Karena Pemimpin Cerminan Rakyatnya


Tak henti-hentinya negeri ini di kagetkan berita tentang pencalonan artis-artis (seronok) menjadi pemimpin di beberapa kabupaten. Dulu, kelompok mereka malu tampil di muka umum, sekarang malah mau menjadi pemimpin publik. Yang terbaru si belah duren Jupe mau koalisi dengan sepupu SBY, di kabupaten Pacitan. Yang aneh, koq ya banyak pendukungnya. Opo tumon.

Nah, bila nanti pemimpinnya zholim, atau malah membiarkan maksiat ya jangan pada ribut, karena itulah pemimpin kita dan pemimpin cerminan rakyatnya.

Saya teringat percakapan Ali Ra dengan salah seorang rakyatnya:

Rakyat: Hei Amirul mukminin, kenapa di saat kamu memimpin negara kita ini kekacauan melanda. Banyak terjadi pembunuhan, dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. Tidak seperti zamannya Abu Bakar Ra dan Umar bin Khatab Ra dimana keadaan aman-aman saja

Ali ra: Ketahuilah, Ketika Abu Bakar dan Umar memimpin, rakyatnya itu seperti aku. Sementara saat aku memimpin, rakyatnya itu seperti kamu

Alkisah seorang khalifah pada masa dinasti Bani Umayyah mendengar bahwa rakyat mulai menggunjing dan mencerca kepemimpinannya. Ia lalu mengumpulkan orang-orang terpandang di mata rakyatnya dan menghadirkan mereka ke hadapannya. Sang khalifah kemudian bertanya kepada mereka, “Sesungguhnya kalian berharap kami memimpin layaknya Abu Bakar dan Umar, bukan?”

Mereka menjawab, “Benar, anda khalifah sebagaimana mereka juga khalifah.”
Khalifah menjawab, “ Jika demikian, jadilah kalian seperti rakyatnya Abu Bakar dan Umar, niscaya kami juga akan menjadi seperti mereka berdua.”

Terkadang manusia berpikir idealis sekali. Mereka memimpikan kehidupan yang serba ideal dalam segala hal. Kalau boleh dianggap, sedang bermimpi. Kebahagiaan dalam hidup, pemerataan ekonomi, keadilan, dan kesejahteraan semua diimpikan. Sayangnya itu semua hanya sebatas mimpi. Mereka jarang berpikir kenapa hidup sekarang semakin susah dan terasa serba sulit.

Orang yang pertama kali dicap sebagai kambing hitam adalah para pemimpin, para pemegang kebijakan, dan kekuasaan. Mereka dianggap telah menyengsarakan rakyat dengan menetapkan kebijakan yang tidak strategis alias tidak berpihak kepada wong cilik. Ini memang tidak salah tapi tidak benar sepenuhnya. Artinya kesalahan tidak selamanya harus diemban oleh para pemimpin saja. Pihak lain juga bisa jadi ikut bersalah. Walaupun memang sejatinya, pemimpin memikul beban dosa yang jauh lebih berat dari pada rakyatnya.

Berdasarkan kisah yang dikutip oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Sarh Riyadhis Shalihin di atas, dimana rakyat menuntut pemimpinnya untuk berbuat adil seperti sahabat Abu bakar dan Umar, sang khalifah malah balik bertanya, apakah mereka juga sudah menerapkan keadilan di antara mereka layaknya rakyat pada masa kedua khalifah tersebut.

Bisa dipahami bahwa pemimpin yang adil dan amanah itu tidak lahir secara instan. Pemimpin yang zhalim umumnya adalah cerminan dari rakyat yang zalim. Bukankah pemimpin itu muncul dari tengah-tengah mereka dan dipilih oleh mereka? Mereka juga memilih seseorang yang sesuai dengan selera dan kriteria mereka.

“Demikianlah kami menjadikan sebagian orang yang zalim itu pemimpin atas sesamanya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am:129)

Ayat di atas merupakan sebuah indikasi, menurut Imam Al-Razy bahwa selama rakyat terus-menerus berbuat zhalim, Allah akan menghukum mereka dengan terpilihnya pemimpin zhalim setipe mereka. Artinya bila mereka ingin terlepas dari pemimpin model begitu, mereka terlebih dahulu harus berhenti melakukan kezhaliman.

Dalam kacamata Islam, mencari akar permasalahan tidak saja melihat pada orang yang berbuat dan apa yang diperbuatnya. Tapi menganalisa lebih jauh kepada akar permasalahnnya. Seorang yang mencuri bisa jadi tidak dihukum bila ia melakukan pidana karena keadaan terpaksa atau akibat ketidakpedulian tetangganya. Pada kasus ini, bisa jadi tetangga pencuri itulah yang dihukum. Dahulu Sayyidina Umar ra pernah memutuskan hal yang sama. Demikianlah Islam mengurai permasalahan itu secara runut sehingga akar permasalahannya bisa ditemukan. Baru setelah itu diberikan solusinya.

Pemimpin adalah bagian dari rakyat dan cermin bagi mereka. Bila mayoritas rakyat itu hidup tanpa aturan dan gampang melanggar hukum, terutama hukum syara’, maka pemimpin yang muncul juga semacam itu. Bila rakyat tidak mematuhi rambu-rambu Ilahi dengan saling merampas hak di antara mereka, membudayakan korupsi atau mencari harta dengan cara yang batil, pemimpin yang muncul pun tak jauh beda dengan mereka. Bila rakyat melazimkan kezaliman di antara mereka, pemimpin mereka adalah orang yang zalim juga. Begitu pula sebaliknya. Bagaimana pemimpin harapan bisa muncul, bila mayoritas rakyat yang memilih saja belum mampu memberi harapan perubahan.

Keterpurukan bangsa ini sejatinya bukan kesalahan personal saja, tapi ini adalah kesalahan kolektif. Segenap anak bangsa harus bercermin apakah dirinya termasuk orang baik atau orang zalim. Jangan-jangan mayoritas kita adalah orang zalim, sehingga Allah menghukum kita.

“Jika Allah meridhai suatu kaum, maka mereka akan dipimpin oleh orang yang tepat. Namun bila Allah murka pada suatu kaum, maka mereka akan dipimpin oleh orang yang buruk.”Demikian menurut Ibnu Abbas ra (shofwatut tafasir 1/419)

Jika rakyat berusaha mengoreksi kesalahnya lalu merubahnya, niscaya Allah akan mengganti pemimpin mereka dengan yang lebih baik. Bila mereka mengidam-idamkan pemimpin yang adil dan amanah seperti sahabat Abu Bakar ra dan Umar ra, mereka pun harus menjadi rakyat yang setipe dengan rakyat pada masa itu. kepemimpinan yang ideal akan sulit muncul bila rakyat pada kenyataannya amat jauh dari masyarakat yang ideal. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan bila mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang bisa menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS ar-Ra’d:11) Mari bersama-sama bermuhasabah diri. Wallohu a’lamu bisshowab

diolah dari berbagai sumber:
1. VOA-Islam.com
2. isykarima.com
3. milham.wordpress.com

5 thoughts on “Karena Pemimpin Cerminan Rakyatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s