Dari sebuah kalimat yang telah menasehati kita.


Sebuah kalimat pernah menasehati…

Wali Allah adalah seseorang yang apabila naik pangkat, maka bertambahlah kerendahan hatinya. Apabila bertambah hartanya, bertambahlah kedermawanannya. Dan apabila bertambah umurnya, maka bertambahlah pula kesungguhannya.

Pertanyaannya…

Jika kita merasa naik pangkat dan kedudukan kita, semakin tinggi, semakin banyak yang kita rasa ada di bawah kita, semakin menjulang, semakin mudah terlihat, maka pertanyaan yang relevan adalah ‘Apakah kita tidak menjadi semakin sombong?’. Pertanyaan itu penting dijawab untuk kasus di atas.

Tapi ada pertanyaan lain…

Jika kita merasa begini begini saja, merasa tak ada perbaikan dalam hidup atau justru semakin mudah melihat beberapa penurunan, atau merasa ada kenaikan tetapi tidak signifikan, atau merasa orang orang di belakang sudah mendahului kita, maka pertanyaan tadi rasanya tidak lagi cocok. Ada pertanyaan yang lebih penting, yaitu ; ‘Apakah anda tidak minder dengan kondisi ini?’.

Jawaban ‘ya’ dari 2 (dua) pertanyaan di atas adalah tanda kedekatan dengan tawadhu’. Karena tawadhu’ adalah bentuk indah di antara 2 (dua) kutub ekstrim ; Sombong dan Minder. Karena tawadhu’ adalah buah dari usaha sulit menghindari tarikan kutup kutup ekstrim itu.

Dua pertanyaan senada juga bisa kita desain untuk menjawab nasehat kedua, nasehat tentang kedermawanan. Bagaimana jika bertambah kaya? Dan jangan lupakan pertanyaan, bagaimana jika semakin sulit. Meski kita tak ingin dalam kesulitan ini, jangan lupakan pertanyaan kedua.

Tetapi tidak ada pertanyaan untuk nasehat ketiga tentang kesungguhan. Umur kita tak bisa berkurang. Bertambah adalah sunnatullah. Maka untuk kesungguhan adalah keharusan. Semakin berumur harus semakin sungguh sungguh. Soalnya adalah ; Bisakah kita? Dengan anda, saya boleh sedikit optimis. Terima kasih. Jazakumullah. Semoga Allah mudahkan urusan ini. Amin.

Penutup…

Kembali ke soal tawadhu’. Tawadhu itu tidak sombong dan tidak minder.

Sombong adalah titik ekstrem yang memang harus kita waspadai. Biasanya memang menimpa kita yang pintar, kaya, cantik, terkenal, memiliki pangkat, punya banyak pengikut dan sebagainya. Setidaknya hal hal itu lebih memudahkan kita untuk sombong. Tetapi –harusnya- kita juga harus mewaspadai sikap minder. Karena itu tidak tawadhu’. Memang yang dilarang masuk surge adalah mereka yang sombong. Tetapi apakah kita akan biarkan penyakit minder merusak sendi sendi kehidupan kita?

Maka menyiapkan pertanyaan kedua tentang kerendahhatian adalah tugas penting bagi kita, bagi orang orang di sekitar kita dan orang orang yang ada di bawah tanggung jawab kita.
Mohon maaf. Nuwun.

Taujih ustadz Eko Novianto

2 thoughts on “Dari sebuah kalimat yang telah menasehati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s