Mendorong Isteri untuk Berprestasi


Trit sebelumnya :
Suami Ideal 1: Disayangi Isteri, Bukan Ditakuti

Suami Ideal 2 : Menundukkan Ego untuk Keharmonisan Keluarga

Suami Ideal 3 :Selalu Membahagiakan Isteri
Suami Ideal 4 :Fokus Melihat Sisi Kebaikan Isteri

Suami Ideal 5 : Mengenali Perubahan dan Perkembangan Isteri

Suami Ideal 6 :Mendekat Kepada Isteri, Bukan Menjauhi
Suami Ideal 7 :Memiliki Ketrampilan Praktis Kerumahtanggan

Mendorong Isteri untuk Berprestasi


Oleh : Cahyadi Takariawan

Pada tulisan ini saya ingin menambahkan karakter suami ideal berikutnya.

Kedelapan, suami ideal memberikan kesempatan dan dorongan kepada isteri untuk maju, berkembang dan berprestasi. Tidak layak bagi suami untuk menghambat kemajuan dan perkembangan potensi isteri. Pernikahan bukanlah lembaga untuk mensterilkan berbagai potensi dan prestasi salah satu pihak. Justru dengan pernikahan itu akan semakin mengoptimalkan berbagai potensi kebaikan dari suami dan isteri.

“Kamu tidak boleh melebihi saya”, demikian pandangan sebagian suami. Mereka merasa “tidak terhormat” apabila isteri melebihinya dalam berbagai urusan kehidupan. Seperti misalnya, pangkat isteri lebih tinggi dari suami, jabatan isteri lebih tinggi, gaji isteri lebih tinggi, gelar kesarjanaan isteri lebih tinggi, tubuh isteri lebih tinggi, dan lain sebagainya. Sebagian suami merasa rendah dan tidak terhormat apabila dirinya dalam posisi “di bawah” isteri.

Bukan Persaingan, Tapi Tim

Yang harus dilakukan oleh suami dan isteri adalah membuat kesepakatan cara pandang dan cara merasakan, bahwa ikatan pernikahan telah membuat mereka menjadi satu tim. Kendati terdiri dari dua pribadi yang berbeda, namun mereka tidak saling bersaing secara negatif atau bermusuhan satu dengan yang lainnya. Mereka adalah tim yang saling melengkapi kekurangan, saling menyempurnakan kelemahan pasangan, saling menjaga dalam kebaikan.

Apa yang dikhawatirkan suami jika isterinya memiliki berbagai posisi yang lebih tinggi dari dirinya ? “Nanti dia akan mendikte dan menguasai saya”, jawab seorang suami saat saya sampaikan pertanyaan tersebut. “Nanti dia menjadi belagu dan tidak mau menurut kepada suami”, jawab suami yang lain. “Dia akan menjadi wanita bebas karena terlalu mandiri”, jawab suami yang lainnya lagi.

Nah, jadi harus dipisah antara prestasi dan sikap hidup suami isteri. Yang dikhawatirkan tadi adalah adanya perubahan sikap isteri terhadap suami, apabila memiliki sejumlah prestasi yang melebihi suami. Di sisi ini perlu kembali diingatkan, bahwa suami dan isteri memiliki peran masing-masing dalam rumah tangga. Peran suami dan peran isteri adalah saling melengkapi, bukan saling berkompetisi secara negatif.

Karena kekhawatiran yang terjadi menyangkut perubahan sikap, maka suami dan isteri harus sampai kepada taraf keyakinan, bahwa mereka berdua sudah “selesai” melewati hal-hal yang bersifat sangat sensitif seperti itu. Jika relasi mereka berdua masih berkutat pada hal-hal yang bersifat “perebutan” dan persaingan, seperti menang – kalah, menguasai – dikuasai, mengatur – diatur, dan seterusnya, sepertinya harus menyelesaikan dulu persoalan mendasar ini.

Relasi suami dan isteri bukanlah atasan dengan bawahan, bukan majikan dengan buruh, namun “pasangan” dalam arti yang positif. Berpasangan, saling melengkapi, saling menjadi mitra, menjadi satu tim yang utuh. Jika suami merasa menjadi atasan, maka menimbulkan temperamen yang suka memerintah, tidak mau mengalah, dan menganggap isteri sekedar bawahan yang tidak memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan strategis terkait kehidupan dan masa depan keluarga.

Jika suami merasa menjadi majikan dan isteri dianggap buruh, maka posisinya menjadi tidak seimbang. Buruh tidak boleh melakukan aktivitas yang selayaknya dilakukan majikan, dan harus selalu menurut kepada majikan. Dengan demikian, menimbulkan relasi yang tidak sehat dan tidak memberdayakan potensi kebaikan. Bukankan sebelum menikah masing-masing adalah pribadi merdeka yang memiliki hak-haknya, lalu mengapa setelah menikah menjadi saling berebut dan bersaing secara tidak produktif?

Kendati ada kepemimpinan dalam rumah tangga, bukan berarti pemimpin boleh menindas dan menzalimi pihak yang dipimpin. Bukan berarti pemimpin menjadi raja yang berlaku semena-mena terhadap pihak yang dipimpin. Dalam keluarga, lebih tepat dimaknai sebagai kepemimpinan kolegial, dimana suami dan isteri berada dalam satu tim yang memiliki hak serta kewajiban untuk menciptakan keluarga yang bahagia, harmonis, produktif, sehat, dan berprestasi. Masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang menjadi amanahnya, kelak di hadapan Tuhan.

