SYURO


“Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal. dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” QS. 42:36-38..

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” QS. 3:159.

DEFINISI SYURA’ (الشُّوْرَى تَعْرِيْفُ):

1. Secara Bahasa (لُغَةً) asal katanya, شَارَ- يَشُوْرُ- شَوْرًا- شِيَارًا- شِيَارَةً – مَشَارَ- مَشَارَةً yang maknanya:

a. Mengeluarkan Saripatinya, seperti dalam kalimat: شَرَعَ العَسْلَ يَشْرُهُ شَوْرًا= يَدَعَ أَنْ يَخْرَجَ

b. Menguji, seperti dalam kalimat: شُرْتُ الدَّابَّةَ وَشَوَّرْتُهَا

2. Secara Definisi (إِصْطِلاَحًا):

a. Mengeluarkan pendapat (mencari pemecahan) dari orang yang memiliki

pengetahuan/pengalaman tentang masalah tersebut.

b. Memahami permasalahan melalui pengujian dari berbagai aspek/sudut pandang

dengan melalui pertolongan orang lain.

PENGERTIAN

Syuro (musyawarah) adalah menyarikan pendapat yang berbeda-beda dan sudut pandang yang terlontar berkenaandengan satu masalah tertentu, merujunya dari para pemikir dan pakar hingga sampai pada kebenaran atau pendapatyang paling benar dan paling baik untuk dipraktekan agar menghasilkan yang terbaik.

URGENSI SYURA’ (الشُّوْرَى أَهَمِيَّةُ):

1. Dinamakan QS. Asy-Syura’ menunjukkan Betapa pentingnya Syura’ bagi kaum muslimin.

2. Disandingkannya syura’ dengan perintah shalat & zakat (QS. Asy Syuuro’: 37-38)

3. Hadits-hadits berkenaan dengan masalah Syura’ amatlah banyak, dan ini menjadi penjelasan kayfiyyah (mekanisme) & tathbiqiyyah (aplikasi) dari syura’ tersebut.

4. Aplikasinya dimasa salafus-shalih juga demikian banyak, menunjukkan ihtimam (perhatian) mereka atas pentingnya & wajibnya masalah ini.

Pada hakkatnya syuro’ adalah pembagian tanggung jawab yang mana akibatnya meskipun berada di pundak satuorang, ditanggung oleh semua. Bila mana akibatnya buruk orang tidak akan saling menyalahkan dan saling cucitangan.

Syuro’ dilakukan agar lebih tepat dalam mengambil keputusan.

LANDASAN SYURO’ :

QS.12:36, QS.10:36, QS.16:125, QS.17:53, QS.18:54, QS.31:59, QS.42:38

SYURA’ DALAM AS-SUNNAH (اْلسُّنَّةِ فِى اَلشُّوْرَى):

1. Hadits Al-Miswar & Mirwan ra sebelum peristiwa Hudhaibiyyah:

“… maka nabi SAW bersabda: Berikan pendapat kalian wahai manusia…”[HR Bukhjari]

2. Hadits Anas ra:

“… maka sabda nabi SAW: Maka ALLAH SWT mewahyukan & memerintahkan 50 kali shalat setiap harinya… sampai kemudian beliau SAW bertemu Musa as… maka Musa berkata: Wahai Muhammad, ummatmu tidak akan sanggup, maka kembalilah dan mintalah keringanan… maka nabi SAW melirik pada Jibril seakan-akan meminta pendapatnya, maka Jibril memberi isyarat: Silakan saja, jika engkau mau…”[HR. Bukhari]

3. Hadits Aisyah ra saat peristiwa Haditsul ‘Ifki:

“…maka nabi SAW memanggil Ali bin Abi Thalib & Usamah bin Zaid ra untuk meminta saran tentang keluarganya…”[HR Bukhari]

SYURA’ DALAM AS-SIRAH (اْلسِّيْرَةِ فِى اَلشُّوْرَى):

1. Saat Perang Badr:

Dilakukan majlis syura’ dalam penentuan penyusunan pasukan & saat berangkatnya pasukan kaum muslimin.

2. Saat Perang Uhud:

Dilakukan majlis syura’ mengenai apakah akan keluar menyongsong musuh ke luar kota Madinah atau cukup menunggu di dalam kota saja.

3. Saat Perang Khandaq & Peristiwa Hudhaibiyyah.

ATSAR SALAFUS-SHALIH (اْلآثاَرِ فِى اَلشُّوْرَى)

1. Bersabda Nabi SAW kepada Abubakar & Umar ra: “Seandainya kalian berdua sepakat atas suatu masalah, maka aku tidak akan mengingkarinya selamanya.”

2. Berkata Hukaim bin ‘Arab: Aku tidak pernah melakukan suatu perbuatan pun sebelum meminta pendapat pada seseorang.

3. Berkata Imam Bukhari: Para ahli Qur’an berkata bahwa orang yang paling banyak bermusyawarah adalah Umar, baik kepada yang lebih tua maupun pada yang lebih muda.

