak mau mengalah, tidak mau menghormati, diktator, bahkan berkelahi. Walaupun ada juga yang santun, opin
inya cerdas walau kadang meledak…(fraksi apa tuh hehehe)..tidak apa karakter orang memang berbeda. Antara Ali bin Abi Thalib Ra dan Umar bin Khattab Ra juga berbeda.

Kelakuan orang sesuai dengan tingkat kepahamannya…..

Yang paling saya sesalkan ketika mereka dengan mudahnya menunda sholat dhuhur dan mengatakan dosa kita tanggung bersama…ketika ada ajakan untuk ishoma dahulu. Hiii….padahal dosa lalai sholat di surat al Maa’un dah jelas tuh…pendusta agama. Bagaimana mereka mau mengingat rakyat, mengingat Allah aja susah….

Biar ada ibrahnya, tidak ada salahnya kita belajar bagaimana adab kita bermusyawarah, siapa tahu kita jadi ketua RT…walaupun di keluargapun kita harus membiasakan bermusyawarah…Bahkan Rasulullah yang selalu dibimbing wahyupun selalu membiasakan musyawarah…dan rela terhadap keputusan musyawarah.


Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa:“Tidak ada seorangpun yang lebih rajin bermusyawarah, selain Rasulullah sendiri”


Ketika perang Badar, Rasulullah
SAW membawa pasukannya ke mata air Badar agar bisa mendahului pasukan orang-orang Quraisy untuk menguasai mata air itu. Maka pada petang hari mereka sudah tiba di dekat mata air Badar. Di sinilah Al-Hubâb bin Al-Mundzir ra tampil layaknya seorang penasehat militer, seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini ? Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau ? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang ?” Beliau menjawab : “ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang.”

Al-Hubâb berkata : “Wahai Rasulullah, menurutku tidak tepat jika kita berhenti di sini. Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (orang-orang musyrik Makkah). Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa”. Beliau bersabda : “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu” (Shafiyyur Rahmân al Mubârakfûry dalam ar-Rahîqul Makhtûm)

Madu dihasilkan oleh lebah, maka orang-orang yang bermusyawarah selayaknya bagaikan lebah sehingga dalam musyawarah akan didapatkan hasil yang optimal. Rasulullah mengumpamakan seorang mukmin dengan lebah, dimana lebah merupakan makhluk yang sangat disiplin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu. Di manapun hinggap ia tidak merusak dan ia tidak mengganggu kecuali diganggu, bahkan sengatannya dapat dijadikan obat. [HR. Ibnu Hibban, Ibnu ‘Asakir dan Bukhari dalam At-Tarikh Al Kabir yang dishahihkan Imam Al Al bani dalam kitab As Silsilah As Shahihah no:355 dan 2288]

Untuk mencapai hasil optimal maka adab bermusyawarah adalah:

  • Niat ikhlas Awal dari segalanya adalah niat. Pun demikian dalam bermusyawarah. Niatkan bahwa apa yang akan dilakukannya untuk kemaslahatan, dan karena Allah saja. “Tidaklah iman seseorang itu menjadi lurus hingga lurus hatinya. Tidaklah lurus hatinya hingga lurus lisannya.” (HR Ahmad)

  • Mulai dari kanan. Pekerjaan sederhana yang sering terlewatkan adalah memohon izin dan bimbingan Allah dengan bacaan basmallah. Setelah itu, mulailah giliran mengemukakan pendapat yang dimulai dari sebelah kanan. Berikan kesempatan mengemukakan pendapat secara adil kepada masing-masing musyawirin (peserta musyawarah) sehingga tidak ada di antara mereka yang terkurangi hak-haknya.


  • Kendalikan Lisan Lidah tidak bertulang, demikian kata orang. Oleh sebab itu, sebelum bicara pikirkanlah secara matang, kendalikan lisan, apakah pendapat yang akan dikemukakan membawa manfaat atau justru melahirkan kemudharatan. Bila pendapat kita tidak diterima, ucapkanlah hamdallah. Sebaliknya, bila diterima, ucapkanlah istighfar `Astaghfirullah hal adzim’. Sebab, bila pun pendapat kita benar, berarti kita telah menunaikan kewajiban, dan bila salah kita terlepas dari bahaya. Bila didapati pembicara yang bicara keluar dari konteks bahasan, ingat
    kanlah dengan subhanallah. Dan apabila orang mengemukakan pendapat, dengarkanlah dengan penuh perhatian. Jangan sama sekali memotong pembicaraan orang lain sebelum habis. Berdoalah agar Allah menitiskan hidayahnya pada forum musyawarah itu dengan memperbanyak dzikir dan shalawat.(QS Al-Ahzab: 41-42 dan 56).