Menemukan Format Prestasi

Sederhana saja. Suami dan isteri membuat kesepakatan terkait aktivitas yang akan digeluti masing-masing, seperti bidang profesi, pilihan instansi, jenis dan tempat bekerja, lahan beramal, afiliasi organisasi, dan lain sebagainya. Hal-hal yang akan sangat menyibukkan dan menyita waktu, tenaga serta perhatian suami serta isteri. Apakah itu terkait bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pemerintahan, pendidikan, kemasyarakatan, atau apa saja. Penting untuk dijadikan kesepakatan bersama.

Suami bekerja mencari nafkah, berkegiatan sosial, berkegiatan di berbagai bidang kehidupan; demikian pula isteri. Dimana mereka bekerja, pada bidang dan lembaga apa mereka mengabdikan potensi, menjadi penting untuk disepakati, agar masing-masing bisa saling membantu dalam meraih prestasi terbaik. Ketika kesepakatan sudah terwujud, sudah selayaknya suami dan isteri saling memahami konsekuensi aktivitas pasangannya dan saling menguatkan.

Jangan pernah mengabaikan kebaikan rumah, ketika suami dan isteri asyik melakukan aktivitas di luar rumah. Anak-anak adalah aset yang sangat berharga dan
harus menjadi prioritas untuk mendapat perhatian serta curahan kasih sayang. Artinya, apapun pilihan aktivitas suami dan isteri, tetap memiliki perhatian dan konsentrasi membina keluarga yang harmonis, mendidik anak-anak menjadi salih dan cerdas, sehingga semua berjalan seimbang.

Maka apapun pilihan format prestasi, harus dihormati, selama tidak menyebabkan terlantarnya pendidikan dan perhatian terhadap anak-anak, juga tidak menyebabkan lunturnya keharmonisan hubungan dengan pasangan. Ketika suami dan isteri membuat kesepakatan berbagi, dimana suami saja yang mencari nafkah, dan isteri konsentrasi mengurus anak-anak di rumah, itu adalah sebuah pilihan sadar yang harus dihormati.

Dalam format kesepakatan seperti ini, salah satu titik prestasi suami adalah pada kemampuan menghasilkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suami memerlukan dukungan isteri utnuk bisa bekerja secara optimal dan menghasilkan produktivitas yang nyata. Sedangkan salah satu titik prestasi isteri adalah pada kemampuan mengelola urusan rumah tangga dan mengawal pendidikan anak. Isteri memerlukan dukungan untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang berprestasi dan menghasilkan produktivitas tinggi.

Ketika suami dan isteri bersepakat kedua belah pihak bekerja mencari nafkah untuk keluarga, aktif dalam kegiatan organisasi, dan bersedia berbagi konsentrasi untuk mengelola urusan keluarga serta anak-anak, itupun pilihan sadar yang harus dihormati. Titik prestasi pada format kesepakatan seperti ini tentu berbeda lagi. Suami dan isteri harus memiliki prestasi di tempat bekerja, di organisasi, dan di dalam rumah. Di lembaga tempatnya bekerja, ada ukuran prestasi, di organisasi tempatnya mengabdi ada ukuran prestasi, demikian pula dalam membangun kebaikan rumah tangga, memiliki ukuran prestasi.

Format inilah yang harus disepakati terlebih dahulu oleh suami dan isteri. Bukan berjalan sendiri-sendiri menuruti kata hati, bahkan bersaing dalam karir di tempat bekerja maupun di organisasi, sehingga saling ingin mengungguli dan ingin mengalahkan pasangannya. Suasana persaingan tidak sehat seperti itu justru akan menyebabkan hilangnya harmoni antara suami dan isteri.

Bangga dengan Prestasi Isteri

Karena para suami mampu mendorong isteri sehingga berprestasi, maka yang muncul adalah perasaan bangga apabila sang isteri mampu meraih prestasi tinggi. Ini bukan soal emansipasi yang ramai dibicarakan orang setiap hari Kartini. Namun ini soal merayakan keberhasilan bersama, merayakan cinta antara suami dan isteri yang menyebabkan keduanya memiliki gairah hidup dan semangat melakukan yang terbaik demi keluarga. Bukan demi gengsi diri di hadapan suami atau isteri.

Rayakanlah setiap keberhasilan dan capaian prestasi suami dan isteri, dalam suasana kehangatan cinta dan kasih sayang. Apabila suami mencapai peningkatan prestasi, itu karena dukungan dan dorongan isteri serta anak-anak. Apabila isteri mencapai puncak prestasi, itu karena dukungan dan dorongan suami serta anak-anak. Semua pihak merasa gembira, berbangga dan mampu merayakannya.

Demikianlah karakter suami ideal kedelapan. Semoga masih ada kesempatan untuk membahas karakter suami ideal yang kesembilan.

Jalan jalan ke Bungurasih. Cukup sekian dan terimakasih.

Advertisements

One thought on “Mendorong Isteri untuk Berprestasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s