Belajar dari Almarhumah Syamsidar Yusni


Almh. Syamsidar Yusni : Mutiara Dakwah di Kutacane

“Mengarungi samudera kehidupan

Kita Ibarat para pengembara

Hidup ini adalah perjuangan

Tiada masa tuk berpangku tangan…”

Bait-bait lagu tersebut lamat-lamat terdengar dalam hati ketika tim Islamedia mewawancarai bapak Junanda, seorang ayah sekaligus seorang suami yang telah kehilangan istri dan kedua anaknya dalam musibah jatuhnya pesawat Cassa 212 di daerah Bahorok, Sumatera Utara pada tanggal 29 September 2011 yang lalu.

“Saya sangat kehilangan mereka semua..” ujar Pak Junanda lemas ketika diwawancarai oleh tim Islamedia melalui telepon. “Saat ini pun saya masih ziarah di makam mereka” tambahnya. Kesan ini seperti seorang kekasih yang begitu kehilangan kekekasih hatinya.

Pak Junanda, alumnus S1 Universitas Negeri Medan dan menyelesaikan S2 di USM Malaysia pada bulan agustus 2010 yang lalu, menikahi almarhumah Syamsidar Yusni pada tanggal 14 Agustus 2005, tidak pernah menyangka bahwa takdir musibah ini akan memisahkan beliau dengan istri dan anak-anaknya. Di usia pernikahan mereka yang baru saja berulang tahun ke 6, beliau sangat merasakan kasih sayang almarhumah kepada keluarga yang luar biasa.

Almarhumah yang alumni STAN pada program pendidikan diploma tahun 2001 – 2002, merupakan salah satu karunia Allah SWT yang diturunkan bagi keluarga Pak Junanda. Awalnya beliau tidak pernah mengenal almarhumah, namun kemudian salah satu ustadz mengenalkan beliau dengan almarhumah sekitar pertengahan 2005.

“Kami hanya memiliki waktu sebentar untuk saling mengenal sebelum akhirnya kami menikah” ujarnya mengenang masa indah itu. Masa itu memang sangat berkesan bagi pak Junanda. Dikenal sesama aktifis islam yang memiliki agenda dakwah yang padat, mereka mampu menuntaskan rencana pernikahan yang barokah itu dalam waktu singkat.

“Almarhumah memang sangat aktif dalam pembinaan islam” jelasnya. Almarhumah Syamsidar Yusni memang seorang aktifis dakwah di Kutacane. Memiliki segudang amanah tidak membuat almarhumah menelantarkan keluarganya. Sebagai PNS di Dinas Pajak sejak tahun 2003, tentu tidak mudah membagi waktu antara kerja, dakwah dan keluarga. Namun almarhumah begitu baik dalam mengatur waktu-waktunya.

Aktif juga sebagai inisiator PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) di Kutacane, almarhumah menjadi motor dalam masalah pendidikan anak dengan melakukan seminar-seminar PSPA di Kutacane. Selain itu, aktivitas dakwah di SALIMAH (Persaudaraan Muslimah) Aceh Tenggara juga menjadi bagian dakwah yang ditekuninya, hingga terakhir almarhumah menjabat sebagai ketua sejak bulan Februari 2011, yang sebelumnya aktif sebagai sekretaris. Selain itu juga aktifitas tarbiyah memenuhi agenda pekanan almarhumah Syamsidar Yusni, yang memegang pembinaan remaja putri dan pesantren di daerah Kutacane.

Memang tidak mudah ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai, begitu pula dengan Pak Junanda, yang merasa sangat terpukul karena kehilangan keluarganya. Termasuk juga anak-anaknya yaitu Hamimatul Jannah (5 tahun) dan Hanif Abdillah (3 tahun) yang masih lucu dan menggemaskan. Kesedihan pun menjadi duka yang sangat pilu.

“Mereka biasa naik pesawat itu” jelas Pak Junanda ketika ditanyakan mengapa naik pesawat ketika pulang dari Medan menuju Kutacane. “Ketika berangkat pun mereka menaiki pesawat itu” tambahnya.

Pak Junanda memang tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian. Semuanya bagian dari rahasia Allah, ucapnya tegar. Apalagi mereka selalu intens komunikasi melalui telepon genggamnya walau selama perjalanan Pak Junanda menuju Kutacane dari Medan melalui darat.

Sabtu tanggal 24 September 2011 Pak Junanda sekeluarga mendapat undangan Halal Bi Halal di kota Medan. Dengan jadwal pesawat yang hanya 2 kali seminggu itu, mereka memutuskan bahwa hari Kamis tanggal 29 September 2011 istri dan anak-anaknya diberangkatkan melalui pesawat agar tidak lelah, sementara Pak Junanda sudah berangkat pulang dari Medan menuju Kutacane pada hari Ahad malam tanggal 25 September 2011 sebelumnya melalui jalan darat yang dapat ditempuh 7-8 jam perjalanan.

