Kita Tidak Boleh Saling Mencela (Catatan Buat Para Kader)


Betapa sedihnya ketika suatu jama’ah sudah hilang budaya tanasukh (saling menasehati). Ketika mengetahui ada kesalahan yang dilakukan saudaranya lain yang mungkin itu kesalahan yang hanya menurut persepsinya, maka dengan secepat kilat keluar ucapan-ucapan mencaci dan mencela. Lihat saja ketika sekarang ada ucapan yang diucapkan para qiyadah kita terhadap institusi tertentu, lalu berbagai komentar baik langsung atau tidak langsung bertebaran di mana-mana. Secara tidak sengaja saya membuka Facebook ustadz Makhfud Shidiq dan Ustadz Fachry Hamzah…ternyata disana bertebaran kata-kata mencela. Kalau itu dilakukan orang ammah atau musuh Islam, tentulah dapat dimaklumi, tetapi itu bila dilakukan seorang kader dakwah tentu sangat memprihatinkan.

Saya jadi teringat bagian dari tulisan Syaikh Munir Muhammad Al Ghadhban dalam Al-Manhaj Al Haraki Lis Sirah An Nabawiyyah, ketika beliau mengulas tentang Perang Khaibar. Dalam perang tersebut ada seorang prajurit Muslim yang bernama Abdullah bin Hamar, karena tidak tahan melihat banyaknya khamar di benteng orang-orang Yahudi, maka dia meminumnya. Ketika kesalahan ini diketahui Rasulullah Saw. maka beliau melakukan hukum had yakni hukuman pukulan dengan sandal/sepatu kepada Abdullah, dan beliau memerintahkan seluruh pasukan yang hadir di sana saat itu untuk melakukan hal serupa yang beliau lakukan kepada Hamar. Ketika tiba giliran Umar bin Khattab, beliau memukul sambil mengeluarkan kecaman atas perbuatan Abdullah, tetapi Rasulullah Saw. justru menegur Umar karena mengecam Abdullah. Kata Rasulullah, “Jangan kau kutuk, sebab dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Ikhwah fillah, jika terhadap kesalahan yang nyata, pelanggaran syar’i yang nyata, yang jelas-jelas diharamkan oleh Alah dan Rasul-Nya, saja seseorang tidak boleh dikecam seperti itu, apa lagi kepada perbuatan yang masih dipersepsikan salah oleh sebagian dan tidak dipersepsikan salah oleh sebagian lainnya. Apalagi terhadap orang yang sdh banyak berjasa dalam jama’ah ini dan sedang mengemban misi tertentu dari jama’ah ini.

Kita tidak melihat para sahabat membicarakan kekeliruan Abdullah apalagi sampai mengecamnya di luar area eksekusi hukuman, kecaman dari Umar saat eksekusi saja sdh mendapat teguran Rasulullah. Ini karena Rasulullah memahami bahwa kesatuan shoff saat peperangan seperti itu lebih diutamakan. Bagaimana jika seandainya para sahabat mengumbar dan mengecam kesalahan Abdullah di jalanan, di medan perang, tentu ini akan menjadi pintu masuk bagi orang-orang Yahudi untuk memecah belah kesatuan pasukan Muslimin saat itu.

Saya tidak ingin menyamakan jama’ah ini dengan generasi terbaik ummat, saya juga tidak ingin menyamakan pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh ini sama seperti perilaku orang-oranmg Yahudi, tetapi inilah pelajaran berharga dari siroh nabawiyyah yang harus kita pahami.

Wallahu a’lam.

Ustad Oktaviar…dengan sedikit tambahan.

Advertisements

8 thoughts on “Kita Tidak Boleh Saling Mencela (Catatan Buat Para Kader)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s