Perang Media Sudah Ada Sejak Jaman Rasul


Akhir-akhir in, perkembangan informasi sangat cepat sekali. Apalagi dengan banyaknya media online, cetak, dan televisi membuat semua menjadi mudah diakses. Tapi sayangnya, media di negara kita masih sangat tergantung pada kekuatan politis. Jarang sekali yang independen. Sehingga kadang-kadang informasi yang kita tierima tidak utuh. Bahkan dalam kejadian tertentu, selain dimunculkan dengan tidak utuh kadang juga di tampilkan beberapa tambahan yang menurut mereka bisa menguntukan dari tujuan si pemilik media.

Kita lihat saja, bagaimana dua media berita televisi yang besar di negeri ini saling menjatuhkan. Bahkan dalam kasus sama terjadi penggiringan persepsi yang berbeda. Kasus Lapindo misalnya. Media satu sering memunculkan keburukan tentang Lapindo, tetapi satunya tidak bahkan kadang-kadang seolah-olah telah berbuat lebih terhadap rakyat sekitar Lapindo.

Tapi kadang media tersebut bersepakat dan bersekongkol dalam menggiring opini kepada hal-hal tertentu. Misalnya masalah Ahmadiyah, FPI, JAT, Liberalisme, KPK, DPR. Oleh sebab itu, perlu penyikapan terhadap hal-hal tersebut agar tidak jatuh dalam prasangka yang berlebihan.

Ketidakmampuan kita mencerna informasi dengan baik dikarenakan tidak pahamnya karakter harb i’lamiah (perang media), apalagi tentang muamarah siyasiah (konspirasi politik) yang lumrah dilakukan terhadap kekuatan ummat dan kekuatan Islam serta tidak bisa membedakan antara lughatul jaraid (bahasa koran) dengan bahasa ta’limat atau i’lanat dari struktur dapat membuat kita menjadi generasi yang ist’jal lalu patah semangat/futur bahkan insilakh/lepasnya seorang dari ikatan dakwah. Maka kita harus mempunyai tawaqqu’at (daya antisipatif) dan mana’ah (daya imunitas) yang memadai, serta tetap bersikap tenang dan tidak panik, demi terpeliharanya istiqrar jama’i (stabilitas kolektif) dan matanah tanzhimiyah (soliditas organisasi) yang merupakan prasayat intajiyatul ‘amal (produktifitas perjuangan). Juga bersikap tsiqoh dan tho’at serta husnudzon dengan sikap dan pilihan siyasi da’wah dan qiyadahnya yang sudah mempertimbangkan kemaslahatan da’wah, mensikapi untuk sementara belum mengetahui konsiderannya.


Karakter da’wah yang akan selalu berhadapan dengan tipu daya musuh. Perang informasi dan fitnah hanyalah satu dari sekian model perang yang dilancarkan para musuh da’wah. Menurut Ust. Musyaffa Ahmad Rahim, perang media adalah bagian dari shira’ bainal haq wal bathil (pertarungan, atau pergulatan antara hak dan batil).

Yang menarik adalah kenyataan bahwa terkadang ahlul bathil mempergunakan logika-logika ahlul haquntuk mempengaruhi massa mengambang agar mereka tidak memberikan dukungannya kepada ahlul haq dan tetap berada pada garis netral (golput) atau kalau perlu bisa menariknya ke dalam barisan ahlul bathil.

Terkait dengan hal ini ada beberapa contoh kasus yang pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diabadikan dalam Al-qur’an.

Di antara contoh-contoh itu adalah:

1. Perpindahan kiblat dari Al-Masjidil Aqsha ke Al-Masjidil Haram.
2. Penebangan pohon-pohon kurma milik Yahudi Bani An-Nadhir.

Kasus Pertama

Kasus ini diceritakan dalam (Q.S. Al-Baqarah: 142 – 150).

Singkat cerita, perpindahan kiblat dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha telah “dimanfaatkan” secara media oleh as-sufaha’ (orang-orang “bodoh”) untuk menyudutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentunya juga menyudutkan Islam.

Al-Qur’an Al-Karim menceritakan bahwa mereka (para sufaha’) akan mengatakan: “ma wallahum ‘an qiblatihimullati kanu ‘alaiha” (“Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”). (Q.S. Al-Baqarah: 142).