Tidak ada firasat sedikitpun pada hari kamis itu. Mereka tetap saling memberi kabar, bahkan ketika istri dan anak-anaknya sudah berada dalam pesawat untuk segera Take-Off dari Medan. Namun tiba-tiba hari kamis itu menjadi hari yang sangat dikenang oleh Pak Junanda, setelah ia mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi oleh orang-orang yang disayanginya dinyatakan hilang.

Saat itu memang cuaca tidak bersahabat, bahkan di Kutacane beliau melihat mendung yang sangat gelap di langit kota. Dan setelah mendapatkan berita musibah itu, beliau bersama beberapa orang keluarga dari almarhumah segera berangkat menuju Bahorok. Menunggu kabar di Bahorok sambil terus menanyakan kepada pihak perusahaan pesawat Cassa 212. Sementara pihak maskapai hanya menjawab untuk minta bersabar sembari mereka masih terus melakukan pencarian dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Pemberitaan dari media elektronik, bahwa ditengarai masih ada korban yang hidup dikarenakan badan pesawat masih utuh juga didengarnya, namun tak jelas, orang begitu panik mencari keluarganya masing-masing.

Hingga kemudian kepastian berita ia terima, istri dan anak-anaknya meninggal dalam kecelakaan pesawat tersebut.

Sedih, duka, rindu bercampur dan berkecamuk dalam dada. Menyadari bahwa ini semua sudah dalam takdirNya, tertulis rapi dalam kitab di Lauh Mahfudz. “Sebenarnya ingin rasanya segera menyusul mereka, berkumpul kembali,… tapi saya pasrah ini adalah takdirNya” ucapnya tegar dengan mata yang sembab karena sedih.

Almarhumah memang tokoh aktifis islam yang dikenal oleh banyak orang. Kesedihan pun menggelayuti kader-kader di Sumatera Utara. SMS jalur komunikasi juga disebar untuk memohon doa dari para kader. Tak pelak Bapak Gatot Pudjo Nugroho selaku PLT Gubernur Sumatera Utara pun ikut men-sholat-i almarhumah di RS. Haji Adam Malik, Medan, ditemani oleh ustadz Kasibun Daulay selaku pengurus Daerah Dakwah III. Tumpah ruah kader ikut men-sholat-i almarhumah dan anak-anaknya.

Sesampainya di Kutacane, jenazah juga masih di-sholat-kan bersama jajaran Pemda Kutacane, termasuk didalamnya Bupati Kutacane, pun juga ketika jenazah mau dikebumikan, almarhumah masih di-sholat-kan oleh para tetangga sekitarnya. Subhannallah..

“Beliau sangat baik pada keluarga saya” ucapnya mulai sesenggukan. “Bahkan di ramadhan terakhir kemarin saya betul-betul didukung untuk melakukan aktifitas jaulah bersama ust. Muhammad Roem” kenangnya sedih. “Bang, pergilah itikaf, biar adik yang menjaga anak-anak” ujarnya menirukan perkataaan almarhumah istrinya.

Dan selama masa 6 tahun bersama almarhumah, menjadi masa yang indah bagi Pak Junanda. Almarhumah begitu baik serta sabar dalam melayani keluarga. “Junanda, koq bisa ya ada istri yang kayak gitu, seperti mutiara” ucap orangtua Junanda mengagumi akhlak almarhumah. “Dia memang sangat ringan tangan…gemar infaq dan memberikan hadiah kepada saudara-saudaranya serta rekan-rekannya” ucapnya sedih.

Terakhir, beliau meminta doa kepada seluruh ikhwah fillah pembaca Islamedia, agar beliau diberikan kesabaran, dan kepergiaan istri dan anak-anaknya menjadi syahid seperti yang dicita-citakan mereka semua..aminnn

“Selamat jalan saudariku, selamat jalan pejuang dakwah, engkaulah Mutiara Dakwah di Kutacane, semoga Allah mempertemukan kita kelak di JannahNya amin..”

“…Allah g
hayatuna

Arrosul Qudwatuna

Al Quran dusturuna

Al Jihad sabiluna

Al Mautu fii sabilillah asma ama nina”

[YAM/ismed]

diambil dari islamedia.web.id dng judul asli

Wawancara Bersama Junanda Suami Dari Almh. Syamsidar Yusni

http://www.islamedia.web.id/2011/10/wawancara-bersama-junanda-suami-dari.html

2 thoughts on “Belajar dari Almarhumah Syamsidar Yusni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s