Al Akhfiya’


“Al Qur’an telah membentuk hati yang siap memikul amanah. Hati itu adalah hati yang teguh dan kuat, sehingga tidak menginginkan apapun di muka bumi ini. Hati itu sanggup memberi segenap apapun dan menanggung semuanya. Hati yang hanya memandang ke akherat. Hati yang hanya mengharap ridhaNya. Hati yang membuat raga siap menempuh semua perjalanan meski harus mengalami kesulitan, penderitaan, halangan, siksaan, pengorbanan, bahkan kematian sekalipun. Hati yang tidak mengharap balasan sekaligus di muka bumi ini, meski balasan itu berupa kemenangan dakwah, berupa kejayaan kaum muslimin dan bahkan ketika balasan itu berupa kehancuran kaum dhalim…

Hati yang menyadari bahwa perjalanannya tidak menghadapi apapun kecuali berhadapan dengan keharusan untuk member tanpa mengharap balasan.

Hati yang menunggu akherat…

Hati kitakah itu?

Sejauh apa hati kita dari hati semacam itu?

Tak perlu tengok kanan kiri!

Hati kita?

Mungkin membahas Al Akhfiya (Orang-orang yang tidak suka popularitas) adalah keanehan. Padahal ada beberapa alasan untuk membahas itu. Di antaranya ;

1. Jalan ini (menjauhi popularitas) adalah salah satu manhaj syar’i.

2. Orang Ikhlas kebanyakan hampir tak terdengar jejak langkahnya, nyaris tidak terekam sejarah kecuali setelah mereka mati.

3. Ini juga berguna agar kita tidak mudah menghina saudara kita dan tidak mudah meremehkan kawan seiring. Sekaligus ini menekan kesombongan. Bahwa boleh jadi saudara kita sedang menyembunyikan kehebatannya.

4. Topic ini juga memberikan penekanan pada nilai ikhlas dalam beramal. Terutama di tengah badai budaya pop. Bahasan tentang Al Akhfiya ini juga dapat membangkitkan gairah membangun kerahasiaan antara kita dengan Allah swt.

5. Merupakan cara untuk menjaga keseimbangan di tengah mudahnya kita menonjolkan diri dan membuat portofolio keunggulan diri.

Siapakah mereka?

Mereka yang sujud dan ruku serta tasbihnya tersembunyi? Mereka yang berhati hati pada ujub dan riya? Mereka da’i yang tidak terkenal yang tak henti member nasehat? Atau mereka yang berjalan di waktu malam dan memeriksa keadaan orang miskin?
Bisa! Ada banyak variasi. Dan rasanya akan semakin banyak variasi.

Prinsipnya?

Pada prinsipnya mereka adalah hamba Allah yang merahasiakan diri dan menghindari riya. Pada prinsipnya mereka adalah pribadi yang menyadari bahwa salah satu syarat diterimanya amal adalah ikhlas. Prinsipnya mereka adalah pribadi yang lebih suka menyembunyikan amal.

Susah, pak!
Iya. Memang.
Begini sajalah…
Jika nilai yang tersembunyi lebih tinggi dari yang tampak, setidaknya kita ‘berbakat’ untuk menjadi Al Akhfiya’. Sebaliknya, yang lebih suka menonjolkan diri dan malas menguatkan nilai yang tersembunyi, setidaknya harus bekerja lebih keras untuk menjadi Al Akhfiya’.

Cukup adil? Cukup membuat optimis?

Tauladan Al Akhfiya’

Dari riwayat Muslim dalam Az-Zuhd , Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (mencukupkan apa adanya), dan yang beribadah secara khafi (sembunyi-sembunyi)” (HR Muslim )

Para sahabat , para salaf dalam setiap amal yang dilakukannya, selalu diniatkan hanya untuk keridhaan Allah. Mereka menyadari pentingnya ikhlas , berjuang keras untuk menyembunyikan beragam amalnya itu, getaran hati yang mengarah pada sum’ah dan riya dihindari jauh-jauh. Amal salih adalah rahasia antara mereka dengan Allah, dan berusaha tak ada seorang pun yang mengetahuinya . Karena ketersembunyian, ketertutupan dan kerahasiaan ini pulalah, sehingga para salik (pejalan Ilahi) sering disebut sebagai al-akhfiya (orang-orang tersembunyi).

Abu Hamzah Ats-Tsumali menuturkan bahwa Ali bin Husain memanggul karung berisi roti di atas pundaknya pada malam hari, yang dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dalam kegelapan. Ia juga berujar: “Sedekah pada malam yang pekat memadamkan kemurkaan Allah.” Muhammad bin Ishaq bercerita: “Penduduk Madinah bisa mengenyam penghidupan, namun mereka tidak tahu dari mana sumber penghidupan mereka itu. Begitu Ali bin Husain meninggal, serta merta penghidupan mereka pun lenyap. Rupanya, beliaulah yang membawanya pada malam hari.”
Sementara Amr bin Tsabit bertutur: “Ketika Ali bin Husain meninggal, mereka mendapati bekas di punggungnya karena memikul karung pada malam hari ke rumah-rumah para janda.”