Kalimat ini bukanlah kalimat pertanyaan biasa, akan tetapi, pertanyaan untuk menanamkan keraguan dan dalam rangka menghapus ke-tsiqah-an (kepercayaan) umat terhadap kebenaran Islam dan risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama’ tafsir menyebutkan beberapa contoh kalimat isu yang dikemas “secara apik” oleh parasufaha’ itu dalam rangka menciptakan keraguan di tengah kaum muslimin dan agar kaum muslimin kehilangan ke-tsiqah-annya terhadap Islam. Di antaranya adalah:

1. “Wahai Muhammad, kenapa sih kamu berpaling dari kiblatmu yang dulu (Baitul Maqdis)?, padahal engkau mengklaim bahwa engkau mengikuti millah dan agama Ibrahim?!, kembalilah kepada kiblatmu yang dulu, niscaya kami akan mengikutimu dan membenarkanmu!”. (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al Bayan). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang Yahudi.

2. “Muhammad telah rindu kepada tanah kelahirannya, dan sebentar lagi ia akan kembali kepada agama kalian (agama orang-orang kafir Quraisy). (Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ fi Ahkamil Qur’an). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang Quraisy.

3. “Kenapa sih mereka itu, beberapa waktu yang lalu mereka menghadap kepada suatu kiblat, lalu mereka meninggalkannya dan berpindah ke kiblat lainnya?!” (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang munafik.

4. “Apa sih maunya Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesekali ia menghadapkan kita ke sini, dan sekali lagi menghadapkan kita ke sana?!”. (I
bnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang munafik.


5. “Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sudah bingung dan linglung dalam urusan agamanya??!”. (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang musyrik.

6. “Kenapa sih mereka (kaum muslimin) shalat menghadap ke sini (Baitul Maqdis) selama 16 bulan, kemudian mereka inhiraf (berpaling) darinya?! Agama apaan ini?!”. (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al Bayan). Kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan, orang-orang yang tidak berakal dan orang-orang munafik.

Dampak Pemberitaan Miring Perpindahan Kiblat Terhadap Kaum Muslimin

Bahasa media yang telah dikemas “secara apik” oleh para sufaha’ di atas, sedikit banyak telah memberi dampak negatif bagi umat Islam. Di antara dampak-dampaknya adalah:

1. Sebagian kaum muslimin menanyakan nasib orang-orang yang meninggal sebelum perpindahan kiblat, bagaimana “nasib” shalat mereka?. Mereka mengatakan: “Bagaimana keadaan mereka yang meninggal sebelum perpindahan kiblat?” (HR Bukhari). Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang wajar dan tidak berpretensi apa-apa selain keingin tahuan mereka. Akan tetapi, ia tetap bisa dikategorikan sebagai pertanyaan sebagai akibat dari permainan media.

2. Sebagian kaum muslimin lainnya mengatakan: “Berarti amal kita dan amal mereka (maksudnya saudara-saudara mereka yang telah wafat sebelum perpindahan kiblat) batal dan sia-sia”! (Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jami’ al Bayan). Dalam riwayat lain: “Kalau saja kami mengetahui (nasib) saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia, sementara mereka shalat menghadap Baitul Maqdis, adakah Allah subhanahu wa ta’ala menerima shalat kita dan shalat mereka”.

3. Dimungkinkan juga (wallahu a’lam) ada sebagian umat Islam yang murtad setelah adanya isu-isu seputar perpindahan kiblat ini. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala mengancam siapa saja yang murtad dalam hal ini dalam Firman-Nya (Q.S. Al-Baqarah: 143)

Kasus Kedua,

Penebangan pohon kurma, sudah banyak dikisahkan di kitab-kita. Sebagaimana kita tahu, bahwa pohon kurma merupakan benteng kekuatan yang diandalkan oleh kaum yahudi. Tatkala Rasulullah saw dan para sahabatnya menebang pohon2 kurma tersebut, muncul komentar-komentar bahwa Rasulullah saw telah melakukan ‘perusakan lingkungan’ , sehingga mereka (kaum yahudi itu) merasa mendapat celah dan angin untuk memprovokasi dan mengecam kaum muslimin.

Beberapa hal yang menarik dari kasus ini:

1. Allah subhanahu wa ta’ala menyebut semua orang-orang yang terlibat dalam penyebaran isu itu sebagai sufaha’. Lalu, siapakah sufaha’ itu? Para ulama’ tafsir menjelaskan (Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ fi Ahkamil Qur’an):

1. Secara bahasa sufaha’ adalah bentuk jama’ (plural) dari kata safiihun yang artinya adalah orang yang tipis, atau dangkal akalnya.

