Budak Penakluk Eropa: Thariq bin Ziyad


 

 

Dia adalah bekas budak dari suku Nafza atau suku Zanata dari bangsa Barbar. Dia dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara setelah Musa menaklukkan daerah Tanja di ujung Maroko. Setelah Islam masuk, bangsa Barbar menjalankan Islam dengan baik. Ini dikarenakan, sebelum Musa pulang ke Afrika, ia meninggalkan beberapa orang Arab untuk mengajari mereka Alquran dan ajaran-ajaran Islam. Setelah itu Musa mengangkat pemimpin dari pemuda sang kerlipan bintang yang bersinar setelah zaman Khilafah Ar-Rasyidin, putra bangsa Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Dia merupakan prajurit Musa yang terkuat, menjadi penguasa daerah Tanja, terletak di ujung Maroko dengan 19.000 tentara dari bangsa Barbar, lengkap dengan persenjataannya. Dialah Thariq bin Ziyad.

Mari kita alihkan pandangan di daerah nun jauh disana, Andalusia Spanyol. Pada saat itu bertepatan dengan mendung hitam yang melanda Spanyol dengan kekejaman penjajah Eropa yang pada ketika itu dikuasai oleh Raja Bangsa Gothik yang kejam bernama Raja Roderick. Ia berkuasa dengan lalim. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kelas sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.

Wanita merasa terancam kesuciannya, petani dikenakan pajak tanah yang tinggi, dan banyak lagi penindasan yang tak berperikemanausiaan. Raja dan kroni-nya bersuka ria dalam kemewahan sedang rakyat merintih dalam kesengsaraan. Sebahagian besar penduduk yang beragama Kristian dan Yahudi, berhijrah ke Afrika untuk mendapat ketenangan yang lebih menjanjikan. Dan saat itu Afrika, adalah sebuah daerah yang makmur dan mempunyai toleransi yang tinggi karena berada di bawah naungan pemerintahan Islam.

Satu dari jutaan pengungsi itu adalah Julian, Gubernur Ceuta yang putrinya Florinda telah dinodai Roderick, raja bangsa Gotik. Mereka memohon pada Musa bin Nusair, raja muda Islam di Afrika untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu.

Melihat kezaliman itu, Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Setelah mendapat persetujuan Khalifah, Musa melakukan pengintaian kepantai selatan Spanyol. Musa mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan panglima perang yang ulung membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua. Dia adalah Thariq bin Ziyad.

Bulan pada bulan Rajab tahun 97 H atau Mei tahun 711 Masehi, Mantan budak Barbar yang juga mantan pembantu Musa bin Nusair memimpin 7.000 anggota pasukan muslim menyeberangi selat antara Afrika dan daratan Eropa yang dipisahkan oleh Lautan Mediterranean sejauh 13 batu ini dengan kapal-kapal pemberian Julian, Gabenor Ceuta. Lalu Musa bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq hanya dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang.

Setelah mendarat di pantai karang, Thariq dan pasukannya berhadapan dengan 100,000 tentara Visigoth di bawah pimpinan Roderick. Kedatangan pasukan Thariq ini menimbulkan keheranan kepada Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena tentaraIslam datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut.

Pada mulanya, jumlah tentara Kristian yang besar ini menggetarkan tentara kaum Muslimin. Namun, Thariq dengan sigap mengumpulkan tentara Muslimin di atas sebuah bukit karang, dan Thariq berucap memberi dorongan jihad di atas bukit itu. Bukit itu kini dikenali sebagai Jabal Thariq (bukit Thariq) yang kemudiannya disebut Gibraltar.

Di atas bukit karang setinggi 425m di pantai Tenggara Spanyol inilah Thariq memerintahkan pembakaran semua kapal-kapal yang t
elah menyeberangkan mereka. Tentu saja perintah ini membuat tentarakaum Muslimin keheranan. “Kenapa anda melakukan ini?” tanya mereka. “Bagaimana kita akan kembali nanti?” tanya yang lain.

Namun Thariq tenang dan tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani dan dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata,

“Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”

Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.

Lalu Thariq melanjutkan seruannya:

“Wahai Saudaraku, kemana Engkau akan lari? Di depan ada musuhmu, di belakang ada lautan. Silahkan engkau pilih! Kalau kau lari hidup mu dalam keadaan hina dina. Kalau kau mati, mati mu dalam keadaan sia-sia. Kalau kau bertempur melawan musuh, Hidup mu dalam keadaan mulia kalau kau mati, matimu adalah Syahid !”

Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.

Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.

Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidka bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.

Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.

Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”

Disebuah kerajaan penuh kemewahan, mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu.

Keberanian dan perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorang penyair Persia, untuk menggubahnya dalam sebuah syair berjudul ”Piyam-i Mashriq” :

“Tatkala Thariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), Prajurit-prajurit mengatakan bahawa, tindakannya itu tidak bijaksana. Bagaimana mungkin mereka kembali ke negeri asal, dan merusak peralatan peperangan adalah bertentangan dengan hukum Islam. Bahkan jumlah kekuatan tentara musuh melebihi ribuan dari tentara kaum Muslimin. Mendengar itu semua, Thariq menghunus pedangnya, dan menyatakan bahawa setiap negeri kepunyaan Allah, bumi ini adalah bumi kita.”


Kata-kata Thariq itu bagaikan cambuk yang meledakkan semangat tentara Muslimin yang dipimpinnya. Bala tentara Muslimin yang berjumlah 12,000 orang melawan tentara Gothik yang berkekuatan 100,000 tentara. Pasukan Nasrani jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupun persenjataan. Namun semua itu tak mengerutkan hati pasukan muslim setelah mendengarkan pidato dari Thariq yang menggentarkan jiwa mereka untuk memburu syahid Allah.

Ahad, 28 Ramadhan 92 H atau 19 Juli 711 M, pasukan tentara Muslimin dan Nasrani bertemu dan bertempur dekat muara sungai Barbate. Lalu kedua pasukan bertemu dan bertempur di muara Sungai Barbate. Pasukan muslimin yang kalah banyak terdesak. Julian dan beberapa orang anak buahnya menyusup ke kubu Roderick. Ia menyebarkan kabar bahwa pasukan muslimin datang bukan untuk menjajah, tetapi hanya untuk menghentikan kezaliman Roderick. Jika Roderick terbunuh, peperangan akan dihentikan.

Usaha Julian berhasil. Sebagian pasukan Roderick menarik diri dan meninggalkan medan pertempuran. Akibatnya barisan tentara Roderick kacau. Thariq memanfatkan situasi itu dan berhasil membunuh Roderick dengan tangannya sendiri. Mayat Roderick tengelam lalu hanyut dibawa arus Sungai Barbate.

Terbunuhnya Roderick mematahkan semangat pasukan Spanyol. Markas pertahanan mereka dengan mudah dikuasai. Keberhasilan ini disambut gembira Musa bin Nusair. Baginya ini adalah awal yang baik bagi penaklukan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa.

Rakyat Spany
ol yang sekian lama tertekan akibat penjajahanbangsa Gotik, mengelu-elukan orang-orang Islam. Selain itu, perilaku Thariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehingga mereka disayangi oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.

Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spanyol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).

Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropah. Seorang budak yang menjadi penakluk Andalusia.

Maraji
diolah dari
http://www.esqmagazine.com/thariq-bin-ziyad-sang-penakluk-andalusia.html
http://www.dakwatuna.com/thariq-bin-ziyad-sang-penakluk-spanyol/

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Budak Penakluk Eropa: Thariq bin Ziyad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s