Juga kisah tauladan al akhfiya dalam peperangan.

Ketika Maslamah ibn Abdul Malik bersama pasukannya mengepung sebuah benteng Romawi, hanya ada satu jalan masuk ke dalamnya. Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama, Maslamah berseru kepada pasukannya,
“Barangsiapa berani menerobos pintu, kalau dia mati saat menerobosnya, maka dia akan mendapatkan surga, insyaAllah. Kalau dia selamat, maka tanah yang ada di balik pintu itu pantas untuknya. Lalu, dia harus membuka pintu itu agar pasukan Islam dapat masuk ke dalam benteng sebagai pemenang”.

Kemudian, seorang prajurit yang mukanya ditutup kain, berdiri seraya berkata,

“Aku akan melakukannya, wahai Panglima”.

Akhirnya orang tersebut berhasil menerobos dan membuka pintu benteng tersebut. Selama tiga hari sang panglima, Maslamah ibn Abdul Malik, bertanya-tanya,

“Siapakah orang yang menggunakan tutup muka itu? Siapakah yang telah berhasil membuka pintu benteng tersebut?”.

Tak seorang pun yang berdiri mengaku. Pada hari ketiga, Maslamah pun berkata,
“Aku bersumpah, agar orang yang mengenakan tutup muka menemui aku, kapanpun waktunya, siang ataupun malam”.

Pada tengah malam, ada yang mengetuk pintu tenda sang panglima. Maslamah bertanya,

“Engkaukah orang yang mengenakan tutup muka itu?”

Orang itu menjawab,

“Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya”.

“Apa itu ?”, tanya Maslamah.
“Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kep
ada orang-orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apapun, dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai orang yang memiliki keistimewaan”, kata orang tersebut.

“Aku terima”, kata Maslamah.

Orang itu lalu berkata,

“Memang, akulah orang yang mengenakan tutup muka itu”.

Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Karena itu diantara doa Maslamah adalah,

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang mengenakan tutup muka. Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang mengenakan tutup muka”

Ke pundak orang-orang semacam inilah Allah ‘Azza wa Jalla melimpahkan barokah-Nya. Di tangan orang-orang demikianlah keadilan dan kemakmuran dunia akan tercipta.
===========================================
Ibnul Jauzi ;

“Demi Allah, sesungguhnya saya sering melihat orang yang banyak sholat, banyak puasa dan tidak banyak bicara, serata tampak khusyu’ ; baik penampilan dirinya maupun dalam berpakaian, tapi orang orang menjauhinya. Padahal, ditinjau dari nilai kejiwaannya, seharusnya tidak demikian.”

Sebaliknya, saya melihat orang yang berpakaian indah, tidak banyak ibadah sunnahnya dan tidak tampak khusyu’ pula, tapi hati orang berebut menyukainya”.

Rasanya tidak dikotomis seperti itu ya? Bukan soal penampilannya. Jadi di mana jawabnya?
Jawabnya adalah pada rahasia hati. Maksud Ibnul Jauzi, barang siapa yang memperbaiki rahasia hatinya, maka akan semerbak keharuman keutamaannya, dan orang lain ingin menyebarkan keharumannya.

Jadi, memang tidak dikotomis, sebenarnya, yang terkenal selalu buruk dan yang tidak terkenal selalu baik. Rahasianya adalah pada rahasia hatinya.

Maka tidak perlu lagi kita diskusikan, laki laki berpenampilan shaleh tapi busuk atau laki laki bertampang preman tetapi sholeh yang kita sukai? Ada variasi lainnya. Kita Cuma bias melihat dhohirnya dan kedekatannya dengan Allah tergantung rahasia hatinya.

Ibnu Katsir memberikan tafsirnya pada surat Al Baqoroh ayat 271. “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali”. Maksudnya, jika sedekah diberikan dalam keadaan dilihat orang lain, maka sedekah itu baik baik saja. Adapun kelanjutannya, “Dan jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik”.

Sekarang kita mudah terdesak…

Mudah terdesak untuk menampilkan amal. Entah karena alasan yang sejati atau –lebih sering- karena alas an yang lain.

Taujih Ustadz Eko Novianto Nugroho

4 thoughts on “Al Akhfiya’

  1. menghubungkan antara hati, popularitas, keikhlasan, dan kezuhudan…hmm memurnikan niat dalam hati memang susah… ada saja terbersit kepentingan lain yang menjadikannya tidak murni

  2. nanazh said: menghubungkan antara hati, popularitas, keikhlasan, dan kezuhudan…hmm memurnikan niat dalam hati memang susah… ada saja terbersit kepentingan lain yang menjadikannya tidak murni

    “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” –Sufyan Ats Tsauri,—makanya para sahabat selalu punya amal tersembunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s