  • Jangan Berfatwa Tanpa Ilmu Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengetahuan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” ( QS Al-Isra’: 36)


  • Begitupun, jangan membantah pendapat orang lain tanpa mempelajari permasalahannya. Barangsiapa tidak tahu, tidak patut baginya memberi teguran kepada orang yang tahu. Janganlah bersikap fanatik terhadap suatu pendapat yang tanpa disadari pemahaman, petunjuk, dan bukti.
    Imam Malik pernah ditanya, dan menjawab: “Saya tidak tahu.” Ia menjauh dari berfatwa tanpa ilmu. Allah Maha Pengasih kepada siapa saja yang memahami kadar kemampuan dirinya. Jangan mendominan. Janganlah mendominan pembicaraan hanya karena ingin dikenal pandai bicara dan luas wawasan. Mendominan pembicaraan bukanlah tanda keluasan wawasan seseorang, tetapi ketamakan.
    “Dan sesungguhnya orang yang paling Aku benci dan paling jauh majelisnya dari-Ku pada hari kiamat adalah orang-orang yang berlebihan dalam bicara, yang suka mengungguli orang lain dengan perkataannya dan yang menunjuk-nunjukkan mulut besarnya dengan kata-kata untuk menampakkan kelebihan di hadapan orang lain.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)


  • Rendah Hati Bila kita mengetahui ada orang yang lebih berkeutamaan dan lebih arif, lebih baik kita mendengar darinya daripada berbicara.
    Ingat pesan Hasan bin Ali ra kepada anaknya: “Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan ulama, hendaknya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah memotong pembicaraan meskipun panjang lebar, hingga ia menyelesaikannya sendiri.”


  • Tidak (selalu) Suara Terbanyak. Kebenaran tidak selalu dapat diukur dari suara terbanyak. Apalagi bila hal itu menyangkut kearifan. Karena itu pendapat seorang yang arif tidak dapat dikalahkan oleh peserta lain yang banyak, yang sesungguhnya tidak berkepentingan terhadap hal itu. Ini bukan diskriminasi. Bukankah pendapat seorang dokter-dokter tentang hal ihwal penyakit seorang pesakit tidak dapat diendahkan oleh para jururawat atau seluruh pegawainya meskipun mereka semua tunjuk gigi tidak sependapat?
    Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa bila urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.


  • Hindari Permusuhan. Terkadang suasana musyawarah memanas oleh perdebatan dan perbezaan faham. Bila sudah demikian, berhati-hatilah dengan tipu daya iblis yang membisikkan seolah-olah kita berbicara kebenaran, padahal sesungguhnya nafsu.
    “Sesungguhnya, larangan yang pertama ditujukan kepadaku setelah penyembahan berhala adalah perdebatan (yang disertai dengan permusuhan).” (HR Imam Bazar dan Thabrani dengan sanad lemah).


  • Bukan `Pembantaian’. Tidak jarang musyawarah menjadi tempat `pembantaian’ bagi orang lain. Seolah-olah musyawarah itu kesempatan membuka kelemahan orang lain, di hadapan orang banyak. Hal ini sangat tidak sesuai dengan akhlaq Islam. Hindarilah sikap melampaui batas; membuka aib dan merendahkan sesama Muslim (QS 49: 11-12).


  • Memahami perbedaan pendapat bukanlah persoalan yang membahayakan, jika didasari keikhlasan dan diterima dengan lapang dada, sikap toleran, dan kasih sayang. Imam Abu Hanifah berkata: “Pendapat kami benar, namun memiliki kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun memiliki kemungkinan benar.” Tidak perlu khawatir, terimalah hasil musyawarah yang mungkin berbeza dengan pendapat kita, karena Rasulullah memberi jaminan: Bila ijtihad kita benar, kita akan dapat dua pahala. Sebaliknya, bila salah, (juga) tetap akan dapat satu pahala.


  • Tutup dengan Istighfar Setelah tahap-tahap musyawarah dianggap selesai, agar majlis kita tidak bernilai laghah (sia-sia), tutuplah kegiatan majlis tersebut dengan memohon ampun kepada Allah Swt dengan doa majlis, “Subhanakalahuhumma rabbana wabihamdika asyahadu alla ilaha illa anta ashtaghfiruka wa atuubu ilaik” mungkin ada keteledoran, kegegabahan, atau kealpaan yang dilakukan pada saat berlangsung musyawarah.

Sedangkan adab sesudah musyawarah
a. Menjalankan keputusan yang mengikat masing-masing anggota
b. Menjaga rahasia keputusan yang tidak boleh diumumkan
c. Menghindari rasa kecewa atas keputusan yang telah diambil.
d. Menjaga terciptanya suasana Ukhuwah Islamiyah, tetap akrab.

Yang perlu diketahui bahwa, dapun hal-hal yang harus dimusyawarahkan adalah hal-hal yang tidak qath’î dan belum ditentukan atau dirincikan oleh Allah SAW dan RasulNya.


Wallahua’lam bishshowab!

Maroji’

1. http://www.bicaramuslim.com/bicara7/viewtopic.php?f=1&t=9813&sid=b2c1f18cae996829e143b98cd05237ae

2. http://www.dewandakwah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=216&Itemid=31


Mujitrisno Music

6 thoughts on “Adab Bermusyawarah (Berkaca dari DPR)

  1. bawangijo said: iya tuh kmrn jg nonton, waktunya zuhur malah ditunda2 ckckck.. panas nonton sidang, mendingan nonton si bolang hehe

    berbuat baik janganlah ditunda tunda kata bimbo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s