Lembutlah Jangan Kasar-Kasar


Suatu ketika pernah saya mengikuti sebuah pengajian di sebuah derah di belahan kota Jawa Timur, yang pematerinya mengajarkan tentang pentingnya tauhid. Entah karena apa, disela sela materi ada pembicaraan tentang kedatangan Bush ke Indonesia beberapa waktu lalu. Pada waktu itu beberapa ormas islam ada yang berdemo menentang kedatangan Bush. Ustadz ini lalu berkata: “Bahlul, itu yang mendemo kedatangan Bush”. Kaget juga saya mendengar perkataan ini. Sebenarnya bagi saya, bukan permasalahan perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya berdemo, tetapi pilihan katanya dalam mengomentari saudara muslim lainnya yang membuat saya kaget.

Lebaran kemarin, kami ngobrol dengan beberapa saudara yang lama tidak bersua. Seperti biasa ngobrol ngalor ngidul ini juga membahas kondisi politik di negara ini. Ketika membahas sebuah gerakan islam yang terjun ke partai politik, saudara ini berkata: “Mereka khawarij”.

Walah, ini vonis yang sangat berat. Apalagi tuduhan itu untuk sesama muslim. Khawarij adalah bentuk jamak dari kharij. Kata ini berarti orang yang menyempal dari kepatuhannya kepada pemimpin atau imam yang sah. Seorang Khawarij mendemonstrasikan ketidakpatuhannya, dan membentuk wilayah tersendiri yang eksklusif. Ulama fiqih menyebut kaum Khawarij dengan istilah al-baghy atau pemberontak. Bahkan Rasulullah menggelari mereka para khawarij bahwa “Mereka adalah anjing-anjing neraka”, “Mereka adalah orang-orang bodoh yang baru tumbuh” dan “Mereka berbicara dari ucapan manusia terbaik, akan tetapi mereka keluar dari Islam seperti tembusnya anak panah dari buruannya.”

Aneh terkadang. Hanya karena perbedaan kecil, kita tega menjuluki saudara kita dengan tuduhan-tuduhan keji, sangat tega sekali. Tidaklah mereka takut bila tuduhan-tuduhan yang dengan mudah mereka lontarkan akan kembali kepada mereka.

Sabda Rasulullah yang artinya: Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan. [HR Bukhari]

Dua hadits diatas menjelaskan kepada kita bahaya ucapan kafir. Tuduhan kafir yang ditujukan kepada seorang muslim, pasti akan tertuju kepada salah satunya, penuduh atau yang dituduh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Apabila ada seseorang yang mengkafirkan saudaranya (seiman-red) maka salah satu dari keduanya akan tertimpa kekufuran. [HR Muslim].

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “hai orang kafir,” maka kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh menjadi kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan menimpa orang yang menuduh. [HR Muslim].

Rasulullah SAW bersabda :
إذا قال الرجل لأخيه يا كافرفقد باء أحدهما
“Jika seseorang mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim) “hai kafir” maka salah satu diantara keduanya akan kufur.” (HR.Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang melaknat seorang mukmin, maka dia seperti membunuhnya dan barangsiapa yang menyatakan seorang mukmin dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya.” (HR Bukhari VII/84 dari Tsabit bin Dhihah).

Abu Dzar ra. juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah SAW : “Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (HR. Muslim no. 61)

فَلاَ تُزَكُّوا أنْفُسَكُم هُوَ أعْلَمُ بِمَن اثَّـقَى

“….janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.” (An-Najm : 32)

Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Itban bin Malik ra berkata:

وَعَنْ عِتْبَانَ ابْنِ مَالِكٍ (ر) فِي حَدِيْثِهِ الطَّوِيْلِ الْمَشْهُوْرِ الَّذِي تَقَدََّّمِ فِي بَابِ الرََََََََّجََاءِ قَالَ :

قَامَ النَّبِيّ .صَ. يُصَلِّّي فَقَالَ: اَيْنَ مَالِكُُ بْنُ الدُّخْشُمِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: ذَالِكَ مُنَافِقٌ, لاَ يُحِبُّ اللهَ وَلاَ رَسُولَهُ,

فَقَالَ النَّبِيُّ .صَ. : لاَتَقُلْ ذَالِكَ, أَلاَ تَرَاهُ قَدْ قَالَ: لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُ

يُرِيْدُ بِذَالِكَ وَجْهَ اللهِ وَاِنَّ اللهَ قدْ حَرَّمَ عَلَي النَّاِر مَنْ قَالَ :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَالِكَ وَجْهَ الله (رواه البخاري و مسلم)

“Ketika Nabi saw. berdiri sholat dan bertanya: Dimanakah Malik bin Adduch-syum? Lalu dijawab oleh seorang: Itu munafiq, tidak suka kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka Nabi saw. bersabda: Jangan berkata demikian, tidakkah kau tahu bahwa ia telah mengucapkan ‘Lailahailallah’ dengan ikhlas karena Allah. Dan Allah telah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas karena Allah”.

