Aku tidak mau jadi seperti abi dan ummi……


“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman : 13)

Luqman Hakim bukan Nabi ataupun Rasul, namun kisahnya terangkai indah dalam surat cinta-Nya. Yang akan menjadi contoh sepanjang masa bagi orangtua-orangtua dalam mendidik anak-anaknya.
Ana mungkin belum berpengalaman dalam bahasan ini, lebih hanya sekedar sebagai pengamat, penganalisa dan pengambil kesimpulan dari sedikit fenomena yang menjadi obyek pengamatan ana. Jadi kalau ada masukan, saran ataupun kritik dari sahabat-sahabat yang lebih kapabel tentang masalah ini semoga bisa menjadikan sarana silaturahim dan menambah tsaqafah.
Beberapa waktu yang lalu ana diberikan amanah untuk membina anak-anak usia SMP yang merupakan anak dari kader-kader di daerah ana tinggal. Memang akhir-akhir ini sepertinya sedang digalakkan program pembinaan anak-anak kader, yang dikhususkan untuk anak-anak dengan kondisi keluarga yang “tidak biasa”. Memang anak-anak itu tumbuh di lingkungan yang “tidak biasa”, berbeda dari keluarga-keluarga pada umumnya. Dimana mereka dididik dengan idealisme keislaman keluarga yang kuat, penanaman fikrah sejak dini, disekolahkan di sekolah-sekolah Islam unggulan. Para abi dan ummi mereka adalah aktivis-aktivis dakwah yang mempunyai komitmen luarbiasa terhadap dakwah ini.
Secara fikrah mereka berbeda juga dengan anak-anak pada umumnya, karena mereka sudah terbiasa dengan istilah-istilah “tarbiyah” yang biasa disebut-sebut oleh abi dan ummi mereka. Hal ini memerlukan penyikapan yang berbeda dengan halaqah-halaqah yang pesertanya adalah anak-anak dari kalangan ammah agar halaqah berjalan dengan menarik dan tidak membosankan. Karena ternyata tidak sedikit dari anak-anak itu yang belum mempunyai pemahaman keislaman yang baik, yah mungkin karena usia mereka yang masih usia anak-anak. Namun tarbiyah sejak dini sangat penting, apalagi untuk anak-anak yang sekolah di sekolah umum yang tidak ada kegiatan Islamnya/ ROHIS. Apalagi ternyata banyak dari orangtua dari anak-anak itu yang sibuk di luar rumah dan menjadikan anak-anak mereka kurang terperhatikan. Inilah masalahnya….
Melihat fenomena yang terjadi saat ini ketika dakwah memasuki ranah politik sehingga dibutuhkan kader-kader yang siap untuk memasuki ranah publik. Hal ini baik secara langsung maupun tidak langsung akan menyita waktu yang orangtua miliki, sehingga akan mengurangi interaksi dengan keluarga di rumah. Apalagi seorang abi yang juga mempunyai kewajiban untuk mencari ma’isyah untuk keluarganya, ditambah lagi dengan agenda-agenda dakwah yang harus dijalankan sehingga semakin sempit ruang “interaksi” itu.
Sampai ada seorang anak kader ketika ditanya, apakah mereka mau ketika sudah besar jadi seperti abi dan ummi? Dengan tegas mereka bilang, “Tidakk!!! Aku tidak mau jadi kayak abi dan ummi…… Karena abi dan ummi tidak pernah ada di rumah dan kurang memperhatikan kami….”
Astaghfirullah….
Apanya yang salah???
Namun dibalik itu semua, tak sedikit pula anak-anak kader yang mampu menyeimbangi kapasitas yang dimiliki abi dan umminya. Meski dengan kesibukan abi dan ummi mereka di luar rumah, namun mereka mampu mengatur diri mereka sendiri dan bahkan mampu mencuatkan potensi yang mereka miliki. Hal itu tidak akan terjadi secara instan, namun akan memerlukan waktu dan kesungguhan dari para orangtua untuk memberikan perhatian yang lebih tidak hanya semata-mata doktrin namun yang lebih penting adalah memberikan pemahaman, serta lingkungan yang kondusif.
Di sini kapasitas ana hanya sebagai pembina yang akan berusaha membantu para orangtua kader untuk mengawasi dan menjaga agar pemahaman anak tersebut tidak keluar dari rel yang sudah ditentukan. Namun semuanya kembali kepada orangtua masing-masing, bukankah pendidikan anak-anak itu sebagian besar mereka dapatkan ketika di dalam rumah???
Ya….ini semua adalah untukmu, wahai para penerus dakwah…

Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa orang-orang yang paling berhak atas dakwah kita adalah keluarga kita sendiri, karena mereka adalah aset yang akan membantu kita dalam tahapan dakwah selanjutnya.

Wallahua’lam bish showab…

http://wafaalthafunnisa.blogspot.com/

4 thoughts on “Aku tidak mau jadi seperti abi dan ummi……

  1. betul, dengan semakin banyaknya anggota ‘masyarakat kita’, persoalan ini harus mendapatkan perhatian yg serius. Jangan sampai keluarga sendiri menjadi terlantar hanya lantaran keseringan rapat.

  2. drprita said: betul, dengan semakin banyaknya anggota ‘masyarakat kita’, persoalan ini harus mendapatkan perhatian yg serius. Jangan sampai keluarga sendiri menjadi terlantar hanya lantaran keseringan rapat.

    kebetulan saya sering bersinggungan dng anak kader….wah benar2 perlu perhatian serius…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s