Fokus Melihat Sisi Kebaikan Isteri


Trit sebelumnya :
Suami Ideal 1: Disayangi Isteri, Bukan Ditakuti

Suami Ideal 2 : Menundukkan Ego untuk Keharmonisan Keluarga



Suami Ideal 3 :Selalu Membahagiakan Isteri

Fokus Melihat Sisi Kebaikan Isteri

Oleh : Cahyadi Takariawan

Tidak mudah menjadi ideal, bahkan mungkin kita tidak akan pernah bisa ideal. Namun tanpa mengenal karakter suami ideal, kita hanya akan menjadi suami yang melakoni rutinitas kehidupan. Dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya, monoton, rutin, dan mekanistik. Mengetahui karakter suami ideal adalah peta arah yang menuntun kita menapaki langkah mencapai kondisi yang lebih baik.

Pada tulisan terdahulu tentang karakter suami ideal, saya telah menyampaikan karakter yang pertama (http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/28/suami-ideal-disayangi-isteri-bukan-ditakuti/), karakter kedua (http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/29/suami-ideal-menundukkan-ego-untuk-keharmonisan-keluarga/), dan karakter ketiga (http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/30/suami-ideal-3-selalu-membahagiakan-isteri/). Pada tulisan ini saya ingin menambahkan karakter suami ideal berikutnya.

Keempat, suami ideal selalu fokus melihat sisi kebaikan dan kelebihan isteri, serta cepat melupakan kekurangan isteri. Sesungguhnyalah setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna, dimana hanya memiliki kelebihan saja dan tidak memiliki kekurangan. Sebagaimana juga tidak ada manusia yang hanya memiliki kelemahan dan kekurangan saja, tanpa memiliki kebaikan dan kelebihan apapun.

Semenjak awal pernikahan, seharusnya sudah ada kesadaran yang tertanam dalam diri suami dan isteri, bahwa pasangan hidupnya bukanlah malaikat, bukanlah manusia super yang terbebas dari kelemahan. Para suami hendaknya menyadari, isteri yang dinikahi itu hanyalah perempuan biasa saja, yang memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Untuk itulah Tuhan mengutus anda untuk melengkapi kekurangannya, untuk memperbaiki sisi kelemahannya.

Demikian pula para isteri hendaklah menyadari, bahwa suaminya hanyalah laki-laki biasa, yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itulah Tuhan mengutus anda untuk mendampinginya, agar semakin sempurna kebaikannya dan semakin berkurang kelemahannya. Laki-laki dan perempuan telah Tuhan ciptakan dalam format berpasangan, bukan berlawanan, oleh karena itu mereka akan saling melengkapi satu dengan yang lainnya sebagai pasangan.

Sebelum melaksanakan pernikahan, setiap laki-laki dan perempuan pasti memiliki gambaran yang ideal mengenai sosok pasangan hidup yang diinginkan. Namun begitu mulai menapaki kehidupan dalam rumah tangga, berbagai gambaran ideal itu tidak mesti didapatkan keseluruhannya. Ini karena tidak ada manusia yang sempurna, semua memiliki kelemahan dan kekurangan.

Ketika menemukan berbagai kondisi yang tidak sesuai idealitas pada pasangan hidupnya, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, selalu berusaha untuk mencapai kondisi ideal itu semaksimal yang bisa dilakukan bersama pasangan. Kedua, mampu menerima adanya sisi kekurangan pasangan, karena menyadari keterbatasan pada setiap manusia yang sudah berusaha untuk menjadi lebih baik mendekati ideal. Tetap saja ada jarak antara kondisi riil diri kita dan pasangan kita, dengan idealitas yang diharapkan.

Cara Memandang dan Cara Menikmati

Apabila kita memiliki botol dengan volume satu liter, yang berisi air mineral setengah bagiannya, apa komentar kita untuk menggambarkan kondisi itu ? Pertama, kita bisa mengatakan “Syukur alhamdulillah, saya masih memiliki setengah botol air mineral. Saya masih bisa menikmatinya untuk menghilangkan haus”. Kedua, kita bisa mengatakan, “Ya ampun, air mineralku sudah habis, tinggal setengah lagi. Celaka, aku nanti pasti akan kehausan”.

