Berkenalan dengan Anak Kita


Mohammad Fauzil Adhim

Pernah dengar nama Jackie Chan? Berbincang tentang mendidik anak, khususnya berkait dengan anak kita yang mulai beranjak remaja, ada kisah menarik dari bintang Kung Fu asal Hongkong ini. Penga¬laman dramatis yang mengubah kehidupan Jackie Chan selanjutnya sebagai orangtua.

Suatu ketika, ia tergerak untuk menjemput anaknya di sekolah, setelah cu¬kup lama ia tidak pernah melakukan. Menjelang waktu bubar, ia sudah siap di depan pintu gerbang SD tempat anaknya belajar. Satu per satu siswa keluar dan Jackie menatap mereka de¬ngan cermat, kalau-kalau anaknya sudah keluar. Lama ia menunggu, tapi anaknya tidak kun¬jung kelihatan.

Ia tunggu lagi beberapa saat lamanya, tapi anaknya tetap saja tidak segera keluar. Khawatir anaknya masih di sekolah, Jackie memutuskan untuk tetap menunggu hingga akhir¬nya seorang anak keluar ketika sekolah itu telah sepi. Segera saja Jackie melompat menghampiri. Ternyata anak kecil itu bukan anaknya.

Jackie Chan kemudian menemui kepala sekolah. Dan inilah peristiwa yang sangat me¬ngesankan itu. Peristiwa yang sulit sekali dilupakan. Dengan penuh wibawa, kepala sekolah berkata, “Maaf, Tuan. Anak Anda sudah tidak di sini lagi. Sudah lulus dua tahun yang lalu. Saya kira, anak Anda sekarang sudah SMP.”

Sudah SMP? Padahal semenjak awal berangkat menjemput, ia sangat yakin anaknya masih belajar di SD. Jadi, sudah seberapa lama ia tidak pernah mengingat urusan sekolah a¬naknya sehingga sampai tidak tahu kalau anaknya sudah lulus SD? Padahal, tanpa bertanya setiap hari pun mestinya kita bisa tahu kelas berapa anak kita jika mengingat berapa tahun mereka bersekolah.

Seperti Jackie Chan, kerapkali kita merasa mengenal anak-anak kita, padahal tidak ada yang kita ketahui kecuali namanya. Kita tinggal satu rumah dengan mereka, sebab mereka memang masih belum sanggup untuk menyediakan tempat tinggal sendiri. Setiap hari kita berkumpul bersama mereka, tetapi nyaris tak mengenali satu per satu anak kita. Sebabnya, ke¬sempatan kita bersama mereka lebih banyak berisi perintah-perintah daripada berbincang ber¬sama dengan penuh kehangatan sembari bercanda.

Omong-omong, sudahkah Anda mengenal anak Anda? Anda masih ingat warna kesu¬kaan anak Anda yang sekarang beranjak remaja? Anda tahu sayur yang paling tidak disukai¬nya? O…, dia suka segala jenis sayur? Apa yang paling disukai dari berbagai jenis sayur yang ada? Masih ingat gaya belajar anak Anda? Situasi apa yang paling ia sukai untuk belajar? Dan ssst…. kapan anak Anda mimpi basah? Masih ingat? Dari mana Anda mengetahui peristiwa tersebut?

Maafkan saya…, pertanyaan-pertanyaan tersebut sekedar untuk menyegarkan ingat¬an kita terhadap anak? Apakah kita sudah mengenalnya dengan baik atau belum? Kalau kita pernah mengenalnya, apakah kita masih mengingatnya dengan baik atau tidak.

Yang jelas, sulit bagi kita untuk mengenal anak kita sendiri jika setiap pertemuan ha¬nya berisi kalimat perintah. Kita hujani mereka dengan instruksi, sementara komunikasi tidak terjadi. Sebab, syarat terjadinya komunikasi adalah kesediaan untuk saling mendengarkan dan memahami, meski telinga kita tuli. Sesungguhnya kunci komunikasi ada pada telinga. Bukan pada lisan.

