Kebaikan yang Bijak


Kebaikan itu, ternyata memiliki masa dan ruang yang tak biasa.
Ada kalanya niat baik kita itu benar, tapi jika jalannya salah juga bisa berdampak buruk.
Berharap membawa maslahat tapi yang datang malah mudharat.
Na’udzubillah min dzalik..

Dalam buku ‘Untukmu Kader Dakwah’, ustadz Rahmat Abdullah (Allohuyarham) pernah bercerita tentang kisah seorang beruang yang terjepit sebatang pohon. Kala itu seorang pemuda menyelamatkan beruang itu, hingga beruang itu berjanji untuk setia menemani dan membantu pemuda tersebut.

Suatu hari saat sang pemuda itu tertidur lelap di bawah pohon rindang, lalat-lalat berkerumun di wajah sang pemuda. Melihat hal itu sang beruang menjadi risih dan mencoba mengusir lalat-lalat itu. Namun usahanya tak berhasil, lalat-lalat itu tetap kembali dan berputar-putar di wajah tuannya. Hingga si beruang mengambil batu besar dan melemparkannya ke wajah tuannya untuk mengusir lalat-lalat itu. Hasilnya? Tidak usah dibayangkan..

Karena itu, bijaklah dalam berbuat baik. Pertimbangkan dengan matang apa dan bagaimana dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.

Ilmu, selalu kembali pada ilmu. Ilmu yang menuntun kita pada kebijakan dalam beramal. Karena itu jangan pernah bosan menimbang dan mengevaluasi kebaikan-kebaikan kita.

Allohu a’lam.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”QS Al-Baqoroh:216

Taujih Forum Sholahuddin (AA Fikri)

3 thoughts on “Kebaikan yang Bijak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s