Kepahlawanan dan Pengorbanan di Desa Kresek


Desa Kresek adalah sebuah desa di selatan Madiun. Sekitar 20 km dari kota madiun. Disanalah letak monument keganasan PKI di tahun 1948. Sebuah peristiwa sejarah yang penting. Aku sodorkan rencana perjalanan itu pada istri dan anak anak.

Rencana ke monumen itu disepakati. Setelah sarapan pecel Madiun, kami melaju mencari monumen itu. Sebelumnya, kami menanyakan kembali pada pak tukang parkir. ‘Sekitar 10 km kearah desa Kresek, pak’, jawab pak parkir dengan sopan. ‘Kenapa ditaruh di sana, pak?’, tanyaku. ‘Karena PKI membuang korban di sana, pak’. Kami segera meluncur ke TKP.

Setelah bertanya tanya beberapa kali, akhirnya kami temukan monumen sederhana itu. Alhamdulillah. Sebuah patung besar sudah menyambut kami. Patung yang menggambarkan seorang sosok kyai sedang membungkuk siap menerima ayunan parang kader PKI. Kami mendaki menuju patung itu, kami nikmati patung itu, dan kami baca relief dan prasasti yang ada.

Sebenarnya kami berharap lebih. Tapi memang tak ada foto, tak ada replika dokumen atau apapun yang menjelaskan fakta ketika itu. Soal ketidakadaan jejak fakta itu agak menggangguku. Foto pembantaian mungkin sudah sulit dilacak. Atau memang tak ada foto pembantaian itu. Tapi bagaimana dengan foto evakuasi? Mungkin ada. Rasanya pasti ada. Saya pernah melihat foto Muso yang tertembak. Mungkin ada foto-foto yang menggambarkan fakta ketika itu, tapi tak diletakkan di monumen itu. Andaikan ada replikanya saja, mungkin monumen itu bisa lebih mengajari pengunjungnya.

Adalah hal yang sangat berbeda dengan G-30 S/PKI. Di peristiwa tahun 1965 itu, ada banyak jejak fakta. Memang skala kasusnya berbeda. Memang ini dua kasus yang berbeda. Sejarah memang tergantung pada siapa yang menulis ya?

Tapi ada yang menghibur sedikit kekecewaan itu. Ada nama nama korban pembantaian yang dibahat di sebuah dinding marmer. Ada 17 orang. Ini ;
1. Kol Marhadi
2. Letkol Wiyono
3. Insp. Pol. Subarkak
4. May. Istklah
5. RM. Sarjono (patih Madiun)
6. Kyai Husen (Anggota DPRD Kabupaten Madiun)
7. Mohamad (Pegawai Dinas Kesehatan)
8. Abdul Rohman (Asisten Wedono Jl-Wan)
9. Sosro Diprojo (Staf PG Rejo Agung)
10. Suharto (Guru Sekolah Pertanian Madiun)
11. Sapirin (Guru Sekolah Budi Utomo)
12. Supardi (Wartawan Free lance)
13. Sukadi (Tokoh Masyarakat)
14. KH. Sidiq.
15. R. Charis Bogio (Wedono Kanigoro)
16. KH. Barokah Fachrudin (Ulama)
17. Maidi Marto Disomo (Agen Polisi)

‘Nduk, ini nama nama mereka…’, jelasku. ‘Can, ada 5 orang yang bisa dikategorikan sebagai militer. Ada 5 orang pemerintah, patih dan Wedono dan sejenisnya. Ada beberapa guru. Ada 3 orang kyai termasuk yang berstatus sebagai aleg….’, jelasku sok tahu pada istri dan anak anakku. ‘Koq nggak ada petani?’, tanya salah satu anakku. Aku tak sempat mengingat siapa yang menanyakan hal itu. ‘Karena petani dan masyarakat sangat tergantung pada tokohnya, nduk’, jawabku.

Memang PKI selalu mengincar tokoh yang berpengaruh. Militer, birokrat, tokoh, guru, dan kyai menjadi sasaran mereka. Salah satu bapak dari kawan kantorku adalah pimpinan Muhammadiyah di salah satu daerah. Kata beliau, bapak beliau adalah sasaran PKI yang lolos. Ada banyak cerita semacam ini.

Publik memang bergantung pada tokohnya. Idzharul ummah ‘ala idzharul rijal. Mungkin begitu.

Pembantaianpun tidak harus membantai jasad, tapi opini, citra dan harga diri pejuangpun bisa.

Selalu saja ada pertanyaan, bagaimana dengan keberlanjutan dakwah keluarga pahlawan pahlawan itu. Bagaimana anak cucu mereka sekarang? Maksud saya bagaimana warna perjuangan itu di tangan anak cucu mereka. Tapi aku tetap bertanya. Dan tepatnya berdoa. Doa sunyi tentang anak cucuku.

Ada banyak pelajaran. tapi sebagiannya diuji dgn putusnya pewarisan semangat perjuangan. Jika sekarang kita dengar anak-anak yg menyesali pilihan bapak ibunya, saya lebih bisa mengerti.

Seorang kawan menasehati, ‘Seorang aktivis bisa bangga dengan aktivitasnya. Bagaimana dengan anaknya? Apakah anaknya tidak akan menyesal karena tak bisa tampil mewah seperti anak anak lainnya?’.

Aku bukan aktivis hebat. Aku bukan siapa-siapa. Aku manusia biasa. Tapi anak-anaku memang bisa menyesali pilihan hidupku. Allah yang akan membantuku menjelaskan ini pada anak-anak.

Semoga Allah kuatkan kami dan beri kami kesabaran yang cukup. Amin…

Tulisan Ustadz Eko Novianto N

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s