Selalu Membahagiakan Isteri



Trit sebelumnya :
Suami Ideal 1: Disayangi Isteri, Bukan Ditakuti


Suami Ideal 2 : Menundukkan Ego untuk Keharmonisan Keluarga

Selalu Membahagiakan Isteri

Oleh : Cahyadi Takariawan

Pada tulisan terdahulu tentang karakter suami ideal, saya telah menyampaikan karakter yang pertama (http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/28/suami-ideal-disayangi-isteri-bukan-ditakuti/) dan karakter kedua (http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/29/suami-ideal-menundukkan-ego-untuk-keharmonisan-keluarga/). Pada tulisan ini saya ingin menambahkan karakter suami ideal berikutnya.

Ketiga, suami ideal mampu membahagiakan isteri, dan merasa senang jika bisa membahagiakan isterinya. Mengapa para suami harus selalu berusaha membahagiakan isteri ? Karena apabila anda mampu membahagiakan isteri, maka isteri akan sangat senang memberikan bantuan yang anda minta. Ia bersedia memberikan apapun demi anda.

“Menundukkan” dengan Membahagiakan

Kadang para suami khawatir dirinya akan dikalahkan oleh isteri, sehingga ia berperilaku otoriter agar isterinya tunduk dan takluk kepadanya. Tentu saja ini akan berhasil membuat isterinya takut, namun tidak menjadikan rasa bahagia. Paradigma itu sangat tidak tepat. Pertama, berpotensi menyakiti hati isteri. Kedua, ada cara “menundukkan” yang lebih efektif, yaitu dengan jalan membahagiakan.

Jika kita mampu membahagiakan isteri, maka akan sangat banyak yang bisa kita dapatkan darinya. Isteri merasa nyaman dan tenang, sehingga kita sebagai suami akan lebih optimal dalam menunaikan berbagai macam kegiatan dalam kehidupan. Isteri akan mendukung berbagai keinginan positif suami, selama ia merasa bahagia. Namun jika isteri merasa tidak bahagia, bahkan memiliki banyak kecurigaan dan kekhawatiran terhadap suami, berbagai aktivitas suami bisa terganggu.

Pernahkah anda merasa tidak nyaman saat bekerja di kantor gara-gara tengah ada konflik dengan isteri ? Beberapa hari anda terlibat pertengkaran dengan isteri, komunikasi tidak nyaman, yang muncul adalah sikap uring-uringan. Dalam situasi seperti itu, bekerja pun tidak nyaman. Di kantor kurang konsentrasi, karena terganggu oleh persoalan dengan isteri yang belum selesai. Kualitas kerja anda bahkan bisa menurun.

Maka bahagiakan selalu isteri anda, maka ia akan selalu memberikan dukungan positif kepada anda. Ia akan memberikan apapun yang anda perlukan, karena merasa tenang dan bahagia di sisi anda.

Bukan Semata Memenuhi Kebutuhan Materi

Kesalahan yang sering dimiliki para suami adalah, merasa telah membahagiakan isteri hanya dengan memberikan kebutuhan materi yang berlimpah. Membuatkan rumah mewah, membelikan mobil mewah, perlengkapan rumah tangga serba mewah, membelikan handphone yang berharga mahal, membelikan pakaian serba mahal, dan seterusnya. Dengan cara itu suami merasa sudah membahagiakan isteri, padahal itu semua baru kebutuhan material.

Dengan pemahaman yang salah seperti itu, banyak kalangan suami yang merasa gagal membahagiakan isteri hanya karena tidak mampu memberikan dan menghadirkan kemewahan. Rumah yang amat sangat sederhana, tidak punya mobil, hanya memiliki motor butut, perlengkapan rumah tangga yang sangat terbatas dan ala kadarnya, dianggap tidak bisa membahagiakan isteri.

Jadi teringat lagu jadul yang dinyanyikan Godbless, “Rumah Kita”. Yuk nyanyi dulu :

hanya bilik bambu tempat tinggal kita / tanpa hiasan tanpa lukisan / beratap jerami beralaskan tanah / namun semua ini punya kita / memang semua ini milik kita sendiri

hanya alang-alang pagar rumah kita / tanpa anyelir tanpa melati / hanya bunga batu tumbuh di halaman / namun semua itu punya kita / memang semua itu milik kita

haruskah kita beranjak ke kota / yang penuh dengan tanya

lebih baik di sini rumah kita sendiri / segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa / semuanya ada di sini / rumah kita

Benarkah bahagia itu terletak pada kemewahan materi yang bisa diberikan suami kepada isteri ? Semua isteri senang diberikan kemewahan oleh suami, namun bukan berarti faktor itu yang menentukan kebahagiaan hatinya. Syair lagu di atas mengingatkan kita bahwa seperti apapun, rumah kita sendiri lebih memberikan kebahagiaan dibandingkan mengharapkan sesuatu yang lebih mewah di kota, namun belum pasti.