HUKUM

Syuro’ adalah suatu kewajiban bagi seorang pemimpin atau orang yang mengemban tanggung jawab.

MANFAAT SYURO’

Di antara manfaat syuro’ yang paling penting adalah bahwa itu menjadi sarana untuk mengungkapkan kemampuandan kesiapan sehingga umat ini dapat mengambil manfaat dari kemampuan mereka.

Ali bin Abi Thalib menyebutkan:dalam musyawarah ada 7 manfaat penting:

1. Lebih mendekati kebenaran dalam mengambil kesimpulan

2. Memperoleh masuakn pemikiran/menggali ide-ide cemerlang

3. Terhindar dari kesalahan

4. Terjaga dari celaan

5. Selamat dari penyesalan

6. Persatuan diantara hati

7. Mengikuti atsar salafus-shalih

ETIKA DALAM SYURA’ (الشُّوْرَى مِنْ آدَابِ):

1. Memiliki kepahaman tentang apa yang disyuro’kan

2. Syura’ harus dibarengi keikhlasan, kasih-sayang, kelembutan, sikap mudah memaafkan.

3. Rendah hati & tidak mengkritik pendapat qiyadah sebelum meminta penjelasan rinci.

4. Tidak menyalahkan pendapat orang lain, melainkan cukup mengemukakan pendapatnya disertai hujjah ataupun pengalaman.

5. Mengikuti & mentaati hasil syura’ serta bertekad akan menjalankan hasil keputusan syuro’.

HASIL SYURO’

Hasil syuro’ merupakan sesuatu sesuatu yang harus ditaati dan dilaksanakan, sekalipun tidak sesuai denganpendapat pribadi, bahkan jika hasil syuro’ tersebut mengalami kegagalan. Kesalahan dengan bermusyawarah lebih baik dari pada kebenaran hasil pendapat sendiri.

“Tidak ada kebaikan dalam suatu urusan yang diputuskan tanpa dengan musyawarah.” (Umar bin Khattab)

“Suatu kaum selagi bermusyawarah tidak akan sesat dan urusan mereka menjadi terarah.” (Hasan Basri)

“Barang siapa yang meninggalkan musyawarah dan menyimpang dari padanya maka tidak akan luput dari sasaran atau celaan, khususnya apabila menemui kegagalan.” (Muhammad bin Thalhah Al Quraisyi)

ADAB SYURO’

1. Niat ikhlas karena Allah semata.

2. Dimulai dengan dzikir kepada Allah, basmallah, tilawah Al Qur’an dan taujih.

3. Hadir tepat waktu, kecuali berhalangan.

4. Pimpinan syuro mengecek kehadiran peserta syuro, beserta alasan2x keterlambatan atau ketidakhadiran peserta yang lain agar tidak menimbulkan prasangka.

5. Menentukan waktu dimulai dan diakhirinya dan disiplin terhadap kesepakatan, kecuali ada yang sangat mendesak dibahas.

6. Peserta mengetahui agenda syuro yang akan dilaksanakan dan mempersiapkan bahan sesuai agenda (mas’ul memberi tahu terlebih dahulu)

7. Menentukan agenda syuro da
n beriltizam dengannya serta tidak meninggalkan syuro kecuali ada keperluan mendesak dan lebih penting.

8. Pimpinan syuro harus benar2x menjaga waktu supaya agenda berjalan sesuai waktu dan tidak ada agenda yang tidak terbahas atau terburu-buru dalam pembahasan karena waktu hampir habis.

9. Pimpinan syuro harus bijak memelihara tatib, termasuk bijak dalam mempertimbangkan pendapat dan menyimpulkan dengan tepat.

10. Pimpinan syuro harus dapat mengarahkan pembahasan sesuai agenda, meringkas pembicaraan pada waktu mengungkapkan ide-ide, tidak mengulangi materi yang telah dibahas, tidak bertele-tele.

11. Harus dijaga supaya tidak ada seorangpun yang memotong pembicaraan, hal ini akan membuka peluang setan memecah belah peserta syuro.

12. Meminta ijin sebelum berbicara dan sabar menunggu giliran.

13. Menjaga adab-adab islam ketika berbicara, sehingga tidak melukai hati orang lain.

14. Dilarang keras kepala dalam mempertahankan pendapatnya karena mungkin ada pendapat lain yang lebih baik, dan juga jangan berkecil hati jika pendapatnya tidak diterima.

