Peran kita tidak sia-sia


Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah wa sholatu wa salaamu “ala Rasulillah saw wa ‘ala alihi washobihi ajma’in.. amma ba’du

Menjadi aktifis dakwah bukanlah sekedar pilihan. Apalagi bagi akhawat al ummahat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Keterbatasan? Ya, siapa yang dapat memungkiri bahwa ada keterbatasan yang tak dapat ‘diganggu gugat’ dari gerak langkah seorang aktivis dakwah akhawat?

Keterbatasan itu memang ada dan itu menjadi ‘kekhususan, daya tarik sekaligus kekuatan’ seorang akhwat. Bukanlah alasan jika dengan keterbatasan tsb, lalu seorang akhwat menyatakan tidak sanggup untuk berkontribusi bagi kejayaan Islam dan kaum musliminn. Kekhasan yang ada akan menjadi penyemangat perkembangan dakwah ini.

Di Negara ini, gerakan gender berasal dari kaum feminis semakin aktif agresif.Bahkan mungkin sampai menuntut atas syariat Allah yang telah baku.
Mulai gerakan minta persamaan hak waris, gerakan kebebasan berbudaya , kebebasan persamaan dengan laki2 disegala bidang… bahkan ada yang lebih miris menuntut di bolehkan pernikahan sejenis…

Mereka lebih merasa terhormat, jika wanita dibebaskan sesuai nafsunya dari pada menjalankan hukum Allah yang bagi mereka sangat mengikat.
Bukan masalah, ketika mereka menyamakan pakaian mereka dengan laki2, berambut cepak, berkata kasar, bermata nanar..
gaya bicara lugas dan siap mengkritik apapun jika berkaitan dengan keterikatan…
itu gambaran yang saya lihat..pada gerakan feminis..
ada positifnya.. namun secara esensial ada penolakan kodrat

Menghadapi situasi seperti itu, tentu bukan hanya tugas Para Ustadz atau para Ikhwan.. yang notabene.. mereka berbeda kaum dengan para feminis…lebih tepat jika pendekatan, perlawanan, maupun pencegahan juga dilakukan oleh para kaum wanita.

Rusaknya seorang Ibu… akan banyak berpengaruh pada perkembangan generasi berikutnya..
apalagi jika yang rusak sudah menjadi kaum mayoritas, na’udzubillah.

Perlu kontribusi kita, kontribusi para akhwat dan ummahat yang sholihat untuk meluruskan mereka, untuk melawan mereka, dan untuk menangkal pengaruh mereka agar tidak lebih meluas.
Meluasnya mereka akan meluas pula kerusakan…
Meluasnya Islam tentu akan meluas keselamatan…

Jika masih mempersoalkan wanita bekerja dan tidak bekerja.. tentu bukan sekarang waktunya..
Jika masih mempersoalkan kekhalifahan harus tegak,tanpa perlu proses yang panjang dan permasalahan2 yang perlu diantisipasi … sama saja kita ingin berperang, hanya berharap menang tanpa memikirkan cara, taktik dan strategi ..
Akhwati fillah,
Kita yang ada disini , dituntut peran, dituntut keistiqomahan kita.. dan terus memperjuangkan agar hukum Allah menjadi way of life …tetap tegak baik dalam hati , fikiran dan perilaku kita juga para saudari2 kita.
Tidak akan ada yang menyelamatkan kita kecuali terus menerus menempa diri dalam ketaatan


Akhwat.. tidak cukup bagi kita menjadi solehah , namun juga menjadi muslihah. Selain mensolehkan diri sendiri, kita juga mensolehkan saudari2 kita yang lain…
berbagi kesolehaan, menularkan kesolehaan , juga mempersiapkan SDM2 baik dari rahim kita sendiri maupun dari lingkungan yang ada disekitar kita ,menjadi SDM yang siap juga berkontribusi dalam dakwah.

Apalagi kondisi kita yang ada diluar rumah..untuk bekerja
Maisyah sudah jadi tanggungan suami, tentu akan jauh lebih bermanfaat jika kesempatan ini kita gunakan untuk berdakwah, mengkondisikan lingkungan,dan terus berupaya menjadikan lingkungan kita selalu mencintai Islam

Tidak semua akhawat harus menjadi aktivis dalam pengertian khusus, memberikan totalitas hidupnya untuk menjadi prajurit dakwah. Keberagaman potensi dan kemampuan di kalangan akhawat harus menjadi pertimbangan penting dalam membuat rancangan peran dan kontribusi akhawat yang pas dan sesuai dalam dakwah. Alangkah indahnya jika akhawat memiliki spesialisasi masing-masing, lalu semua bekerja dan memberi kontribusi sesuai spesialisasi potensinya itu dalam kerangka amal jama’i.