Bilik bambu, alas tanah, atap jerami, berpagar alang-alang, tanpa anyelir, tanpa melati, dan hanya bunga batu sebagai penghias rumah. Gambaran tentang kesederhanaan kehidupan, namun karena mampu menikmati dengan jiwa, mampu bersyukur dengan apa yang ada, maka mampu memberikan kebahagiaan bagi penghuninya. Artinya, benda-benda itu selalu terikat oleh hukum materi, bahwa materi tidak akan pernah bisa memuaskan.

Menyentuh Perasaan dan Hati Isteri

Yang perlu diketahui para suami, membahagiakan isteri itu bukanlah bab bagaimana memberikan semua yang diinginkan isteri, namun bab bagaimana menyentuh perasaan dan hatinya. Inilah hakikat yang lebih utama dan penting. Para suami sangat penting mengetahui jalan untuk menyentuh hati dan perasaan isteri, sehingga lebih bisa menyelami hal-hal apakah yang membahagiakan jiwanya, apakah yang menenteramkan hatinya, apakah yang sangat diharapkannya.

Seorang isteri berkonsultasi ke Jogja Family Center (JFC), menyampaikan betapa ia sangat marah dan akhirnya mendiamkan suaminya selama tiga hari berturutan. Apakah yang terjadi ? Apakah sang suami telah menyakiti hati isteri dengan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ? Tidak. Sungguh suaminya sangat baik. Tapi mengapa tetap membuat kemarahan isteri ?

Kisahnya, suatu hari suami pulang ke rumah dengan membawa kejutan, hadiah ulang tahun untuk sang isteri. Tidak tanggung-tanggung, hadiahnya adalah sebuah motor baru ! Untuk ukuran tingkat eknomi mereka, hadiah ini tentu sangat istimewa. Sang suami berharap, motor itu akan sangat menyenangkan isterinya, karena ia ingat suatu saat sang isteri pernah menyampaikan bahwa ia sangat ingin punya motor sendiri. Selama ini hanya ada satu motor di rumah, sehingga harus bergantian memakainya.

Bukannya ucapan terima kasih dan peluk cium mesra dari isteri atas hadiah istimewa di hari ulang tahun tersebut, namun justru kemarahan yang terlontarkan dan berujung didiamkan sang isteri hingga tiga hari. Tapi, mengapa sang isteri sedemikian marah atas hadiah ini ? “Mengapa anda marah? Bukankah hadiah itu sangat istimewa bagi anda ?” tan
ya seorang rekan di Jogja Family Center.

“Ya jelas saya marah. Mengapa saya dibelikan motor baru, padahal saya kan pengin mesin cuci. Apa dia tidak tahu kalau setiap pagi saya mencuci baju kotor yang bertumpuk ? Saya mencuci dengan tangan karena tidak memiliki mesin cuci. Capek tangan saya mencuci setiap pagi. Dia sih enak, tinggal memakai baju bersih dan rapi saja. Saya kan harus mencuci, menjemur, menyeterika, dan menyimpannya di almari”, jawab sang isteri masih dengan nada marah.

Ini rupanya penyebab kemarahannya. Ia sangat ingin segera memiliki mesin cuci, karena tangannya tidak kuat lagi setiap pagi harus mencuci baju sendiri. Tidak memiliki pembantu rumah tangga, tidak punya mesin cuci, tidak memiliki anggaran untuk membawa baju kotor ke tempat laundry. Ia membayangkan alangkah senangnya jika segera bisa membeli mesin cuci, sehingga bisa meringankan bebannya.

Tidak disangka, ternyata suami pulang memberikan hadiah sepeda motor baru, dengan kredit lagi. Berarti penghasilan suami tiap bulan harus dikurangi untuk membayar cicilan motor selama lima tahun, yang menyebabkan dalam waktu tersebut baru bisa membeli mesin cuci. Mana tahan, mencuci terus setiap pagi dengan tangan selama lima tahun ?

Ketika suaminya bertanya, “Bukankah engkau dulu pernah bilang kalau pengin punya motor sendiri ? Kenapa marah sekarang aku beri hadiah motor baru ?” Jawab sang isteri, “Itu kan dulu. Sekarang kita punya prioritas yang lain. Mesin cuci lebih penting untukku sekarang dibandingkan motor. Tidak masalah motor hanya satu, masih bisa gantian, tapi aku capek mencuci setiap pagi dengan tangan”.

Nah, terbukti kan, bahwa materi tidak selalu membahagiakan ? Bahkan materi bisa menjadi sumber pertengkaran dan konflik suami dan isteri, sebagaimana dalam kisah di atas. Sang suami telah berhenti mengetahui hati dan perasaan isterinya sejak tiga tahun yang lalu.
Dikira, kondisi isterinya hari ini masih sama dengan kondisi tiga tahun yang lalu, saat sang isteri menyatakan sangat ingin memiliki motor sendiri. Rupa-rupanya dalam tiga tahun ini ada sangat banyak perubahan yang tidak dikenal oleh sang suami.

