Bersiap Menjadi Pejuang


Seringkali kita mendengar kisah tentang Abu Bakar Ash Shidiq tentang pengorbanan harta dan jiwanya untuk perjuangan bersama Nabi SAW. Ketika itu Nabi SAW bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Dengan mantap beliau menjawab, “Allah dan Rasulnya.”

Atau juga kisah Bukhari ra yang menghabiskan banyak hidupnya di perjalanan demi mendapatkan meneliti keshahihan sebuah hadits, atau mungkin Ibnul Qoyyim yang membuat buku Zaadul Maad dalam keadaan safar dan berdasar “hanya” ingatan yang tajam, bahkan Panglima Sudirman yang keadaan sakit berat di pernapasannya tetap ikut serta dalam kancah pertempuran.

Banyak orang kagum terhadap keteguhan, dan keikhlasan mereka dalam berjuang. Tetapi sedikit sekali yang mengikuti jejaknya. Padahal menurut Abraham Maslow, bahwa berjuanga adalah bagian dari aktualisasi diri.

Mungkin orang merasa berjuang hanya bila telah terpenuhi semua kebutuhan dasar, fisik, rasa aman, sosial dan lain sebagainya. Atau gampangnya mereka mau berjuang apabila sudah mapan semuanya. Benarkah ?

Mental Memberi

Saya termasuk penggemar “berat” acara talk show Kick Andy, disana kita diajarkan tentang perjuangan. Salah satunya adalah seorang pensiunan yang dengan rela menjajakan bukunya untuk dibaca dengan imbalan seadanya agar orang sekitarnya mempunyai hobi membaca. Dan juga pensiunan TU Rumah Sakit, Pak Sariban yang berkeliling Bandung untuk mencabuti paku dan membersihkan sampah.

Bila kita lihat keadaan mereka, mental memberi membuat mereka selalu tangguh dalam perjuangan.

Sedangkan, lihat keadaan kita sekarang. Bukan mental memberi yang kita kobarkan tetapi mental menunggu, menikmati, bahkan tidak puas terhadap perjuangan orang lain/jamaah lain lalu mencelanya. Cara-cara inilah yang membuat kita tidak mampu berjuanga, bagaimanapun keadaan kita, sekaya apapun kita karena dia hanya memikirkan keinginannya telah terpenuhi.. Padalah Allah mengingatkan kita,

“Berbuat baiklah (kepada yang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu” (QS 28:77)

Mental Tawakkal

Kadang seorang pejuang tidak selamanya menerima pujian, perlakuan baik atau imbalan tapi seringkali walaupun berjasa bukan tak mungkin malah cacian, dan cemoohan. Karena mental memberi sudah seharusnya diiringi dengan mental tawakkal. Menyerahkan dan mengikhlaskan perjuangan kepada Allah semata. Kalaupun ada harapan, dia gantungkan harapan itu pada Allah saja. Yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia dalam perjuangan ini. Sudah sunatullah siapa menebar biji maka dia akan memanennya. Karena baginya berjuang adalah panggilan rasa syukur kepada Allah, dan upaya menghindarkan dari siksa Allah.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS, 61:10-11).

Jelaslah bahwa Islam pun mengajarkan kita mempunyai mental memberi. Saya ingat sebuat note, bahwa “Memberi Menenangkan Hati”.

Menghadapi Ujian bagian Dari Perjuangan

Pejuang sejati tak lain adalah pemimpi terbesar, sebab energi perjuangan muncul dari harapan (roja’) yang besar pula. Pada sisi lain kualitas seseorang ditentukan ujian yang mampu ia selesaikan. Semakin besar ujian yang mampu diselesaikan, maka semakin tinggi kualitasnya. Sesungguhnya Allah menguji hambaNya adalah utnuk menaikkan derajatnya. Nabi SAW bersabda:

Sesungguhnya bila Allah mencintai suatu kaum, maka Ia akan mengujinya. Barangsiapa yang ridha menghadapi ujian itu maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa membenci, maka baginya kebencia Allah,” HR Turmudzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban)

Karena itulah ujian kadang bisa menjadi ketaatan, maksiat atau musibah. Maka sudah selayaknya dalam menghadapi ujian perlu iman, ilmu dan kesabaran. Di antara tuntutan sabar adalah agar dia tidak merasa bahwa jalan sangat panjang dan ingin segera mendapat hasil.

Dari Khabab bin Art RA dia berkata: Kami mengadu kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau sedang bersandar dengan menggunakan selendangnya di naungan ka’bah, kami berkata kepada beliau: Apakah engkau tidak memintakan pertolongan bagi kami, apakah engkau tidak berdo’a untuk kemaslahatan kami?. Maka beliau menjawab, “Sungguh telah terjadi pada umat sebelum kalian di mana seseorang digalikan sebuah lubang baginya lalu dia diseret dan dimasukkan ke dalam lubang tersebut lalu didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu kepalanya dibelah dua bagian, dan ada orang yang disisir dengan sisir besi di antara tulang dan dagingnya namun semua itu tidak memalingkannya dari agama Allah. Demi Allah!, Allah pasti menyempurnakan perkara kebenaran ini sehingga seseorang berjalan dari shan’a menuju Hadramaut di mana mereka tidak takut kecuali kepada Allah SWT dan para penggembala tidak takut terhadap serigala yang akan menerkam kambingnya. Namun kalian terlalu terburu-buru” (Shahih Bukhari)

Dan yakinlah Allah bersama-sama orang yang berjuang di jalanNya.

diambil dari:
Taujih Ust Hanif Hannan dan Ust Abdul Kholiq Lc

Advertisements

4 thoughts on “Bersiap Menjadi Pejuang

  1. Karena orang ikhlas senantiasa mengkhawatirkan amalannya di depan Allah kelak, makanya mereka terus mengevaluasi dan memperbaiki diri.Sedangkan orang yang dipenuhi hasad dan dengki, akan senantiasa mengkhawatirkan amalan orang lain. Makanya yang mereka lakukan hanyalah mengkritik dan mencaci maki.Jazakumullah khairan for sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s