Para akhawat yang punya kesempatan untuk berkonsentrasi menekuni urusan kerumah tanggaan misalnya, dapat meningkatkan kualitas dirinya dalam urusan itu. Misalnya dengan menekuni masak memasak, atau ketrampilan-ketrampilan kerumah tanggaan lainnya, lalu berbagi keahliannya itu dengan akhawat lain. Atau, ia juga dapat memberi kontribusi dalam dakwah dengan ikut membantu saudara-saudaranya yang tidak punya waktu luang sebanyak dirinya.

Seperti tritnya Maswin … saya membayangkan para ummahat yang punya lebih banyak waktu dirumah, dengan ikhlas dan semangat amal jama’i lalu berbondong-bondong membantu menjaga anak-anak saudari-saudarinya yang mendapat amanah dakwah keluar rumah, keluar kota atau keluar negeri. Subhanallah, betapa indahnya! Kita berharap, kontribusi ini menjadi amal shaleh kita yang dapat memberatkan timbangan di yaumil hisab nanti. Amin.

Akan halnya para akhawat yang dengan takdir-Nya menjadi prajurit dakwah, marilah sama-sama kita renungkan hal ini! Kita telah melakukan sebuah transaksi besar dengan Allah, Pemilik dakwah ini. Transaksi itu melibatkan seluruh diri kita, harta, waktu, jiwa, potensi, bahkan darah dan daging, tulang belulang kita, semuanya telah kita ‘jual’ kepada Allah. Maka sejak saat kita melakukan transaksi itu dengan memberikan janji setia kita kepada-Nya, saat itu pula sesungguhnya kita telah menjadi ‘milik Allah’ dengan semua makna yang tercakup dalam kata itu.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar!. At-Taubah:111.

Maka saudariku, semua yang kita lakukan, kita perjuangkan dalam dakwah ini ada harganya. Semua kelelahan, ketakutan, keresahan, kesempitan, pengorbanan yang kita berikan di jalan dakwah ini, semuanya ada harganya. Ada janji Allah berupa syurga yang menunggu, jika kita menepati janji setia kita kepada-Nya. Allah tidak akan mengkhianati janjinya, siapakah yang lebih menepati janji selain Allah? Karena itu, siapkan diri kita untuk punya kemampuan menanggung semua konsekwensi, menghadapi semua tantangan dan rintangan, menjalankan semua kewajiban…sampai Allah memberi kemenangan kepada dakwah ini, atau kita syahid di jalan-Nya!

Wahai akhawat! Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang ada. Kewajiban sebagai anak, istri, ibu, tetangga, anggota masyarakat dan prajurit dakwah, ditambah sebagai karyawan…semua menuntut penunaian secara ihsan. Saya mengerti dan merasakan, betapa tidak mudahnya mengelola dan melaksanakan berbagai kewajiban itu. Kadang kita ‘tertatih-tatih’ menjalankan semua kewajiban itu. Tetapi, kita tidak ingin mengeluh atas semua itu. Kita juga tidak menuntut pengertian dari orang lain agar memahami tugas kita. Justru di sinilah kita letak keindahannya, kita mendapat kesempatan untuk memberi bukti kepada Allah, bahwa kita siap dengan semua beban-beban itu! Karena kita tahu dan yakin, ada surga yang menunggu! Jadi saudariku, buktikan bahwa kita layak melakukan transaksi dengan Allah!


Sebagai penutup,
Peran kita tidak sia2…
ingatlah bahwa Allah tidak melihat apa dan bagaimana kedudukan kita, tetapi Dia melihat amal dan kontribusi kita. Karena itu, apapun potensi dan kema
mpuan kita, beramallah dengannya, berperanlah dengannya. Sesungguhnya sebaik2 diantara kita adalah yang paling bertaqwa

Ukh Ferry Julianti

Advertisements

4 thoughts on “Peran kita tidak sia-sia

  1. Jika mempersoalkan wanita bekerja dan tidak bekerja, bukan sekarang waktunya..spakaaat! Saatnya beramal! Dan yakin bahwa setiap amalan takkan sia2! Tfs pak n_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s