Maka ingatlah, bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan harta benda dan berlimpahnya materi. Anda bisa membeli rumah yang harganya puluhan milyar rupiah, membelikan apartemen di Singapura dan Amerika, membelikan mobil berkelas bintang Hollywood, membelikan helikopter dan pesawat pribadi, atau apapun bentuk-bentuk kemewahan yang bisa dibeli dengan uang. Namun, anda hanya belanja barang mewah, anda hanya membeli peralatan mahal, bukan membeli kebahagiaan.

Bukankah kita hanya bisa membeli rumah mewah, dan bukan membeli ketenangan ? Kita hanya bisa membeli tempat tidur mewah berlapis emas, bukan membeli tidur dan istirahat. Kita hanya bisa membeli obat dan biaya rumah sakit, bukan membeli kesehatan. Kita hanya bisa membeli harga kuliah di kampus bergengsi, namun bukan membeli kesuksesan.

Memang, materi merupakan salah satu faktor yang mencetak kebahagiaan, sebagaimana ungkapan seorang bijak “Kebahagiaan adalah perpaduan yang rumit antara kesejukan spiritual dengan kesejahteraan material”. Artinya, ada takaran yang pas bagi materi untuk turut menyumbang rasa bahagia, karena orang yang kelaparan dan tidur di jalanan pun memiliki rasa bahagia dengan cara dan keadaannya.

Sentuhan Spiritual

Yang sering terlupakan oleh para suami adalah sentuhan spiritual dalam mengabadikan kebahagiaan dalam rumah tangga. Suami harus membimbing kehidupan spiritual dalam keluarga, karena sisi inilah yang akan membuat pondasi rasa bahagia. Kesejukan spiritual menuntun semua orang menuju perasaan bersyukur atas segala karunia Tuhan.
Kehidupan spiritual akan membuat semua orang memiliki pandangan yang luas tentang segala sesuatu, bukan mengukur hanya dengan kacamata material.

Ini adalah bab sentuhan hati, sentuhan rasa, sentuhan jiwa. Bukan sentuhan materi atau ragawi. Dengan kehidupan spiritual yang baik, maka seperti apapun rumah kita akan menjadi lebih bermakna. Uang satu juta rupiah yang penuh berkah dan diberikan kepada isteri dengan penuh kasih sayang, akan lebih membahagiakan daripada uang sepuluh juta rupiah yang diberikan dengan penuh dendam dan kemarahan.
Spiritualitas mengalir dalam bentuk tutur kata, raut muka, sikap, tindakan, perilaku, respon, yang menyejukkan, menenteramkan dan akhirnya membahagiakan.

Penelitian yang dilakukan oleh tim University of Illinois bersama Gallup Organization dan diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology, Agustus 2011 membuktikan bahwa saat menghadapi konflik atau situasi sulit, orang yang religius lebih bisa bertahan dan tetap merasakan kebahagiaan dibanding mereka yang tidak religius. ini menunjukkan bahwa kehidupan spiritual sangat penting maknanya dalam menciptakan kebahagiaan.

Peneliti melakukan analisa data yang dikumpulkan dari tahun 2005 hingga 2009 terhadap orang di 150 negara yang berbicara tentang agama, kepuasan hidup, dan dukungan sosial. Peneliti menemukan bahwa agama memberi dukungan emosional ketika kebutuhan mendasar seperti makanan, pekerjaan, rasa aman, dan pendidikan tidak terpenuhi. Selain itu, orang yang religius cenderung merasa lebih terhormat dan lebih sedikit memiliki perasaan negatif dibanding mereka yang tidak religius.

Sebuah survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipublikasikan tahun 2010 kemarin menunjukkan bahwa 84,7 % penduduk Indonesia menyatakan diri mereka bahagia. Sementara, 12,2 % menyatakan diri mereka kurang dan tidak bahagia. Survei yang dilakukan terhadap 1.000 orang responden ini memberikan petunjuk adanya beberapa faktor penting yang menyebabkan seseorang menyatakan dirinya bahagia. Faktor tersebut adalah kualitas kesehatan, keamanan, uang, dan ketaatan beribadah.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa tanpa uang pun orang bisa bahagia. Sebanyak 75,4 % responden mengatakan, mungkin saja orang bisa bahagia tanpa uang. Mayoritas publik atau 65,8 % mengatakan lebih memilih hidup bahagia meski tidak memiliki cukup uang. Tingkat ketaatan beribadah juga sangat mempengaruhi kebahagiaan. Terlihat 86,2 % orang yang taat beribadah merasa bahagia.

Sudah cukup jelas, bahwa yang sangat penting adalah memiliki keseimbangan dalam hidup. Jangan merasa telah membahagiakan isteri hanya karena mampu “mengurungnya” dalam istana emas. Yang lebih penting adalah, sentuhlah hati dan perasaan isteri. Ia akan merasa bahagia dan berbunga-bunga jika anda mampu masuk ke dalam relung hati dan perasaannya. Ia merasa tersanjung dan sangat bahagia berada di dekat anda.

http://wonderful-family.web.id/?p=667

One thought on “Selalu Membahagiakan Isteri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s