Individu Yang Diperlukan Jama’ah


Ikhwah fillah rahimakumullah..
Pada sebuah kesempatan, Imam Hasan Al-Banna pernah menyerukan, dalam risalahnya, Hal Nahnu Qoumun ‘Amaliyun, sbb;

Kami serukan kepada para putra Islam yang memiliki semangat bahwa seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani

Dari seruan tersebut, dapat kita ambil garis besar bahwa dewasa ini, selain sifat-sifat aktivis dakwah yang lainnya, jama’ah ini merindukan dan senantiasa menantikan pribadi2 dan individu2 yang mempunyai sifat/karakteristik;

•Aktivis (عَامِلٌ)
•Pemikir (مُفَكِّرٌ)
•Produktif (مُنْتِجٌ)
•Pemberani (جَرِيْءٌ)

1. Aktivis (‘Amil) 

——————————————————————————–

‘Amil adalah kata sifat yang kata kerjanya adalah “amal”
Sifat itu melekat pada diri (dzat) seseorang, sehingga apakah seseorang itu benar amil atau tidak, bisa dibedakan dengan amalnya.
Jadi AMIL itu PEKERJA yang pekerjaan itu sudah melekat secara fikriyyan, jasadiyyan dan ruhiyyan.
Dalam bekerja tidak perlu dipicu oleh apapun karena motivasinya sudah ada dalam dirinya.

Harus bersyukur kalau sifat amil ini ada dalam diri kita, karena kita berada dalam gerakan dakwah, maka menjadi amil berarti menjadi PEKERJA DAKWAH.
Hal penting yang harus kita pahami: 
– Yang penting sifatnya bukan gelarnya
– Gelar tanpa memenuhi sifatnya berarti pepesan kosong 

Kalau sifat tersebut sudah melekat, maka kalau tidak bekerja akan gelisah, bahkan bertanya kenapa ana tidak dapat tugas. Kalau memang tidak ada tugas bagi dirinya, maka dia akan buat pekerjaan sendiri.

Dampak Sifat Melekat Seorang Amil
Punya daya KREATIF yang tinggi dan daya inovatif yang tinggi pula, bukan hanya daya motivasi yang tinggi.
– Jika ada hambatan, dilaluinya hambatan itu: “Bagaimana agar pekerjaan itu efektif?” Itulah pertanyaan yang ada dalam pikirannya sehari-hari.
– Menjadi PELOPOR: senang memberi manfaat. Dalam pikirannya yang ada bukan “Kok saya nggak dapat bagian?” melainkan “Bagaimana saya bisa membagi.”
– Menjadi STABILISATOR: berusaha dan aktif meredam dan menyelesaikan goncangan-goncangan. 

2. Pemikir (Mufakkir) 

Banyak berfikir sangat berbeda dengan banyak fikiran 
Sebagai pribadi muslim, kita dituntut untuk selalu berdzikir, berfikir, dan bertafakur atas segala kejadian yang ada di muka bumi dan mengambil hikmahnya;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS Ali-Imron 190-191

karena;
Dzikir adalah rambu-rambu pengabdian agar tetap tercipta orisinalitas, dan
Fikir adalah rambu-rambu kauniyah agar tetap terus terjadi pengembangan

maka;
Ashalah aqidah, fikrah dan manhaj adalah penting.
Tapi kalau tidak disertai dengan pengembangan atas kondisi kekinian dan kedisinian (waqi’) akan terjadi kelesuan dan futur, sehingga tidak dapat mengendarai peradaban. 

 Aktualisasi Dzikir dan Fikir 

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” QS Al-Hajj 77

ruku’lah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu -> dzikir, baru setelah itu;
perbuatlah kebajikan -> buah dari pengembangan berfikir 

3. Produktif (Muntij) 

Menurut Imam Hasan Al Banna;
“Rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan rijalul ‘amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul ‘amal tidak sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil.

Menurut beliau “Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.”

Sehingga kader dakwah masa kini dan yang akan datang akan senantiasa dituntut untuk menjadi orang yang mampu memberikan hasil yang optimal (profesional) dengan pengorbanan yang sedikit mungkin (efektif). 

4. Pemberani 

– Keberanian karena memiliki izzah
– karena Alloh sudah menetapkan mu’min adalah tinggi (a’laun)
– sehingga tidak ada alasan untuk tidak selalu mendahului yang lain dalam kebaikan 
– Rasulullah SAW seorang yang pemberani, di setiap keadaan yang memerlukan seseorang yang mengatasi masalah, beliau selalu hadir lebih dahulu dari pada lainnya

Subhanakallahumma wabihamdika astaghfiruka wa ‘atubuhi ilaika
Allahu’alam bish showab
 Taujih ustadz Evan S

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s