Mungkin Ini Yang Terjadi


Mungkin,.,.,.

Mungkin pernah ada dalam sejarah kita hidup kita, kita menjadikan halaqoh tarbawiyah menjadi bagian penting dalam kehidupan. Denyutnya menjadi denyut kita. Iramanya menjadi irama kita. Mungkin pernah agenda kita dijejali agenda tarbawiyah. Mungkin pernah kita bergerak dengan semangat bersamanya. Meski mungkin lebih sebagai ekspresi anak muda yang menunjukkan eksistensinya, tapi kibaran jilbab dan jenggot tipis indah itu ada kemanapun kita pergi. Grudag grudug khas anak muda, tapi itulah mungkin yang pernah menjadi sejarah hidup kita.

Mungkin halaqoh tarbawiyah itu sudah pernah menjadi tempat kira berkeluh kesah dan melepas penatnya jiwa. Ia pernah menemani kita melewati ganasnya ujian di kemudaan kita. Kita belajar beberapa hal dengan cara menjadi bagian darinya.

Tanpa disadari, ia telah member beberapa hal bagus yang menjadi fondasi dari sikap kita hari ini. Ia mengajari kita sedikit ilmu, ia menambah beberapa pengetahuan kita, ia juga member tambahan energy untuk bersikap mulia. Dan tanpa kesadaran kita, ia telah menguatkan kita. Ia juga telah –sedikit banyak- member makna tentang pentingnya unity atau kesatuan gerak.

Tanpa perlu mendapatkan terima kasih, ia sudah menyumbangkan sesuatu yang membuat kita menyukai sesuatu dan membuat kita membenci sesuatu.
Lalu tiba masanya, ia menjadi sesuatu yang sulit kita hadiri dan ada beberapa gagasan yang membuat kita berjarak dengannya. ‘Tiba tiba’ saja seperti menjelma beberapa masalah yang membuat kita berjarak dengannya. Memang ada hal baru yang dulu tak kita miliki. Alhamdulillah, dalam sejarah kita berikutnya, kita memiliki pasangan yang membanggakan, anak anak yang menyejukkan hati kita, karir yang mengundang iri, beberapa symbol kekayaan yang mengundang hasrat, jabatan yang membuat kita sedikit bisa menyebut diri, bisnis yang tentu menguras perhatian, dan beberapa hal lainnya. Alhamdulillah. Tapi kadang itu pula yang membuat kita berjarak dengannya.

Tak mengapa.

Sungguh tak mengapa. Karena memang faktanya pasangan, anak anak, keluarga, bisnis, karir, jabatan, dan hal lainnya membuat ia sulit kita kunjungi. Dan seperti tiba tiba saja jam kerja itu merenggut waktu kita. Sungguh tak mengapa, karena memang demikianlah faktanya.

Mungkin –kini- kita sulit untuk tak memiliki pretensi. Mungkin sekarang kita sulit untuk hadir dengan tenang di majlis majlisnya.

Sungguh tak mengapa. Asal kita tak terjebak dalam kesombongan. Sungguh dia tak berharap pada kita selain kebaikan. Maka jangan sajikan kesombongan kepadanya. Cukuplah cerita manis anak anak kita baginya. Cukuplah cerita kebanggaan kita pada pasangan kita sampai ke telinganya. Rasanya ia tak akan sedih jika kita sudah memiliki ini dan itu. Rasanya ia akan tersenyum mendengar tanjakan karir kita. Sungguh tak mengapa jika kita tak bisa lagi hadir kepadanya. Ia sudah meletakkan sesuatu pada benak kita, maka ia akan senang dengan kesuksesan kita.

Janganlah kita mempertanyakan soal tazwidul ulum kepadanya. Memang kita sekarang sudah pintar. Memang ada hal baru yang tak ia mengerti. Tapi janganlah tanyakan apa sumbangannya pada kepintaran kita. Ia mencoba memberi apa yang ia tahu. Maka jika ia tak lagi mencukupi untuk menyumbangkan sesuatu, jangan tanyakan apa yang ia tambahkan dalam tumpukan ilmu kita.

Mari kita menahan diri untuk tak menanyakan apa yang ia sumbangkan kepada kita di kekinian kita. Lebih bagus jika kita mempertanyakan apa yang sudah ia berikan di dulu kita dan di lemah kita dahulu. Mari kita tanyakan apa yang bisa kita cerdaskan darinya jika kita memang memiliki banyak pengetahuan yang tak ia mengerti.

Rasanya kita bukan orang yang tak retak. Ia juga mungkin membuat luka. Atau ia mungkin menambah perihnya luka hati. Mungkin gagasan kita sangat berbeda dengan gagasannya. Mungkin ia tak bisa menyelesaikan masalah kita dan kita anggap dialah yang memiliki saham terbesar dari kegagalan kita di masa lalu.

Rasanya tak ada kita yang tak retak. Kita tetap membutuhkannya meski untuk itu mungkin kita harus mengais dan menelisik di antara hal hal hebat yang kita miliki. Atau kita memang harus menemukan kebutuhan itu di tumpukan kesombongan dan kebebalan kita. Atau kita memang harus menyusun lagi di bagian mana kita sudah hebat dan di bagian mana kita bebal untuk menemukan kembali kebutuhan kita padanya.

Kepada anda yang masih membersamainya. Salam hormat saya kepada anda. Terima kasih. Mari memastikan diri bahwa dirinya mengajari kita beberapa hal, menumbuhkan energy untuk terus bersikap mulia, bahwa ia terus berusaha menguatkan kita dan bahwa ia mengajari kita untuk bersatu dan berdekapan menghadapi ganasnya ujian hidup.

Mari kembali menghormatinya, menghormati kesahajaannya, dan menghormati kegagapannya menemani kekinian kita yang kompleks ini.

Saya buka lebar lengan saya untuk mengajak kita untuk kembali duduk tenang mendengar hal hal fundamental yang tampak tak berharga di tengah carut marutnya interaksi social dan ekonomi kita. Kita bisa sumbangkan yang dia tak mengerti, agar ia mengerti. Dan kita bisa modernkan ia pada sisi sisi yang kita anggap ia kuno.

Mohon maaf untuk sekian kata yang tak nyaman buat anda.

ustadz eko novianto n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s