Jika panggilan itu keliru, artinya orang yang dipanggil kafir tidak benar kafir, maka kata kafir akan kembali kepada orang yang memanggil. Wal iyadzu billah. Jika benar, maka dia selamat dari resiko kekafiran atau kefasikaan, namun bukan berarti ia selamat dari dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. Maksudnya, orang yang memanggil saudaranya dengan kata kafir atau fasiq, meskipun benar, namun boleh jadi ia menanggung dosa. Misalkan jika maksud dan tujuannya untuk mencela, membongkar aib orang di masyarakat atau memperkenalkan orang ini. Perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Kita diperintahkan untuk menutupi aib ini kemudian membimbing dan mengajarinya dengan lemah lembut dan bijaksana. Sebagaimana firman Allah,

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Berserulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan dengan nasihat yang baik. [An
Nahl:125]

Tidaklah layak kita menasehati saudara muslim tapi dengan cara kasar dan menyakitkan hati seperti itu.

Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih” Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

Aku teringat tulisan ustadz Hawin Murtadho tentang dakwah dengan kelembutan. Saya cuplikan sebagian tulisannya:

Saudaraku! Dakwah harus disampaikan dengan sikap lembut, santun, simpatik dan bijaksana. Allah SWT. memuji sikap lembut Nabi Muhammad saw. kepada sahabat-sahabatnya. “Berkat nikmat dari Allah, kamu bersikap lembut kepada mereka. Andaikata engkau bertutur kasar dan berhati keras, tentulah mereka bercerai-berai dari sisimu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu.”

Jangan mencampuradukkan antara sikap di medan dakwah dengan sikap di medan jihad fi sabilillah. Jika sedang berjihad, sudah pada tempatnya jika seseorang mempertontonkan kekerasan dan keperwiraan, sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Wahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan munafik, serta bersikap keraslah terhadap mereka.”

Namun, ingatlah saudaraku, di medan dakwah engkau tidak sedang berperang! Di sini engkau perlu menunjukkan kasih sayang dan kelembutan kepada orang-orang yang engkau dakwahi. Ingatkah saudaraku, pesan Allah kepada Nabi Musa as. dan Nabi Harun as., dua da’i terbaik di muka bumi di masanya, ketika hendak mendakwahi Fir’aun, manusia paling kufur kala itu? Allah berfirman, “Pergilah engkau berdua menjumpai Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Katakan kepadanya perkataan yang lembut, mudah-mudahan ia mengambil pelajaran atau takut.’”

Jika kepada Fir’aun yang dengan sombongnya memplokamirkan, “Aku adalah Tuhanmu yang Mahatinggi” sang dai harus mengucapkan perkataan lembut, bagaimana pula kepada saudara muslim yang selalu mengulang ucapan, “Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi”?
Saudaraku! Metode dakwah sudah ada tuntunannya dari Allah. Ia tidak berubah, meski situasi berubah. Ia termuat dalam firman-Nya, “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”

Bijaksana artinya menyampaikan ucapan yang seharusnya, pada saat yang seharusnya, dengan carai yang seharusnya. Pilar-pilarnya adalah : ilmu, kesantunan, dan kesabaran.

Memang seharusnya kita menempatkan akhlaq diatas ilmu. Terkadang beberapa harokah lebih mengedepankan ilmu fiqh, aqidah, dan sibuk meneliti hadit tetapi melupakan dalam mempelajari akhlak. Pernah Abdurrahman bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.

Imam malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul, dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang lain.

Jika akhlak seseorang itu sedikit, maka masih jauh lebih baik dari ilmuwan namun menyimpan bara pelanggaran. Berapa banyak orang-orang yang berilmu luas, bertitel ustadz atau gelar akademik, namun tak dinyana ia terjerembab dalam kasus maksiat. Berapa banyak para cerdik padai, kaum intelektual, namun semakin jauh dari kebenaran (Allah).

Dari Jabir: Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah dan sombong.”

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.”

2 thoughts on “Lembutlah Jangan Kasar-Kasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s