15. Amanah atau rahasia syuro harus dipelihara bersama.

16. Syuro hendaknya tidak terlalu lama sampai menegangkan syaraf dan meletihkan otak.

17. Ketika harus diambil keputusan melalui suara terbanyak, maka hendaknya angota syuro bertakwa kepada Allah, karena menyatakan pendapat atau menyokong pendapat adalah amanah, tanggung jawab dan persaksian yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

18. Meminta ijin jika hendak meninggalkan syuro.

19. Sebelum ditutup, hendaknya hasil2x syuro dibacakan ulang dan ditentukan waktu dan tempat pertemuan berikutnya.

20. Ditutup dengan doa kafaratul majlis.

Tambahan khusus :

1. Jika syuro melibatkan ikhwan dan akhwat, harap diperhatikan hijabnya.

2. Tidak memilih waktu syuro malam hari.

3. Jumlah peserta syuro harus proporsional agar tidak menimbulkan fitnah.

4. Menjaga adab berbicara baik ikhwan maupun akhwat agar tidak menimbulkan penyakit hati.

5. Serius, sebagaimana agenda yang ditetapkan, sehingga tidak dipenuhi gurauan.

6. Jika berhalangan hadir atau telat harus ijin / pemberitahuan terlebih dahulu kepada pimpinan syuro.

ADAB-ADABA MAJELIS DALAM SYURO

1. memberi salam ketika masuk

2. menyalami majelis syuro

3. berlapang-lapang dalam majelis

4. tidak melangkahi orang-orang jika hendak duduk

5. hindari bergurau

6. menyimak lawan bicara

7.patuhi arahan pemimpin majelis

8. berusaha hadir dengan syarat yang ditentukan

9. menjaga pandangan dari yang haram

10. menjaga adab berbicara

11. mulai dengan memuji Allah dan selesai dengan menyebut nama Allah serta memohon ampun

ADAB BICARA

Jelas, tegas, lugas, dan bernas

Sederhana dan tidak bertele-tele : Menghindari kejenuhan dan pembicaraan berulang-ulang, Menghindari kata-kata yang tidak berguna

ADAB MENDENGAR

diam dan mendengarkan dengan seksama (QS 50/37)

tidak memotong pembicaraan, bila tidak terdesak maka minta izin terlebih dahulu

menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengansyariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

menerima dan menghargai pendapat orang lain

tidak menepiskan pembicaraan orang lain walaupun kita sudah mengetahuinya

tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB BILA TIDAK SETUJU

1. ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yangbelum terjadi

9. ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

AGAR SYURO LEBIH EFEKTIF

1. Pemberitahuan rapat sejak awal.

2. Waktu pasti rapat.

3. Pemberitahuan agenda pembahasan.

4. Memulai rapat tepat waktu.

5. Memanfaatkan media rapat secara efektif.

6. Hanya satu notulensi saja.

7. Dinamisasi rapat.

8. Kesimpulan dan pembagian tugas.

9. Ketegasan dari pemimpin rapat.

10. Serba aneka pendukung.

a. Adanya ketentuan untuk melakukan beberapa aktifitas ibadah pendukung sebelum rapat, seperti himbauanuntuk tilawah beberapa halam sebelum syuro, atau kewajiban untuk Qiyamulail sebelum syuro.

b. Syuro diisi oleh tausiyah singkat (efektifitas) yangdiharapkan dapat menjadi motivasi dan pengisi ruhiyah peserta rapat.

c. Syuro dimulai dengan tilawah atau tasmi untuk memberikan penyegaran diri di awal syuro, dan syurodiakhir dengan do’a agar apa yang telah dibahas dan yang akan dilaksanakan mendapat kemudahan dariAllah.

SECARA UMUM POLA PEMBAHASAN BISA SEPERTI BERIKUT :

1. Penyampaian masalah / agenda pembahasan

2. Pemaparan singkat data pendukung

3. Brainstorming analisis

4. Brainstorming solusi

5. Memilih alternatif solusi

6. Kesimpulan

7. Ketegasan dari pemimpin rapat.

Pada dasarnya tidak ada keputusan yang terbaik, akan tetapi yakinlah bahwa keputusan yang diambil melaluisebuah musyawarah adalah hasil yang dinilai Allah sebagai sebuah kebaikan, manusia ditugaskan untuk berpikir dan bertindak, sedangkan Allah menentukan hasilnya. Sebagai seorang pemimpin rapat diperlukan adanyaketegasan dan kebijakan untuk menentukan sebuah keputusan, ketegasan ini juga akan berdampak secarapsikologis terhadap jalannya sebuah keputusan di lapangan pasca-rapat.

MENGELOLA KETIDAKSETUJUAN TERHADAP HASIL SYURO

Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana “mengelola” ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh “pengalaman keikhlasan” yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani “pengalaman keikhlasan” seperti itu?

Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu “upaya ilmiah” seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita puny
a landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar “lintasan pikiran” yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar.”

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan “kebenaran objektif” atau sebenarnya ada “obsesi jiwa” tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk “ngotot”? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah “obsesi jiwa” kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., “Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan.” Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak.

Maroji’:

– Al Qiyadah wal jundiyah : Syaikh Mushthafa Masyur

– Sistem Politik Islam : Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Fariz

– Menikmati Demokrasi : Anis Matta

– dan berbagai sumber

http://www.facebook.com/home.php?sk=group_106303136115325&ref=notif&notif_t=group_activity

2 thoughts on “SYURO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s