Ikhlaskan Langkahmu, awas Virus Senioritas


Si fulan seorang kader biasa, baru beberapa tahun ngaji. Kebetulan saja dia berada di daerah yang tidak terlalu banyak kader. Sehingga dia mendapat banyak amanah di daerah itu. Baik di struktur atau di wajihah lainnya.

Mungkin saja si fulan mudah dalam pergaulan sehingga setiap ada kegiatan insidentilpun si fulan selalu diikutkan.

Bahkan liqonya pun bersama-sama dengan para kader yang sibuk dengan berbagai amanah. Sehingga si fulan merasa bahwa dia adalah telah mencapai maqom senior.

Pada suatu ketika si fulan, karena pekerjaannya dimutasikan ke tempat di daerah yang banyak kadernya. Disana tidak juga mendapat surat pindah dari kaderisasi, sehingga si fulan lama nganggur. Ketika surat pindah sudah diterima di tempat baru, si fulan ditempatkan di halaqoh yang kebanyakan pemula. Materi yang dia dapatkanpun diulang, padahal dia dulu sudah khatam materi tersebut. Di liqo’pun masih berkutat memperbincangkan apakah partai itu dan lain sebagainya, yang menurutnya remeh temeh.

Dahulu si fulan yang sibuk dengan berbagai aktivitas da’awy, sekarang sebagai pengangguran kelas berat. Kadang, taklimatpun terlewat. Sehingga dia merasa di tempat baru, hanya penonton saja. Akhirnya diapun menikmati ketiadaan amanah seperti orang merdeka.

Akhirnya seperti taujih ustadz masker…dia merasa menjadi karder yang diparkir atau malah memakirkan diri.

Beberapa waktu kemudian si fulan mulai menyadari kesalahannya, ternyata selama ini dia terkena sindrom senioritas (padahal dia masih pemula qiqiqiqi). Dia mulai memperbaiki kesalahannya. Menganggap positif apa yang terjadi. Dan ternyata, di liqo yang baru tadi dia mendapatkan ilmu yang tiada dia dapati sebelumnya. Walaupun mereka pemula, ternyata mereka adalah orang-orang yang selalu menjaga hati. Pengalaman batin mereka selama menjalani hidup menempa mereka menjadi orang yang tawadhu’. Bahkan mungkin ibadah mereka melebihi para kader yang lebih banyak amanahnya. Selain itu mereka rata-rata pengusaha, sehingga dia dapat belajar semangat sebagai pengusaha.

Walau tiada amanah yang ada, sekarang si fulan lebih konsentrasi di dakwah komunitasnya yang baru. Membuat kajian-kajian di kantornya, membuat jadwal ‘imaratul masajid (memakmurkan masjid) dan lain sebagainya ternyata menarik juga. Membuat artikel-artikel islami dan menyebarkanya di berbagai media. Katanya…Apapun peran kita yang penting berkontribusi .

Saudaraku….

Mari kita dalami hati ini. Tidak terasa panah-panah setan menilik di hati kita. Posisi kita yang strategis tanpa sengaja kadang membuat kita ujub, atau merasa paling berkontribusi dalam dakwah ini. Atau mungkin seseorang bangga dan merasa tinggi hati karena amal-amal dan aktivitas ibadahnya yang begitu banyaknya ketika dilakukan mutaba’ah dan lain sebagainya. Bukankah seharusnya semakin tinggi keimanan seseorang dan ketaqwaannya, semakin ia merendahkan hatinya, baik ke hadirat Allah swt, maupun kepada manusia (Adzillatin ‘alal Mu’minin a’izzatin ‘alal kafirin), rendah hati di hadapan orang beriman dan tegas di hadapan orang kafir. Nabi Muhammad saw saja sebagai khoiru khalqillah (sebaik-baik makhluk Allah) dan orang yang paling taqwa dari umatnya, masih dipesankan Allah swt dalam firman-Nya:

“Rendahkanlah hatimu kepada pengikutmu orang-orang mukminin (QS asy-Syu’ara: 215).

Bahkan merasa lebih banyak amalnya, lebih tinggi kedudukannya di dalam aktivitas dakwah karena merasa lebih dulu aktif dan lebih senior, akan membuat dirinya lebih hina dan lebih buruk dalam pandangan Allah swt. Simaklah pesan-pesan teladan kita Nabi Muhammad saw:

“Jika kamu mendengar seseorang berkata “ semua orang rusak” , maka dialah orang yang paling rusak” (HR Muslim)

“Cukuplah keburukan seseorang, karena ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR Muslim).

