Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu


Oleh M. Lili Nur Aulia

(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)

“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh. “Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis dengan lirik yang indah atau semangat. Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul dari hati orang yang kuat meyakini apa yang dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam karya monumental Fii Zilaalil Qur’an

Saudaraku,

menjadi penerjemah apa yang dikatakan, menjadi bukti nyata apa yang diucapkan. Betapa sulitnya. Tapi ini bukan sekadar anjuran. Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi. Lebih dari itu semua, merupakan perintah Allah SWT.

Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,

“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri dan kalian membaca Al Kitab. Apakah kalian tidak berakal?”

Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu, akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri kita. Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan mempraktikkan ilmu yang sedikit itu. Kita dahulu, yang barangkali belum banyak membaca dan mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW, tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak amal shalih yang dikerjakan.

Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat, diskusi, arahan para guru dalam menhjalankan agama, tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan apa yang kita ketahui itu. Meskipun sedikit.

Saudaraku,

banyak yang hilang dari diri kita.. Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah. Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman. Sahabat lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…

Saudaraku,

Berhentilah sejenak disini. Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif. Akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar, teterjemah dalam gerak di alam realitas.

Saudaraku,

Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita selama ini. Imam Ghazali mengatakan, “Jalan untuk membersihkan jiwa adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari jiwa yang bersih dan sempurna.”

Saudaraku,

Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..

—————————————————————————————————————————————-

awal sedikit sedikit

lama lama mengapa jadi menipis

akhirnya malah habis

Dahulu tiga juz

tereduksi menjadi

dua juz, satu juz, setengah juz

akhirnya hanya ingat jus..

jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..

Dahulu shaum Daud..

mengendur menjadi shaum senin kamis..

lalu mulai lupa ayyamul bidh..

tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..

Dahulu tahajud full version..

lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..

tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga

lalu kuliah

lalu praktikum

lalu capek

lalu

lalu

akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”

Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh

perlahan naik hingga ke siku..

lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata pamungkas “yang penting masih syar’i”

perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?

Dahulu rok menjadi pakaian wajib

singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh

perlahan berubah model agar lebih gaya

kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas kemana-mana??

Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjaga hafalan

ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki

lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu

akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu

Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia

lalu mulai tergoda untuk cinta bola

buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama

dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa

Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender

lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi

bergulir menjadi hubungan antara dua hati

pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji

keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,

dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya

mendapatkan informasi ini itu

berita disana sini

membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar

“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”

Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas pada diri sendiri

tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..

Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’ di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah

karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu tingkat di bawahnya.

4 thoughts on “Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu

  1. Pingback: Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu | anahftmh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s