Meski demikian, pertemuan yang hanya berisi instruksi itu masih “lebih baik”. Setidak¬nya masih ada kesempatan bertemu. Sebagian kita bahkan memberi perintah saja tak sempat karena sedikitnya kesempatan untuk berkumpul atau bahkan sekedar berjumpa. Kita merasa tak punya waktu karena banyaknya kesibukan yang menyita perhatian kita, meski sebab uta¬manya karena kita memang tidak mencadangkan waktu buat mereka. Sebagian lainnya ingin menyisihkan waktu, tetapi tak banyak kesempatan untuk melakukan. Atau kita punya waktu bersama mereka, meski sebentar sekali, tetapi kita tidak secara sengaja meluangkan waktu buat mereka. Sangat berbeda, punya banyak waktu bersama anak dengan meluangkan waktu untuk anak.
Nah. Apakah yang telah kita berikan kepada anak-anak kita? Kapankah terakhir kita memuji mereka? Kapankah terakhir mereka bercanda dengan kita? Kapan terakhir kita terta¬wa bersama mereka? Kapan terakhir mereka memeluk kita? Kapan terakhir kali kita berterima-kasih atas perbuatan baik mereka? Kapan terakhir kali mereka berterima kasih kepada kita? Kapan pula terakhir kali kita meminta maaf kepada mereka atas kesalahan-kesalahan kita? Su¬dah lama?

Mereka sekarang sudah remaja. Bukan anak-anak lagi. Kapan mereka mulai berubah? Masih ingat? Sempatkah menyiapkan mereka untuk memasuki masa perubahan agar mereka tidak guncang? Krisis identitas bukanlah takdir para remaja. Tetapi itu terjadi karena kita lupa menyiapkan orientasi hidup, visi sebagai Muslim, orientasi keluarga dan tidak terkecuali ori¬entasi studinya. Semua ini harusnya sudah selesai saat mereka memasuki kelas enam SD. Se¬lanjutnya mereka harus memiliki perasaan mampu (sense of competence) yang sangat kuat se¬bagai manusia dewasa. Usia 10 tahun adalah gerbang kedewasaan. Usia 11-14 tahun adalah tangga yang harus mereka lalui dengan penuh percaya diri serta arah yang jelas dan kuat. Mu¬dah-mudahan usia 16 tahun –selambat-lambatnya 21 tahun— mereka telah menjadi pribadi dewasa yang benar-benar matang.

Kematangan ilmu, percaya diri yang tinggi, tujuan hidup yang jelas dan kuat, serta keyakinan yang tak tergoyahkan di atas akidah yang lurus inilah yang kita jumpai pada ku¬run terbaik generasi Islam. Jika usia 16 tahun Imam Syafi’i telah memiliki kelayakan memberi fatwa, hari ini mereka yang berada di usia itu sedang genit-genitnya disebut anak baru gede (ABG).

Apa yang salah pada kita? Karena jarangnya kita berbincang dengan anak, kita kurang membangun tujuan hidup mereka. Karena lemahnya kedekatan kita dengan anak-anak, me¬reka menjadi pribadi yang rendah percaya dirinya. Mereka tak punya arah yang jelas disaat memasuki masa remaja. Karena kurangnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk mengambil tanggung-jawab, menghadapi tantangan dan menemui resiko, mereka tak kunjung matang sebagai pribadi.

Astaghfirullahal ‘adziim. Alangkah jauhnya kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Membaca kisah Nabi SAW, terlihat betapa dekatnya ia dengan anak cucunya. Ada kehangatan yang luar biasa. Dari kehangatan itulah kemudian lahir ketaatan, rasa hormat, serta kecintaan yang amat kuat pada diri putri-putri Rasulullah SAW hingga para cucunya yang dimuliakan Allah Ta’ala. Dari kehangatan dan kedekatan itu pula lahir pribadi-pribadi matang penuh percaya diri yang langkahnya memancarkan cahaya bagi dunia.

Islam mempersingkat masa kanak-kanak dan mempercepat tercapainya kedewasaan. Tetapi hari ini kita memperpanjang masa kanak-kanak itu sedemikian panjangnya.

Apa yang salah pada kita? Ataukah kita sudah sedemikian sibuknya sehingga lupa mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia dewasa pada waktu kelak? Ataukah kita yang sibuk dengan diri sendiri sehingga lupa tidak belajar mengenal anak-anak kita sendiri?

SUARA HIDAYATULLAH JANUARI 2008

http://majalah.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s