SEPENGGAL KISAH NEGOSIASI DAKWAH


“Wahai putra saudaraku!” Al-Walid mengawali negosiasinya dengan mengingatkan Muhammad saw. tentang kedekatan hubungan kerabat di antara mereka. “Sesungguhnya, engkau berasal dari keluarga yang dihormati di tengah-tengah kami. Engkau pun memiliki garis nasab dari trah yang paling mulia di antara kami!”

Al-Walid lalu menyebutkan sepak terjang Muhammad saw. yang mengakibatkan keresahan di tengah masyarakat Quraisy. “Mengapa engkau memecah-belah kami? Mencela tuhan-tuhan kami? Menganggap bodoh para leluhur kami? Dan merendahkan obsesi-obsesi kami?”
Sebenarnya Nabi Muhammad saw. seorang yang sangat santun. Jauh dari melakukan caci maki. Namun, yang dilakukan beliau hanyalah menyampaikan dakwah tauhid bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Allah, bahwa seluruh tuhan yang biasa disembah masyarakat Quraisy selain Allah adalah tuhan yang batil, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat, serta mengajak beribadah kepada Allah secara murni dan benar, menjalankan syariat Allah, serta mengajak mereka kepada akhlak mulia.

“Jika engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpulkan harta dari masyarakat Quraisy untuk diberikan kepadamu, sehingga engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami akan menjadikanmu sebagai pemimpin kami sehingga kami tidak akan memutuskan perkara apa pun tanpa persetujuanmu. Jika engkau menginginkan kerajaan, kami akan mengangkatmu sebagai raja. Dan jika engkau kerasukan jin –perhatikan, betapa Nabi Muhammad saw. yang sangat santun, sangat bijaksana, dan sangat jujur, dianggap gila karena dakwahnya-, kami akan mencarikan tabib yang paling ahli untuk mengobatimu.”

Nabi adalah teladan dalam kesantunan, sekalipun kepada seorang yang hendak menghalangi gerak dakwahnya. Beliau hanya bertanya, “Apakah pembicaraanmu sudah selesai, wahai Abul Walid?”

“Ya!” jawab Al-Walid.

“Jika begitu, dengarkanlah ucapanku!” Beliau lantas membacakan firman Allah dalam surat Fushilat:

Haamiim. (1)
Al-Quran ini diturunkan dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. (2)
Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan berbahasa Arab untuk orang-orang yang mengetahui. (3)
Yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling darinya maka mereka tidak mendengarkan.(4)
Mereka berkata : ‘Hati kami sudah tertutup dari dakwah yang engkau serukan kepada kami, telinga kami tersumbat, dan ada dinding yang memisahkan antara kami dengan engkau, karena itu lakukanlah apa yang sesuai kehendakmu, sesungguhnya kami akan melakukan apa yang sesuai kehendak kami.’ (5)
Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku hanyalah seorang manusia sepertimu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka istiqomahlah kamu dalam beribadah kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.’(6)”… dst.

Hingga firman Allah:

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari, jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya beribadah kepada-Nya. (37)
Jika mereka menyombongkan diri, maka para malaikat yang di sisi Tuhanmu senantiasa bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.”(38)

Sejurus kemudian, Nabi saw. bertanya, “Apakah engkau sudah mendengar, wahai Abul Walid?”

“Ya!” jawab Al-Walid.

“Jika demikian, lakukan apa yang baik menurutmu!”

Ayat-ayat yang dibacakan itu benar-benar telah memberondong akal Al-Walid dengan argumen-argumen yang tajam, mengaduk-aduk perasaan Al-Walid. Menghancurkan semua kesombongannya. Meruntuhkan semua keyakinan batilnya. Tidak ada yang dirasakannya, selain menikmati dan mengakui kebenaran makna-makna yang terkandung di dalamnya. Ia pun kembali menemui kaumnya, di sekitar Ka’bah. Ketika para pemuka Quraisy melihat kedatangan Al-Walid dari kejauhan, mereka berkata, “Demi Allah, Al-Walid datang dengan wajah yang berbeda dari saat kepergiannya!”
“Apa yang terjadi padamu, wahai Abul Walid?” tanya mereka.
“Wahai kaum Quraisy! Aku baru saja mendengar sebuah bacaan dari Muhammad. Itu bukan syair. Juga bukan mantra-mantra sihir. Kalimat-kalimatnya indah dan segar. Sungguh, ucapannya itu akan menjadi berita besar. Maka, ikutilah nasihatku! Biarkan Muhammad melanjutkan dakwahnya. Jika orang-orang Arab mengalahkannya, kalian tidak perlu bersusah payah lagi. Tapi jika ia menang, maka kemuliaannya adalah kemuliaan kalian, kerajaannya adalah kerajaan kalian juga, kalian akan menjadi orang-orang yang paling berbahagia karenanya!”
Orang-orang musyrik pun berkomentar, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu!”
***
Demikianlah, sepenggal kisah tentang konsistensi, keteguhan, dan kejelasan visi seorang juru dakwah. Kita melihatnya dalam diri, Sang Kekasih Allah, Muhammad saw., figur teladan bagi para juru dakwah.
Kisah ini juga menggambarkan, betapa dahsyat kekuatan Al-Quran bagi orang-orang yang memahaminya. Mustahil jika ia dianggap sebagai syair gubahan Muhammad saw. yang saat itu dikenal sebagai seorang ummi yang tidak mengenal baca tulis. Tetapi, seluruh Al-Quran adalah firman-firman Allah yang Maha Bijaksana, yang ilmu-Nya meliputi segalanya, Yang Mahabenar, yang dari-Nya semua kebenaran berasal. Karena itu, orang-orang kafir sangat khawatir jika di antara mereka ada yang mendengar atau membaca Al-Quran, sehingga mereka selalu berpesan satu sama lain : “Jangan dengarkan Al-Quran ini, jadikanlah ia sebagai bahan senda gurau, mudah-mudahan kalian menjadi orang-orang yang menang.” Sebagaimana termuat dalam Surat Al-Fushilat, ayat : 26.

Ustadz Hawin Murtadho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s