Apa yang membedakan antara komentar pertama dan kedua di atas ? Perbedaannya adalah dalam cara memandang realitas setengah botol air mineral tersebut, dan cara menikmatinya. Komentar pertama memandang dari segi “setengah botol yang berisi air mineral”, sehingga ia mampu bersyukur karena masih memiliki air untuk diminum. Komentar kedua memandang dari segi “setengah bagian botol yang kosong”, sehingga merasa sudah tinggal sedikit lagi air mineral yang dimilikinya untuk menghilangkan haus.

Realitas yang dimiliki sama, yaitu volume air mineral tersebut adalah setengah liter, berada dalam botol yang volumenya satu liter. Namun cara memandangnya berbeda, apakah memandang setengah liter yang berisi air mineral, atau memandang setengah liter lagi bagian botol yang kosong. Karena cara pandang yang berbeda, maka berdampak cara menikmatinya pun berbeda.

Komentar pertama bercorak positif dan optimistik, sehingga akan mampu menikmati dengan sepenuh kesyukuran. Sedangkan komentar kedua bercorak negatif dan pesimistik, sehingga tidak mampu menikmati dengan kesyukuran, bahkan cenderung banyak mengeluh dan menyesali kondisi. Karena realitas yang dihadapi sama, maka akan lebih nyaman bagi kita untuk memilih cara pandang yang positif dan optimistik, agar lebih bisa menikmati dengan sepenuh kesyukuran dan kelapangan hati.

Demikian pula dalam memandang serta menikmati relasi suami isteri. Misalnya seorang suami membuat daftar harapan untuk isteri, dan ia menemukan seratus poin harapan ideal untuk isteri. Setelah dicermati, ternyata isterinya memiliki enampuluh poin harapan dari seratus poin yang diinginkan, alias 60 %. Sekarang, apa komentar suami atas realitas 60 % tersebut ? Hal ini tergantung dari cara memandang dan cara menikmatinya.

Apabila suami memandang dari sisi “enampuluh poin yang berhasil dicapai isteri”, maka ia akan selalu bersyukur dan berbahagia. Alhamdulillah, aku memiliki isteri yang memiliki banyak kebaikan. Namun apabila suami memandang dari sisi “empatpuluh poin yang tidak dimiliki isteri”, maka ia akan menjadi orang yang selalu mengeluh dan meratapi nasib memiliki isteri yang memiliki empatpuluh kekurangan. Hanya 40 % nilai isteriku, be
gitu setiap hari ia meratapi diri.

Para suami tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencari-cari dan membesar-besarkan kekurangan, kelemahan serta kesalahan isteri. Karena cara itu hanya akan membuat suasana tidak nyaman dalam kehidupan rumah tangga, serta tidak akan ada ujungnya. Andai dari seratus poin harapan ideal itu isteri memiliki sembilan puluh sembilan poin, suami akan tetap menyesal dan tidak puas apabila ia fokus melihat satu poin yang tidak dimiliki isteri tersebut.

Inilah rupanya cara bersyukur : lihatlah selalu sisi kebaikan isteri. Jika suami selalu fokus melihat sisi kebaikan isteri, ia akan selalu bersyukur kepada Tuhan telah dianugerahi isteri yang memiliki sangat banyak kebaikan dan kelebihan. Dengan demikian ia akan menikmati kehidupan keluarga dengan dipenuhi rasa syukur, bukan rasa menyesal dan ratapan. Bukankah selama ini banyak sisi kebaikan dimiliki isteri ? Sudah sepantasnya ia selalu bersyukur, walau ada kekurangan yang dimiliki sang isteri. Bukankah dirinya juga memiliki banyak kekurangan.

Sayangnya, selama ini banyak suami yang lebih suka menyimpan daftar kekurangan dan kelemahan isteri. Ia selalu mengingat-ingat sisi negatif isteri yang sangat tidak disukainya. Seakan-akan sang isteri tidak memiliki kelebihan apapun. “Ada dua kelebihanmu, dan hanya dua itu saja, yaitu kelebihan berat badan dan kelebihan omongan”, kata seorang suami mengomentari isterinya yang gendut dan cerewet.

Karena yang ada dalam pikiran dan pelupuk matanya adalah sisi kekurangan isteri, maka ia tidak pernah bersyukur. Selalu mengeluh tentang kondisi isteri, selalu tidak nyaman dengan perilaku dan sikap sang isteri. Walau sang isteri memiliki banyak kelebihan dan melakukan banyak kebaikan, namun seakan semua itu tertutup oleh sedikit kelemahan dan kekurangan sang isteri.

Apa yang Menutupi Pandangan Kita ?