2. Al-Muarrij: “Safih adalah orang yang banyak membual, berbohong yang secara sengaja menyelisihi apa yang diketahui”.

3. Quthrub: “Safih adalah orang yang banyak berbuat aniaya nan bodoh banget”.

4. Faktualnya, mereka adalah:

i. Orang-orang Yahudi (ahlul kitab).

ii. Orang-orang munafiq (muslim secara lahiriah).

iii. Orang-orang kafir Makkah (kafir selain ahli kitab).

Ini menarik, karena, berbagai isu yang menggunakan logika ahlul haq untuk mendiskreditkan ahlul haq selalu melibatkan trio komunitas ini.

1. Imam Al-Qurthubi mengatakan: “Makna sayaquulu (akan mengatakan) adalah qaala (sudah mengatakan). Allah subhanahu wa ta’ala mempergunakan bentuk kalimat mustaqbal (masa depan, future) pada sesuatu yang madhi (sudah terjadi). Ini menunjukkan bahwa hal ini (pembuatan isu-isu semacam ini) akan selalu ada, dan mereka (trio komunitas itu) akan secara terus menerus melakukannya”.

2. Isu ini oleh Allah subhanahu wa ta’ala dikaitkan dengan posisi umat Islam yang wasathan(tengah-tengah, moderat). Ini menarik, karena, yang paling sering mendapatkan “serangan media” serupa adalah mereka-mereka yang komitmen dalam al-manhaj al-wasathi (mazhab moderat). Seharusnya, orang-orang yang komitmen dengan manhaj ini bisa menjadi jembatanperekat berbagai mazhab umat yang ada. Akan tetapi, masih sering terjadi, kelompok yang menggunakan manhaj ini malah menjadi “bulan-bulanan” dari mereka-mereka yang bermazhabtasyaddud (garis keras, atau ekstrim kanan) dan juga mereka-mereka yang bermazhabtasahhul (menggampangkan urusan agama, ekstrim kiri), bahkan sampai ke tingkat meninggalkan agama.

3. Orang-orang Yahudi membarterkan isu yang dibuatnya dengan “janji” mereka untuk mengikuti dan membenarkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada hal yang menarik di sini, yaitu saat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berkiblat ke Baitul Maqdis, mereka tidak mengikuti dan membenarkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu, seandainya, sekali lagi seandainya, nabi Muhammad memenuhi keinginan mereka, mungkinkah mereka akan komitmen dengan “janji”-nya?

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa penebangan pohon-pohon kurma ataupun membiarkannya tetap tumbuh adalah dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah-Nya. Juga: وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِيْنَ (dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik).

Artinya, di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuasaan kepada kaum mukminin untuk menebang dan membakar pohon-pohon tersebut agar menjadi hukuman dan kehinaan bagi mereka di dunia. Kemudian, dengan tindakan ini dapat diketahui betapa lengkapnya kelemahan mereka, di mana sama sekali tidak mampu menyelamatkan pohon-pohon kurma yang merupakan modal kekuatan mereka.

5. Al-Qur’an Al-Karim menjelaskan bahwa isu-isu semacam ini sungguh merupakan sesuatu yang sangat berat mereka rasakan. Istilah Al-Qur’an: wa in kanat lakabiirotun (sungguh, ini adalah sesuatu yang sangat besar, berat), sebagaimana telah kami gambarkan dalam point “dampak pemberitaan miring perpindahan kiblat terhadap kaum muslimin”.

Namun, bagi mereka yang mendapatkan hidayah Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini bukanlah sesuatu yang berat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: illa ‘alal-ladzina hadaLlah (kecuali bagi mereka yang telah mendapat hidayah Allah subhanahu wa ta’ala).

Hal ini menarik, karena, ternyata, di tengah-tengah perang isu melalui media yang sangat dahsyat ini, masih banyak orang-orang yang tidak sedikit pun terkena efek media ini, mereka tidak merasakan adanya sesuatu yang berat (besar) dalam dirinya. Dan kunci untuk bisa seperti ini adalah hidayah Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk itulah, kita harus selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon hidayah dari-Nya, akrab dengan Al-Qur’an yang merupakan kitab sumber hidayah dan selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengkaji sunnah dan sirahnya, sebab beliau adalah pembawa hidayah Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s