Salah satu fikrah dakwah kita adalah “Salafiyah” yang menuntut kita untuk meneladani pendahulu kita yang shalih dalam sifat rendah hati mereka. Tidak ada yang merasa lebih hebat betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki. Mereka tidak merasa lebih senior betapapun mereka lebih dahulu berbuat dan aktivitas jihad mereka lebih banyak.

Kepemimpinan Nabi Muhammad saw. memberikan keteladanan kepada umatnya dalam sikap tawadhu’, sebagaimana berita yang diriwayatkan Anas bin Malik, ia berkata,

Meskipun (kita tahu) bahwa para sahabat adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah, namun mereka tidak pernah berdiri menyambut kedatangan Rasulullah saw, karena mereka tahu bahwa hal itu tidak disenangi Nabi saw” (HR Tirmidzi, hadits hasan).

Aduhai… siapa yang tidak mengenal Abdur-Rahman bin Auf yang sangat disegani di kalangan kaumnya. Namun kepiawaian dan kesenioran beliau tidak membuat dirinya tinggi hati sampai kepada pelayannya sekalipun, hal itu dikisahkan oleh sahabat Abu Darda’, “…..Abdur-Rahman bin Auf sulit dibedakan dengan pelayannya, karena tidak nampak perbedaan mereka dalam bentuk lahiriyahnya” .

Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, kira-kira peribahasa itulah yang digunakan.

Demikian pula kehebatan Imam Hasan Basri dalam ilmu agama tidak memperdayakan dirinya menjadi seorang yang ‘sok’ atau merasa lebih hebat di hadapan teman-temannya. Suatu saat Hasan Basri berjalan dengan beberapa orang, orang-orang itu berjalan pada posisi di belakang Hasan Basri, maka Hasan Bashri pun mencegah mereka (melakukan itu), seraya berkata, “Tidak benar hal ini dilakukan setiap hamba Allah?” .

Demikian pula jabatan dan kedudukan tidak layak dijadikan alasan untuk berbangga diri apalagi membusungkan dada “akulah orang besar”.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz ra kedatangan seorang tamu saat ia sedang menulis, saat lampu padam karena terjatuh, sang tamu pun berkata: Biarkan aku ambil lampu itu untuk aku perbaiki! Umar Sang Khalifah berkata: Tidak mulia seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayan. Tamu itu berkata lagi, “Atau saya minta bantuan anak-anak”. Umar Amirul Mukminin berkata: Mereka baru saja tidur (jangan ganggu mereka)”. Kemudian Sang Khalifah pun beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil lampu itu dan memperbaikinya sendiri. Tamu itu terheran-heran seraya berseru, “Wahai Amiril Mukminin, engkau melakukannya itu sendiri? Amiril Mukminin berkata, “Saat saya pergi saya adalah Umar, saat saya kembali pun saya adalah Umar, tidak kurang sedikit pun dari saya sebagai Umar. Sebaik-baik manusia adalah yang tawadhu di sisi Allah swt”. Subhanallah……

Orang-orang yang berhimpun dalam mahabbah dan keridhaan Allah sejatinya mengenyahkan sifat sombong, ‘sok’, senioritas apalagi figuritas. Hiasilah diri Antum dengan tawadhu’, rendah hati, selalu merasa memerlukan tambahan ilmu, pengalaman dan merasa saling butuh dengan sesama ikhwah lainnya.

Akhirnya, ikhwah fillah terimalah taujih Rabbani ini :

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekalikali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (Q.S. Aِِl-Isra: 37-38). Wallahu A’lam

Maroji’
Dakwatuna dan sumber lainnya

10 thoughts on “Ikhlaskan Langkahmu, awas Virus Senioritas

  1. Itulah bedanya antara berpolitik dan bersiyasah. Dalam konsep Islam, yang dipakai itu adalah konsep ‘siyasah’, bukan ‘berpolitik’. Parpol Islam yang sekarang menjadi elit di pusat-pusat kekuasaan itu, kayaknya lebih berorientasi kepada pendekatan politik, dan jarang yang mau memakai lagi pendekatan ‘siasah’ itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s