Kita semua ingat kisah bagaimana selembar daun kecil bisa menutupi dunia. Tentu tidak sebanding antara selembar daun yang kecil dengan dunia yang sangat luas. Lalu bagaimana selembar daun bisa menutupi dunia ? Karena selembar daun itu menutupi mata kita, sehingga kita tidak bisa melihat dunia dengan segala isinya. Mata kita tertutup oleh daun, apalagi yang bisa dilihat kecuali selembar daun itu. Mungkin itu maksud ungkapan “dunia tidak selebar daun kelor”.

Jadi apa yang menutupi mata kita ? Jika mata kita ditutupi oleh sisi kekurangan isteri, maka sudah pasti berbagai macam kebaikannya tidak akan mampu kita lihat lagi. Bahkan sama sekali tidak tampak. Namun jika yang menempel di pelupuk mata kita adalah sisi positif isteri, maka berbagai kekurangannya menjadi tidak tampak. Betapa bahagia hati para suami jika memiliki isteri yang –di matanya—tampak memiliki sangat banyak kelebihan dan kebaikan.

Kebaikan vs Kewajiban

Dalam beberapa kali pelatihan keluarga, kepada para peserta kami minta untuk menuliskan sisi-sisi kebaikan pasangan, sebanyak-banyaknya, dalam hitungan waktu yang kami tentukan. Waktu terus berjalan, namun para peserta sudah tidak bisa menulis apa-apa lagi. Tangan memegang bulpen, diam saja tidak bisa menulis di atas kertas putih yang kelihatan masih banyak ruang kosong. Mata menerawang, mencoba mengingat kebaikan pasangan. Namun tetap diam, tak mampu menambah tulisan daftar kebaikan pasangan lagi. Menyerah.

Kertas-kertas dikumpulkan. Ada yang hanya mampu menuliskan dua poin kebaikan pasangan. Ada yang menuliskan tiga, empat, lima poin kebaikan pasangan. Hanya satu orang yang mampu menuliskan duabelas poin kebaikan pasangan, dan langsung saya apresiasi dengan hadiah. “Luar biasa, bapak ini telah terbiasa menyimpan memori tentang kebaikan pasangan, sehingga dalam waktu yang terbatas mampu menuliskan duabelas poin kebaikan pasangan”, begitu komentar saya.

Hal itu karena dibandingkan dengan hasil kerjaan peserta lainnya, yang hanya mampu menuliskan dua poin kebaikan saja dalam waktu yang sama. Ahai, rupa-rupanya mengingat kebaikan pasangan belum menjadi tradisi kita. Masih banyak di antara kita yang lebih suka menyimpan memori tentang kekurangan dan kelemahan pasangan. Hal-hal yang menyakitkan, yang buram dan yang tidak menyenangkan, lebih kuat tersimpan di memori jiwa kita. Bahkan sengaja direkam dan diabadikan menjadi pahatan di atas lempeng-lempeng besi.

Saat saya tanyakan kepada para suami, apakah isteri mereka biasa memasak di rumah untuk keperluan makan keluarga ? Apakah isteri mereka biasa membuatkan teh atau kopi untuk suami ? Jawaban mereka, ya. Para isteri selalu memasak di rumah dan biasa membuatkan teh panas saat suami berada di rumah. Pertanyaan saya, mengapa tidak satupun dari mereka yang menuliskan itu sebagai sisi kebaikan isteri ? Jawaban mereka, “Karena itu sudah menjadi kewajibannya”.

Hah ? Kewajiban ? Siapa yang mewajibkan isteri memasak dan membuatkan teh panas bagi suami ? Okelah tidak perlu berdebat soal kewajiban atau bukan. Anggaplah itu kewajiban, namun bukankah orang yang menunaikan kewajiban itu berarti orang baik ? Betapa banyak orang tidak mau menunaikan kewajiban. Betapa banyak orang melalaikan tugas dan kewajibannya. “Iya, tidak terpikir sejauh itu”, jwab seorang suami di forum tersebut.

Sayang sekali kita belum terbiasa fokus melihat sisi kebaikan isteri. Bahkan masih banyak yang beranggapan, semua kegiatan isteri yang dilakukan adalah kewajibannya, jadi bukan merupakan kebaikan. Isteri kita hamil, melahirkan anak, mengurus anak, bermalam-malam bangun karena anak menangis, pagi-pagi memandikan anak, menyusui hingga disapih, membersihkan rumah, memasak, membuatkan teh panas, merapikan barang-barang suami, menyiapkan keperluan suami, itu semua bukan kebaikan ? Lalu apa ?

Bahkan, ketika isteri melayani suami di tempat tidur, dan mereka bisa menikmati bersama-sama, jangan lupa ucapkan terimakasih untuk pasangan anda. Melayani suami di tempat tidur (atau dimanapun lah, tempat tidak penting kan ?), kadang dianggap “kewajiban” isteri. Tidak dicatat sebagai kebaikan. “Kan dia membutuhkan dan menikmati juga, jadi ya itu aktivitas rutin saja”, kata seorang suami.

Kadang saya hampir sampai kepada kesimpulan, bahwa secara umum kita sangat pelit melihat kebaikan pasangan. Cobalah sekarang kita biasakan hal-hal kecil ini di rumah. Para suami, ucapkan terimakasih saat isteri sibuk di dapur menyiapkan keperluan sarapan pagi.

“Terimakasih sayang, engkau baik sekali telah menyiapkan sarapan pagi untuk kita semua”, sudahkah kalimat seperti ini anda ucapkan kepada isteri ?

Jangan-jangan, lebih banyak kalimat seperti ini yang anda ucapkan, “Mana sarapannya ? Kenapa lambat sekali engkau menyiapkannya ? Ini aku sudah hampir terlambat nih”.

Cobalah selalu mengatakan, “Terimakasih dik, teh panas buatanmu sangat enak.Senang sekali aku selalu engkau buatkan teh panas. Engkau baik sekali”. Sudahkah kalimat seperti ini anda sampaikan setiap hari ?

Jangan-jangan, kalimat anda justru seperti ini, “Kok belum dibuatkan teh panas ? Kamu kan tahu aku sangat memerlukan teh panas itu setiap sore, kenapa engkau selalu lupa membuatkannya ?”

Cobalah mengatakan kepada isteri, “Terimakasih engkau telah memuaskan aku. Aku jadi ketagihan, setiap hari ingin melakukannya lagi”. Jangan pernah mengatakan, “Payah pelayananmu di ranjang, tidak seperti Wulan, mantan pacarku dulu”. Wah, kacau balau kalau begitu…….

Cobalah mengatakan kepada isteri, “Wah cantik sekali dirimu. Terimakasih engkau selalu berdandan rapi, sehingga terlihat cantik”. Kalimat seperti ini menandakan bahwa suami mampu melihat sisi kebaikan isteri, dan mampu mengapresiasi kebaikan tersebut dalam bentuk yang positif. Bukan mengungkit-ungki
t kekurangan dan kelemahan isteri, “Nah sesekali berdandan begini lah… Biasanya kamu selalu tampak lusuh kayak gak pernah mandi”.

Lupakan Kelemahan dan Kekurangan Isteri

Mengapa kita tidak menuliskan saja semua sisi kekurangan dan kelemahan isteri di atas pasir pantai, dan biarkan angin serta ombak menghapus tulisan tersebut ? Tuliskan saja semua yang tidak kita senangi dari isteri di atas pasir pantai. Setiap kali kita menengok pasir pantai, tulisan dan catatan tersebut sudah tidak kita temukan lagi. Hilang dilindas ombak. Kita tidak perlu mengenang segala yang kurang, kita tidak perlu mengabadikan kenangan yang menyakitkan.

Sebaliknya, segala sisi kebaikan dan kelebihan isteri, segala hal yang menyenangkan dan membanggakan dari isteri, hendaklah kita pahat di atas lempeng-lempeng besi. Biarkan segala yang indah menjadi kenangan sepanjang masa yang tidak akan punah.

Setiap kali melihat isteri, yang tampak adalah berbagai kebaikan yang dilakukan selama ini. Yang kelihatan adalah berbagai kelebihan yang dimiliki. Dengan demikian, suami ideal akan selalu bersyukur memiliki isteri yang sangat banyak memiliki sisi positif, dan itu akan membuatnya selalu merasa bahagia. Wajar jika suami ideal akan tampak awet muda, karena cara pandang yang positif terhadap isteri telah menyebabkannya pandai mensyukuri apa yang ada pada diri sang isteri.

Baiklah berikutnya kita bahas karakter suami ideal yang kelima. Beri kesempatan saya melakukan kontemplasi dulu sejenak.

Punya teman bernama Ningsih. Cukup sekian dan terimakasih.

http://wonderful-family.web.id/?p=678

2 thoughts on “Fokus Melihat Sisi Kebaikan Isteri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s